
...🌷 Selamat membaca 🌷...
...----------------...
...----------------...
Semenjak kejadian itu, Della menjadi sedikit pendiam dari biasanya. Kedua sahabatnya Anna dan Gea juga telah mengetahui bahkan mereka sudah menjenguk Della.
Mereka tentu saja sangat marah sekali, kalo sandi belum di tangkap mungkin sudah mereka tonjok sampai tepar walaupun perempuan mereka akan berubah menjadi macan jika ada yang menyakiti orang terdekatnya.
Seperti sekarang ini mereka terlihat sedang nongkrong ditempat biasa waktu SMA dulu tanpa sepengetahuan para suami.
"gue jadi kepikiran apa mungkin Della bakalan menjadi dingin pada para lelaki. kalo benar, yang gue takutin dia bakalan susah dapat laki. Bisa jadi perawan tua tu anak" ucap Gea panjang lebar sambil mendesah panjang.
"ck, mau dingin atau gimana pun pasti ada lelaki yang mau dan mencintai dengan tulus bukan karena mulus" kata Anna sedikit tak suka dengan pemikiran Gea.
Gea hanya mengangguk membenarkan kata Anna.
"eh, tapi gue jadi ingat si Vino. menurut lo apa dia punya rasa sama Della, soalnya gue liat dari sorotan mata menatap Della itu kayak ada sesuatu gitu..." Gea bertanya sambil menopang dagunya menatap Anna.
Mendengar itu, Anna berpikir sesaat, lalu berkata.
"umm...bisa jadi sih tapi gue kurang yakin soalnya kan dia udah punya pacar, apalagi gue dengar dia sayang banget sama pacarnya. kalo benar dia suka atau cinta sama Della gak mungkinlah dia seperti itu.
Lagian dari awal sekolah sampai sekarang hubungan mereka begitu aja gak pernah berubah.." kata Anna sambil mengedikkan bahunya kurang yakin.
"belum tentu na, kadang si dia memiliki perasaan tapi gengsi mengungkapkan makanya lebih baik melupakan dengan beralih ke yang lain" ucap Gea dengan bijak, karena cukup banyak kejadian seperti itu didunia nyata maupun didunia cerita.
Anna bertepuk dan tersenyum lebar mendengar ucapan Gea.
"waahh...tumben Lo bijak, belajar dari mana. tapi ini lebih bagus sahabat gue memang harus begini" celetuk Anna seperti meledek sambil menepuk-nepuk pundak Gea.
Gea mendegus kesal mendengar ledekan Anna.
"gak usah ngeledek naa, mau bagaimanapun gue itu udah jadi istri dan seorang ibu, kayak Lo enggak aja" kesal Gea dengan memutar bolanya dengan males.
"hahaha...iya iya. tapi ngomong-ngomong ini udah jam berapa bisa kena semprot sama suami tampan gue" tawa Anna, kemudian melihat jam tangannya takutnya nanti mereka terlalu asyik disini sampai lupa pulang.
"astaghfirullah...udah jam tiga sore" kaget Anna bersamaan dengan Gea.
Namun, saat akan beranjak mereka mendengar suara seseorang yang sangat mereka kenali.
__ADS_1
"ehem...baru ingat pulang!" terdengar suara beratone dari arah belakang.
Lalu kedua dengan cepat berbalik untuk memastikan dan bam... terlihat dua pria dengan tatapan dingin, siapa lagi kalo bukan Kelvin dan Angga.
"eh, ehehe...sayang kok kamu bisa ada disini" cengir Anna sedikit kikuk.
Tak jauh berbeda dengan Gea, dia dengan cepat mendekati sang suami dan tersenyum semanis mungkin.
Orang-orang yang ada disana hanya geleng-geleng kepala, apalagi bagi mereka yang juga sudah berumah tangga.
Sesaat setelah membayar pesanan mereka, langsung ditarik para suami pulang.
"sayang maaf, kami terlalu keasyikan ngobrol jadi lupa waktu lagian cuman sesekali kok dapat kumpul" rengek Anna meminta maaf atas kesalahannya.
Kelvin hanya diam tapi sesaat setelah itu dia tidak bisa terlalu marah pada istrinya.
"iya aku maafin, tapi lain kali jangan diulangi" ucap Kelvin dengan lembut.
