Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 12


__ADS_3

"Aaahhhhhhhh ...."


Anak buah Budi lainnya terjatuh, setelah Robbin menebas bahunya menggunakan senjata lawan yang berhasil direbutnya. Kejadian itu mengalihkan perhatian anak buah Budi yang lain. Satu persatu mereka mulai tumbang, menyisakan empat orang yang masih bisa bertahan dengan kekuatan yang mereka miliki.


Sebenarnya Alden dan Robbin agak kewalahan dan terus berusaha mati-matian mempertahankan diri. Melawan dua atau tiga orang mereka masih bisa mengimbangi, tapi dengan jumlah enam orang itu bukanlah jumlah yang kecil. Sudah hampir lima belas menit pertempuran tetapi mereka berhasil membuat tangan dan tubuh mereka penuh luka. Namun Alden dan Robbin mampu menangkis dan melakukan serangan balik meski semuanya tidak mudah.


srkk!


Saat Alden yang lengah terkena tebasan samurai yang kini mengenai pipinya hingga darahnya merembes, Alden mencoba menahan lukanya dengan telapak tangan sambil meringis kesakitan, namun ia sadar bahwa lukanya masih jauh dari denyut nadi. Melihat Alden terluka, tentu saja membuat Budi yang sedang menonton malah tertawa sangat puas sekarang.


Sementara Alden masih belum paham kenapa dia diserang seperti itu, mungkinkah video itu disebarkan oleh Willy? Video yang berisi momen dirinya dan yang lainnya membunuh Daren–adik dari Budi saat Daren berada di tempat parkiran gelap malam itu. Jika 'iya' maka akhiri ceritanya sekarang, ia pasti akan mendapatkan hukuman dari bos besar Jefry yang terkenal sadis jika ada anggotanya yang lalai dalam menjalankan tugasnya.


Dan hampir saja saat Alden hanyut dalam lamunannya sendiri, lehernya hampir saja disayat oleh senjata tajam tajam milik bawahan Budi–Kaisar yang dikenal sadis dalam melawan musuh-musuhnya. Seketika Alden mencoba menghindar dari serangan Kaisar dan berbalik melakukan serangan balik dengan gerakan lincahnya, sehingga Kaisar tidak menyangka bahwa Alden akan melakukan serangan seperti itu. Lengan Kaisar terluka oleh senjata tajam milik Alden. Dengan nafas terengah-engah Alden berusaha tenang namun tak bisa dipungkiri bahwa kini ia lemah dan hampir kehabisan tenaga.


Sang kaisar menjerit kesakitan, hingga satu atau dua temannya yang lain membantu dengan menahan serangan Alden. Dengan seluruh sisa kemampuannya Alden meneriakkan segala emosi yang bergemuruh di dadanya, ia menyerang dan mencabik-cabik daging dari kedua anggota tersebut, lalu menebas leher mereka satu per satu hingga berlumuran darah. Dan tidak sampai disitu saja, dia juga mencungkil bola mata dari satu anak buah Budi dengan kerambit miliknya, hingga terdengar jeritan kesakitan yang memekikkan telinga dan seketika saja dua orang anak buah Budi pun langsung tumbang seketika dengan berlumuran darah seperti binatang yang baru saja disembelih.


Budi menggeram marah melihat banyak anak buahnya tergeletak di lantai dengan darah yang hitam mengalir dari mulut mereka tanda luka yang cukup dalam.


Namun, berbeda dengan Robbin yang langsung ditusuk oleh salah satu anak buah Budi yang tersisa. Bahunya terluka cukup parah hingga membuat Alden yang melihat hal tersebut langsung kaget.


"Robbin!" teriak Alden dari ujung sana memanggil Robbin yang membungkuk karena kesakitan.


"Pergi dari sini!" Robbin berteriak keras sambil menahan rasa sakit akibat darah yang terus mengucur.

__ADS_1


"Tidak! Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendirian ketika kau terluka seperti ini!" teriak Alden di ambang keragu-raguan.


"Dia akan mati, jangan khawatir!" kata Budi yang langsung menembak mati Robbin dengan revolver hitamnya.


Dor!


Hening.


Alden menggelengkan kepala seolah semua yang dilihatnya tidak nyata, Robbin langsung terjatuh dan tewas karena peluru itu ternyata sudah menembus pipi Robbin hingga berlubang.


Alden terengah-engah, keringat bercucuran, ia perlahan menelan ludah yang telah mengering di tenggorokannya. Tangannya gemetar hebat sementara Budi tertawa sangat puas. Tidak, Robbin tidak mungkin mati. Seketika, ketika Alden lengah bagian belakang kepalanya dipukul oleh Kaisar hingga ia jatuh dan pandangannya kabur.


"BUNUH DIA!" Perintah Budi berteriak keras.


