Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 21


__ADS_3

"Hrrrrrrrr.... Arghhhhhhh..."


Dalam sepi tiba-tiba saja terdengar geraman dahsyat yang memecah keheningan, suaranya terdengar dari berbagai arah. Jari-jemari Willy yang sedang berada di atas keyboard komputer seketika saja terhenti tatkala mendengar suara yang belum berbentuk rupa itu. Ia mencoba menerka dengan apa yang sedang terjadi, ia bangkit dari posisi sebelumnya dan langsung berjalan ke arah jendela lalu mengintipnya dari tirai. Seketika saja sepasang matanya terbelalak seolah apa yang ia lihat begitu sangat mengejutkan.


Terdengar suara para musuh dari kelompok kalajengking hitam berteriak tertahan, jumlahnya mungkin belasan orang serta arahnya dari berbagai penjuru dan sulit ditebak membuat pertahanan para anak buahnya sulit untuk melawan. Suara auman, teriakan, dan geraman terdengar mengerikan. Ditambah lagi dengan suara dentingan senjata yang saling beradu terdengar sangat memilukan, beberapa orang tumbang sementara yang lainnya tunggang-langgang.


Sorot lampu dari halaman kini mulai terlihat jelas menampakan dua anak buahnya terkoyak, sementara para musuh terlihat tertawa bak iblis seolah mengumumkan kemenangan. Melihat hal itu tentu saja membuat Willy begitu sangat panik, satu persatu anak buahnya mulai dibantai. Karena situasi yang mendadak runyam seperti ini tentu saja membuat Willy sulit untuk berpikir, namun alasan kelompok kalajengking hitam menyerang pasti semua itu ada hubungannya dengan Budi. Mereka pasti sudah tahu dalang dibalik penyebaran video itu hingga Budi menyerang Alden dan Robin saat itu dan mungkin mereka tidak terima. Tapi alasan terkuatnya bukan karena Alden dan Robin diserang, mereka hanya tidak terima karena reputasi mereka hancur begitu saja dan mengalihkan kerja sama dengan kelompok Red Tiger. Apalagi reputasi kerjasama dengan Budi si gembong narkoba yang memiliki akses internasional untuk mengedarkan barang haram tersebut dengan mudah, mulai dari sabang sampai merauke tanpa kendala yang pelik.


Tak..tak..tak..


Pada detik itu pula terdengar suara derap langkah yang sepertinya menuju ruangan Willy, sepasang indra pendengarannya berfungsi dengan sangat baik hingga ia kembali bersiaga, celakalah jika ia dibantai habis-habisan oleh kalajengking hitam. Segera ia membuka laci dan mengambil revolver dan tidak lupa memasukan beberapa amunisi pada revolver serta memasukan sebagian lainnya lagi di saku dalam jas.


Lima orang yang kini mulai mendekat ke arah ruangan Willy tampak membawa senjata lengkap, revolver, samurai dan kerambit. Dengan sekali hentak sosok Daud langsung mendobrak pintu itu, dan menempati ruangan yang tampak kosong. Namun sepertinya Daud sudah mengatur siasat dengan anak buahnya yang masih lengkap maka ia membagi dua.


Brak!


Willy terjatuh setelah melompat dari atas, ia berusaha untuk melarikan diri dengan cara merunduk untuk mengendap-endap. Bagaimanapun ia sama sekali tidak ingin mengambil resiko yang cukup besar, mengingat dia kini seorang diri dengan anak buahnya yang sudah tergeletak dimana-mana dengan berlumuran darah. Willy berusaha untuk menenangkan diri dari kepanikan yang semakin menyerangnya saat ini.


"Cuiiittt.... citttt..."


Satu siulan panjang terdengar entah dari mana arahnya, namun hal itu berhasil membuat Willy terperanjat kaget. Dengan nafasnya yang tersenggal ia berusaha untuk melarikan diri secepat mungkin sebelum ia tertangkap basah oleh para musuh.

__ADS_1


"Tangkap dia!" sebuah seruan keras terdengar membuat Willy menoleh kebelakang dan menyadari bahwa kini ia dalam bahaya.


"Celaka," Willy bergumam dengan raut wajahnya yang terlihat cemas. Firasatnya sangatlah buruk karena ia tak menyangka bahwa ia bisa ditemukan dengan mudah seperti ini.


Dan benar saja tanpa diduga sebelumnya, didepan dan dibelakangnya kini telah berdiri para musuh dengan begitu gagahnya serta seringai jahat yang terpatri. Bukan hanya kalah dalam jumlah kini ia juga telah dikepung.


Sepasang mata Willy terbelalak diiringi dengan menelan ludah secara perlahan, keringat mulai nampak mengucur dari keningnya. Willy menatap Daud yang melihat wajahnya mengeras namun ekspresinya terlihat sangat angkuh. Willy berusaha untuk tetap tenang tanpa menunjukan bahwa ia sebenarnya was-was, dan ia berusaha untuk meyakinkan diri bahwa ia mampu untuk menghabisi mereka satu persatu dengan tangannya sendiri.


"Apa kabar? Sehat?" sambutnya dengan senyuman licik.


Ujung samurai yang berlumuran darah itu milik Daud yang kini berada di tangannya, ternyata hal itu berhasil memberikan efek yang luar biasa untuk Willy seolah semua itu berhasil membakar keberaniannya, ia adalah seorang mafia dan ia bukanlah seorang pengecut maka ia tak boleh melarikan diri seperti ini meskipun ia sadar bahwa ia kalah dalam jumlah. Ia tak terima dengan aksi pembantaian yang dilakukan musuhnya itu pada anak buahnya, maka ia pun tak boleh tinggal diam.


