Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 32


__ADS_3

Alden sudah sampai di pertengahan kota, ia berharap bisa segera menemukan Elsa disini. Pikirannya masih tetap sama, kalut dan juga sudah berpikiran buruk, ia begitu sangat cemas dengan keadaan Elsa. Apakah Elsa baik-baik saja ataukah terjadi sesuatu dengannya? Hanya pertanyaan itulah yang sering kali terlintas di kepala Alden saat ini.


Dan kini hujan mulai membasahi bumi, hujannya cukup deras hingga jaket yang terbalut di tubuh Alden mendadak tak ada artinya, ditambah lagi sekarang sudah larut malam namun sepertinya ia sudah tak peduli dirinya lagi meskipun ia kedinginan.


"Apakah itu Alden?" gumam seseorang yang berada di dalam mobil, ia bermonolog sendiri dan memastikan bahwa apa yang ia lihat tidak salah. "Bajingan, itu dia!" rahang pria itu mengeras setelah ia menyembul dari jendela mobilnya.


Dan tampaknya Alden sadar bahwa ada yang memperhatikannya dan sepertinya ia mengenali pria tersebut. Maka dengan cepat ia langsung menancapkan gas lalu melaju dengan kencang di tengah jalanan yang mulai sepi, melihat hal itu tentu saja membuat pria yang berada di dalam mobil itu yang tiada lain adalah Willy seketika saja langsung menambah kecepatan untuk mengejar Alden.


Dan seketika saja aksi kejar-kejaran menggunakan kendaraan terjadi, sementara Willy langsung memuntahkan peluru untuk menembak Alden secara bertubi-tubi. Maka dengan cekatan Alden berusaha untuk menghindari setiap serangan yang dilakukan Willy.


Tak ingin kalah, Willy mengemudi dengan kecepatan rata-rata dan hampir menyusul Alden. Namun tampaknya Alden juga tak ingin menyerahkan diri begitu saja, maka ia pun langsung menancap gas lagi hingga aksi kebut-kebutan di jalan pun terjadi dan untung saja kondisi jalanan sepi ditambah lagi karena kondisi hujan.


Seketika saja Alden pun tetap memantau pergerakan Willy dari balik kaca spion motornya dan melihat mobil hitam itu masih mengejarnya, namun seketika itu pula suara tembakan terdengar lagi membuat Alden segera menunduk untuk menghindari tembakan, sepertinya ia juga harus melakukan sesuatu sebelum tubuhnya terkena tembakan.


Dengan gerakan cepat Alden pun mengeluarkan pistol dari dibalik saku jaketnya yang telah diisi peluru untuk berjaga-jaga, sekarang mobil hitam itu kembali menyusulnya dan kini posisi mobil itu berada tepat di samping kendaraannya. Seolah tak ingin melewatkan kesempatan ia pun langsung memuntahkan peluru hingga tembakan itu mengenai kaca spion mobil hitam milik Willy.


Willy tidak terima dan akhirnya ia pun membalas menembak hingga pelurunya mengenai stang motor Alden. Awal mula Willy membidik ke arah tubuh Alden namun melesat, karena rupanya Alden dapat membaca taktiknya hingga ia bisa menghindar. Namun tembakan Willy tidaklah sia-sia karena akibatnya sepeda motor Alden langsung kehilangan keseimbangan, hingga ban motornya pun tergelincir akibat licinnya aspal jalan akibat hujan deras.


Gedebum!.


Bruk!


Alden kehilangan kendali dan konsentrasinya kacau, hingga mengakibatkan sepeda motornya terjatuh dengan sangat keras beserta dirinya. Ia meringis kesakitan, betapa tidak motornya sampai terpental jauh beserta dengan tubuhnya. Kepalanya terasa sangat pusing meskipun ia menggunakan helm tapi guncangan dahsyat itu sangat begitu mempengaruhi. Sementara Willy yang berada di dalam mobil langsung menghentikan laju mobilnya hingga ban-nya berdecit.

__ADS_1


Seringai terpatri diwajah Willy setelah melihat Alden terjatuh. "Akhirnya, aku bisa menemukanmu. Keparat!" umpat Willy dengan rahang mengeras.


Disela itu, Willy pun langsung memundurkan mobilnya untuk menghampiri Alden sementara Alden terlihat sedang berusaha keras untuk bangkit dari posisinya meskipun tulang tangannya terasa terkilir.


"Aw," Alden mengaduh kesakitan, napasnya terengah lalu ia melihat kendaraan Willy mulai mendekat.


Alden berusaha dengan sekuat tenaga untuk bangkit, namun sayang sekali rasa sakitnya tak mampu untuk melarikan diri.


