
Rambut lepek milik Alden yang basah oleh keringat itu tiba-tiba saja di jambak dengan begitu kuat oleh satu tangan besar dan berurat, hingga kepalanya mendongak saat ia masih terduduk di lantai ia mengerang kesakitan akibat jambakan yang dilakukan seorang pria paruh baya itu, dan bahkan sepasang mata miliknya terbelalak ketika melihat sosok yang berdiri tepat di hadapannya itu yang ternyata adalah seorang pria paruh baya yang tidak asing lagi, ia adalah Dirly--yang telah mati dibunuh olehnya. Alden amat terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang, mengapa Dirly berada disini? Bukankah ia telah mati?
"L-lepaskan ini sakit sekali," Alden berteriak seraya meringis, sementara Dirly menunjukan senyuman misteriusnya.
"Apa kau masih ingat aku?" tanyanya dengan menampilkan seringai, sementara Alden mendadak kaku.
"A-apa?" Alden bertanya dengan terbata-bata.
Lagi, dengan cepat Dirly kembali menjambak rambut Alden dalam satu hentakan yang kasar seraya tersenyum meremehkan, sementara Alden berteriak karena ia merasa bahwa akar-akar rambutnya seperti akan tercabut dari kulit kepalanya.
Sementara satu tangan Dirly menodongkan sebilah pisau tepat di antara leher milik Alden dengan wajah mengerikan yang di pangpangkannya.
"Kau sudah mati dan kau, kau-kau mau apa, hah?!" panik Alden yang semakin ketakutan dengan gertakan yang dilakukan Dirly padanya.
Dirly terkekeh melihat dan mendengar Alden yang tampak ketakutan seperti itu. "Kau adalah pembunuh dan kau telah membuat putriku menderita! Seumur hidupku, aku tak pernah membuat putriku bersedih, tapi karena semua ulahmu putriku menjadi seperti ini! Jangan tanyakan aku ingin apa, yang aku inginkan adalah kau bertanggung jawab atas segala yang telah kau perbuat!" seru Dirly dengan sepasang matanya yang melotot murka.
"K-kau," napas Alden menderu ia sama sekali tak bisa menstabilkan keadaannya untuk bersikap tenang.
"Aku ingin menggorok lehermu!" ancam Dirly seraya tertawa menggelegar yang membuat wajah Alden mendadak pucat pasi.
"Tenang, aku mohon tenanglah." pinta Alden dengan nafas tak beraturan serta keringat dingin yang bercucuran.
"Mana bisa aku melepaskanmu, hah!" seketika saja Dirly semakin mendekatkan pisaunya tepat di leher Alden, hingga membuat jantungnya was-was karena jika Dirly semakin emosi maka tak segan-segan jika pisau itu menggorok lehernya sampai putus.
"Aku akan bertanggung jawab," sambung Alden seketika seraya menelan ludahnya perlahan, dengan bibir yang berucap gemetar.
Dirly tersenyum miring. "Apa?" ulangnya berlaga tidak mendengar.
"Aku berjanji akan menjaga Elsa dan aku berjanji akan menebus seluruh kesalahanku. Berikan aku kesempatan, aku akan melakukan yang terbaik semampu yang aku bisa." ujar Alden hingga Dirly menarik kembali pisaunya dari leher Alden.
"Aku menginginkan Jefri mati apa kau bisa, hah?!" pinta Dirly dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
Seketika saja mendengar permintaan Dirly membuat sepasang mata Alden langsung terbelalak, ia gugup tak tahu harus menjawab apa. Karena ia tahu bahwa memusnahkan Jefry bukanlah perkara yang mudah.
"Ya?" desis Alden yang masih terkejut.
"Jika kau ingin kau tenang maka turutilah apa mau ku!" ucapnya lalu tertawa sinis.
"T-tapi,"
Srkk...
Seketika saja Dirly langsung menggorok leher Alden dengan pisau di tangannya, hingga darah segar pun tersembur dan muncrat sementara kedua matanya terbelalak serta dengan urat leher yang timbul karena terkejut mendapatkan serangan yang datang secara tiba-tiba. Dirly tertawa menggelegar bak iblis seraya ia menghunuskan pisaunya yang telah berumuran darah hingga darah itu berceceran di lantai. Dirly menatap pisau itu lalu menjilatnya bagai iblis yang haus akan darah, sementara tubuh Alden langsung tergeletak di lantai dengan mengeluarkan suara seperti orang yang sedang sakaratul maut dengan tubuh yang mengejang.
Seketika saja Alden langsung berteriak histeris dan langsung terbangun dari posisi sebelumnya, semula ia berbaring lalu terduduk di sofa karena ia memang tidur di sofa. Baru saja ia mengalami mimpi yang sangat buruk namun terasa sangat begitu nyata. Napasnya terengah serta keringatnya yang mengucur, ia terbungkuk lalu meremas helaian rambutnya dan menyugarnya dengan diiringi oleh hembusan nafas berat. Ia sangat gelisah dan juga resah dengan mimpinya, ia bisa menafsirkan bahwa mungkin saja Ayah Elsa belum tenang di alam sana dan mungkin ia juga masih dendam padanya.
