
Alden yang masih terkapar kini perlahan jari-jemarinya dapat digerakan meskipun terasa kaku, lalu setetes air dari dedaunan menetes pada salah satu matanya hingga membuat sepasang matanya terbuka secara perlahan. Tubuhnya terasa sangat begitu remuk dan sakit sekali tatkala ia berusaha untuk bangkit dari posisinya untuk berubah duduk meskipun dengan cara berhati-hati. Ia meringis kesakitan setelah ia duduk, satu tangannya bergerak untuk memijat lengan satunya serta pindah ke kakinya. Apa yang ia sentuh terasa sangat perih apalagi bekas sayatan yang berdarah masih belum mengering hingga bertambah berakali lipat kesakitannya.
"Aku pikir aku akan mati, rupanya aku masih hidup." desisnya menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya.
Tenggorokannya terasa sangat kering, wajahnya pucat letih, serta bibirnya yang pecah-pecah dan di penuhi memar membuat ia harus hati-hati jika ia ingin bicara.
Alden mencari sesuatu di tanah yang tertutup dedaunan kering, ia melihat kayu yang menyerupai tongkat maka ia pun meraihnya. Sebelum bangkit berdiri kepalanya menengadah ke langit yang mulai berwarna jingga dan itu artinya waktu sudah menunjukan semakin petang. Segera ia bangkit dengan sangat hati-hati menggunakan kayu yang dijadikan tongkat dan saat melihat sekitar sekelilingnya tampak banyak sekali di penuhi pohon pinus. Alden menghela nafas panjang lalu sepasang kakinya mulai berjalan meskipun harus dibarengi dengan suara mengaduh kesakitan. Tetapi ia tak boleh terus berdiam diri seperti ini sebelum waktu semakin gelap.
Alden melangkahkan kaki dengan tertatih-tatih dengan tangan satunya memegang perut yang terasa melilit, entah semua itu karena tendangan ataukah semua itu karena ia sedang kelaparan. Dan tiba-tiba saja suara cacing-cacing diperut mulai bernyanyi dan itu artinya ia memang sedang kelaparan dan untuk sementara ia harus mengabaikan perut keroncongannya, karena yang paling penting adalah ia harus segera menemukan jalan beraspal terlebih dahulu.
Tampaknya kini ia berada di tempat paling bawah setelah melihat jurang yang cukup tinggi dan hal itu menunjukan betapa mereka sangat antusias menjatuhkan tubuhnya ke dalam lembah yang curam tanpa rasa iba, cara mereka sudah membuktikn bahwa musuh dalam selimut itu memang nyata adanya.
Mau atau tidak mau akhirnya ia memutuskan untuk naik keatas agar ia bisa segera menemukan jalanan, sebelum pada akhirnya nanti ia akan kehilangan pandangan karena gelapnya malam.
Alden menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan, semua itu ia lakukan agar ia bisa mendapatkan kekuatan yang sebelumnya sudah habis tanpa sisa. Ia berusaha untuk menenangkan diri, menstabilkan emosi, serta terus-menerus bersugesti bahwa ia akan mendapatkan jalan keluar secepat mungkin.
Dengan hitungan yang dikeluarkan lewat bibir meskipun tanpa suara ia pun mulai berancang-ancang, lalu ia mulai mendaki jurang yang kelihatannya sangat mudah dari apa yang ia pikirkan sebelumnya, meskipun tinggi akan tetapi ada anak tangga yang terbuat dari tanah diatasnya hingga ia tidak kesulitan untuk berpijak. Tampaknya tempat ini masih sering dikunjungi orang-orang, pikirnya.
Alden terus mengikuti anak tangga tanah itu dengan bantuan tongkat agar ia tidak terperosok karena melihat tanahnya sangat lembab sekali. Alden berusaha memberanikan diri melihat kebawah seraya menelan ludah dan kini rupanya ia sudah berada di atas dengan ketinggian yang lumayan, melihat hal itu tentu saja membuatnya merasa agak ngeri jika salah melangkah lalu terperosok dan terjun dari atas jurang itu.
