
"Cepat pergi dari sini Will dan bawa Elsa ke rumah sakit!" teriak salah satu anak buah Budi yang datang dari belakang secara bergerombol dengan membawa senjata.
Willy terkesiap dan ia merasa lega karena anak buah Budi datang dengan sangat tepat waktu. Dan disela itu pasukan bergerombol itu langsung menyerang Daud dan anggota yang lain dalam gerakan yang teramat gesit, hingga tak ada celah untuk Daud menghentikan pergerakan Willy untuk melarikan diri.
"Hiyaaaaaaaatttttt...."
Bugh!
Bugh!
Mereka saling beradu tembak dan juga sebagian dari mereka bertarung dengan tangan kosong dan lebih mementingkan skill bela diri. Suara erangan penuh emosi kini memenuhi ruangan itu disertai dengan suara pukul-memukul yang mendominasi dan adu baku tembak.
Sementara Willy langsung berlari meninggalkan ruangan dengan sangat terburu-buru bercampur dengan rasa panik yang tak dapat disembunyikan, Willy benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Elsa. Willy menuruni anak tangga dengan cepat namun tetap berhati-hati sehingga nafasnya terdengar tak beraturan.
"El, bertahanlah." desis Willy seperti hampir menangis namun ia berusaha untuk tegar.
Willy membuka pintu utama kemudian meluncur kedalam mobil lalu membaringkan tubuh Ela di kursi belakang, dengan cepat Willy langsung masuk kemudian mengemudi dengan kecepatan penuh.
*****
Samar-samar Elsa bisa mendengar suara-suara yang menyerbu indra pendengarannya saat ia masih setengah sadar, ia membuka matanya perlahan namun hal itu sia-sia dilakukan karena ia tak bisa melihat apapun. Namun ia merasakan bahwa tubuhnya berada di atas brankar dan sepertinya ada beberapa orang yang sedang mendorongnya. Ia berusaha menggerakan jari-jemarinya namun rasanya terasa berat untuk dilakukan, ia seperti tidak memiliki kemampuan apapun untuk itu. Bahkan untuk membuka suara pun ia tak bisa.
__ADS_1
Pikiran Elsa kini melayang jauh, ia mulai semakin putus asa. Ia berpikir apakah Jefry akan menjualnya keluar negeri? Dan bahkan ia sendiri tidak sadar dengan percobaan bunuh diri yang telah ia lakukan, karena seingatnya ia telah dipaksa memuaskan nafsu Jefry tadi dan setelah itu ia tak mengingat apapun. Hingga ia pun benar-benar memejamkan matanya kembali.
Dan saat kesadarannya kembali pulih, Elsa mencoba bangkit untuk duduk secara perlahan. Dan ia mulai merasakan bahwa tangannya tengah di infus dan terasa sebuah perban membalut pergelangan tangannya, hingga ia kembali teringat kilasan balik yang terlintas dikepalanya bahwa ia telah melakukan percobaan bunuh diri, ia menyadari bahwa mungkin kini ia sedang berada di rumah sakit tapi siapa yang membawanya kesini? Apakah Jefry? Jelas tidak mungkin.
"El?" tiba-tiba saja suara yang tidak asing baginya terdengar, suara yang lembut tapi terdengar sangat khawatir serta ia merasakan tangan orang itu seketika saja memegang tangannya.
Elsa mencoba menelisik suara itu, sudah lama ia tak mendengar suara itu. Hingga sepasang matanya pun meremang, dadanya terasa sangat sakit tapi bercampur lega disana. Apakah ini hanya mimpi?
"Wil, Willy?" panggil Elsa lirih dengan suara parau seperti tertahan sesuatu. "A-apa itu kau?" Elsa mencoba memastikan lagi dengan suara bergetar seiring air mata berderai.
"El, ini aku." sahut Willy yang ikut merasakan sebuah kesedihan yang mendalam dan ia teramat merindukan Elsa, sangat begitu merindukannya.
