
...🌷 Selamat membaca 🌷...
...----------------...
...----------------...
Beberapa hari dirawat di rumah sakit, hari ini Della telah diperbolehkan pulang. Della juga sudah mulai tenang, walaupun kadang sesekali dia tiba-tiba saja menangis dan marah dengan keadaannya yang tidak bisa melihat apapun lagi.
Dia juga menjadi pendiam, saat diajak bicara ia hanya diam dan akan menjawab seperlunya saja. Selama itu Vino sering kali menemani Della walaupun Della tidak mau diajak bicara.
Seperti sekarang ini, Vino yang mengendarai mobil menghantarkan Della dan kedua orang tuanya kerumah.
Soal Cici, Vino tak terlalu peduli lagi karena pacarnya itu tidak pernah menghubunginya lagi, bahkan saat Vino mencoba menghubungi tidak pernah aktif. Itu membuat Vino semakin yakin dan tak peduli lagi dengan dia. Rencana saat bertemu nanti ia akan memutuskan hubungannya karena merasa tak ada lagi perasaan untuk Cici. Namun berbeda saat bersama Della dan entah kenapa dia merasa perasaan lebih pada Della, saat melihat Della kesakitan dan terpuruk hatinya juga merasakan hal sama. Apalagi sekarang ini Della seperti tidak ingin berdekatan dan berbicara dengan nya. Dia berpikir Della marah dan benci padanya karena itu terjadi sebab dia, jika saja ia tidak meminta Della pergi mungkin ini tidak akan terjadi. Tapi mau bagaimana lagi yang terjadi tidak bisa diubah lagi.
Sesampai di depan rumah orang tua Della, Yuni memapah sang anak pergi ke kamar yang diikuti oleh Vino dan Anton.
Setelah masuk, Vino meminta izin kepada Yuni dan Anton karena ingin berbicara dengan Della.
“baiklah, kalo Della nya masih gak mau jangan terlalu dipaksakan” ucap Yuni yang telah mengizinkan.
“ya udah kita tinggal dulu” kata Anton dan mengajak istrinya keluar dari kamar tersebut.
Sekarang hanya tinggal Vino dan Della yang telah duduk di tepi tempat tidur, matanya terus melihat lurus ke depan tanpa dapat melihat apapun. Namun, dia tau Vino masih berada di dalam kamarnya.
Selesai menghela nafas panjangnya, Vino menghampiri Della dan berjongkok dilantai dekat Della.
“Del...Lo marah ya sama gue. Gue tau Lo pasti marahkan sama gue, seandainya gue gak minta Lo kesana ini semua gak akan terjadi..” kata Vino dengan suara sedikit serak sambil menatap wajah Della yang hanya diam tak bergeming sama sekali.
“Del Lo boleh marah sama gue tapi jangan membenci gue. Gue janji nanti gue bakalan usaha carikan pendonor mata buat Lo biar Lo bisa melihat lagi...”ucap Vino lagi meyakinkan Della sambil menggenggam sebelah tangannya.
Tiba-tiba saja air matanya jatuh dengan bibir bergetar menahan tangisnya. Melihat itu Vino dengan lembut menghapus air mata nya.
“G-ue...g-ue gak benci kok sama Lo, ini semua kesalahan gue karena gak hati-hati bawa mobil” jawab Della sedikit terbata karena menahan tangisan nya.
Vino merasa lega dan kembali bertanya, “terus Lo marah sama gue!” karena sangat ingin mendengar kejujuran dari Della.
Della kembali menggeleng. Melihat itu, Vino tersenyum cerah dan tanpa aba-aba ia berdiri dan memeluk Della.
“Terimakasih” hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Vino.
__ADS_1
Della yang dipeluk mendadak sangat kaget sekali, jantung berdegup kencang. Rasanya juga sangat nyaman dan hangat, berbeda saat dipeluk oleh ayahnya, ibu ataupun sahabatnya yang terasa biasa saja.
Sadar apa yang dilakukan nya Vino dengan cepat melepaskan pelukannya.
“Sorry refleks gue” kata Vino tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.
Della hanya diam, namun jantungnya masih terasa deg-degan.
“Hmm...lalu bagaimana dengan Cici!” Della bertanya dengan suara pelan.
Raut wajah Vino menjadi buruk, entah kenapa mendengar nama itu hatinya tak menunjukkan senang sedikit pun.
“Hahh...biarkan saja. Gue udah gak peduli lagi dengan dia. Sampai sekarang setiap gue hubungi gak pernah aktif. Pergi kerumah nya dia selalu tidak ada. Ditanya sama nyokap nya dia hanya mengatakan anaknya pergi bersama temannya” jawab Vino menjelaskan dengan nafas beratnya.
“mungkin saat ketemu nanti gue langsung akhiri saja” kata Vino lagi dengan nada tak keberatan sama sekali.
