
Suara roda brankar didorong begitu tergesa-gesa oleh dua perawat rumah sakit, sementara Alden yang berada di samping brankar Elsa hanya berusaha menahan diri agar tidak menangis dengan semua yang telah terjadi. Akhirnya mereka berpisah saat brankar masuk ke UGD, Alden terlihat begitu frustasi dan berulang kali hanya bisa memaki dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk akibat kesedihan yang sangat mendalam.
Ada dua hal yang ditakutkan Alden saat ini, pertama ia takut kehilangan Elsa dan kedua ia takut kehilangan janin yang sedang dikandung Elsa saat ini. Perasaan Alden semakin menggebu-gebu, hatinya serasa dicubit, dan dunianya terasa semakin hancur. Ia merasa bahwa ia sangat-sangat bersalah dan sangat menyesal atas semua yang telah terjadi.
Setetes air mata mengalir di pipinya yang mulai berjumbai, ia menangis dalam diam. Rasanya semakin sesak saat ia menangis seperti ini, entah kepada siapa ia akan mengadu selain ia harus jujur pada ayahnya. Dan pada saat itu Bramantyo datang bersama perawatnya. Tatapan sang Ayah terlihat sangat khawatir karena melihat putranya terlihat bersedih seperti itu.
"Alden?" Bramantyo memanggil putranya, maka Alden pun segera berlari dan berlutut di kaki ayahnya.
"Ayah," panggil Alden di antara isak tangisnya.
"Apa yang telah terjadi?" tanya Bramantyo yang mulai merasakan kejanggalan di balik kejadian Elsa malam ini.
Alden mendongak, menatap ayahnya dengan tatapan muram. Ia menumpahkan segala kesedihannya dengan menangis terisak-isak seolah betapa sulit baginya untuk mengungkapkan semuanya dengan kata-kata.
"Alden ingin maaf atas semua kekacauan ini." Alden mendesis dengan air mata yang tak berhenti bergulir sejak tadi.
"Ada apa dengan Elsa? Apa kalian berdua bertengkar?" tanya Bramantyo dengan nada rendah.
"Ayah, bisakah kau membantuku?"
Bramantyo menatap anaknya dengan alis berkerut bingung karena ia sama sekali tidak mengerti perkataan Alden yang menurutnya sangat rancu.
"Ada apa, Nak. Katakan terus terang." tanya Bramantyo semakin penasaran.
"Elsa adalah gadis yang sangat baik, jangan biarkan dia melakukan apapun yang akan membuatnya kehilangan nyawanya sendiri. Bantu aku untuk memenuhi keinginannya selama ini, aku yakin Ayah bisa melakukannya. Aku ingin membuat Elsa bahagia dengan caraku. Dan aku ingin menebus dosa-dosaku padanya. Izinkan aku pergi malam ini dan aku ingin menitipkan Elsa pada Ayah." tanya Alden dengan tangis tertahan, seolah apa yang ia rasakan hari ini sangat begitu berat.
"Bagaimana kau ingin membuat Elsa bahagia tapi kau malah memilih untuk pergi malam ini? Sebaiknya kau tetap di sini, temui dia setelah dia bangun dari pingsannya. Katakan maaf padanya dan jelaskan kesalahan apa yang telah kau lakukan padanya, Al. " Bramantyo berkata tetapi Alden malah langsung menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Ayah. Semua ini tidak akan membuatku tenang jika aku hanya meminta maaf padanya, aku harus melakukan sesuatu untuk menebus semua dosaku padanya selama ini. Dan aku harus mewujudkan semua keinginannya selama ini, Al hanya ingin Elsa bahagia." kata Alden dengan perasaan yang dalam.
"Apakah kau akan kembali setelah Elsa bangun?" tanya Bramantyo memastikan dirinya, dan sebagai seorang Ayah ia pun mulai paham bagaimana kondisi putranya saat ini yang terlihat sangat menderita karena dihadapkan pada situasi yang begitu sulit baginya.
Alden terdiam, ia hanya menatap ayahnya dengan kabut tebal yang entah apa maksudnya, tapi detik berikutnya dia menganggukkan kepalanya.
