
Kini Elsa dan Willy sedang berada di halaman rumah sakit, Elsa lah yang meminta Willy agar ia dapat menikmati udara pagi, setidaknya udara pagi bisa membuatnya jauh lebih tenang. Elsa terduduk di kursi roda sementara Willy duduk di bangku persegi dan mereka saling berhadapan. Embusan angin bertiup di wajah Elsa dan tak ada senyuman di sana, ia masih terlihat murung dan juga terlihat penuh dengan kesedihan. Willy mengerti bagaimana kondisi Elsa saat ini namun ia berusaha untuk menguatkannya sebisa mungkin.
"El?" Willy memanggilnya dengan lembut seraya memegang kedua tangannya.
Elsa tak menyahut sama sekali mungkin ia masih larut dengan pikirannya sendiri hanya kelopak matanya yang bergerak lalu setetes air mata pun berlinang. Pandangan matanya sangat kosong, Willy tak mengetahui apa yang sedang Elsa pikirkan saat ini namun yang ia tangkap mungkin apa yang dilaluinya saat diculik Jefry adalah sesuatu yang sangat berat. Dan sikap Elsa yang seperti ini adalah hal yang wajar, ia yang sulit diajak bicara dan sulit makan semakin membuat Willy prihatin dengan keadaannya.
"El, aku minta maaf padamu." cicit Willy seraya menggenggam erat tangan Elsa.
"Untuk apa, Will?" akhirnya Elsa mulai kembali membuka suara, meskipun suaranya terdengar serupa lirih. Namun Willy bisa menangkap ucapannya.
"Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan identitas rahasia ayahmu dan aku juga tidak bermaksud untuk--"
"Aku mengerti Will dan sekarang aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Aku sudah tahu semuanya." Elsa memotong pembicaraan Willy seketika dan Willy hanya bisa menghela napas setelah mendengarnya.
Willy mengangguk samar mendengarnya. "Aku benar-benar menyesal karena aku sama sekali tidak becus menjagamu selama ini." sesal Willy yang membuat Elsa tersenyum kecil mendengarnya.
Elsa sadar bahwa Willy sangat begitu baik padanya dan ia tak seharusnya bersikap seperti ini pada Willy.
"Bukan salahmu juga Will, ini semua memang sudah nasib ku. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, aku tidak bisa menyalahkanmu ataupun menyalahkan tuhan. Aku rela menjalani hidupku yang menyedihkan ini dan sepertinya aku diberikan umur yang panjang oleh tuhan, karena buktinya percobaan bunuh diriku gagal." Elsa tertawa hambar setelah ia berkata demikian, ia merasa bahwa hidupnya benar-benar sangat miris.
"El" Willy menatap Elsa dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, ia sama sekali tak sanggup menyaksikan Elsa yang begitu terpuruk seperti ini. "El, aku menyayangimu. Jangan lakukan hal bodoh itu lagi, aku sama sekali tak ingin kehilanganmu." seketika saja Willy langsung berhambur memeluk Elsa dengan kuat. Willy menangis namun ia berusaha untuk tidak terisak. Ia tak ingin Elsa mengetahuinya menangis saat ini.
Kata-kata Willy benar-benar membuat hati Elsa tersentuh, hingga membuatnya menangis dalam pelukan Willy. Isakannya mulai terdengar dan rasanya hatinya benar-benar sakit, dadanya teramat sesak. Elsa sama sekali tidak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi, ia tak pandai untuk melakukan hal itu.
Aku mengerti...
Mungkin belum waktunya...
Kamu bisa sadari...
Hadirnya aku...
Aku terima...
Bila kau tak acuhkan...
Semua rasa sayangku...
Untuk dirimu...
Tak ada yang salah...
Dari dirimu..
Mungkin aku yang terlalu..
Harapkanmu...
Sulit ku ingkari...
Betapa kamu berarti...
Andai kau bisa...
__ADS_1
Mengerti...
Setiap malam...
Kau ada dalam mimpiku...
Ku selalu berharap...
Kau bisa cinta...
Cintai aku...
Tak ada yang salah...
Dari dirimu...
Mungkin aku yang terlalu...
Harapkanmu...
Sulit ku ingkari...
Betapa kamu berarti...
Andai kau bisa...
Mengerti...
(Andai kau bisa mengerti)
(Interlude)
Aku mengerti...
Aku terima...
Tak ada yang salah...
Dari dirimu...
Mungkin aku yang terlalu...
Harapkanmu...
Tak ada yang salah...
Dari dirimu...
Mungkin aku yang terlalu...
Harapkanmu...
Tak ada yang salah...
__ADS_1
Dari dirimu...
Mungkin aku yang terlalu...
Harapkanmu...
Sulit ku ingkari...
Betapa kamu berarti...
Andai kau bisa...
(Andai kau bisa)
Andai kau bisa...
Mengerti...