Willy membanting pintu mobil dengan kasar, dengan wajah angkuh ia berlaga merapikan jas nya. Seringai licik terpangpang dari wajahnya lalu mendekati Alden yang kini terlihat lemah di matanya.


Sambutan tepuk tangan dan senyuman misterius terulas yang diberikan oleh Willy untuk sosok Alden, kemudian dengan ekspresi murka Willy pun langsung mengangkat kerah baju Alden hingga tubuhnya berdiri dengan paksa dan rasanya sakit sekali, namun sekuat tenaga Alden berusaha untuk menahan nyeri. Willy membuka helm milik Alden dengan kasar lalu dibandingkannya benda itu ke sembarang arah, Alden susah payah berdiri dengan tertatih-tatih sementara tatapan Willy terlihat sangat begitu beringas.


"Apa kau terkejut karena aku masih hidup setelah penyerangan yang dilakukan oleh kelompokmu itu? Dan tak kusangka juga ternyata nyawamu sangat banyak setelah penyerangan yang dilakukan Budi, kini kau masih hidup dengan anggota tubuh yang masih lengkap, kau ajaib." sindir Willy membuka percakapan, sementara Alden hanya diam seolah ia tak ingin menanggapinya. Jelas saja karena penyerangan itu, ia sama sekali tidak terlibat. Namun ia sadar meskipun ia menjelaskannya pada Willy ia takan pernah mempercayainya.


"DIMANA ELSA? BANGSAT?!" seru Willy berang tiba-tiba dan seketika saja ia langsung memukul pangkal hidung Alden hingga berdarah.


Bugh!


Sekuat tenaga meskipun tangannya terasa sakit Alden yang terpancing emosi seketika saja ia langsung membalas memukul wajah Willy dengan kasar, ia tak terima jika ia dituduh menculik Elsa. Padahal ia sendiri tidak tahu Elsa dimana dan sekarang pun ia sedang mencarinya.


Bugh!


Mata Willy menyala seketika lalu menyeka darah di pelipis matanya. "KATAKAN DIMANA ELSA?!" bentak Willy menggebu-gebu seraya mengangkat kembali kerah baju Alden dengan kasar.

__ADS_1


"Kenapa kau menanyakan dia padaku, hah?" Alden berbalik bertanya dengan nada rendah namun terdengar tegas seraya ia menatap Willy lamat-lamat.


"Jangan pura-pura tidak tahu, bodoh!" seru Willy lalu meludah tepat dihadapan Alden.


Alden berdecih lalu membalas mengangkat keras jas Willy dalam satu tarikan. "Jelas aku memang tidak tahu, lalu kau ingin memaksaku harus mengakuinya, hah?!" balas Alden dengan sengit.


"Kau akan menjual Elsa dan aku tahu dendammu adalah dendam kesumat. Apa kau belum cukup puas untuk mendapatkan semuanya, apa itu benar? Kau telah membunuh ayahnya, membuatnya buta dan kau juga akan menjualnya, iya?! Kau biadab!" sepasang mata Willy melotot murka dengan gigi bergemeletuk benci lalu melepas tangannya dari kerah baju Alden dengan satu dorongan, hingga membuatnya hampir terjengkang.


Alden menggeleng samar ia ingin menepis pikiran terburuknya mengenai keadaan Elsa.


"Menjual? Apa maksudmu?" tanyanya tak mengerti.


Willy berdecih, ia merasa bahwa Alden seolah-olah sedang berpura-pura bodoh dihadapannya jelas ia tidak akan tertipu. "Kau memang tangan kanan yang sangat cerdik, pintar bermuslihat, dan pura-pura dungu." sindirnya seraya tersenyum kecut.


"Hei dengar! Aku sudah tidak bergabung lagi dengan kalajengking hitam dan mengenai Elsa aku sama sekali tidak tahu, brengsek!" Alden berkata dengan garang seraya ia melepas kerah baju Willy dengan kasar.


"I can't believe what you're saying, bastard!"


"Aku tidak peduli apakah kau akan percaya padaku atau tidak, yang jelas aku sama sekali tidak terlibat mengenai hilangnya Elsa!" Alden berkata dengan sarkas dan apa adanya, namun bagi Willy semua itu adalah omong kosong.


Dengan kedua tangan yang mengepal kuat, emosi Willy akhirnya menggebu maka ia pun mulai terlihat sedang berancang-ancang lalu dengan gerak cepat ia pun langsung menyerang Alden dengan luapan amarah yang sudah tak terkendali lagi.


"Hiyaatttttttt..."

__ADS_1


__ADS_2