"Aku akan kembali dan aku tidak peduli bagaimana kondisiku saat kembali. Karena yang terpenting bagiku adalah aku harus mewujudkan sesuatu yang belum sempat aku lakukan. Aku merasa alam semesta mendukungku saat ini dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Alden menjawab dengan sungguh-sungguh, lalu ia memegang tangan ayahnya dengan erat. "Ayah, bisakah kau bekerja sama denganku?" tanya Alden serius, hingga membuat Bramantyo semakin cemas karena ia merasa tengah mendapat firasat buruk.
"Ke-kerjasama apa maksudmu, Al?" tanya Bramantyo tergugup, sementara Alden menatap ayahnya dengan lamat-lamat seakan mendeskripsikan sesuatu.
*****
Malam semakin dingin dan semakin larut, Alden memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan mulai melakukan aksinya. Ia turun dari taksi dan kembali ke rumahnya untuk mengambil semua keperluannya yang ada di dalam tas yang sudah disiapkan sebelumnya. Karena terburu-buru maka ia pun segera mengendarai mobil dan meninggalkan lingkungan itu dengan kecepatan penuh.
Matanya menyala-nyala dan tajam dipenuhi amarah dan dendam, giginya bergemeletuk penuh kebencian seakan ia sudah merasa sangat begitu siap untuk membalaskan semua dendam yang telah membuat Elsa sakit selama ini.
Malam itu, Alden baru saja memanjat sebuah gerbang yang menjulang tinggi dan ia mendarat dengan sangat sempurna.
Bruk!
Langkah kakinya berjalan di lorong-lorong mansion yang sudah mulai sepi, namun tebakannya salah karena keamanan di malam hari dua kali lebih ketat dari yang ia kira karena awalnya ia merasa lega dengan suasana mansion yang terlihat sepi.
Tapi ternyata banyak anak buah Budi yang bertugas menjaga keamanan sambil memeriksa setiap sudut. Sekitar 6 meter di depannya kini sudah berdiri dua anak buah dengan pengamanan tinggi, begitu juga di belakangnya ada beberapa petugas yang sedang berjalan di lorong mansion dengan membawa senjata pengamanan masing-masing.
Alden yang bersembunyi di balik pilar tinggi sudah bersiap-siap memuat amunisi untuk dikokang kapan saja dan ia selalu waspada sambil memegang pistol yang kini ada di tangannya. Dan ketika petugas depan dan belakang terlihat lengah, ia sama sekali tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bergerak menuju pintu di depannya saat ini, dan ia pun mencoba untuk menyelinap dan berjalan dengan langkah ringan agar tidak membuat sebuah suara.
Jantung Alden serasa berhenti setelah dengan mulus ia memasuki mansion dengan pintu yang sama sekali tidak terkunci melalui jalur di sisi kanannya. Dia sangat takut jika rencananya gagal malam ini.
Ceklek!
__ADS_1
Setelah pintu dibuka lebar, suasana di dalam jauh lebih sepi dan saat itu Alden melihat sosok Budi yang sedang duduk sendiri di meja pantry sambil menikmati segelas wine.
Dan di sela itu, Budi pun merasa bahwa ia sedang diawasi oleh seseorang, maka ia pun melihat sekeliling dan seketika saja Alden pun segera bersembunyi.
“Ekm..” Budi berdehem sebentar, mencoba untuk mencairkan suasana sambil bangkit dari posisinya lalu ia pun meraih pistol dari balik saku jaketnya.
Dan ketika Budi menoleh, tiba-tiba terdengar suara tembakan.
DOR!
Satu tembakan melewati bahu Budi dan malah mengenai pintu kulkas dan untungnya ia berhasil menghindar dengan cepat menggunakan instingnya. Budi segera bersembunyi di bawah meja pantry hingga akhirnya sepasang matanya langsung menangkap langkah kaki seseorang yang mulai mendekatinya.
Budi mengarahkan senjatanya ke arah kaki itu, bersiap-siap jika diserang dan ia tidak mau tinggal diam.
DOR!
DOR!
Alden gencar menembak Budi, sehingga saat itu ia juga membalas serangan Alden. Budi langsung bangkit dan membalas setiap tembakan yang di muntahkan hingga baku tembak pun terjadi.
DOR!
DOR!
DOR!
Satu tembakan langsung mengenai bahu Budi, beberapa petugas keamanan mendengar suara tembakan dan teriakan Budi dari arah dapur, sehingga mereka pun langsung berbondong-bondong datang ke sana.