Andai Kau Bisa Mengerti-Nikita Willy
"El, tolong berjanji padaku untuk tidak menangis lagi. Tolong berjanji padaku untuk tidak melakukan hal bodoh lagi, aku merindukan senyumanmu, ceriamu, tawamu, dan candamu. Jangan seperti ini, El. Jika kau seperti ini aku merasa sangat sakit." Willy memohon setelah pelukan itu terlepas, ia kembali menggenggam tangan Elsa dengan teramat kuat seakan ia tak ingin kehilangannya lagi.
"Will? Apa kau tahu Will? Apa yang aku alami sangat begitu berat, sakit, perih, dan menderita. Jeffry telah memperkosaku. Lalu apa yang harus aku lakukan selain aku harus menerimanya? Mungkin aku juga harus mati!" tangisan Elsa pecah seketika, ia tak sanggup lagi memikul beban itu sendirian.
Willy yang mendengar pernyataan itu langsung terkejut, bibirnya terbuka, matanya terbelalak seolah ia tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Willy menggeleng samar, apa sekarang ia sama sekali tak salah dengar?
"El?" desis Willya mencoba berusaha mencerna pengakuan Elsa barusan, seolah ia belum meyakini apa yang baru saja ia dengar.
"Dia memperkosaku dengan kejam, memaksaku untuk memuaskan hasrat terkutuknya. Dia telah merusak apa yang telah aku jaga selama ini, dia memperkosaku, menyiksaku, dia---dia jahat!" cerita Elsa dengan menggebu-gebu disertai tangisan yang bercampur dengan amarah.
Dengan cepat Willy langsung memeluk kembali Elsa kembali, ia berusaha untuk menenangkannya karena Elsa mulai memukul tubuhnya sendiri seolah ia sedang merasa jijik pada dirinya sendiri. Mendengar cerita Elsa tentu saja membuat Willy ikut sakit hati, ia merasakan betul bagaimana derita Elsa saat ini. Pantas saja jika Elsa berusaha untuk bunuh diri, ternyata Jeffry telah melakukan hal itu dengan amat keji dan tak berperasaan.
"El, tenanglah..maafkan aku, maafkan aku." kini sebuah isakan meluncur dari bibir Willy. Ia tak kuasa menahan kesedihan yang selama ini ia tahan-tahan, sementara Elsa terus menangis keras seakan-akan bayangan pemerkosaan itu seperti terputar kembali di kepalanya.
"Dia jahat, sangat jahat!" racau Elsa seraya memukul pelan bahu Willy berkali-kali sebagai reaksi yang sangat wajar karena ia tidak bisa melampiaskan emosinya pada si pelaku.
"Maafkan aku El, aku bersalah padamu karena tidak menolongmu." lirih Willy bercucuran air mata.
Berulang kali Willy meminta maaf meskipun semua itu bukan salahnya, tetapi ia merasa sangat menyesal dengan keadaan yang menimpa Elsa karena ia tak ada disampingnya saat ia berada dalam kesulitan dan penderitaan.
"Willy seharusnya aku berterimakasih padamu, karena kau datang untuk menyelamatkanku. Terima Kasih sudah membaca pesanku. Kalau tidak, mungkin aku akan dikirim ke LA untuk menjadi budak *** di sana." Elsa berkata sambil sesegukan, sepasang matanya terlihat sembab karena terus-terusan menangis tanpa henti.
"Justru itu aku datang diwaktu yang tidak tepat El, aku terlambat membaca pesanmu." lagi-lagi Willy masih menyalahkan dirinya sendiri. "Aku memang tidak becus menjagamu, aku memang pria tolol." Willy merutuki diri dengan penuh sesal yang tak berkesudahan.
"Aku mohon jangan salahkan dirimu, ini bukan salahmu. Aku sungguh berterima kasih padamu Will, untuk semuanya. Kau baik sekali." Elsa melepas pelukan dan ia mulai tersenyum sendu ke arah Willy, ia berterimakasih atas kebaikan Willy selama ini.
Willy menatap Elsa dengan bibir bergetar dan mata memerah akibat menangis, untuk kesekian kalinya hanya Elsa yang bisa membuatnya cengeng seperti ini. Seketika saja tangan Willy terulur, menghapus setiap air mata yang membasahi pipi Elsa lalu tangannya bergerak meraih tangan Elsa dengan lembut.
"El, berjanjilah untuk tersenyum lagi, aku merindukanmu. Tolong obati rasa rindu dengan senyumanmu. Apapun yang terjadi aku takan pernah meninggalkanmu, El." mohon Willy seraya mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking milik Elsa.
"Aku akan berusaha untuk itu Will," setelah berucap demikian Elsa mengaitkan kelingkingnya dengan erat, seolah ia tengah berikrar. Meskipun keadaan sebenarnya ia sudah teramat rapuh, namun demi Willy ia mampu melakukannya.
Willy tersenyum haru sementara Elsa tersenyum sendu, adanya Willy saat ini membuat lukanya sedikit membaik. Setidaknya ia tidak larut dalam sepi dan kesendirian yang teramat menyedihkan.
__ADS_1
"Terimakasih, Wil." kata Elsa sekali lagi.
"It's oke El," balas Willy dengan suara parau lalu mereka berdua pun saling berpelukan seolah mereka sedang menguatkan satu sama lain.