
Alden terbangun dengan kepala yang rasanya mau pecah, pusing dan juga membuatnya terasa mual. Ia mengerang saat merasakan kedua matanya terpapar cahaya matahari di balik celah jendela. Alden pun berusaha untuk membuka kedua matanya yang terasa sangat berat, memandang langit-langit yang tampak asing. Dan mulai menyadari bahwa ia kini berada disebuah hotel hingga ia langsung terperanjat kaget kemudian duduk tegak.
"Astaga, aku dimana?" desis Alden lalu sepasang matanya dibuat kaget lagi, setelah melihat tubuhnya tak mengenakan apapun selain tertutup selimut.
Siapa yang telah melakukan hal ini padanya? ingatan terakhirnya hanya sebatas ia telah meminum beberapa botol bir di salah satu klub malam lalu berbincang dengan seseorang dan setelah itu ia tak mengingat apapun.
Alden menelan ludahnya perlahan, ia benar-benar dibuat bingung dengan situasi semacam ini. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan jantungnya seakan berhenti berdetak setelah melihat tubuh seorang wanita sexy yang masih tertidur pulas diatas sofa.
Rahang Alden mengeras seketika, ia benar-benar tak terima karena ada seorang wanita yang begitu berani menyetubuhinya seperti ini. Segera ia pun memunguti semua pakaiannya yang berserakan di lantai, memakainya dengan cepat lalu menghampiri wanita itu.
"Bangun sekarang juga!" teriak Alden dengan emosi yang sudah menggebu.
Wanita itu sama sekali tak merespon, hingga Alden pun langsung mengguncang-guncang tubuh wanita itu dengan sedikit kasar. Hingga wanita itu pun mengerang dan menggeliat.
"Ada apa? Ini masih pagi sekali." rengeknya seraya membuka mata perlahan.
"Siapa kau beraninya meniduriku seperti ini, hah?!" tanpa basa-basi Alden pun langsung memaki tak terima, ia merasa dirugikan dengan apa yang telah dilakukan wanita itu dengan cara yang tak senonoh seperti ini.
Wanita itu mengucek matanya lalu terduduk, lalu tersenyum remeh ke arah Alden.
"Seharusnya kau bersyukur ada yang memuaskan nafsu syahwatmu." ucapnya dengan suara yang masih serak.
"Kau?!" Alden menunjuk gadis itu tepat di wajahnya dengan gigi bergemeletuk. "Siapa yang menyuruhmu seperti ini, hah?!" bentak Alden berang.
Wanita itu menggeleng. "Nobody told me to. I just wanted to do it, I couldn't stand that night anymore." jawabnya dengan santai seraya menyulut sebatang rokok dengan pemantik api lalu menyesapnya.
Alden mengacak rambutnya seraya berteriak kesal, ia merasa percuma berbincang dengan wanita itu, sepertinya wanita itu memang sudah tak waras dan tak pantas untuk dilayani.
"Apa kau masih perjaka hingga kau marah besar seperti ini?" tanya wanita itu seraya berdiri dan membelai dada Alden dengan sentuhan erotis.
Alden membuang wajah seketika, menghela nafas kasar lalu mendorong wanita itu dengan murka. "You crazy woman, where's your common sense, hah? not all men want *** without love, do you understand up to this point, hah?!" hardik Alden dan berniat untuk pergi.
Seketika saja wanita itu langsung bangkit lalu menarik tangan Alden kemudian menjatuhkan tubuhnya pada sofa dan wanita itu berubah sangat menyeramkan.
Wanita itu menindih Alden seraya mencekiknya kuat-kuat hingga membuat Alden hampir kehilangan napas.
__ADS_1
"Pria munafik, dulu kau menyetubuhiku dengan paksa, dan sekarang kau berlaga menolaknya!" murka wanita itu berbicara tak jelas.
Alden langsung terbatuk-batuk dengan memaksakan diri untuk berbicara, sungguh ia tak mengerti apa maksud dari ucapan wanita itu.
"A-apa maksudmu?" tanya Alden seraya berusaha melonggarkan cekikan dari tangan wanita itu.
"Apa kau masih ingat? Aku yang pernah kau setubuhi saat aku baru saja pulang sekolah, hah?" wanita itu langsung tertawa menyeramkan yang membuat ingatan Alden terlempar pada masa lalu.
Kala itu, gadis berseragam putih abu-abu baru saja berpisah dengan temannya setelah mereka berjalan bersama sepulang sekolah. Jalanan sangat sepi, hingga perasaan mencekam pun semakin terasa. Dan saat ia berjalan ia merasakan bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya, beberapa kali ia menengok kanan-kiri untuk memastikan situasi namun tak nampak siapapun hingga ia berusaha menepis pikiran buruknya. Gadis itu tetap melanjutkan perjalanan, namun tanpa sadar seorang pria yang sedang mengikutinya langsung membekap mulut gadis itu. Dan pria itu adalah--Alden yang masih berusia 20 tahun dan ia sedang berada dalam pengaruh alkohol.
Gadis itu mencoba untuk berteriak, namun bungkaman itu benar-benar kuat. Alden menarik tubuh gadis itu dari belakang dan gadis itu berusaha keras untuk berontak namun sia-sia.
Gadis itu dibawa ke tempat yang terdapat gubuk kecil, seketika saja Alden langsung mendorong tubuh gadis itu hingga terjerembab ke tanah.
Gadis itu menangis dan menjerit meminta untuk dilepaskan, namun Alden menolaknya. Hingga dengan cepat Alden pun langsung membuka celananya, seolah ia sudah tak sabar ingin menyetubuhi gadis itu.
