
"Sial, apakah pria ini mati?" umpat sang sopir taxi seraya melajukan mobilnya dengan cepat, dan sesekali ia melirik ke jok belakang dengan sangat gelisah.
Dengan bersimbah darah seperti itu tentu saja membuat sang sopir ketakutan karena telah menabrak seseorang, sempat terlintas di pikirannya untuk membuang tubuhnya ke jurang namun tentu saja akal sehatnya masih berfungsi dengan baik, sehingga ia lebih memilih membawa pria itu ke rumah sakit. Ya, sebenarnya bisa saja ia kabur apalagi tak ada saksi mata yang melihat ia menabrak pria itu, tapi ia begitu khawatir dengan kondisinya yang babak belur dan terlihat sangat mengenaskan, sehingga ia mengurungkan segala niat buruknya.
Dengan kecepatan penuh akhirnya mobilnya memasuki halaman rumah sakit, dengan cepat sang sopir memarkirkan mobilnya lalu segera turun untuk memberikan pertolongan pada pria itu--Alden. Beberapa suster datang dengan tergesa-gesa dengan membawa brankar dengan cepat, tubuh Alden pun langsung diangkat ke atas brankar lalu mulai berjalan memasuki lorong rumah sakit.
Setelah memasuki ruangan, si sopir hanya bisa menunggu dengan keadaan cemas. Setidaknya ia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan. Ia merogoh ponsel lalu mulai menelepon bosnya untuk mengatakan bahwa ia sekarang sedang ada dalam masalah, sehingga ia tidak bisa bekerja full time untuk hari ini.
*****
Dan suasana Elsa saat ini, kini ia berada di meja persegi dengan hidangan yang tersaji dengan mewah. Aroma lezat menyeruak masuk kedalam indra penciumannya hingga perutnya yang keroncongan pun berbunyi nyaring, sehingga Budi yang mendengarnya pun langsung terkekeh, sementara Elsa hanya bisa menunduk malu. Seorang pelayan membantu Elsa untuk menyendok nasi dan juga lauk pauknya, ia sendiri sama sekali tidak berhenti tersenyum dan mengatakan terima kasih pada pelayan itu berulang kali.
"Sudah saya duga kau pasti kelaparan, makanlah." kata Budi mempersilahkan Elsa sementara Elsa hanya mengangguk.
Budi mencoba mengusir si pelayan dengan tangannya yang mengibas di udara, seolah paham si pelayan pun langsung membungkukan badan dengan hormat lalu segera bergegas pergi. Sementara Elsa mulai mencicipi makanan itu, satu suapan yang begitu lezat masuk kedalam mulutnya. Elsa sangat senang, betapa ia sangat merindukan masakan ala mansion hingga ia malah kembali merindukan momen saat ia masih berada di rumahnya bersama sang ayah, makan bersama sambil bercanda dan berbincang-bincang. Dengan lahap ia memakannya, sementara Budi terlihat begitu intens menatap Elsa yang sedang makan, satu fakta hingga ia melupakan Alden yang telah melarikan diri. Setidaknya dengan adanya Elsa membuat emosinya kini mereda seketika.
"Apakah rasanya enak?" tanya Budi seraya tertawa ringan.
Elsa mengangguk semangat. "Tentu saja, Tuan. Apakah Tuan tidak makan?" tanya Elsa seraya mengunyah makanan di mulutnya.
"Saya sudah kenyang, saya sudah makan di luar setengah jam yang lalu." jawab Budi setelah meneguk segelas air putih di tangannya.
__ADS_1
Elsa mengangguk ragu kemudian ia melanjutkan kembali sesi makannya dengan bersemangat.
"Setelah ini, apa kau bisa menemani saya berbincang sebentar di ruang kerja saya?" tanya Budi seraya meletakan kembali gelas itu diatas meja.
"Ya?" kepala Elsa terangkat, lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menganggukan kepala. Rasanya tidak enak kalau ia menolak permintaan Budi.
"Ah, benarkah? Baiklah, kalau begitu habiskan dulu makannya sampai kau kenyang." kata Budi seraya tersenyum kecik.
"Baik, Tuan." sahut Elsa kemudian melanjutkan kembali menyuapi makanan pada mulutnya.