"iya, khilaf yank. nanti gak bakalan kek gitu lagi kok"
"hmm..." Kelvin hanya mengangguk.
"sama tetangga" jawab Kelvin yang sedang fokus menyetir mobil. Anna mengangguk lega mendengarnya.
...----------------...
Disisi lain, ditempat Della, dia terlihat sedang melamun sambil menatap ikan hias dalam akuarium rumah nya.
"kenapa! kenapa gue bisa jatuh cinta sama pria brengsek seperti dia...! dari awal ternyata semua yang keluar dari mulut busuknya omong kosong. Jahat... padahal gue berharap dia benar-benar sayang dan bisa menjadi pelindung gue, hiks...tapi apa dia malah mau merusak gue..." Air matanya mengalir dengan deras mengingat semuanya.
Lalu saat dia mengingat Vino dengan tepat waktu membantunya, Della tersenyum namun tidak ada yang tau apa arti dari senyuman tersebut.
Apalagi beberapa hari ini, dia selalu cuek dan acuh saat Vino menyapa dan mengajaknya berbicara, itu sedikit membuatnya merasa bersalah pada Vino, bukannya dia benci atau apalah tapi dia memang belum ingin terlalu dekat.
"del, kamu gak dengar ya dari tadi Vino manggil" kata Yuni yang sedang berjalan mendekati Della.
Mendengar itu, Della tersadar dari lamunannya dan berbalik menatap ibunya.
"ngapain Bu, aku kan udah bilang aku gak mau ketemu sama siapapun kecuali Anna dan Gea" ucap Della dengan nada tak suka, kemudian beranjak kekamar nya.
"tapikan, Del...del?" Yuni menghela nafas panjangnya saat melihat Della tak menghiraukan panggilannya.
__ADS_1
"kenapa jadi begini sih" gusar Yuni tak berdaya dengan sikap anaknya.
Di satu sisi dia juga kasian dengan Vino, apalagi Vino yang telah menyelamatkan anaknya itu, namun di sisi lain dia juga mengerti dengan sikap Della dan tidak bisa terlalu memaksanya.
Dengan lesu Yuni pergi keluar menemui Vino yang masih duduk santai di bangku teras.
Vino yang melihat Yuni tampak antusias namun, saat melihat wajah lesu dan tak berdaya tante Yuni dia jadi mengerti.
"dia masih begitu ya tan!" tanya Vino dengan wajah masamnya.
"maafin Della ya, mungkin dia masih belum bisa melupakan semuanya. tante yakin nanti dia juga bakalan seperti semula" ucap Yuni dengan nada lemahnya.
Vino hanya tersenyum kecut, namun dia juga mengerti. Lalu ia menyodorkan sebuah paper bag pada Yuni.
"ini aku beliin sesuatu buat Della semoga aja dia suka. tolong tante kasih ya tapi, kalau dia gak mau buat tante aja" kata Vino sambil tersenyum walaupun itu hanya senyum terpaksa.
Yuni menerimanya dengan senang, "ah kamu tenang saja pasti bakalan tante kasih, tapi kalo gak diterima benaran dikasih buat tante..."
"iya tante. ya udah...Vino pamit pulang ya tan..."
"aish...cuman lima langkah doang dari sini"
Vino tertawa, namun dia tetap pergi ke rumahnya.
Sesaat setelah kepergian Vino, Yuni pergi kekamar anaknya.
"awas saja kalo anak itu gak terima pemberian ini, bakalan aku beri masukan empat hari empat malam" gerutu Yuni sedikit kesal dengan sikap Della pada Vino tak memiliki salah apa-apa.
Sampai dikamar Della, dia langsung menghampiri anaknya yang sedang sibuk mengotak-atik laptopnya.
"del, coba deh kamu liat kesini" ucap Yuni, mendengar itu Della beralih menatap ibunya.
"ada Bu.." bingungnya apalagi saat melihat sebuah paper bag dibawanya.
"nih buat kamu harus diterima gak boleh nolak" setelah berkata seperti itu dan meletakkan diatas meja kerja Della ia langsung pergi keluar meninggalkan Della yang terbengong.
Walaupun begitu, Della tetap menerima nya namun, tidak langsung membukanya karena pekerjaannya belum terselesaikan. Karena dia pikir itu dari ibu atau ayahnya.
🌷🌷🌷
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1