Ketos Tampan Itu Suamiku

Ketos Tampan Itu Suamiku
95. (S2) Merasa bersalah


__ADS_3

...🌷 Selamat membaca 🌷...


...----------------...


...----------------...


Ditempat Vino, dia sedang sibuk dengan laptopnya namun, harus dihentikan dengan getaran handphone.


“Siapa!” Bingungnya saat melihat nomor tak dikenal.


“Ya, ini dari siapa?” Ucap Vino setelah diangkatnya.


“Noo...ini tante” jawab suara wanita dengan suara sedikit serak.


“Eh, Tante Yuni ada apa tan” balas Vino saat tau dari suaranya.


“Nooo...kamu harus kerumah sakit Della kecelakaan” tangis Yuni dari seberang sana.


Vino langsung terdiam syok, padahal barusan beberapa menit yang lalu ia berbicara dengan Della dan sekarang dapat berita dia kecelakaan.


“Dirumah sakit mana tan!” tanya Vino dengan suara seraknya, sekarang yang terpenting ia harus balik menengok Della.


“Di rumah sakit Wijaya..” setelah dapat informasinya Vino dengan cepat membereskan barang-barangnya dan meminta Arya berangkat ke Bogor sekarang juga.


“Tuan, bagaimana dengan pekerjaan nanti bisa batal bisnis tuan” kata Arya.


“Biarkan saja yang terpenting sekarang kita harus balik dan pergi kerumah sakit Wijaya” tegas Vino tanpa bisa dibantah.


“Baik tuan” Arya hanya patuh dan mengendarai mobilnya.


...----------------...


Di BOGOR, DIRUMAH SAKIT WIJAYA.


Kedua orang tua Della dan para sahabatnya terlihat sedang terduduk diam setelah mendengar perkataan dari dokter tentang Della.


Sebelumnya dokter itu mengatakan kalo kemungkinan Pasien akan mengalami kebutaan.


“Apa harus aku katakan pada Della, dia pasti sangat syok dengan kenyataan ini” tangis Yuni yang berada dalam pelukan suaminya. Anton hanya bisa menahan tangisnya dalam hati.


Anna dan Gea serta para suami nya juga merasakan hal yang sama, mereka tak menyangka kecelakaan ini akan membuat Della buta, namun, itu lebih baik daripada dia kehilangan nyawanya.


Didalam Della masih dalam keadaan tak sadarkan diri, mereka semua juga belum diperbolehkan masuk.


Berselang lama dokter yang menangani tadi keluar dari ruangan itu dan menatap semua keluarga pasien masih dalam keadaan terpukul.


Melihat dokter itu, Anna memberanikan diri untuk bertanya, “apa kita sudah boleh masuk dok?”


Dokter itu mengangguk, “boleh, tapi harus bergantian jangan terlalu banyak karena pasien harus istirahat dengan tenang” ucap sang dokter dengan ramah.


“Baiklah, kalo begitu saya permisi” lalu Dokter itu pergi akan memeriksa pasien lainnya.

__ADS_1


Sesaat setelah kepergian dokter, Yuni dan Anton masuk terlebih dahulu mau bagaimanapun mereka orang tuanya.


Beberapa menit kemudian, Anna dan yang lain pamitan untuk pulang karena hari sudah hampir malam dan besok mereka akan kesana lagi dan hanya tinggal Yuni dan Anton.


Yuni terus menggenggam tangan Della dengan mata sendunya.


“Bu sini makan dulu dari tadi kamu belum makan” kata Anton yang lagi duduk di atas sofa.


Namun, Yuni hanya diam tak bergeming.


Anton hanya bisa mendesah lemah dan menghampiri sang istri.


“Isi perut kamu dulu nanti kalo Della tau kamu gak makan bisa marah loh” Ucap Anton dengan lembut membujuk istrinya.


Akhirnya, Yuni mengalah dan makan dengan disuapkan oleh Anton.


...----------------...


Beberapa jam kemudian, Vino akhirnya sampai di rumah sakit tempat Della dirawat. Dia datang dan langsung menanyakan kamar pasien atas nama Della Puspita Sari.


Saat sampai didepan pintu kamar Della, ia langsung menerobos masuk dari tadi ia sudah sangat deg-degan karena cemas dengan keadaan Della.


Saat masuk ia melihat Della masih terbaring di ranjang pasien dan Yuni serta Anton duduk termenung di sofa.


“Om, Tante” Sambil berjalan menghampiri mereka.


“Vino, sini duduk” ucap Yuni tersenyum hangat sambil menepuk sofa disebelah-Nya.


“tante, om, bagaimana dengan Della apa dia belum sadarkan diri dari tadi?” Karena tak tahan Vino langsung mengeluarkan pernyataan yang berada dalam otaknya dari tadi dengan mata melihat kearah Della.