Alden langsung menghimpit gadis itu di atasnya, kedua pahanya dibuka lebar-lebar kemudian melepaskan kain pelindung apem itu. Dan tanpa penetrasi Alden pun langsung mengoyak keperawanan gadis itu bagaikan kuda yang sedang mengamuk.
Setelah kejadian itu, entah mengapa wanita itu merasakan hal aneh pada dirinya, wanita itu mendapati sebuah kelainan pada dirinya dan kelainan itu disebut 'Stockholm syndrome' kelainan itu adalah gangguan psikologis pada korban penyanderaan yang membuat mereka merasa simpati atau bahkan menyayangi pelaku.
Setelah Alden tersadar dari sejarah kelamnya itu, ia teramat semakin tersiksa. Betapa buruknya ia di masa lalu, sepasang matanya terbelalak kala wanita itu menyeringai aneh.
"Aku mencintaimu, apakah aku salah?" tanyanya seraya menghembuskan asap rokok itu tepat pada wajah Alden.
Dengan sekuat tenaga, Alden pun langsung mendorong wanita itu hingga ia tersungkur ke lantai.
"Kau wanita gila, kau tidak waras!" cela Alden lalu berusaha kabur, namun sayang pintu itu terkunci. Berkali-kali Alden menggerakan gagang pintu, tapi mustahil pintu itu sama sekali tak dapat dibuka.
"Ya, aku memang gila lalu kau mau apa, hah?" wanita itu mulai mendekat kearah Alden yang membuatnya berusaha untuk tetap waspada.
Seketika saja wanita itu langsung merogoh sesuatu dibalik saku celana pendeknya, sebuah pisau lipat yang runcing dengan seringai mengerikan.
"Jangan macam-macam, aku tidak ingin membunuh seseorang!" Alden berusaha untuk menghindari ancaman dari wanita itu.
"Kau hanya milikku, dan kita akan mati bersama-sama!" teriak wanita itu seraya tertawa aneh.
__ADS_1
Alden menggeleng kuat. "Buang pisau itu, sekarang juga!" perintah Alden seraya menaiki sofa, karena wanita itu perlahan mulai mendekatinya seraya menodongkan pisau.
"Tidak akan! Aku ingin pisau ini merobek perut kita berdua sayang. Apa kau tahu, aku sangat begitu trauma setelah apa yang kau lakukan padaku dulu. Dan bodohnya, kenapa aku malah mencintaimu padahal kita tidak saling mengenal," racaunya seraya tersenyum misterius.
"Karena kau wanita gila!" sambung Alden berang.
Setelah berucap demikian, seketika saja wanita itu langsung menyerang Alden dengan pisau, tapi untung saja Alden dapat menghindari serangan itu. Beberapa gerakan yang dilakukan wanita itu rupanya dapat dibaca oleh Alden.
Wanita itu seketika saja langsung berteriak seraya menodongkan pisau berulang kali.
"Kita akan mati bersama, aku takan membiarkanmu lari!" teriak wanita itu lantang seraya menyerang Alden kembali, dan membuat tubuh Alden terhempas pada kasur, sementara wanita itu langsung menindihnya.
Blessss!
Dengan taktik sempurna serangan itu malah berbalik, wanita itu merasakan darah hangatnya sendiri saat perutnya tertikam pisau miliknya. Urat lehernya timbul dan sepasang matanya melotot merasakan nyeri yang tak tertahankan, sementara keringat dingin membasahi wajah Alden saat ini. Wajah Alden berubah pias, sungguh ia sama sekali tak bermaksud untuk membunuh wanita itu.
"K-kau?" wanita itu berbicara dengan tenggorokan tercekat sebelum akhirnya ia meregang nyawa.
Tubuh wanita itu ambruk diatas tubuh Alden, segera ia pun langsung bangkit dari posisinya. Dan betapa terkejutnya ia kini, bahwa ternyata wanita itu sudah tewas dengan pisau yang menancap di perutnya, serta tiada henti darah itu mengalir membasahi sprei berwarna putih yang kini didominasi oleh bercak darah.
Alden menyugar rambutnya gelisah dengan nafasnya yang tak beraturan, beserta jantungnya terasa mencelos seketika setelah mendengar pintu kamar hotel diketuk seseorang.
Tok..tok..tok...
"Permisi, Nona, Tuan, kami selaku petugas hotel ingin mengingatkan bahwa hari ini adalah jadwal late check out hotel." lantang petugas hotel di balik pintu.
Mendengar hal itu, Alden benar-benar sangat panik. Entah ia harus melakukan apa sekarang, ia berjalan mondar mandir lalu menelan ludah.
"B-baik, kami sebentar lagi selesai, masih ada beberapa barang yang harus kami bereskan." sahut Alden akhirnya, dengan nada sedikit teriak dan sedikit bergetar.
"Baik Tuan," petugas itupun membalas sahutannya lalu tak terdengar lagi.
Alden ketar-ketir, ia harus melakukan apa? Tidak ada koper dan yang lainnya untuk membungkus mayat wanita ini. Jika harus melakukan mutilasi tidak ada gergaji untuk mengeksekusi.
Alden mengacak rambutnya frustasi, tidak mungkin ia telah kembali menjadi seorang pembunuh. Setelah ia mengucap sumpah serapah untuk tidak melakukan pembunuhan lagi terhadap siapapun. Tapi sekarang ia melanggarnya, tapi di satu sisi ia juga bingung karena hal ini sangatlah darurat dan mengancam nyawanya. Maka dengan terpaksa ia pun melakukannya, karena ia hanya ingin melindungi diri dari serangan, ia menatap langit-langit seraya berkacak pinggang.
__ADS_1
"Sekarang aku harus apa Tuhan?"