
"Hiyaaaattttt...."
Alden mengangkat garpu di tangannya dan langsung mendaratkan sebuah serangan secara tiba-tiba tepat di pupil mata Wawan, hingga ia memekik keras karena kesakitan. Matanya mengucurkan darah, hingga membuat seluruh para tahanan langsung menghentikan aktivitas mereka masing-masing seraya bangkit berdiri dengan dipenuhi wajah-wajah tegang mereka. Mereka tak menyangka bahwa Alden akan senekat itu.
Wawan menekan satu matanya yang terkena serangan Alden, ia terbungkuk-bungkuk menahan rasa nyeri. Tak tinggal diam teman satu sel nya langsung berbalik menyerang Alden dengan serangan cepat dan kasar. Entah kekuatan apa yang menguasai Alden saat ini, mendadak ia bisa mendapatkan energinya kembali.
Saat lawan menyerang dengan cara berusaha menerjang tubuh Alden, maka dengan gerak cepat ia langsung meraih kaki lawan, memelintir kaki itu hingga berbunyi tulang ke tulang hingga membuat lawan langsung menjerit kesakitan. Dan ada detik itu pula Alden langsung membanting tubuh lawan dalam sekali hentakan pada ubin, hingga lawan meringis karena akhirnya cedera.
Sementara lawan yang lainnya menyerang Alden secara bergerombol, tak ingin kalah dalam pertarungan Alden pun sudah menyiapkan strategi. Dengan kelihaian tangannya, ia memainkan garpu itu hingga melayang di udara dan langsung tepat sasaran menusuk bola mata dari satu lawan hingga tumbang dan bersimbah darah. Yang lainnya tidak ingin kalah, mereka menyerang dengan kekuatan mereka masing-masing yang dipenuhi emosi yang berkecamuk. Maka terjadilah pukul dan memukul, Alden meladeni mereka secara bersamaan meskipun sebenarnya kakinya masih begitu sakit namun ia juga tak ingin jika ia terus-terusan ditindas dan mati konyol di tangan para musuh.
"Hyatt...."
Bugh!
Bugh!
Alden melancarkan aksi dengan memukul berulang kali dada lawan hingga lawan merasakan sesak tepat di ulu atinya, dengan taktik sempurna ia langsung membanting lawan dengan menyapu kaki lawan dari depan. Kemudian dilemparkan tubuh lawan pada sebuah meja hingga porak poranda.
Brakkk!
Yang lainnya berpikir dua kali ketika mereka melihat kemampuan Alden dalam bertarung, mereka menelan ludah dengan nafas terengah. Sepertinya mereka dapat membaca gerak-gerik Alden yang begitu cekatan dalam bertarung. Mereka mengerti, sepertinya Alden bukanlah orang sembarangan dan mereka patut waspada.
Berbeda dengan satu diantara mereka yang memilih untuk menyerang Alden habis-habisan, meskipun ia sudah berdarah-darah karena sebelumnya Alden telah memukul pangkal hidungnya dengan bantingan kursi. Tapi tampaknya lawan yang satu itu belum kapok, seolah ia sedang cari muka untuk mendapatkan perhatian dari Wawan. Meskipun mungkin Wawan tidak bisa melihat karena satu matanya terluka cukup parah. Namun konyolnya kelompok dari Wawan sangatlah acuh meskipun mereka melihat Wawan yang sedang berada dalam kepayahan, mereka sama sekali tak ada niatan untuk membantu Wawan yang kini sedang berteriak minta tolong karena kesakitan.
"Kau harus mati, dasar cecunguk liar!" lawan yang satu itu berseru garang lalu kembali menyerang Alden semampu yang ia bisa.
__ADS_1
Seolah menikmati, Alden pun menyeringai dan langsung berlari mengambil ancang-ancang untuk baku hantam. Lawan yang satu ini rupanya memiliki aksi bela diri yang cukup mumpuni, karena buktinya Alden sendiri belum mampu menumbangkannya seperti lawan yang lainnya.
Lawan langsung menjegal kaki Alden dengan sapuan kakinya hingga Alden langsung terjerembab pada ubin, bibirnya mengeluarkan darah karena mendapatkan benturan yang sangat keras dan bahkan dadanya sedikit sesak. Tatapan Alden tak sama sekali tak teralihkan dari lawan yang kini terlihat tersenyum sinis ke arahnya, seolah sedang berbangga diri. Belum sempat bergerak untuk bangun, dengan satu hentakan yang kasar si lawan langsung menginjak punggung Alden hingga berbunyi antar tulang yang membuat Alden langsung terbatuk-batuk dibuatnya.
