Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 10


__ADS_3

Dor!


Dor!


Dor!


Suara tembakan menggema memecah kesunyian di markas besar, satu per satu vas bunga berjatuhan pada ubin hingga pecah berkeping-keping, Willy memuntahkan revolvernya ke segala arah diiringi teriakan penuh amarah. Mengacak rambutnya yang tertutup keringat dengan ekspresi frustasi di wajahnya. Willy memang sedang berlatih menembak saat itu dan Dirly meminta agar Willy bisa konsentrasi dan membayangkan bahwa vas bunga yang jatuh itu adalah para musuhnya.


Dirly mengapresiasi dengan memberikan tepuk tangan yang sangat begitu meriah untuk Willy, karena hari semakin hari cara tembakannya dan cara memegang revolver itu ia semakin cekatan.


Prok .. Prok .. Prok


"Cara menembakmu kian bagus, aku bangga padamu Wil. Dengar, Elsa tidak perlu tahu apa yang telah kita lakukan. Elsa harus aman, dia putriku tercinta. Apakah kau mendengar apa kataku Wil?"


"Bos serius? Tapi aku yakin suatu saat Elsa akan tahu, dan pasti dia akan marah kalau ternyata ayahnya adalah mafia besar yang penuh dengan musuh." kata Willy saat itu.


"Aku tidak pernah membohonginya, semua ini kulakukan karena aku menyayanginya, dia harus sejahtera. Aku tidak ingin membawa putriku dalam kesengsaraan." kata Dirly sambil menepuk pelan bahu Willy hingga membuatnya terdiam sejenak.


"Kalau suatu saat Elsa tahu bagaimana?"


Dilly terkekeh mendengarnya. "Aish, jika Elsa tahu itu pasti ulahmu dan aku akan memastikan aku akan membunuhmu, Wil." candanya lalu berjalan dan duduk di kursi miliknya.


"Tapi aku serius"


"Berjanjilah untuk melindungi putriku, gantikan aku jika suatu saat aku mati." pinta Dirly yang membuat Willy mengerjapkan matanya, seolah ia tak percaya bahwa Dirly yang menyuruhnya langsung untuk menjaga putrinya. Dan itu berarti bahwa Dirly sangat mempercayainya. "Aku sangat mempercayaimu, mengingat pertama kali aku menemukanmu di jalan aku sudah punya firasat bahwa aku bisa mengandalkanmu, jangan sia-siakan kepercayaanku."


Willy mengangguk cepat. "Oke, aku akan selalu memastikan Elsa aman karena aku akan menjaganya." sumpah Willy berikrar.


Dirly mengangguk. "Terima kasih."


Percakapan itu benar-benar terngiang di telinga Willy, sesampainya di mansion ia hanya bisa merenung dengan semua rasa sesalnya, dengan menatap lurus ke arah jendela kaca. Ia menyesal bercampur amarah karena terpaksa ia harus menceritakan fakta yang sebenarnya sebelum akhirnya Elsa menjadi marah besar karena ketidaktahuannya. Walaupun mungkin Elsa akan lebih hancur karena merasa dibohongi selama ini.


Tiba-tiba Sam datang dan menepuk pundak Willy dari belakang. "Will, ada apa denganmu? Kau terlihat sangat berbeda? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Sam sedikit khawatir.

__ADS_1


"Lupakan saja, aku baik-baik saja." jawabnya sambil menyugar rambutnya resah.


Sam mengangguk. "Oke, semoga harimu menyenangkan."


"Kau sudah menyalin videonya?" Willy bertanya


Sam mengangguk. "Tentu saja."


"Video itu harus segera kita serahkan pada Budi, dia harus tahu bahwa kalajengking hitam sedang mempermainkan kesedihan Budi karena Daren–saudara tercintanya sebenarnya telah dibunuh oleh kelompok kalajengking hitam." kata Willy sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


“Budi yang dulunya pengusaha akuarium itu 'kan?”


"Ya, sekarang dia adalah CEO boneka boba dan dia menyelundupkan narkoba di dalamnya. Wait, dia juga pengusaha vape dengan memasukan sabu-sabu kedalam cairan liquid."


"Wow, dia pengusaha haram yang sangat sukses, aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya. Kira-kira kapan kita akan bertemu dengan Budi?" tanya Sam sambil meraih sebatang rokok dan ia pun mulai membakarnya dengan pematik api.


"Sebentar lagi tentu saja, karena aku tidak sabar untuk menghancurkan bajingan-bajingan itu," seringai Willy muncul, sementara Sam mengangguk setuju sambil menyesap rokoknya hingga asap itu mengepul ke udara.


"Akh, apapun yang terjadi kita harus membunuh Red Tiger! Kita harus membunuh mereka semua satu per satu!" teriak Alden yang sedang di obati karena tangannya terluka akibat tembakan kemarin yang dilakukan oleh Willy. "Aw...Robbin, bisakah kau mengobati tanganku dengan baik? Apakah kau memiliki dendam terhadapku?" Alden protes sambil meringis saat Robbin membalut tangannya, sedangkan Tito terkekeh saat melihat Robbin dimarahi. "Tito, apakah kau juga ingin aku memotong lehermu?!" Alden mengancam Tito hingga membuatnya berhenti tertawa dan sekarang giliran Robbin yang malah menertawakannya. "Apakah kau tidak takut padaku? Di saat seperti ini kau malah tertawa!" sarkas Alden yang masih sensitif akibat kekalahannya dalam mengejar Willy.


