
...🌷 selamat membaca 🌷...
...----------------...
...----------------...
“Hati-hati jangan bawa yang berat-berat! Kalo apa-apa minta sama bik Caca!” ucap Vino untuk kesekian kalinya, setiap akan berangkat kerja ia tidak pernah lupa mengatakan itu sebagai peringatan dan kebaikan istrinya, karena kandungan Della telah memasuki bulan kelima harus ekstra menjaga nya.
Della mengangguk jengah,” iya my darling, nyinyir amat sih” semenjak hamil Vino semakin posesif dan protektif padanya dan lebihnya lagi Vino menyewa pembantu.
“biar aku nyinyir kalo tidak kamu gak bakal dengar, ingat kata-kata aku awas kalo gak nurut!” tekan Vino dengan tatapan tak boleh dibantah.
Della mengangguk, “siap my husband” jawabnya patuh. Vino tersenyum samar dan mencium kening istrinya.
“Aku berangkat ya, ingat!” pamit Vino, Della mencium punggung tangan Vino. Lalu Vino memasuki mobil dan pergi.
“Selain bucin juga posesif makin sayang deh” ucapnya pelan dan berbalik masuk kedalam.
“bik buatin aku jus lemon ya!” teriaknya setelah duduk di sofa ruang tengah.
Bik Caca menghampiri nyonyanya, “nyonya yakin pagi ini mau jus lemon, masih loh non” tanya bik Caca agak takut.
Della mengernyit lalu kemudian melotot, “buatin aja gak usah nanya” galak Della, entah semenjak kandungannya lima bulan ini ia jadi mudah marah dan tersinggung tapi kadang-kadang menangis. Beda dengan Vino sekarang suaminya itu tidak terlalu banyak tingkah aneh.
“Baik nyonya” Dengan cepat bik Caca berbalik ke dapur sebelum singa ngamuk.
5 menit kemudian, jus lemon permintaan Della akhirnya selesai dengan tak sabaran Della menyedotnya, namun baru seteguk ia mengernyit.
“Huek...kok rasanya gak enak sih, kamu kasih aneh-aneh ya?!” garang nya menatap tajam bibi Caca. Caca sendiri kebingungan apanya yang salah coba.
“Tapi memang benar lemon nyonya” jujur bik Caca.
“Coba deh bik cicip” suruh Della dan dengan terpaksa Caca mencobanya. “Gimana? Benarkan?!”
Caca menggeleng, “gak ada yang aneh nyonya rasanya pas seperti lemon” jawab Caca jujur dengan sejujurnya.
“Hah...kok bisa, lidah bibi salah lagi” heran Della. Caca menggaruk kepalanya tak gatal dan dia cukup tau orang itu emang rada aneh.
“Ya sudah, buatkan seblak pedas level 10” ucapnya dengan mata berbinar tak sabaran memakan nya pasti sangat menggiurkan.
“Tapi nyonya nanti tuan marah” tutur bik Caca karena dari awal tidak perbolehkan makan-makanan pedas apalagi seblak level 10 bisa sakit perut bukan itu saja dia sendiri pasti dimarahi besar-besaran.
“bodoamat, kalo bibi gak ngadu dia enggak bakalan tau” Della tetap bersikeras tak peduli sama sekali.
Akhirnya dengan berat hati Caca membuatkan seblak permintaan Della.
__ADS_1
...----------------...
13.00 siang, Vino keluar dari ruangan meeting diikuti oleh Arya dan kembali ke ruang kerjanya.
Puk
Vino langsung mendudukkan bokongnya diatas sofa sambil mengusap lesu wajahnya.
“Arya!” panggilnya lesu.
“Ya tuan”
“beli Red Velvet cake yang paling terenak” Entah kenapa ia jadi pengen itu.
“Tapi harus kau yang beli jangan yang lain!” ucapnya lagi tak boleh dibantah.
“Baik tuan, minumannya apa tuan?” Arya menyerah kalo tidak dituruti ia juga yang kena imbasnya.
“apa yang paling kau sukai? Pesan saja itu”
Arya bingung, “kok jadi saya tuan-” Ia langsung gelagapan melihat tatapan tajam Vino. “baik tuan, kalo begitu saya permisi” jawabnya dengan cepat dan buru-buru keluar.
“Hufff...gue sabar, gue ganteng!” batin Arya.
“Gue gak budek kali!” ketusnya pelan tanpa menjawab Arya pergi.
15 menit kemudian, Arya kembali membawa pesanan Vino alias bosnya.
“Dasar lambat!” ejek Vino terdengar kesal. Arya yang baru masuk hanya tersenyum kecut dan sabar. Biarlah terserah sang tuan, sebagai bawahan harus mengalah.
“Mana!” galak Vino karena sudah tak sabaran mencicipi nya.
“ini tuan silakan dinikmati” Arya menyajikan nya diatas meja depan sang tuan.
“ngapain kau masih berdiri” melirik Arya masih berdiri tegak di depannya.
“Hah...” Arya linglung seperti orang bodoh tak mengerti maksud tuannya.
Vino jengah, “balik sana ke ruangan mu” ketus Vino mendelik.
__ADS_1
“Eh, saya tidak ditawarkan tuan” dengan mata terus melihat kearah kue yang dimakan Vino.
“Cih, ogah beli sendiri, hus...kau bau kambing sana keluar!” sambil menutupi hidungnya mengusir Arya.
Arya kesal dan sangat ingin mencakar wajah songong itu, apa-apaan coba dia se wangi ini dibilang bau kambing.
“Cih” Sambil mendecih Arya pergi keluar. Semakin lama bosnya itu semakin menjengkelkan.
“Anda kenapa pak?” tanya salah satu pegawai wanita saat melihat raut masam Arya.
“Bukan urusanmu!” ketus Arya dengan datar, kemudian berjalan kearah ruang kerjanya.
“Idiiih, sok datar pantasan gak laku-laku!” cibir wanita itu sebal.
“APA!” galak Arya berbalik mendengarnya.
Wanita itu menyengir kuda,” maaf pak ganteng” kemudian cepat-cepat pergi keruangan nya. Arya menatap sinis dan memasuki ruangnya.
...----------------...
20.30 malam.
Kedua pasutri itu terlihat jalan-jalan di luar kompleks, tepatnya keinginan Della dan Vino sebagai suami menuruti nya.
“yank, bali ketoprak yuk” ajak Della sambil menunjuk sang penjual ketoprak.
“Sekarang” tanya Vino seperti orang bodoh, entahlah otaknya jadi lemot.
“lusa. Sekarang lah yank” Geram Della ingin sekali mengeplak otaknya.
“Ehehe...yuk”
“Kuuuy” heboh Della lalu menarik Vino menghampiri penjual ketoprak itu.
🌷🌷🌷
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1