Setelah makan siang berakhir, Elsa pun kembali berjalan bersama dengan Budi. Namun, ia sedikit merasa risih karena Budi merangkul kedua bahunya dan tiada henti Budi mengusap-usap bahunya dengan pelan menggunakan jempolnya secara konstan. Elsa mencoba menggerakkan bahunya untuk sekedar menghindari apa yang Budi perbuat padanya, namun tampaknya pria itu sama sekali tidak menghentikan aktivitasnya, sehingga membuat Elsa harus pasrah karena ia benar-benar tidak enak hati dengan Budi yang sudah baik padanya.
"Memangnya Tuan ingin berbincang mengenai hal apa pada saya?" tanya Elsa memulai percakapan untuk menyembunyikan rasa canggungnya.
Elsa mengangguk kecil, lalu terdengarlah pintu dibuka. Udara Ac terasa sejuk menyambutnya setelah ia masuk kedalam ruangan, setelah itu Budi membantunya untuk duduk di sofa.
"El, kau adalah gadis polos yang baik. Kau pandai sekali menyimpan rasa sakit dan juga luka mu dengan rapi." puji Budi seraya ia duduk disamping Elsa dengan mengikis jarak, hingga membuatnya menelan ludah dan setengah mati jantungnya berpacu dengan cepat. Dia sangat trauma dengan hal ini, ia takut Budi melakukan hal yang tak senonoh padanya seperti apa yang dilakukan Jefry padanya.
"Ah, Saya tidak sepandai itu Tuan. Tetap saja jika saya bersedih saya akan menangis." tepis Elsa apa adanya seraya sedikit menggeser bokong nya untuk duduk berjauhan dengan Budi. Namun, Budi tampaknya menyadari hal itu hingga ia mengulum senyum.
"Tapi kau adalah gadis yang kuat," lanjut Budi yang membuat Elsa hanya bisa pura-pura tersenyum. Padahal ia sangat tertekan sekarang.
__ADS_1
"Tidak juga, saya baru saja gagal dalam percobaan bunuh diri." sela Elsa yang membuat Budi terdiam sesaat, rupanya Elsa sama sekali tidak terbuai dengan pujiannya.
Budi tertawa kecil, lalu terdengar ia menghela nafas panjang. "Ah, baiklah. Oh ya, El. Bolehkah saya meminta tanda tanganmu?"
Elsa terdiam seketika dengan kening alis bertaut bingung, mengapa tiba-tiba saja Budi meminta tanda tangan darinya?
"Untuk apa Tuan?" tanya Elsa beralasan.
Budi langsung berdiri seraya mencari sebuah berkas di laci meja miliknya. "Jadi begini El, saya adalah seorang CEO perusahaan boba dan sebenarnya saya tidak terlalu mempercayai seseorang. Maksudnya, saya bukan tidak mempercayaimu El, hanya saja ini untuk berjaga-jaga, terlebih lagi kau akan menetap di mansion saya. Sebenarnya ini bukan apa-apa, jadi jangan menganggap semuanya serius El. Saya bukan hanya meminta tanda tanganmu saja, semua orang yang bekerja dengan saya ataupun tinggal ditempat saya, pasti saya akan meminta tanda tangannya. Apa kau keberatan?" Budi mencoba me-manipulasi Elsa seraya ia menyerahkan berkas itu pada tangannya.
Elsa terdiam untuk sesaat, ia mencoba berpikir jernih. Ia tidak tahu kertas apa yang Budi berikan padanya. Terlebih lagi ia buta, ia tidak bisa membaca keseluruhan isi dari kertas itu. Seakan mengerti, Budi pun mencoba untuk menyakinkan Elsa kembali.
"Tidak perlu khawatir El, saya bukan orang jahat yang akan menjualmu. Willy juga tahu bahwa saya adalah pemimpin yang baik, apa kau tidak mempercayainya?"
Seakan merasa bahwa otak Elsa terasa tercuci, segera ia pun membuyarkan pikiran buruknya mengenai Budi. Elsa langsung mengembangkan senyuman seolah ia yakin bahwa Budi memang orang baik.
"Baik, Tuan. Hanya sekedar tanda tangan saya tidak keberatan." kata Elsa yang membuat Budi tersenyum simpul.
"Terimakasih, El. Baiklah disini kau tanda tangan," Budi mengarahkan pulpen itu di kertas bermaterai lalu Elsa pun membubuhkan tanda tangan diatasnya.
Seketika saja Budi langsung tergelak dalam batinnya, ia begitu puas dengan apa yang ia dapat. Bahwa harta Dirly kini beralih menjadi miliknya seutuhnya.
__ADS_1
"The time for fun has started!" Budi tertawa puas dalam batinnya, akhirnya inilah nikmat dunia yang tak bisa didustakan lagi.