Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 25


__ADS_3

Suara roda brankar yang tengah di dorong dengan tergesa-gesa terdengar mengisi lorong rumah sakit. Dengan wajah panik, Budi memandangi Willy yang berbaring di atas brankar dengan keadaan kritis. Pada saat itu Budi baru saja sampai di kediaman Willy, ia sengaja datang tanpa memberitahu Willy karena ia telah merencanakan semuanya hanya sekedar untuk memberikan hadiah terkait bukti kematian adiknya yang telah dibongkar habis-habisan oleh Willy.


Budi ingin berterima kasih atas solidaritas yang telah dilakukan Willy padanya. Berkat Willy, Budi bisa mengetahui kebusukan kalajengking hitam yang telah di cap sebagai musuh dalam selimut. Namun, setelah sampai di depan ia melihat Willy tergeletak dengan bersimbah darah, tidak ketinggalan ia juga menemukan anak buahnya yang tergeletak dimana-mana dan tentu saja hal itu membuat Budi terkejut tak kepalang maka dengan segera ia menelpon ambulance dengan rasa panik yang tiada bertepi.


Tiba di ruangan IGD membuat Budi terhenti disana, sementara Willy masuk ke ruangan tersebut untuk ditangani dokter. Budi menghela napas panjang dan ia tak habis pikir mengapa semua ini harus terjadi, ia berpikir pasti semua itu tidak lepas dari kelicikan yang dilakukan oleh kelompok kalajengking hitam. Maka dengan saat ia berada di ruang tunggu Budi pun langsung menelpon seseorang di seberang sana.


"Hallo?"


"Hallo," sahut seseorang di seberang sana.


****


Malam penuh hingar bingar ibukota dengan kendaraan berlalu lalang di bundaran HI, dan di suasana di sebuah ruangan terlihat Jefri sedang duduk dengan kedua kaki bersilang dan bertumpuk di atas meja, sementara bibirnya menyesap kuat rokok hingga asapnya mengepul di udara. Dan sosok Daud yang kini berada disana yang tengah menghadap Jefry dengan dada sedikit berbusung ia merasa bahwa kini ia sedang berada di atas angin, dan baginya semua keberhasilan yang ia raih adalah suatu pencapaian karena ia telah mendapatkan kembali kepercayaan Jefri padanya.


"Kau luar biasa sekali Daud, aku menyesal karena beberapa tahun ini aku telah mengabaikanmu." kekehnya seraya menurunkan kedua kaki dan kembali membuka sebuah proposal penting yang didapatkan Daud dari ruang kerja Willy. "Namun sayang sekali kau sedikit ceroboh karena tidak membaca secara rinci dari proposal ini," lanjut Jefri seraya menghela nafas panjang dan meletakan kembali proposal itu di atas mejanya.


"Memangnya kenapa, Tuan?" tanya Daud dengan dahi berkerut tanda ia tak mengerti ucapan dari Jefry.


"Proposal ini sangatlah penting apalagi terdapat banyak data dari kekayaan milik Dirly dan kau tahu semua atas nama putrinya yaitu Elsa. Dan apakah kau tidak menanyakan keberadaan gadis itu pada Willy sebelum kau menghabisinya?" tanya Jefri seraya ia bangkit dari tempat duduk, kemudian menyesap kembali sebatang rokok itu.

__ADS_1


"Ah, tentang itu saya benar-benar minta maaf Tuan. Malam itu saya benar-benar kalap ingin menghabisi mereka satu persatu tanpa menanyakan keberadaan gadis itu, dan bahkan dari kami semua sama sekali tidak melihat sosok gadis itu berada disana." jawab Daud berterus terang dan apa adanya.


"Selain aku menginginkan tanda tangan milik gadis itu, aku juga menginginkan tubuhnya. Apa kau bisa mendapatkan gadis itu untukku?" pinta Jefri seraya tersenyum miring serta sepasang matanya yang berbinar cemerlang.


