
"Ayah, Lantas dimana sekarang Elsa?" Alden bertanya dengan penuh harap, ia berharap bahwa Elsa berada disini.
Bramantyo terlihat berusaha tegar dan juga berusaha menahan air matanya yang menggantung, sekejap saja ia memejamkan mata maka air mata itu akan dengan mudah berlinang membasahi pipi.
"Elsa," sebut Bramantyo setengah-setengah, hingga membuat Alden semakin penasaran.
"Ya, Elsa berada disini 'kan, Yah?" tanya Alden mencoba memastikan.
Bramantyo menghirup nafasnya dalam-dalam, ia tengah berusaha mengatur nafasnya yang merasa tidak stabil. Rahangnya mengeras seakan semuanya terasa sangat begitu sulit untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Alden.
"Ayah? Kau masih disini 'kan?" Alden berusaha memanggil ayahnya kembali, memastikan bahwa ayahnya masih mendengar pertanyaannya.
"Elsa, Elsa," seakan tak kuasa menahan gejolak kesedihannya saat ini, maka pada akhirnya tangisan Bramantyo pun langsung pecah seketika hingga membuat Alden mulai berfirasat buruk.
"Ayah, katakana apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alden tak sabaran.
Tangisan Bramantyo semakin merebak, air matanya jatuh dengan begitu mudah dan dengan begitu derasnya. Dadanya teramat sangat begitu sesak, ia sesegukan seakan membuktikan bahwa semuanya terasa sangat begitu memilukan. Tanpa di sadari kedua bola mata Alden pun langsung berselimut lapisan bening seakan ia mulai mengerti apa yang hendak dikatakan ayahnya, ia yakin bahwa semuanya ada yang tidak beres.
Alden berusaha menguatkan hatinya, meskipun bibirnya mulai bergetar seiring dengan air matanya yang perlahan menetes.
"Katakan, Ayah." pinta Alden serupa dengan lirihan.
"Elsa, Elsa telah tiada." jawab Bramantyo dengan tangisannya yang langsung histeris seraya memegang dadanya yang semakin terasa menghimpit.
Ku kumpulkan kepingan hati
Yang kau hancurkan jadi serpihan
Kali ini kamu terlalu
Hingga harga diriku terinjak
Menancapkan di hati ini
Perihnya meradang tak sembuh sembuh
Walau aku s'lalu bertahan
__ADS_1
Tapi kali ini aku runtuh
Kamu terlalu tau lemah aku
Mencintaimu dan mudah maafkan
Hanya bila nanti kau terluka
Seperti yang kurasakan
Anggaplah ini karmamu
Pandangan Alden melemah, sampai akhirnya ia menangis tertahan. Ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya seakan apa yang telah ia dengar barusan hanyalah sebuah mimpi buruk.
"Ayah, pasti bohong 'kan?" Alden bertanya kembali dan ia berharap bahwa ia salah dengar. Apa yang ia dengar tentang kematian Elsa adalah berita bohong, namun ayahnya menggeleng.
"Tidak sama sekali, ayah tidak bohong padamu, Nak." sahut Bramantyo dengan nada rendah, seakan suaranya seperti habis begitu saja.
Alden tertegun dengan air matanya yang berjatuhan tanpa jeda, sementara bayi yang masih berada di pelukannya semakin dipeluk olehnya. Sampai akhirnya Alden benar-benar menumpahkan segala bentuk kesedihannya, kemarahannya pada diri sendiri, sesal dan juga rasa bersalah yang tak berkesudahan.
Alden sama sekali tak bisa berkata apapun selain menangis dan menangis, sementara Bramantyo hanya bisa menunduk dan berusaha mengendalikan dirinya tapi apa daya karena ia tak mampu melakukannya karena ia pun sama-sama terguncang.
"Ayah minta maaf, ayah tak bisa menjaga Elsa, ayah sangat menyesal, I'm so sorry .. I'm so sorry." Bramantyo mengulang kalimat itu berulang-ulang.
Alden tak tahu harus bagaimana lagi, ia merasa sangat begitu lelah seakan ia tak memiliki energi dalam tubuhnya. Bahkan ia merasa bahwa dunianya sekejap benar-benar berubah dan ia merasa tak berguna sedikitpun, semuanya terasa kosong, hampa, dan tak ada lagi yang berarti sehingga ia sama sekali tak punya alasan apapun lagi untuk kembali menjadi manusia yang memiliki tujuan lagi.
