
Sebulan kemudian hari-hari berlalu begitu cepat. Hiruk-pikuk ibukota menjadi pemandangan utama kemewahannya yang tak terelakkan.
Malam itu, dengan cahaya remang-remang dan angin malam yang meniup tirai kamar jendela yang sedikit terbuka menimbulkan kesan hening. Kini Alden terlihat sedang membentangkan kertas di atas meja persegi di kamarnya, kemudian ia mulai membuat pola menggunakan bolpoin seolah ia merencanakan sesuatu di atas kertas itu. Mungkin seperti pola strategi yang ia siapkan untuk menyerang rumah Budi.
Detik berikutnya, Alden langsung mengambil revolver dan juga kerambit dari laci meja persegi, revolver baru yang dibelinya tadi siang. Kemudian ia pun meletakkannya di samping kertas, senyum miring muncul dari ekspresinya kali ini, lalu ia pun langsung memasukkan revolver ke dalam tasnya.
Tok .. Tok .. Tok
Alden menoleh ke arah pintu kamarnya yang diketuk seseorang, ia berpikir sejenak sebelum akhirnya ia melangkah menuju pintu.
Ceklek!
"El?" panggil Alden setelah membuka pintu dan menemukan Elsa disana.
Senyum Alden langsung tenggelam saat melihat wajah Elsa yang terlihat muram.
"Apa kau terbangun karena kesulitan tidur lagi?" tanya Alden sambil menyentuh bahu Elsa dan menatapnya dengan saksama.
Elsa menggelengkan kepala, tetapi dengan cepat ia pun langsung menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya.
"Ah, lebih baik kita masuk ke dalam. Mari kita bicarakan ini," kata Alden sambil merangkul Elsa untuk masuk ke kamar, lalu ia pun menutup pintu.
Alden dan Elsa duduk di pinggir kasur dengan posisi menyamping dan saling berhadapan. Melihat Elsa yang tiba-tiba menangis tentu saja membuat Alden langsung mengkhawatirkannya.
"Mengapa kau menangis? Apa kau mengalami mimpi buruk?" tanya Alden sambil menangkup pipi Elsa, lalu jarinya terulur menghapus air matanya.
Elsa menggelengkan kepalanya lagi, tapi kini isak tangis itu mulai lolos dari bibirnya yang membuat Alden panik.
"El, katakan sesuatu? Apa kau ada masalah?" tanya Alden lagi.
"Aku–" Elsa mulai berbicara, meskipun suaranya bergetar saat ia kembali menangis seakan dadanya terasa sangat begitu sesak.
"Katakan, El. Jangan membuatku khawatir seperti ini." pinta Alden sambil menatap Elsa dengan hati-hati.
"Aku merasa tidak enak badan beberapa minggu terakhir ini," cicitnya dengan suara serak. “Kau sendiri tahu, kalau aku sering muntah, pusing dan sakit?”
"Ya, aku tahu." Alden menjawab pelan.
“Aku sempat menolak saat kau ingin membawaku ke dokter,”
Alden mengangguk. "Iya, terus kau mau ke dokter malam ini? Kalau kau mau, mungkin aku akan menelepon dokter pribadi Ayahku."
"Siang tadi aku pergi ke dokter,"
"Hah? Kapan dan dengan siapa?" tanya Alden sedikit terkejut.
“Tadinya aku ingin meminta antar padamu, Al. Hanya saja Ayahmu mengatakan kalau kau sedang membeli sesuatu ke luar. Lalu aku meminta izin Ayahmu untuk pergi ke dokter karena aku sedang tidak enak badan, dan karena dia khawatir maka Ayahmu segera mengizinkanku untuk pergi dan meminta supir pribadi Ayahmu untuk membawaku ke dokter." kata Elsa mencoba menjelaskannya secara detail.
"Lalu apa kata dokter?" tanya Alden yang semakin penasaran.
Elsa terdiam sesaat, ia mencoba mengatakan yang sebenarnya kepada Alden. Meski sangat sulit, tapi bagaimanapun ia harus mengatakannya.
__ADS_1
"Aku hamil." jawab Elsa lugas, singkat, padat dan jelas.
Deg!
Alden langsung tersentak mendengarnya, begitu juga dengan sepasang matanya yang langsung melebar. Ia benar-benar kaget mendengarnya, begitu mendengar hal itu maka dengan perlahan tangannya yang semula menggenggam pipi Elsa pun langsung lemas dalam sekejap.
“Aku tidak bermaksud menuduhmu Al, aku sadar bahwa aku memang sudah tidak suci lagi. Tapi apa kau tahu, dalam dua tahun terakhir ini aku sama sekali tidak pernah berhubungan **** dengan siapapun. Kecuali denganmu malam itu." Elsa berkata di antara isak tangisnya.