Tak ingin merasa kalah, maka dengan cepat Alden pun langsung meraih kaki si lawan lalu memelintirnya hingga ia berteriak kesakitan, dengan cepat Alden langsung bangkit dan langsung memukul perut si lawan dengan lututnya berulang kali lalu memukul punggung si lawan dengan sikunya, tak berhenti sampai disitu saja ia pun langsung memanggul dan kemudian melempar tubuhnya hingga melayang di udara untuk sepersekian detik sebelum akhirnya tubuhnya tersentak pada dinding tembok yang kokoh, hingga mulutnya tersembur darah segar dan ia pun langsung tak sadarkan diri.
Dengan napas terengah-engah serta keringat yang mengucur deras, Alden menatap satu persatu lawan yang sudah bergelimpangan di ubin dan di sela itu terdengarlah suara gemuruh tepuk tangan yang mendominasi disertai dengan decakan kagum dan juga wajah-wajah berseri dari mereka, hingga tentu saja membuat kening alis Alden langsung bertaut bingung. Apa maksudnya?
*****
"Bagaimanapun caranya aku harus membunuh Alden dengan tanganku sendiri. Setelah dia berhasil melarikan diri beberapa minggu yang lalu, jelas membuatku sangat menyesal karena telah membiarkan begitu saja, seharusnya aku langsung memenggal kepalanya saat itu juga." Willy berbicara sendiri seraya duduk dengan punggung terbungkuk, dengan kedua tangan mengepal serta rahang yang mengeras, pertanda bahwa ia sedang marah besar sekarang.
Seketika saja Elsa muncul ditengah-tengah Willy dengan wajah yang sangat murung, melihat hal itu Willy langsung berdiri dan menatap Elsa dengan tatapan khawatir.
"Ada apa, El?" tanya Willy beralasan.
"El, bicaralah terus terang, ada apa sebenarnya? Kau terlihat begitu murung akhir-akhir ini." tanya Willy lagi seraya merangkul kedua bahu Elsa dan menatap wajahnya.
"Aku,"
"Duduklah, kita bicarakan hal ini." kata Willy seraya membantu Elsa untuk duduk di sofa. Kemudian mereka pun duduk berdampingan.
"Aku merindukan seseorang," akhirnya Elsa mulai berbicara terus terang, hingga membuat Willy mencondongkan wajah ke arah Elsa untuk mendengarkan ceritanya dengan seksama.
"Tuan Dirly?" tanya Willy memastikan.
__ADS_1
Elsa menggeleng, hingga membuat Willy mengernyit. "Aku percaya Ayah sudah tenang di alam sana, tapi untuk saat ini aku benar-benar merindukan seseorang yang pernah menolongku. Setiap malam aku selalu memimpikannya," cerita Elsa disertai setetes air mata yang berlinang.
"Hei, El. Jangan menangis." seketika saja Willy langsung mengangkat dagu Elsa lembut, lalu ia membantu menghapus air matanya dengan jarinya. "Siapa dia?" tanya Willy seraya mengangkat dagu Elsa lembut, lalu menatap matanya.
"Dia pria yang sangat baik, hingga aku merasa sangat kehilangan. Aku yakin dia pasti mencariku karena aku diculik Jefry pada saat aku masih berada di apartemen miliknya. Dan bahkan aku tidak bisa menghubunginya untuk hanya sekedar mengatakan bahwa aku baik-baik saja." ungkap Elsa yang mulai terisak.
Willy terdiam setelah mendengar cerita Elsa. Entah mengapa hatinya merasa sangat sakit ketika Elsa mengatakan bahwa ada seorang pria baik hati, selain dirinya yang sedang ia rindukan.
"Kau merindukannya sampai kau menangis seperti ini? Lalu bagaimana dengan aku yang merindukanmu saat kau kabur dari rumah saat itu?" Willy berkata dengan serius hingga membuat Elsa terpaku. Elsa berusaha mencerna ucapan Willy barusan.
"Will, aku--"
"Jangan mudah percaya dengan seseorang apalagi kau baru mengenalnya." timpal Willy sedikit membuang muka, seolah ia tak suka jika Elsa dekat dengan pria lain selain dirinya.
"Tapi dia sangat baik dan--"
"Dan kau mudah terbuai!" lanjut Willy memotong pembicaraan Elsa begitu saja.
"Terbuai apa maksudmu, Will?" tanya Elsa tak mengerti.
"Lupakan saja apa kataku, tidak terlalu penting untuk dibahas!" pinta Willy dengan acuh.
"Tapi kau marah 'kan? Aku tak mengerti kenapa kau marah seperti ini," bingung Elsa.
"Ketahuilah aku tak menyukai kau memikirkan pria manapun ataupun merindukan pria manapun. Aku tak suka!" kata Willy terus terang dan apa adanya, seraya menatap manik mata Elsa dengan lamat.
__ADS_1
"Tapi kenapa?" tanya Elsa dengan nada protes.
"Karena aku menyukaimu, El!" jawab Willy dengan kalimat penekanan, hingga membuat Elsa langsung terdiam tanpa kata dengan seketika.