Daud mengangguk seraya mengulas senyuman. "Tentu saja saya akan mendapatkannya untuk Tuan, saya akan mencari gadis itu sampai dapat. Saya pikir gadis itu tidak akan berlari jauh apalagi gadis itu buta," ikrar Daud dengan penuh percaya diri, sementara Jefri langsung tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


"Ya, kau benar gadis itu buta dan pasti dengan mudah kau akan menemukannya. Aku ingin kau membawanya tepat di hadapanku tanpa busana yang membalut tubuhnya," pintanya seraya mengelus-elus rahang miliknya serta memainkan lidah di dalam, seolah ia benar-benar tidak sabar untuk menikmati tubuh Elsa dalam memuaskan hasratnya.


"Tuan, apa kau benar-benar akan berselera dengan gadis buta semacam dia?" tanya Dayd penasaran seraya ia mengulum senyum.


"Kau belum tahu betapa cantiknya putri Dirly, jika kau bertemu dengannya pun kau pasti ingin ikut mencicipi nya juga." kata Jefry seraya menghembuskan asap rokok itu di udara lalu tertawa lagi.


"Semua anak buahku dapat mencicipinya, maka dari itu kau harus segera membawanya kesini. Apa kau paham Daud?"


Daud mengangguk dengan semangat setelah mendengar jawaban yang baru saja disetujui oleh Jefry mengenai ia ingin menyetubuhi Elsa. "Baik, segera saya akan mendapatkannya, Tuan." setuju Daud lalu ia pun tersenyum misterius.


"Bagus," komentar Jefri puas. "Apa kau sudah memastikan bahwa Willy sudah mati?" Jefry kembali bertanya hingga membuat Daud terdiam untuk sesaat, ia mencoba berfikir apakah Willy sudah mati? Sial sekali rasanya ia lupa mengecek denyut nadi Willy malam itu.


"A-apa?"

__ADS_1


"Apa kau tuli?" sindir Jefri tersenyum kecut.


"Ah, mengenai Willy saya rasa di sudah mati karena pasti dia sudah kehilangan banyak darah, s-saya jamin itu. Tidak mungkin saya pergi dari tempat itu sementara saya tidak memastikan bahwa mereka semua benar-benar sudah mati," papar Daud mencoba mencari alibi, meskipun terdengar bergetar saat berbicara namun tampaknya Jefri langsung percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Daud.


"Ya bagus kalau begitu, karena itu yang aku inginkan. Apapun yang dapat menghambat segala keinginanku dan obsesi ku, aku tidak akan segan-segan untuk menyingkirkannya." imbuh Jefri berbicara dengan amat serius seraya menatap jendela di depannya, mendengar hal itu tentu saja membuat Daud ketakutan namun ia berhasil bersembunyi dibalik ketenangannya.


"Ya, saya setuju dengan apa yang Tuan inginkan dan saya akan berusaha untuk itu." ucap Daud seraya tersenyum kaku.


"Dan jika kau gagal, akan aku pastikan nasib mu akan sama dengan Alden. Apa kau ingin seperti dia hah?" sinis Jefri seraya mendelik ke arah Daud.


Dengan cepat Daud langsung menggeleng. "Saya tidak ingin seperti dia, dia pengecut sementara saya bukan seorang pengecut." ucap Daud yang mengundang tawa Jefry lalu ia pun membalikan badan untuk menatap Daud dari bawah sampai atas seraya tersenyum aneh.


"Sepertinya kau sama sekali tak menyukai Alden, apa itu benar?" pancing Jefry bertanya dengan sepasang matanya yang menyipit.


Daud terdiam sesaat sebelum akhirnya ia berbicara. "Saya dan Alden baik-baik saja, hanya saja Alden selalu bersikap menyebalkan dan itu membuat saya tidak nyaman. Terlebih lagi dia telah mengecewakan Tuan dan membuat kalajengking hitam harus kehilangan kerja sama dengan Budi, bukankah itu cukup merugikan?"


Jefry manggut-manggut mendengarnya. "Ya, kau benar. Dan kali ini aku percayakan lagi padamu sebagai tangan kanan kalajengking hitam. Dan jika kau gagal untuk menjalankan tugas yang telah aku berikan padamu jangan harap kau akan baik-baik saja." kata Jefry seraya tersenyum kecut dan licik.


"Saya berjanji takan membuat Tuan kecewa, percayalah." ikrar Daud bersungguh-sungguh, sementara Jefry hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2