Alden bersandar di kepala sofa dengan kepala menengadah pada atap, terus terang ia masih terbayang-bayang mimpi buruk itu dengan adegan dimana Dirly menggorok lehernya. Alden membuyarkan semua cuplikan yang terputar di kepalanya itu dan berusaha untuk tetap tenang. Dengan pendar lampu remang dan juga suara yang sunyi dalam keheningan malam yang malah semakin terasa mencekam secara bersamaan. Alden beranjak dari sofa dan melihat sosok Elsa yang masih tertidur di atas ranjang, rupanya teriakannya sama sekali tidak mengganggu tidur Elsa dan tentu saja hal itu membuatnya merasa lega.
Alden menyeduh kopi di pantry lalu ia beranjak menuju balkon apartemen. Udara malam yang dingin cukup menyejukan tubuhnya yang gerah akibat mimpi buruk itu yang terasa semakin menghantuinya. Segera Alden pun merogoh sebungkus rokok dibalik saku celananya, menyalakan sebatang rokok itu kemudian menghisapnya kuat hingga asap itu mengepul di udara. Setidaknya dengan cara seperti ini, ia bisa menghilangkan rasa gundahnya yang semakin berkecamuk dalam dada.
"Sebagai seorang mafia aku tidak pernah merasakan sesal sedalam ini, tapi gadis itu benar-benar membuatku merasakannya. Sejak awal bertemu aku merasakan getaran kesedihan hingga mempengaruhiku, apakah aku harus membiarkannya pergi saja agar aku tenang? Jika gadis itu tetap disini pasti akan membuatku semakin tertekan." Alden berbicara sendiri dengan nada prustasinya, lalu menghela nafas panjang. "Ini sulit bagiku, tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri." desisnya perlahan seraya menyesap kembali rokok miliknya itu.
Deg!
Seketika saja Alden langsung menoleh ke arah sumber suara itu, dan betapa terkejutnya saat ia melihat Elsa ada di belakangnya dengan setetes air mata yang sudah membasahi pipinya. Apakah Elsa mendengarnya?
Alden menggeleng samar. "El, dengar ini tak seburuk yang kau kira." sanggah Alden mencoba berkilah.
Elsa tersenyum getir. "Maafkan aku, karena aku telah menjadi beban untukmu, kalau begitu izinkan aku pergi dari sini."
Tanpa menunggu persetujuan dari Alden seketika saja Elsa langsung melengos pergi, dan dengan gerak cepat Alden pun langsung mengejar lalu menarik cepat pergelangan tangan Elsa.
"Elsa, kau mau kemana? Ini sudah malam." panik Alden sementara kedua mata Elsa sudah basah dengan air mata.
__ADS_1
"Aku tidak peduli apakah sekarang malam atau siang, yang terpenting aku tidak ingin membebanimu karena aku menumpang hidup padamu!" sengit Elsa bercucuran air mata seraya menepis cepat tangan Alden dari tangannya.
"A-aku sama sekali tidak bermaksud dan---"
"Aku ingin pergi dari sini, dan jangan menghalangi aku!" sungut Elsa seketika dan ia pun akan segera beranjak dari hadapan Alden meskipun dengan susah payah.
"Tidak El, aku tidak mengizinkanmu!" tahan Alden lagi seraya memegang kedua tangan Elsa sementara Elsa terus berontak.
"Tapi kenapa?!" sentak Elsa bertanya dengan bibir bergetar.
"Aku ingin melindungimu!" balas Alden dan tetap kuat memegangi Elsa.
"Aku tidak butuh itu!" sahut Elsa melotot marah.
"Tapi aku ingin!" seru Alden jujur.
"Kau bukan siapa-siapa, begitupun aku yang bukan siapa-siap kau! Kita hanya bertemu di jalan dan kau sama sekali tak berhak atas aku!" marah Elsa tak main-main.
"Aku telah berjanji untuk mempertemukan kau dengan pembunuh ayah mu!" tegas Alden yang ikut terbawa suasana.
"Aku tidak butuh itu, aku bisa mencarinya sendiri!" seru Elsa dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya kembali.
"Kau tidak bisa mencarinya sendiri---"
"Tapi kenapa, hah? Apa karena aku buta, iya?!"
"Tidak, El! Bukan karena itu!" sambung Alden cepat.
"Aku memang buta dan aku memang sudah kehilangan segalanya. Orang Tuaku, penglihatanku, kebahagiaanku, dan aku sadar bahwa aku lemah, tapi aku sama sekali tidak ingin merepotkan siapapun atau membebani siapapun termasuk kau! Aku hanya ingin pergi dan aku hanya ingin----"
Belum sempat Elsa menyelesaikan celotehannya tiba-tiba saja ia merasakannya, sebuah pagutan yang lembut, basah dan kenyal menempel di bibirnya hingga tuturnya tertahan seketika.
__ADS_1
Cup!
Sebuah ciuman mendarat di bibir Elsa dan untuk pertama kalinya ia merasa bahwa ia kini seperti sedang kehilangan napas, serta jantungnya terasa seperti berhenti berdetak saat itu juga.