Alden tersenyum miris mendengarnya, ia benar-benar tidak percaya bahwa ia telah menghamili Elsa. Ia merasa bahwa dirinya sama sekali tidak becus melindungi Elsa hanya karena nafsu sesaat yang kerap menjerumuskannya ke lembah kelam yang semakin membawanya pada dosa besar.
Sejujurnya, Alden ingin menangis sekarang. Ia membungkukkan punggungnya dengan lemah sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Bagaimana jika Elsa tahu segalanya, tahu bahwa dialah yang membunuh Ayahnya, tahu bahwa dialah yang membuatnya buta, dan sekarang dia mengandung benih darinya. Akankah Elsa bisa menerima kenyataan pahit itu? Akankah dia rela melindungi rahimnya—buah dosa malam itu?
Alden tidak bisa berpikir sama sekali sekarang, ia hanya bisa mengutuk dirinya berulang kali. Bisa saja ia membuat Elsa lebih sengsara sekarang.
"Al, apa kau tidak mau bertanggung jawab atas benih yang tumbuh di rahimku?" tanya Elsa dengan nada gemetar.
Alden langsung menatap Elsa, ia menangis dalam diam. Dadanya terasa begitu sesak, dan ia menyesal telah melakukan kesalahan fatal pada Elsa malam itu. Alden memukul keningnya berkali-kali, sungguh ia tidak bisa berpikir saat ini.
"El, bisakah kau tinggalkan aku sendirian di sini?" tanya Alden dengan nada rendah, mendengar permintaan itu jelas membuat Elsa langsung memikirkan hal-hal yang tidak.
Elsa langsung menangis saat itu juga, ia sempat mengira Alden bersedia bertanggung jawab. Tapi nyatanya Alden tidak mengatakan apa-apa kecuali mengatakan bahwa sekarang dirinya harus meninggalkan Alden seorang diri. Dan tentunya karena hal itu Elsa menjadi sangat sedih.
"Al, aku sudah menderita sejauh ini. Kupikir kau–"
"Tinggalkan aku sendiri El, kumohon!" Alden langsung menyela dengan nada tegas, membuat Elsa semakin menangis.
Dan dengan marah Elsa terpaksa harus segera meninggalkan Alden yang disertai dengan perasaan yang begitu teriris, maka dengan hentakan kaki kasar ia pun langsung berlari meninggalkan Alden.
Setelah Elsa keluar dari kamarnya, Alden langsung bangkit dari posisinya semula sambil berteriak marah dengan kepalan tangan yang menghantam udara. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi, membentur tembok berkali-kali dengan kepalan tangannya hingga membuat kepalan tangannya langsung memar.
"Kenapa aku harus membuatnya menderita lagi, hah?! Kenapa aku harus menghamilinya?!" Alden berteriak dari semua emosinya yang meletup-letup. "Mengapa aku tidak bisa menjaga nafsuku malam itu, mengapa?" ia mendesis saat tubuhnya meluruh ke lantai, ia menangis, menjerit, berteriak marah, dan mengutuk dirinya sendiri.
"Bodoh, bodoh, bodoh."ia mengutuk sambil meremas helaian rambutnya dengan erat sambil menangis dengan dadanya yang teramat sesak.
Seketika Alden langsung teringat Elsa, ia tidak ingin terjadi apa-apa padanya lalu ia pun langsung bergegas ke kamar Elsa yang ada di lantai bawah.
Alden menuruni tangga dengan cepat, nafasnya tercekat saat ia berada di depan pintu kamarnya. Kemudian ia pun langsung mengetuk pintu kamarnya.
Tok .. Tok .. Tok
"El, bisakah kita bicara sebentar?" Alden membuka suaranya setengah volume, ia tidak ingin Ayahnya bangun dari tidurnya jika ia membuat keributan di tengah malam seperti ini.
Pintu tak kunjung terbuka, maka Alden pun mencoba menggerakkan kenop pintu tetapi Elsa tidak mengunci pintu sama sekali. Tak mau berpikir lama, akhirnya ia pun bergegas masuk dan tak lupa menutup pintunya lagi.
Alden melihat Elsa dengan tubuh meringkuk dengan punggungnya yang menghadap ke arahnya. Alden terdiam sesaat sebelum akhirnya ia melangkah dan mendekati Elsa dengan perasaan penuh rasa bersalah.
Alden tahu pasti Elsa kecewa dan marah padanya, maka Alden pun dengan lembut duduk di tepi ranjang.
"El, maafkan aku. Aku hanya terkejut tadi, tapi aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu sama sekali. Kau tahu aku di sini hanya untuk mengatakan bahwa aku ingin bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan padamu. Aku harap kau tidak marah lagi padaku, El. Apa kau akan memberikan maaf untukku?"