__ADS_1
Alden berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya lagi lalu melanjutkan pijakannya. Hingga pandangan matanya bertemu dengan guardrail jalan, akhirnya ia bernafas lega dan semakin bersemangat untuk terus melangkah, tak peduli lelah serta keringat yang mengguyur tubuh serta ia yang mengabaikan betapa sakitnya luka-luka di seluruh badannya. Senyumannya terkembang lebar tatakala melihat kendaraan yang berlalu-lalang, dan untuk keberkian kalinya ia lolos dari maut yang sering menghampirinya sebagai seorang mafia.
Namun tiba-tiba saja senyuman itu harus padam mengingat reputasinya sebagai tangan kanan dari bos besar harus pupus sudah, dalam sejarah hidupnya ia belum pernah merasakan rasa sakit hati seperti ini. Kali ini, ia harus merelakan pekerjaan yang selama ia geluti dan harus menerima kenyataan bahwa sebenarnya semuanya telah berakhir. Ia harus memutar otak bagaimana ia balas dendam dengan orang-orang yang telah meremehkannya, giginya bergemeletuk benci, rahangnya mengeras serta satu tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, ia berpikir bagaimana caranya ia menjadi bos mafia agar ia bisa unjuk gigi pada orang-orang yang telah menindasnya seperti ini.
Kepala Alden menengadah ke langit yang tampaknya sudah mulai gelap serta lampu jalanan yang sudah menyala. Untuk berpikir cara semacam itu tampaknya ia membutuhkan ruangan yang tenang bukan berisik seperti di jalanan seperti ini. Alden menghembuskan nafas berat lalu berusaha melanjutkan perjalanan untuk menemukan sebuah warung yang bisa mengganjal perutnya yang semakin keroncongan.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya Alden berhasil menemukan warung di pinggir jalan yang terlihat sangat ramai, untuk berjalan kesana ia harus menyeberangi jalan terlebih dahulu. Alden sebenarnya mengeluh karena ia belum pernah merasakan sesengsara ini dalam hidup, berjalan tanpa kendaraan dan harus merasakan menyebrang jalan dengan diperhatikan orang-orang. Mungkinkah menurut mereka Alden terlihat aneh karena wajahnya lebam, satu matanya bengkak dan juga bibirnya yang berdarah, atau mungkin mereka ketakutan? Karena melihat dari cara mereka memandang dan juga berbisik-bisik seperti tampaknya sedang bergosip seakan mereka merasa tak nyaman akan kehadirannya. Tapi Alden tidak memedulikan suasana semacam ini karena yang terpenting adalah masalah perut harus terselesaikan.
Baru saja sampai di depan warung, keempat pembeli yang duduk tiba-tiba saja segera membayar apa yang mereka beli kepada si punya warung, padahal sebelumnya saat Alden melihat dari seberang sana mereka tengah bersantai sambil menikmati kopi mereka, tapi setelah melihat kehadirannya mereka malah pergi dan sebelum pergi mereka melihatnya dengan tatapan ketakutan dan juga terburu-buru. Namun Alden hanya menaikan bahu acuh dan ia sama sekali tak peduli dengan reaksi mereka terhadapnya, terlebih lagi ketika melihat si penjaga warung pun demikian, ia terlihat ketakutan melihatnya.
"Jangan takut saya hanya ingin membeli," ucap Alden acuh.
"Teh hangat satu gelas dengan gula satu sendok, lalu beberapa roti, dan juga sebungkus rokok marlboro black, saya tunggu!" pinta Alden dan kemudian ia pun duduk di bangku.
"B-baik," sahut si pemilik warung yang terlihat masih ketakutan.