Mendengar perkataan Vino yang terakhir, Della merasa lega dan senang sekali. Sebuah senyuman kecil terukir di bibir Della, walaupun kecil tetap dilihat oleh Vino.
“kenapa tersenyum begitu, Lo pasti senang ya gue putus dengan nya” kata Vino menggoda Della sambil menusuk-nusuk pipi Della.
Dengan Della menepisnya dengan bibir mengerucut manyun.
Vino hanya terkekeh geli melihat tingkah Della. “Dah, istirahat yang cukup, gue harus balik sekarang” kata Vino setelah melihat jam ditangannya.
Della mengangguk dan membaringkan tubuhnya dengan pelan. Vino membantu menaikkan selimut sebatas perut Della.
“Besok gue kesini lagi” ucap Vino sambil mengusap lembut kepala Della, lalu bergerak keluar meninggalkan Della dengan muka sedikit memerah saat merasakan usapan tangan Vino di kepalanya barusan.
“Nooo...apa Lo juga merasakan seperti yang gue rasakan..” gumam Della sambil menutup matanya. Entah kenapa air matanya tiba-tiba saja ikut mengalir dengan sendirinya.
...----------------...
Diluar Vino langsung berpamitan dengan Yuni dan Anton karena hari sudah hampir gelap. Ia melajukan mobilnya pergi ke apartemen yang ia tempati sekarang.
Bertanya soal orang tua Vino, mereka telah datang dua hari yang lalu menjenguk Della dan balik lagi pagi tadi.
__ADS_1
Saat telah sampai di depan apartemen, Vino melihat seorang pria berdiri bersandar dekat mobil yang tak terlalu jauh dari tempat Vino.
Vino sedikit memicingkan matanya karena merasa pernah melihat wajah pria tersebut, tapi dimana? Ia tak ingat.
Karena tak mengingatnya, Vino melanjutkan langkahnya memasuki apartemen.
Saat hampir sampai didepan pintu, ia melihat seorang wanita berdiri sambil menekan-nekan belnya.
Sesaat telah dekat, Vino akhirnya tau siapa wanita itu yang tak lain adalah Cici.
“Buat apa kamu kesini?” tanya Vino dengan suara besar tak ada lembut lagi.
Mendengar itu, Cici langsung berbalik dan dengan cepat memeluk Vino, namun langsung dihindari oleh Vino.
“Gak usah peluk-peluk” ketus Vino dengan nada tak suka.
Cici kaget mendengar nada Vino berkata, namun ia juga sadar itu semua disebabkan oleh dirinya.
“Oiya... kebetulan Lo ada disini gue bilang langsung saja. Mulai detik ini juga kita putus!” tekan Vino dengan nada acuhnya.
Cici sangat kaget mendengar nya, “apa maksud kamu! Kenapa kamu tiba-tiba berkata putus begini, kamu pasti bercandakan!” tuntut Cici sambil menatap lekat pada Vino.
“Ck, sudahlah, gue bilang putus ya udah putus. Oiya...gue juga mau tanya selama ini Lo kemana aja setiap gue telepon gak pernah aktif. Bahkan menghubungi gue aja kagak pernah, Kemana aja Lo, atau benar kali ya Lo itu selingkuh” kata Vino dengan kata-kata penuh ejekan.
“Nah, ini gue juga dapat foto dari seseorang. Kayaknya Lo menikmati banget” sambil memperlihatkan foto waktu itu pada Cici.
Melihat itu, Cici langsung melotot sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Kaget ya, tapi kalo pun benar atau tidaknya gue tetap putusin lo karena gue ngerasa gak nyaman aja gitu sama Lo. Ditambah lagi gue kek ngerasa Lo bukan seperti Cici yang gue kenal dulu” Setelah berkata seperti itu Vino memasuki ruangannya, meninggalkan Cici terlihat masih syok dan kaget.
Namun, beberapa saat setelah itu Cici menangis. “Maafin aku Nooo...aku udah bohongin kamu. Mungkin kita memang tidak berjodoh. Semoga saja kamu mendapatkan wanita lebih baik dari aku. Aku benar-benar minta maaf...” ucap Cici berharap didengar oleh Vino dari dalam.
“kamu boleh benci sama aku Nooo, aku sadar dengan kesalahanku” masih dalam keadaan menangis Cici pergi dari sana.
Sebenarnya Vino mendengarkan semua ucapan Cici, tapi hanya ia acuhkan saja.
Dia juga akhirnya ingat tentang pria yang di lihatnya diluar tadi dan itu adalah pria yang berada dalam foto berciuman dengan Cici. Ternyata semua benar dan ia juga belum mengetahui sang pengirimnya. Namun, ia sangat berterima kasih kepada orang itu karena dengan itu ia akhirnya tau tentang perselingkuhan Cici.
🌷🌷🌷
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1