Elsa merasakan dalam dirinya terasa sangat kosong dan hampa, ia hanya mengulas senyuman tipis seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Willy kenapa kau menangis?" tanya Elsa disela isakannya, ia juga merasakan kesedihan itu. Dan ia tak mampu untuk membendungnya, meskipun ia masih hidup ia sudah tak bisa merasakan bahwa ia hidup. Rasanya hampa dan juga terasa sangat hambar. "Seharusnya aku mati saja, kenapa aku masih hidup." gumam Elsa berbicara pada dirinya sendiri sambil sesegukan.
Willy menggeleng kuat, seraya ia meletakan tangan Elsa pada kedua pipinya dan lagi air mata itu kembali menetes. "El, apa yang kau bicarakan? Katakan padaku apa Jefry melakukan sesuatu padamu?" Willy bertanya dan ia mulai terisak.
Elsa menggeleng samar dan hanya tatapan kosong yang terpangpang, namun air mata itu semakin deras berlinang menandakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Ia terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya ia menangis keras, mengacak rambutnya frustasi dan memberontakan tubuhnya dengan histeris yang membuat Willy begitu sangat panik.
Bayang-bayang Jefri yang menyetubuhinya dengan paksa membuatnya merasa amat tertekan dan trauma luar biasa. Elsa tidak bisa menepis bayangan suram itu yang selalu terputar di kepalanya tanpa jeda. Hingga membuatnya seperti sudah kehilangan kewarasannya.
__ADS_1
"EL, tenanglah." Panik Willy tiada terperi.
"Aaaaaaaaa... Tidak!"
Elsa terus berteriak seraya menjambak rambutnya sendiri dan juga menangis keras hingga membuat Willy begitu khawatir, segera Willy menekan kode bel untuk memberitahu dokter dan juga suster sementara satu tangannya lagi berusaha untuk menenangkan Elsa yang terus memberontak dengan jauh lebih liar.
"Sus.. Suster, Dokter tolong!" teriak Willy berulang kali.
Dokter dan satu suster pun datang dengan tergesa-gesa, lalu mulai menindak lanjuti keadaan Elsa.
"Nona, tenanglah!" kata dokter yang sedang menarik suntikan pada botol kecil yang terdapat sebuah cairan didalamnya.
Suster dan juga Willy berusaha keras memegang tangan serta kaki Elsa yang sama sekali tak bisa diam. Elsa semakin berteriak histeris dan juga berontak, tapi sebelum jauh lebih buruk lagi dokter langsung menyuntikan sesuatu pada dirinya, sehingga Elsa terlihat menjadi lebih tenang secara perlahan. Maka dibaringkanlah kembali tubuh Elsa di atas brankar dan lambat laun matanya pun kembali terpejam. Cairan yang baru saja disuntikkan oleh dokter adalah obat penenang bercampur dengan obat tidur.
"Sepertinya pasien mengalami trauma yang sangat berat, diharapkan Tuan jangan terlalu banyak mengajukan pertanyaan yang membuatnya berpikir keras. Dan pasien harus beristirahat, setelah kondisinya jauh lebih membaik diharapkan pasien untuk melakukan terapi trauma healing pada psikolog atau psikiater. Karena trauma yang terjadi pada pasien berhubungan dengan percobaan pasien bunuh diri." papar sang dokter memberikan penjelasan pada Willy dan Willy pun mengangguk setuju untuk itu, akan tetapi ia sama sekali tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya terhadap Elsa saat ini.
"Baik, dok. Terima Kasih."
"Baik, sama-sama Tuan. Mari kita biarkan pasien beristirahat dulu,"
Willy mengangguk, kemudian mereka pun meninggalkan ruangan dan membiarkan Elsa untuk tertidur seorang diri di dalam ruangan. Setelah Willy menutup pintu, ia terduduk di kursi tunggu. Punggungnya membungkuk sementara kepalanya tertunduk layu menandakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Apa yang telah Jefry lakukan padamu El? Elsa, aku berjanji bahwa aku akan membunuh para bajingan itu oleh tanganku sendiri. Aku sama sekali tidak rela jika mereka telah melakukan hal biadab itu padamu. Elsa, aku minta maaf karena aku sama sekali tidak becus menjagamu selama ini." desis Willy dengan perasaan campur aduk lalu mendesah frustasi seraya mengacak helaian rambutnya dengan kacau.