Malam itu adalah malam yang dingin, ketika semua penghuni sel tengah terlelap terlihat sosok Alden hanya duduk sambil melamun. Sampai akhirnya di waktu pagi menjelang ketika semua penghuni sel telah terbangun dari tidurnya, mereka semua pun langsung berteriak histeris dengan sepasang matanya yang terbelalak kaget seperti akan loncat dari tempatnya.
Mereka melihat Alden ditemukan dalam keadaan tergantung di atap kamar mandi. Sampai akhirnya berita tersebut langsung terdengar sampai ke telinga Bramantyo dan betapa terpukulnya dirinya setelah mengetahui bahwa Alden telah tewas. Sementara dokter mulai mengotopsi jenazah Alden yang dilakukan antara 24-48 jam post mortem. Pada pemeriksaan ditemukan luka lecet tekan dengan pola sesuai kasus gantung dileher dan beberapa luka lecet dan memar di anggota gerak terutama anggota gerak bawah. Kukunya berwarna keunguan, daerah leher dan wajah berwarna lebih gelap. Tubuh Alden sudah mulai membengkak dan sudah terbujur kaku. Pada pemeriksaan dalam ditemukan memar pada otot leher, tanda-tanda mati lemas pada beberapa organ, sedangkan pada bagian tubuh lain tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
Sebab kematian kekerasan tumpul di leher karena ditemukan tanda-tanda intravitalitas luka, dan tanda- tanda asfiksia pada tubuhnya, pola luka di leher sesuai pola gantung. Dan tidak ditemukan tanda kekerasan lain yang bisa menyebabkan kematian. Beberapa luka lecet dengan umur yang berbeda-beda ditemukan di ekstremitas hal ini bisa disebabkan oleh berbagai kekerasan tumpul. Kasus ini menjadi kontroversi karena kematian di tahanan dianggap ada kelalain petugas.
Bramantyo menjerit-jerit di rumah sakit setelah mendengar pemaparan yang telah dijelaskan sang dokter. Kemalangan menimpa hidupnya secara bertubi-tubi hingga membuat Bramantyo sangat begitu terpukul dan depresi. Dimasa tuanya ia benar-benar sangat menderita, semua bayangannya untuk berkumpul bersama putra satu-satunya serta bersama calon menantu ternyata hanyalah bayangan semu yang takkan pernah menjadi kenyataan.
Bruhhh ..
"Alden," sebut Bramantyo dengan teramat lirih diterpa sembilu yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
Bramantyo terkulai lemas sampai ia terjatuh dari kursi roda, seakan ia tak bisa menerima kenyataan yang ada. Sang supir berusaha untuk membantu Tuan nya, dengan air mata yang berlinang ubin itu pun ikut basah sampai akhirnya sepasang matanya pun terpejam dan tak sadarkan diri hingga membuat yang lainnya panik.
"Ayah, Ayah bangun ayah."
Suara lembut itu berhasil terdengar di telinga Bramantyo hingga membuat sepasang matanya terbuka perlahan, semula pandangannya mengabur namun semuanya semakin terlihat semakin jelas setelah ia merasakan tubuhnya sudah terbaring di atas brankar lalu pandangannya menemukan sosok Alden dan Elsa yang tengah memandangnya seraya mengembangkan sebuah senyuman yang teramat manis.
Sepasang mata Bramantyo menatap dua orang itu dengan tatapan nanar lalu ia pun tersenyum sendu.
"Ayah, aku dan Elsa minta maaf karena telah membuat ayah ikut merasakan derita dari kami. Maaf karena kami hanya membebani ayah, suatu saat kita akan berkumpul kembali. Aku dan Elsa selalu percaya itu. Jika ayah merindukan kami, lihatlah Eleazar dia pengganti kami, ia lah penerus sebenarnya yang ayah dambakan selama ini. Aku dan Elsa yakin bahwa Eleazar akan tumbuh menjadi anak yang kuat, mandiri, bertanggung jawab, dan mencintai ayah sebagai kakeknya dengan sangat. Ayah terima kasih untuk segalanya, dan aku minta maaf juga untuk semuanya. Kamu menyayangimu, mencintaimu dengan tulus." senyuman Alden merekah dengan wajah berseri.