Keduanya terdiam sejenak dan menghela nafas dengan lemah.


“mungkin setelah ini Della gak bisa lagi melihat, kata dokter dia mengalami kebutaan” bukan Yuni yang menjawab tapi Anton dengan suara sedihnya.


Vino langsung terdiam bisu mendengar nya dengan raut tak percaya.


“I-ni semua gara-gara gue, coba aja gue gak minta dia pergi ke rumah Cici, ini semua gak bakalan terjadi” batin Vino menyalahkan diri nya.


Lalu ia menatap kedua orang tua tersebut dengan tatapan penuh merasa bersalah.


“Om, Tante. Ini semua karena Vino seandainya Vino gak meminta Della pergi kesana ini gak akan terjadi” ucap Vino dengan nada lemahnya sambil tertunduk sedih.


Keduanya terdiam dan kebingungan karena gak mengerti maksud Vino, walaupun dia tau yang dibawa anaknya mobil Vino.


“kesana kemana maksud kamu, coba cerita sama kita” tanya Yuni dengan lembut tanpa ada nada marah sedikitpun karena dia sudah menganggap Vino sebagai anaknya sendiri.


Sambil menghela nafas panjangnya, Vino menceritakan semuanya tanpa ditutupi.


Yuni dan Anton terdiam sejenak kemudian Yuni berkata dengan lembut, “tidak, itu bukan salah kamu ini musibah yang bisa datang kapan saja. Kamu gak boleh nyalahin diri, kita gak ada sedikitpun menyalahkan kamu jadi gak usah merasa bersalah begitu” ucapnya sambil mengusap bahu Vino dengan lembut.


“Benar, kamu gak boleh nyalahin diri sendiri” sambung Anton membenarkan.

__ADS_1


Vino merasa lega mendengarnya awalnya ia pikir mereka akan marah dan membencinya namun, ternyata tidak seperti yang ia pikirkan.


“Terimakasih om, Tante” ucap Vino sambil tersenyum hangat. Kedua hanya membalas dengan anggukan.


“mendingan tante dan om istirahat aja biar Vino yang jagain Della” kata Vino saat melihat wajah kelelahan mereka. Apalagi sekarang telah jam sebelas malam.


“Gak usah, mungkin bentar lagi Della akan bangun” jawab ke-duanya serempak sambil menggelengkan kepala.


Vino hanya pasrah saja saat akan berkata lagi terdengar suara dari Della.


“Eugh...” tak lama setelah itu mata Della juga ikut terbuka.


Ketiganya dengan cepat mendekat kearah ranjang Della.


“Syukurlah kamu udah bangun sayang” ucap Yuni dengan harus sambil mengusap lengan nya.


Della terlihat kebingungan dan mencoba melihat keberadaan ibu, namun yang terlihat hanya kegelapan, ia mulai panik.


“Ibu... kenapa semuanya gelap apa lampunya mati!” pekik Della.


Anton dengan cepat menekan tombol merah memanggil dokter.


“Ibuuu...jawab! kenapa aku gak bisa melihat” pekik Della dengan histeris.


“Maaf sayang, kamu...kamu mengalami kebutaan” ucap Yuni dengan susah payah saat melihat kondisi anaknya.


Seperti tersambar petir disiang bolong, Della kaget dan kembali berteriak histeris tak terima dengan kenyataan ini.


“Gak, gaaak...ini gak mungkin ibu pasti bohong! Ayah, ayah ibu pasti bohongkan aku gak mungkin buta” Della mengamuk sambil menangis histeris pada sang ayah. Anton hanya bisa mendekap Della.


Untuk Vino ia hanya diam melihat semua itu, dia gak tega melihat kondisi Della yang semakin membuatnya merasa bersalah.


Kemudian, datang dokter bersama seorang suster, dengan cepat ia menyuntikkan obat penenang untuk Della.


“Pasien telah saya berikan obat penenang untuk sementara waktu sampai dia menerima keadaan walaupun itu sangat sulit” ucap sang dokter menjelaskannya sedikit berat.


“terimakasih dok” ucap Yuni.


“Sama-sama Bu, kalo begitu saya permisi” lalu ia melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Vino terlihat termenung, “apakah Della bakalan benci sama gue mau bagaimanapun ini kesalahan gue coba aja gue kagak nyuruh dia, ini semua gak akan terjadi Della gak akan buta” Vino terus menyalahkan dirinya dengan mata sedikit memerah sambil *******-***** rambutnya.


Anton yang melihat itu, langsung menepuk pelan pundak Vino.


“Sudahlah kamu jangan menyalakan diri terusan begini” ucap Anton tegas dan lembut.


Vino hanya mengangguk lemah dan sedikit tersenyum. Matanya dengan nanar menatap kearah Della yang telah tidur dengan tenang.


🌷🌷🌷


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT

__ADS_1


__ADS_2