Dan pada detik itu pula para musuh bergantian dalam menyerang Willy, hingga dengan penuh kesiapan Willy pun langsung membalas serangan itu hingga tujuh lawan satu terjadi, sementara Daud menjadi penontonnya.


Bugh!


Dan untuk ketiga anak buah Daud yang lain tampaknya mereka tengah menggeledah ruangan Willy untuk mencari-cari berkas penting yang akan mereka ambil, hingga tampaklah ruangan itu seperti kapal pecah yang telah mereka acak-acak. Kelompok kalajengking hitam benar-benar memiliki pengamatan bagus serta pengintaian mereka benar-benar tak sia-sia setelah sekian lama mereka mencari rumah besar keluarga Dirly akhirnya kini ditemukan.


Dan kembali lagi dalam pertarungan yang semakin seru, rupanya kemampuan Willy dalam bela diri patut diacungi jempol, Dirly tidak salah memilih Willy sebagai tangan kanan yang mampu menguasai berbagai jurus dalam laga. Layaknya karang yang dihempaskan ombak karena meskipun ia seorang diri, Willy memiliki taktik yang begitu cekatan dan juga cerdik dalam mengelabui lawan. Jika satu lawan satu saja berimbang, dengan jumlah mereka yang jauh lebih unggul namun tidak memungkiri bahwa skill adalah kuncinya. Dengan terjangan, tangkisan, serangan serta bogeman yang terus menerus dilakukan Willy membuatnya jauh lebih menguasai pertarungan, terlebih ia bisa mengambil senjata tajam milik lawan dengan cerdik dan berbalik menguasai senjata itu untuk membalas serangan dengan menyayat satu persatu lawan, karena hal itu tentu saja berhasil membuat tenaga para lawan mulai keteteran hingga satu persatu jatuh berguguran.


"Hiyaaat..."

__ADS_1


Willy memang telah berhasil merobohkan empat lawan dari tujuh lawan hingga menyisakan tiga lagi, demikian juga dengan senjata tajam yang berhasil ia rebut dan telah memakan korban, dan satu lagi ia berhasil menebas leher lawan hingga darah segar itu muncrat dari sela lehernya, dan menyisakan dua orang lawan lagi. Rahang Daud mengeras, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya ia benar-benar tak menduga bahwa Willy ternyata tak semudah itu untuk ditaklukan. Para petarung tak lepas dari penuhnya luka sayatan yang terasa sangat perih dan juga panas tapi tak urung membuat mereka untuk menyerah begitu saja.


Namun kali ini Willy harus menerima tatakalah sentuhan ujung samurai yang runcing itu menyentuh lengan atasnya, hingga lengannya robek dan darah segar pun menetes.


Drakkkkkk!


"Aww!"


Willy berteriak kesakitan dengan menekan luka di lengannya, namun darah yang menetes semakin memperlambat gerakannya. Sepasang matanya menatap lawan yang terlihat menyeringai, kemudian teralihkan pada sosok Daud yang menantangnya dengan kedua alis yang naik-turun serta seulas senyuman miring seolah ia tengah meledek Willy habis-habisan.


Bibir Willy bergetar dan berubah pias, ia tak menyangka bahwa pertarungan ini harus berakhir dengan tragis.


Tangannya yang terluka sudah terasa sangat kebas, namun meskipun begitu serangan lawan masih saja terjadi seolah mereka tak ingin melewatkan kesempatan untuk melumpuhkan Willy ataupun memberikan pengampunan. Dengan amat terpaksa Willy hanya bisa mengandalkan tangan kanannya yang juga terasa sangat lemah, satu benturan membuat samurai dan kerambit terlepas dari tangan Willy lalu terlempar begitu saja.


Melihat situasi tersebut Daud terpacu, hingga membuatnya tertarik untuk ikut dalam pertarungan ini. Tiga lawan satu, mereka menyerang Willy sekaligus. Dua kerambit serta satu tusukan pisau lipat mengarah pada leher, dada serta paha Willy dari tiga arah yang berbeda.


Srakkkkkk!


Seketika darah segar kembali bercucuran, sepasang mata milik Willy terasa berkunang-kunang serta tubuhnya yang terhuyung-huyung dan sebelum ia merasakan dunianya benar-benar gelap ia melihat tiga lawannya itu tertawa terbahak-bahak bak iblis, sementara Daud berkata sesuatu yang membuat Willy semakin merasa lemah.


"Aku akan mendapatkan Elsa secepat mungkin. Dan kemudian aku akan menyerahkannya pada bos Jefry lalu kami akan menjadikan Elsa sebagai pelacur, dan tidak lupa juga kami pun akan menjualnya keluar negeri. Semoga kau suka dengan kabar ini," bisik Daud dengan seringai jahat lalu tertawa menggelegar seolah ia puas dengan kemenangan ini.

__ADS_1


Tubuh Willy bergetar hebat setelah mendengarnya, namun ia tak punya upaya apapun ia berusaha untuk mengumpulkan tenaga, namun sayang sekali badannya terlalu lemah karena ia terluka cukup parah hingga pada detik itu pula tubuh Willy tumbang dan tak sadarkan diri.


__ADS_2