Bramantyo mengangguk kecil dengan air matanya yang perlahan menetes, sampai akhirnya Alden dan Elsa pun langsung memeluk dirinya dengan begitu kuat dan erat. Saat itu, ia melihat putra dan calon menantunya terlihat tampan dan juga cantik. Dengan pakaian serba putih yang dikenakan mereka bak pangeran dan seorang bidadari surga, sebelum akhirnya pelukan mereka pun terlepas dengan perlahan dan mereka pun berjalan mundur yang membentangkan jarak.
Bramantyo mencoba mengulurkan tangan, berharap ia akan meraih dua orang yang ia sayangi itu untuk kembali kepelukannya. Namun mereka semakin menjauh dan hanya menatapnya dengan sepasang mata teduh mereka.
"Kalian mau kemana? Kenapa tidak mau menemani ayah saja disini?" tanya Bramantyo dengan nada rendah, seakan tenggorokannya seperti kesulitan untuk mengeluarkan suara.
Mereka sama sekali tak menjawab apapun dan mereka pun sama sekali tak meraih tangannya. Mereka hanya tersenyum lembut lalu dengan sekejap kabut asap tipis muncul dan mengelilingi mereka, sesaat berikutnya asap itu pun menghilang bersamaan dengan hilangnya mereka dan hanya menyisakan Bramantyo yang kebingungan.
"Alden, Elsa …" Bramantyo memanggil, terus memanggil seiring dengan air mata yang mengalir semakin deras. Namun mereka benar-benar sudah menghilang dan mereka tak akan pernah kembali lagi.
Sampai akhirnya tangisan seorang bayi terdengar memekakkan telinga, hingga membuat Bramantyo siuman dari pingsannya. Ia terbangun dengan pipi yang terasa basah, sampai akhirnya ia mendapati supir pribadi, dan juga perawat pribadinya yang tengah menggendong bayi Eleazar yang tengah menangis dalam gendongan.
Dengan sangat begitu rapuh, Bramantyo pun langsung beringsut duduk dan berupaya untuk menggendong cucunya itu yang tengah menangis. Dan setelah berada di pelukannya, bayi itu pun yang semula menangis langsung terdiam. Bramantyo menangis tertahan lalu memeluk cucunya dengan rasa sayang yang begitu dalam, seakan saat ia memeluk cucunya ia merasa bahwa ia pun tengah memeluk Alden dan Elsa.
Dengan segenap hatinya, ia pun langsung mengecup kening cucunya dengan lembut. Menatap bayi mungil yang malang karena ia terlahir dalam keadaan yatim-piatu dan ia berharap Tuhan bisa memberikan umur yang panjang serta kesehatan agar ia bisa merawat cucunya hingga kelak dewasa.
Hingga tujuh tahun berikutnya, Bramantyo yang sudah renta dengan uban menghiasi rambutnya, kini terlihat hadir di pemakaman bersama Eleazar yang sudah menginjak usia tujuh tahun. Dan mereka pun memanjatkan doa seraya menabur bunga di pemakaman Alden dan Elsa, kemudian Eleazar lah yang memimpin doa tersebut.
"Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memanggil kedua orang tuaku untuk pulang ke pangkuan-Mu. Meskipun kami yakin bahwa ia telah tenang bersama Engkau di dalam Firdaus, sebagai manusia biasa, kami tentu masih merasakan kesedihan akan kehilangan ini. Hanya Engkau yang sanggup menolong kami melalui masa kesedihan yang sulit ini serta mengubah tangis menjadi senyum. Kami mohon sertai kami agar dapat melalui masa-masa ini dengan ketabahan. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami telah berdoa, Haleluya, Amin." Eleazer berdoa dengan lantang, kemudian ia dan sang kakek pun kembali menabur bunga di kuburan mereka.
"Amin." sahut Bramantyo kemudian ia pun memandang cucunya dengan pandangan seteduh awan dengan disertai senyuman yang terkembang di bibirnya.
"Kakek, aku sayang padamu." ucap Eleazer dengan teramat tulus, sebelum akhirnya ia pun langsung berhambur memeluk Bramantyo dengan begitu erat. Dan tentu saja Bramantyo pun langsung membalas pelukan itu dengan disertai isak tangis penuh rasa haru dan juga bangga karena ia hidup tak sebatang kara, sebab ada seorang cucu yang begitu hebat yang kini bersedia menemaninya dikala usianya yang kian senja.
Dan pewaris tunggal dari segala kekayaan yang dimiliki Bramantyo selama ini kini telah jatuh kepada Eleazar, cucu satu-satunya yang teramat ia sayangi seumur hidupnya.
TAMAT
__ADS_1