"Arghh, sial!" Budi mengumpat kasar sambil menekan bahunya yang terluka dengan satu tangan, sementara tangan satunya tak henti-hentinya membalas serangan Alden yang terus menembakinya.
"Kau harus mati, sial! Hiyaaat…" Alden langsung mengambil ancang-ancang saat melihat peluru Budi habis.
Bugh!
Bagai diberi adegan slow motion, satu tendangan dari kaki Alden pun langsung mendarat dengan sempurna tepat di dada Budi, menyebabkan tubuhnya tersentak ke belakang lalu terbang untuk sepersekian detik hingga tubuhnya terdorong dan membentur dinding bersamaan dengan itu pula akhirnya nya mulutnya pun menyemburkan darah segar.
Perlahan tubuh Budi langsung jatuh ke lantai dengan darah segar yang terus menyembur hingga ia terbatuk-batuk.
Tak berhenti sampai di situ, Alden pun segera menyambar tubuh Budi dengan cara mengangkat kasar kerah bajunya hingga membuatnya berdiri paksa dengan sepasang matanya yang buram. Saat itu Alden sudah dikuasai oleh amarah yang meledak, matanya hitam pekat, rahangnya mengatup dan akhirnya satu tangannya pun merogoh kerambit dari belakang saku jaketnya lalu tanpa basa-basi lagi tangannya pun kembali beraksi.
Srakkkkkkk ..
Tanpa ampun dan belas kasihan, Alden langsung melampiaskan seluruh amarahnya dengan cara menyobek dada Budi dengan karambitnya sehingga dagingnya ikut disayat dan tangannya berlumuran darah.
“Arggghhh..” Budi yang tak berdaya hanya bisa mengerang kesakitan dan berteriak sekuat tenaga.
"Mati kau, mati!" teriak Alden marah dengan mengerahkan seluruh tenaganya untuk membunuh Budi dengan cara membabat dadanya berulang kali.
Hingga akhirnya emosinya memuncak, Alden pun langsung menancapkan kerambit tepat di leher Budi hingga membuat mata Budi langsung melebar karena mendapat serangan yang tak henti-hentinya.
“Eeee…” tenggorokan Budi tercekat saat darah menyembur keluar dari lehernya yang disertai dengan urat-urat lehernya yang menonjol, hingga akhirnya tubuh Budi pun jatuh kembali ke lantai. Namun kali ini tubuhnya mulai mengejang sebagai tanda kematian akan datang.
Namun detik berikutnya, salah satu anak buah Budi langsung menembak kepala Alden dari belakang tanpa ia sangka.
DOR!
Alden yang gagah itu tiba-tiba ambruk ke lantai yang dingin,sementara semua anak buah Budi yang berkumpul di sana hanya bisa menatap bos besar dengan cengo yang kini telah terbaring mati berlumuran darah. Seolah-olah mereka semua tidak percaya apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Sementara itu dengan Alden, sepasang matanya terpejam dan ia berusaha untuk menahan semua rasa sakit akibat peluru yang menembus kepalanya. Dia tahu bahwa ia akan mati tetapi dalam batin ia masih berkata dan belum puas karena semua ini belum sebanding dengan penderitaan Elsa selama ini. Dan ia ingin mewujudkan semua pilihan terakhir dalam hidupnya sebelum kematian itu mengundangnya, ia ingin membuat semua pengakuan dan ia ingin melihat senyuman Elsa untuk terakhir kalinya.
"Apa? Jadi selama ini kau menungguku?" desis Alden menatap Elsa dengan tatapan tak percaya.
Elsa yang semula memukul tubuh Alden kini ia menghentikannya, kelopak matanya berkedip seiring dengan air matanya yang ikut berlinang.
"K-kau?" sebut Alden dengan nada bergetar seiring isak tangisannya yang kembali lolos dari bibirnya.
Tanpa kata, Alden pun langsung kembali memeluk Elsa dalam dekapan hangat yang berbaur dengan penyesalan yang teramat dalam dan tak berkesudahan.
"El, aku minta maaf." desis Alden dengan suara parau, menangis dan terisak di atas pundak Elsa yang kini sedang dipeluk olehnya.
Tak bisa di pungkiri kerinduan begitu menyakitkan, hingga momen pertemuan tak terduga ini membuat keduanya tumpah oleh air mata. Seketika saja tubuh Elsa langsung meluruh, seolah lututnya sangat lemas dan tak sanggup untuk berdiri tegak lagi, begitupun dengan Alden yang merasakan hal yang sama. Mereka berdua menangis dalam pelukan mencurahkan segala emosi kerinduan yang begitu menggebu.