Alden bersandar di tembok dengan pikirannya yang melayang-layang, ia menyugar rambutnya gelisah, lalu meremas helaian-helaian rambutnya tanda keperustasian yang tengah melandanya. Dan tiba-tiba saja ia teringat bagaimana keadaan Ayahnya sekarang, apakah Ayahnya masih dalam keadaan baik ataukah sebaliknya? Karena 10 tahun yang lalu setelah ia memutuskan untuk pergi dari rumahnya ia tak pernah lagi menemui ataupun mengetahui kabar Ayahnya, dan sebelum ia memutuskan untuk menjadi anggota mafia karena ia merasa kalut karena terlahir sebagai anak broken home yang selalu bertengkar dengan sang Ayah. Sejak saat itu, ia berubah brutal meskipun ia terlahir dari keluarga yang bergelimangan harta, tapi semuanya tak menjamin sebuah kebahagiaan. Meskipun hubungannya dengan sang Ayah sangatlah buruk, namun tak memungkiri bahwa dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat merindukan sosok Ayahnya itu.
"Kau benar-benar anak yang tidak tahu diri! Kau selalu saja berbuat seenaknya, tanpa kau sadari kau telah mempermalukan Ayahi! Dan sekarang kau telah menghancurkan semuanya, apa kau puas membuat Ayah menderita, hah?!" sungut Sanjaya--Ayahnya saat itu dengan amarah yang menggebu.
__ADS_1
"Apa Ayah tidak sadar dengan apa yang Ayah lakukan selama ini selalu membuatku hancur? Ayah selalu membandingkan aku dengan Willy dan juga Ayah selalu membela Luna si pelakor itu!"
Plak!
Tamparan keras mendarat dari sang Ayah yang mengeluarkan bunyi nyaring memecah keheningan, denyutan nyeri di rasakan Alden di pipinya hingga membuatnya merasa sedih bercampur dengan amarah yang menjadi satu.
"Tarik kata-katamu sebelum Ayah mengusirmu dari sini!"
"Dari pada menarik kata-kataku, lebih baik aku angkat kaki dari sini, tak perlu aku menunggu di usir olehmu!" balas Alden sengit lalu ia pun pergi begitu saja dengan kemarahan yang masih berapi-api.
Dulu karena Alden sering memaki Luna--Mama tirinya sekaligus Mama dari Willy membuat perceraian itu terjadi, hingga Ayahnya sangat marah dan menyalahkannya. Bukan tanpa alasan Alden tak menyukai Luna semua karena ia merasa bahwa Ayahnya menikah sebelum kuburan Ibu kandungnya kering. Maka dari itu Alden mencap bahwa Luna sebagai pelakor. Meskipun Luna tak pernah memaki dirinya layaknya ibu tiri, tapi entah mengapa batinnya selalu bergejolak dan selalu saja ingin marah. Terlebih lagi Willy yang menjadi kakak tirinya adalah musuh bubuyutan di sekolahnya, hingga ia semakin tak terima dan label musuh bebuyutan itu berlaku sampai sekarang.
Alden termenung menatap jalanan dengan tatapan kosong hingga pikirannya buyar karena si pemilik warung yang menegurnya.
"Tuan ini teh nya dan beberapa pesanan lainnya," kata si pemilik warung seraya meletakan nampan yang berisi segelas teh hangat yang masih mengepul, serta beberapa roti dan juga sebungkus rokok.
"Terimakasih," kata Alden pendek, si pemilik warung mengangguk lalu ia pun segera pergi dari pandangannya.
Alden meneguk perlahan teh manis hangat itu meskipun rasanya tenggorokannya terasa sangat perih, mungkin itu semua akibat dari pengeroyokan itu. Alden mengabaikan rasa sakitnya lalu ia pun mengambil sebatang rokok kemudian menyesapnya setelah rokok itu terbakar dan asapnya pun mengepul di udara, setidaknya dengan cara merokok ia bisa mengusir rasa gundahnya.
__ADS_1
Hingga tanpa sengaja pandangannya pun teralihkan pada saat Alden melihat sosok gadis yang berjalan di ujung sana, tampaknya gadis itu kelelahan karena ia berjalan seperti orang yang sudah kehilangan keseimbangan. Gadis itu terlihat sedang dalam kepayahan sehingga entah mengapa seumur dalam hidupnya ia mulai merasakan kembali apa itu rasa iba.