Dalam sepersekian detik Alden segera bangun dengan sigap lagi, ia tidak mau mati dalam kekalahan. Kaisar yang terlihat bugar kembali menyerang lagi bersama salah satu anak buah Budi yang tersisa, dua lawan satu.


Perkelahian kembali terjadi, Budi semakin terbuai amarah ia ingin anggota Jefri mati terutama Alden, tangan kanan yang cukup cerdik.


Alden menyerang mereka satu per satu, dentingan senjata tajam beradu di antara para samurai, celurit dan kerambit mendominasi ruangan.


srkk!


srkk!

__ADS_1


Saat senjata tajam itu saling berbenturan, Kaisar yang sedang murka membuat setiap serangannya membentur ruang kosong karena Alden berhasil mengelak. Dengan samurai yang dimiliki Kaisar, ia berharap bisa menyelesaikan pertempuran dan melumpuhkan Alden yang terbilang sulit dikalahkan. Jangkauan serangan samurai jauh lebih luas, memaksa Alden untuk sering menjauh jika ia tak ingin samurai itu menebas lehernya.


Alden berusaha melumpuhkan satu persatu anak buah Budi yang masih tersisa. Dan dalam benaknya salah satu dari mereka pasti sudah kelelahan. Karena itu, ia tidak mau melewatkan kesempatan sampai akhirnya ia pun mengambil keuntungan ketika mereka mulai lengah, dengan cara langsung menerjangnya dengan kaki panjangnya yang cukup kuat, sehingga dengan satu kaki yang kasar salah satu anak buahnya terlempar keras pada  dinding tembok. Musuh terbatuk karena dadanya terkena hentakan kaki Alden, membuat dadanya terasa sangat sesak hingga darah segar pun menyembur dari mulutnya yang dapat diperkirakan dia akan mati seketika.


Kaisar yang melihat temannya mati membuat giginya bergemeretak benci, ia kehilangan momen untuk menemukan kelemahan Alden dan saat itu ia pun langsung menyerangnya lagi.


Merasa sudah cukup mengukur kemampuan Kaisar, Alden berusaha menghindari setiap serangan Kaisar dengan beberapa backflip, sementara Kaisar tidak tinggal diam.


Maka Kaisar terus menyerang Alden dengan samurai secara beruntun, Alden yang beberapa kali menghindar dengan naik ke atas meja hingga mereka pun bertempur disana. Alden berhasil merobek lengan atas Kaisar menggunakan karambitnya, tetapi Kaisar membalas serangan itu dengan menyayat pipi Alden menggunakan ujung runcing samurai miliknya. Darah kembali menetes, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui siapa pemenang dalam pertarungan sengit ini.


Desss!


"Arrggghhhh..."


Satu tebasan tepat sasaran dari karambit Alden yang kini berhasil merobek betis Kaisar. Dan kemudian ia meraih tubuh Kaisar yang melemah,memanggulnya ke belakang layaknya seonggok karung beras lalu pun menghempaskan tubuh Kaisar seakan di beri adegan slow motion hingga tubuhnya terbanting ke meja dan langsung porak poranda.


Mulut Kaisar terasa sangat asin sementara matanya berubah buram, tubuhnya sakit hampir di beberapa bagian. Sementara samurai milik Kaisar terlempar ke sembarang arah dan ia pun tidak bisa bangun sama sekali, ia kehilangan kesadaran.


Melihat hal tersebut Budi tidak tinggal diam, ia kembali memanggil anak buahnya lagi. Pintu yang sudah terbuka lebar membuat Alden bisa melihat bahwa kini anak buah Budi semakin banyak yang datang. Mereka datang berbondong-bondong dengan senjata tajam yang sangat lengkap, tapi sepertinya Alden sudah mengantisipasi dan ia sama sekali tidak mau mengambil resiko yang cukup besar, ia tidak ingin kehabisan tenaga lagi mengingat sekarang ia sendirian dalam keadaan tubuh penuh luka.


Hingga Alden pun berpikir bahwa ia harus segera kabur, karena ia menyadari bahwa ia dikepung dan ia tidak punya banyak waktu lagi untuk berpikir. Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk melarikan diri dengan cara menembus dinding kaca yang ada di depannya, ia tidak peduli meski tulangnya patah karena yang terpenting baginya adalah ia tidak boleh mati di tangan musuhnya.


Brengggg!

__ADS_1


Dalam sekejap, Alden langsung menembus kaca tersebut hingga pecah, sementara tubuhnya melayang di udara karena ternyata ia melupakan sesuatu yang ternyata ia baru saja meluncur dari gedung yang cukup tinggi.


"Aaaaaaaaaa...." Alden berteriak dengan mata terbuka lebar dan ia berpikir mungkin ini adalah hari terakhir ia hidup, sebelum akhirnya ia mati karena terjun bebas melawan maut.


__ADS_2