Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 34


__ADS_3

"Arrggghhhh..."


Bugh!


Dengan nafas terengah Willy begitu puas menyiksa Alden dengan kedua tangannya yang diikat di atas besi sementara tubuhnya dibiarkan tak berdaya. Wajahnya kini sudah dipenuhi lebam dan darah, sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya namun mustahil bisa untuk ditahan, rasanya benar-benar sangat nyeri. Willy sengaja membawanya ke sebuah mansion yang baru dan sengaja menyekapnya di salah satu ruangan. Tidak lupa Willy juga menyiksanya dengan seenaknya, penyiksaan itu tidak terlepas dari sebuah dendam.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Lagi, pukulan itu mendarat bertubi-tubi di perut Alden dan bahkan kaki yang ditembak Willy pun masih belum sembuh betul dan terus-menerus mengalir darah hingga merembes di lantai. Semua yang Willy lakukan tampaknya benar-benar sengaja ingin membunuh Alden secara perlahan dengan penyiksaan yang dilakukannya secara brutal. Dan kini tubuh Alden pun seperti sudah mati rasa karena memar hampir diseluruh bagian, belum terhitung dengan tanda-tanda keunguan pada seluruh tubuhnya serta mulutnya yang mulai berwarna kehitam-hitaman tanda luka dalam.


"Katakan dimana Elsa?! Aku berusaha untuk bertanya baik-baik padamu, bajingan!" Willy bertanya berulang kali, seolah ia belum percaya betul dengan jawaban Alden mengenai ketidak tahuannya tentang keberadaan Elsa.


"S-sudah ku bilang aku sama sekali tidak tahu, aku sudah tidak bergabung lagi dengan kalajengking hitam. Dan aku sama sekali tidak tahu dengan keberadaan Elsa." jawab Alden disela rintihan, namun Willy tampaknya malah semakin emosi seolah tidak puas dengan jawaban yang baru saja di lontarkan Alden barusan.


"Bohong!" sentak Willy seketika.


"T-terserah, apakah kau akan percaya atau tidak. Tapi yang jelas aku sudah berkata dengan jujur." sahut Alden lemah dan tak berdaya.


"Dengar! Satu jam lagi aku akan kembali dan jika kau masih mengelak akan ku gorok lehermu, camkan!" ancam Willy tak main-main, lalu ia pun langsung melengos pergi begitu saja dengan membanting pintu kasar.


Ceklek...


Willy menghela nafas panjang setelah ia membuka pintu ruang kerjanya, kemudian ia merebahkan diri diatas sofa dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Kemudian ia kembali duduk terbungkuk, ia benar-benar gelisah dan khawatir dengan keadaan Elsa. Di dalam isi kepalanya saat ini hanya ada Elsa yang ia pikirkan, tidak ada yang lain.


"El, kau dimana? Aku begitu cemas," gumamnya seraya menyugar rambutnya gelisah.


Willy teringat masa-masa saat Elsa masih bisa melihatmu yang selalu setia dan mengantar-jemput Elsa pergi ke sekolah. Elsa selalu tampil cantik dengan senyumannya yang merekah tulus, serta tuturnya yang lembut dan juga ceria. Sangat sulit untuk dilupakan.


Flashback On:


"Maaf, apakah kau menungguku terlalu lama?" tanya Elsa setelah ia masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Willy mengangguk kecil seraya mengulas senyuman. "Ya, sedikit lama tapi tidak masalah."


"Tadi aku ke toilet dulu sebentar, aku tidak tahu bahwa apa yang aku pikir sebentar ternyata selama ini." cengir Elsa renyah.


Willy memejamkan mata sekilas seraya tersenyum seolah memaklumi lalu setelah itu tangannya pun bergerak ke arah belakang kursi mobil. Kemudian ia pun menyodorkan paper bag kearah Elsa, hingga Elsa terdiam untuk sesaat seraya menatap Willy sebelum akhirnya ia menerima paper bag itu. Sementara Willy mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Wah, apa ini?" Elsa langsung membuka paper bag itu dan seketika saja aroma waffle coklat dan ice kiwi squash langsung menyerbu indra penciumannya. Elsa menoleh ke arah Willy lagi dan kali ini dengan wajahnya yang semakin sumringah. "Thanks ini favoritku loh,"


"Ya, makanya aku beli itu untukmu."


"Awas loh nanti pacarmu marah, karena kau terlalu perhatian seperti ini pada perempuan lain." goda Elsa sambil tertawa, sementara kedua pipi Willy terlihat memerah.


"Sudah aku bilang padamu El, aku tidak punya pacar." kata Willy sambil geleng-geleng kepala karena Elsa selalu saja menggodanya seperti itu.


"Makanya cari," timpal Elsa sedikit meledek, sementara Willy hanya menanggapinya dengan menaikan bahunya singkat. "Pria tampan sepertimu masa sih tidak punya pacar, setahuku pria tampan di luaran sana pasti tidak akan betah kalau terus-terusan menjomblo." komentarnya heran.


"Ya, karena aku menyukai seseorang, hanya saja mungkin aku membutuhkan keberanian yang besar untuk mengatakannya." jawab Willy seraya menoleh kerah Elsa sekilas.