"Jangan khawatir bos, kami pasti akan mendapatkan Willy untukmu!" Robbin bersumpah setelah perban dipasang dengan kuat di lengan Alden.


"Aku tidak ingin Tuan Jefry marah padaku karena aku tidak bisa menangani keributan itu! Apakah kalian tahu konsekuensinya jika video itu beredar? Tentu saja Budi akan memotong upahku dan kalian juga akan kehilangan banyak uang! Apakah kau siap kehilangan jutaan dolar?!" teriak Alden sambil berdiri dengan gigi gemeretak penuh dengan kebencian.


"Itu tidak akan pernah terjadi, bung!" kata Tito.


Alden tertawa hambar. "Tidak akan terjadi katamu?" Alden berdecih. "Tentu saja semua itu akan terjadi jika Willy dan kelompoknya masih hidup dan videonya tidak dihapus!" gerutunya dengan satu tangan terkepal erat dan matanya yang tajam melihat ke depan.


"Apakah bos tidak menemukan sesuatu di ponselnya?" tanya Tito.


"Dia bukan orang bodoh dan tentu saja videonya telah disimpan rapat-rapat olehnya. Satu-satunya jalan keluar adalah kita harus menemukan markas Red Tiger dan kemudian kita menyerang mereka!" ucap Alden lalu menatap anak buahnya satu per satu. "Bos besar mereka sudah mati dan kita juga harus menghabisi tangan kanannya dan para antek-anteknya!"


"Aku tahu kau tidak akan pernah berhasil  mengeksekusi apa pun!" tiba-tiba Daud muncul dan mengeluarkan pernyataan yang sangat menyinggung perasaan Alden.

__ADS_1


Alden tersenyum miring seolah tak peduli dengan apa yang baru saja dikatakan Daud, meski kata-kata itu sempat membuatnya sedikit terpengaruh.


"Kau selalu tidak menyukai caraku, jadi aku tidak akan terkejut jika kau selalu meremehkanku!" kata Alden santai.


"Tapi itu kenyataannya, right? Kau selalu tidak kompeten? Lalu apa bedanya kau dengan seorang pengecut?" Daud menyindir lagi, saat ia berjalan ke arah Alden dengan seringainya.


"Seorang pengecut tidak akan pernah ditunjuk sebagai tangan kanan oleh bos besar, jika kau mengatakan aku pengecut, bukankah itu berarti kau berpikir bos besar juga tidak kompeten untuk memilihku?" jawab Alden garang yang membuat gigi Daud gemeletuk disertai dengan rahangnya yang mengeras.


"Bos besar mungkin terlena dengan rayuanmu, jadi dia salah pilih! Sayang sekali," desisnya.


Bugh!


Setelah mengatakan kalimat demikian, Daud pun langsung menerima pukulan tak terduga mengenai wajahnya, kemarahan Alden benar-benar tidak main-main saat ini. Terutama Daud yang datang hanya untuk mengolok-olok dan meremehkannya.


"Daud sebaiknya kau diam!" teriak Robbin saat mencoba mengintervensi Daud yang terlihat ingin membalas pukulan Alden.


"Robbin, kau dulu selalu membelaku tapi kenapa kau seperti ini padaku, hah?!" gerutuan Daud terdengar berapi-api.


"Itu dulu ketika kau adalah tangan kanan bos besar, sekarang kau bukan apa-apa jadi tidak ada alasan apapun bagiku untuk takut padamu!" bentak Robbin sambil mencengkram tangan Daud agar tidak bertindak anarkis lagi.


"Kau lebih baik kembali ke sarangmu, jika kau tidak memberikan kontribusi apa pun lebih baik kau diam!" sindiran Tito tentu saja membuat Daud langsung berubah masam.


"Brengsek," umpat David pelan. "Dengar! Kalian semua akan berlutut padaku dan biarkan aku mendapatkan apa yang diinginkan bos besar! Kalian semua hanyalah budak yang malang, tidak lebih! Cuihh .."


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Alden memukul wajah Daud berulang kali hingga darah segar pun mengalir dari pangkal hidung akibat hantaman keras itu. Alden yang marah benar-benar tidak bisa menahan diri dari tinjunya. Daud menatap Alden dengan senyum licik seolah memendam dendam yang tak berkesudahan.


Nafas Alden terengah-engah karena emosi yang menggebu-gebu, sementara Robbin dan Tito yang paham situasi langsung menyeret Daud dengan paksa untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Namun, tatapan tajam Daud tak lepas dari sosok marah Alden, Daud merasa puas karena telah memancing emosi Alden yang sebelumnya selalu santai karena selama ini ia tidak pernah terkecoh dengan ocehannya, namun kali ini sepertinya Daud berhasil membuat Alden marah.

__ADS_1


__ADS_2