"Al, aku sangat merindukanmu. Jangan kau tinggalkan aku lagi." desis Elsa dengan suara paraunya.
"Aku berjanji takkan meninggalkanmu," ikrar Alden bersungguh-sungguh.
"Al?" sebut Elsa setelah ia menyeruput kuah mie itu sampai tandas, hingga membuat Alden yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil setelah melihat tingkah Elsa yang begitu sangat menggemaskan.
"Hm?" Alden meresponnya seraya menaikan satu alis tebalnya kearah Elsa yang sedang menghisap satu botol teh menggunakan sedotan.
Setelah semuanya tandas, Elsa pun merekahkan senyuman kearah Alden dengan binar mata yang diselimuti lapisan bening. "Kau benar,"
"Apa?"
"Jika perut sudah kenyang, ternyata rasa sedih kita langsung menghilang."
Mendengar hal itu Alden pun langsung tertawa ringan seraya mengusap puncak rambut Elsa dengan cepat. "Apa mienya masih kurang?" tawar Alden lagi yang lang dijawab Elsa dengan gelengan kepala.
Hening.
"Katanya kau akan menceritakan semuanya setelah kau selesai makan," Alden membuka suara kembali, hingga membuat Elsa terdiam untuk sesaat.
"Apa kau mau berjanji padaku, Al?" tanya Elsa yang membuat Alden sedikit berpikir.
"Berjanji apa?"
"Kau akan melakukan apapun yang ku mau?" lanjut Elsa.
"Yes!" setuju Alden tanpa embel-embel berpikir lagi.
"Jefry yang telah menculikku dan kelompoknya kini sudah di bantai, tapi tolong bantu aku untuk membalaskan dendamku pada Budi karena dia telah mencuri kekayaan milik Ayahku dan dia juga telah membunuh Willy yang sudah kuanggap sebagai saudara terbaikku, tolong bunuh dia!" pinta Elsa dengan raut wajah serius hingga membuat tenggorokan Alden seketika tercekat setelah mendengarnya.
"Willy tewas?" tanya Alden sedikit terkejut.
"Dia adalah pria baik yang selalu melindungiku selama ini, dan saat-saat terakhirnya pun dia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi aku. Dan apa kau tau Al, Budi telah memperkosaku."
Berbagai cuplikan tercetak jelas di pikiran Alden saat ini, ia tak bisa memungkiri bahwa rasa bersalah itu masih tak kunjung membaik. Meskipun kini ia telah membunuh Budi sekalipun, sesuai dengan apa yang pernah Elsa minta saat itu.
Alden berusaha untuk tidak terbuai dengan kegelapan yang kini mulai menyelimutinya, keningnya yang berkerut menandakan bahwa ia mulai tak nyaman. Sebisa mungkin ia mencoba menggerakan matanya agar ia bisa menguasai diri terlebih lagi kata-kata Elsa kala itu semakin hinggap di telinganya.
Elsa langsung melepaskan pelukan Alden seketika dengan ekspresi wajah yang entah sedih, terharu, atau rindu dan mungkin bercampur dengan marah yang menjadi satu. "Kenapa kau baru kembali sekarang? Kau kemana saja?! Aku mencarimu, aku merindukanmu! Kau bilang kau akan melindungiku, menjagaku dan mempertemukan aku dengan pembunuh Ayahku dan juga pelaku yang sudah membuatku buta! Tapi kenapa kau baru kembali?! Kau habis dari mana, hah?! Kau habis dari mana selama dua tahun ini?!" cerocos Elsa mengeluarkan seluruh uneg-unegnya seraya memukul dada Alden tanpa henti.
Deg!
Mengingat hal itu, Alden berusaha keras untuk menggerakan jari-jarinya agar ia bisa tetap hidup. Ia terus mensugesti dirinya untuk tetap bertahan agar ia kuat melewati kesakitannya terlebih lagi pusing di kepalanya semakin berat karena pendarahan di kepalanya.
__ADS_1
Namun saat itu, semakin banyak darah yang keluar menyebabkan tenaganya terkuras dan wajahnya pun semakin pucat hingga akhirnya ia merasa dunianya benar-benar gelap dan pekat, hingga membuat matanya kembali terpejam.