"Wah, jadi karena itu kau tidak punya pacar? Kau naksir seseorang tapi malu mengatakannya? Lucu sekali, pria sesangar dirimu ternyata tidak bernyali kalau menyangkut seorang perempuan," ledek Elsa lagi sambil tertawa lalu mulai memakan waffle coklat miliknya.


"Why?" tanya Elsa seraya menyodorkan waffle pada mulut Willy dan dengan gugup Willy pun menggigitnya sedikit.


"Karena.." Willy terpaku, ia belum tuntas mengatakannya setelah ia melihat Elsa memakan waffle bekas gigitannya. "El?" tanya Willy seolah ingin mengingatkan sesuatu, namun waffle itu sudah terlanjur ditelan oleh Elsa dengan santai.


"Hm?" Elsa menoleh seraya mengangkat satu alisnya.


"El, itu ciuman pertamaku." ucap Willy yang membuat kening alis Elsa langsung menyatu di tengah.


"Ciuman?" ulang Elsa tak mengerti.


"Kau tidak merasa jijik makan waffle bekas gigitanku?" tanya Willy seraya menelan ludah perlahan.


Elsa menggeleng. "Tidak sama sekali," sementara Elsa masih terlihat kebingungan dengan kata-kata yang baru saja diucapkan Willy tentang ciuman pertamanya.


"El, secara tidak langsung kita ciuman."

__ADS_1


"Kapan?" Elsa malah semakin bertambah bingung dengan tingkah Willy yang sangat konyol dan mendadak aneh.


"Kau memakan waffle bekas gigitanku El, dan itu artinya secara tidak langsung kita ciuman."


Seketika saja Elsa pun langsung tertawa terbahak-bahak karena penjelasan Willy yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal. Mana bisa ciuman akan terjadi hanya lewat makanan, Elsa geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan apa yang Willy katakan, dia benar-benar sangat polos.


"Jangan bilang kalau kita pegangan tangan kau akan mengatakan bahwa aku akan hamil," ledek Elsa lagi sambil tertawa ngakak yang membuat Willy malu setengah mati karenanya.


"Oh bodoh, aku terlihat seperti pria bodoh." rutuk Willy dalam batin seraya memejamkan mata karena ia baru saja diledek oleh perempuan dibawah umur.


Flashback Off:


Mengingat momen itu tentu membuat Willy semakin merindukan Elsa, ia tak tahu harus apa sekarang bahkan Alden pun tetap bersikeras mengatakan bahwa ia tidak mengetahui keberadaan Elsa. Meskipun sulit di percaya tapi tampaknya Alden berkata dengan jujur, itu yang membuat Willy seperti kehilangan arah sampai sekarang.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, tanda ada seseorang yang meneleponnya. Maka Willy pun langsung merogoh ponselnya dibalik saku jas lalu menggeser simbol hijau untuk mengangkat sambungan telepon itu. Yang ternyata yang menelpon nya saat ini adalah Budi.


"Hallo?" sambutnya di seberang sana.


"Ya, hallo ada apa, Bos?"


"Aku baru saja mendapatkan kabar dari Hito bahwa memang benar Alden sudah tidak bergabung lagi dengan kelompok kalajengking hitam. Dan sepertinya benar bahwa ia sama sekali tidak tahu dengan hilangnya Elsa." jelas Budi.


"Apakah kabar itu akurat?" tanya Willy memastikan lagi.


"Ya, tentu saja." jawab Budi yakin. "Baiklah, malam ini aku tidak bisa datang ke mansion, malam ini aku ada kepentingan lain. Kabari aku jika terjadi suatu hal." tukasnya.


"Baik,"


Tut!


Setelah sambungan telepon itu usai Willy pun mulai berpikir, jika ia bertanya seribu kali pada Alden pun pasti tetap saja jawabannya akan sama, ia pasti tidak akan tahu keberadaan Elsa. Orang selicik Jefri pasti mudah saja berpindah-pindah tempat dan Alden pun pasti tidak akan mengetahuinya.


Detik itu jemarinya pun kembali memainkan ponsel dan ia mencoba untuk menghubungi Budi kembali, namun niatnya terhenti karena netranya terfokus pada sebuah notifikasi dari media sosial miliknya yang tertera di layar ponsel. Seketika saja sepasang mata Willy langsung terbelalak setelah membaca isi dm instagram yang terkirim lima jam yang lalu.


✉️Will, ini aku Elsa. Aku menggunakan ponsel seseorang, tolong aku! Aku diculik oleh Jefry pimpinan dari kalajengking hitam, aku dijual, aku menderita disini! Aku berada di sebuah mansion di ibukota. Ini alamat lengkapnya Menteng, Jakarta Pusat. Aku share lokasinya disini. Segera tolong aku, aku ketakutan.✉️

__ADS_1


"Elsa? Apa ini benar kau? Aku akan menyelamatkanmu sekarang juga, tenanglah." gumam Willy panik dan ia pun langsung bangkit dari sofa lalu meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa.


__ADS_2