Hening.
__ADS_1
Elsa sama sekali tidak menjawab apapun, Alden tersenyum miris sambil melihat punggung Elsa. Ia yakin Elsa sedang tidak mood untuk berbicara dengannya.
"Ketahuilah bahwa aku benar-benar tidak pantas untukmu, El. Aku khawatir kau akan menyesal jika kau menikah denganku. Aku brengsek, hanya saja Tuhan berhasil menyembunyikan aibku darimu. Aku takut kau akan menderita jika kau menikah denganku, bahkan jika aku menikah denganmu aku sangat beruntung, karena kau adalah wanita yang sangat istimewa." Alden berkata dengan sepenuh hati, ia benar-benar tulus mengatakannya pada Elsa.
Hening.
Elsa masih tidak bergeming, maka perlahan Alden pun langsung bangkit dari posisinya dan mulai mendekati Elsa lagi yang sedang meringkuk.
"Aku tahu kau belum tidur, El. Kau pasti sudah mendengar apa yang aku katakan." ucap Alden selangkah lebih dekat, hingga saat Alden jatuh berlutut di lantai sepasang matanya pun langsung terbelalak saat ia melihat luka tepat di pergelangan tangan Elsa dimana darahnya kini mengalir ke lantai.
"El, Elsa?!" seru Alden sambil mengibaskan rambut Elsa yang menutupi wajahnya.
Wajah Elsa sangat pucat, Alden mulai panik, maka ia pun segera mengobrak-abrik sprei lalu menggigit ujungnya dengan giginya hingga robek menjadi seutas tali. Alden tidak ingin mengambil resiko sama sekali, maka ia pun segera mengikatkan tali di pergelangan tangan Elsa agar Elsa tidak kehilangan terlalu banyak darah. Dan setelah merasa sudah cukup dengan nafas tak teratur yang disertai kepanikannya maka Alden pun segera menggendong Elsa di pangkuannya dengan cepat, ia sangat tidak ingin terjadi sesuatu padanya.
"El, tunggu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau harus merasakan kebahagiaan dulu, aku tidak ingin kau pergi dalam keadaan menderita, aku benar-benar tidak mau.” kata Alden sambil menangis, lalu meraih gagang pintu kamar dan setelah pintu kamar berhasil dibuka ia pun langsung berlari sambil berteriak keras—memecah kesunyian malam. .
"Tolong! Tolong! Tolong!" teriak Alden sekuat tenaga hingga urat di lehernya menyembul keluar.
Bramantyo yang sedang tidur pun langsung tersentak mendengar teriakan itu, lalu dengan susah payah ia pun langsung bangkit dari posisinya dan berusaha meraih kursi roda di depannya.
"Alden, apa yang terjadi padamu, Nak?" Bramantyo memanggil putranya panik, seraya ia berusaha keluar dari dalam kamarnya.
"Tolong tolong!" teriak Alden lagi saat ia berjalan keluar.
Mendengar teriakan Alden, sang perawat Bramantyo pun segera keluar dari ruangan dan kemudian ia berlari menuju arah suara tersebut, begitu juga dengan sang supir yang baru saja keluar dari area dapur dengan berlari dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, Tuan Alden?" sang supir muncul tepat di belakang Alden hingga membuatnya menoleh.
"Cepat bawa aku ke rumah sakit, sekarang!" perintah Alden dengan tidak sabar.
Sopir itu mengangguk mengerti. "Ya, Tuan."
Perawat yang baru muncul langsung panik saat melihat Alden menggendong Elsa yang tak sadarkan diri.
"Nona Elsa kenapa, Tuan?" tanya perawat itu dengan cemas.
"Tolong jaga Ayah, katakan aku akan ke rumah sakit karena Elsa kritis!" kata Alden buru-buru.
"B-Baik, Tuan." perawat itu mengangguk paham
Dengan cepat Alden pun segera berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh sang supir, lalu ia pun langsung membuka pintu belakang dan Alden segera masuk, lalu mobil itu pun melaju dengan cepat.
"Apa yang telah terjadi?" kata Bramantyo yang baru saja keluar sambil mendorong kursi roda.
"Tuan? Ah, tadi Tuan Alden bilang harus segera ke rumah sakit karena Non Elsa kritis." jawab perawat yang ikut panik.
"Apa? Kenapa Elsa bisa kritis?" Bramantyo terkejut dan bercampur khawatir.
Perawat itu menggelengkan kepalanya. "Saya juga tidak tahu. Tuan."
"Kalau begitu kita juga harus pergi ke sana, tolong siapkan kebutuhanku!" perintah Bramantyo langsung.
__ADS_1
"Ya, Tuan." si perawat mengangguk dan segera bergegas.