Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 26


__ADS_3

Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Alden setelah ciuman itu terjadi, karena benar saja Elsa sangat begitu terkejut dengan aksi yang dilakukan Alden yang tiba-tiba saja mencium bibirnya. Elsa menggeleng samar seolah ia masih belum meyakini apa yang baru saja terjadi padanya, sementara Alden hanya menahan rasa sakit di pipinya. Alden sungguh menerima tamparan yang dilakukan Elsa, reaksinya kali ini cukup wajar karena Alden sadar bahwa ia salah telah melakukan ciuman itu.


"Kenapa menciumku?" pertanyaan itu akhirnya meluncur dari bibir Elsa, meskipun hanya berupa sebuah bisikan lirih.


Alden tak menjawab, namun hanya suara helaan napas panjang yang bisa Elsa dengar.


"Tadi kau tak berhenti mengoceh," akhirnya Alden menjawab setelah sesaat ia terdiam.


"Tapi itu semua karena salahmu!" sentak Elsa seketika.


"Aku minta maaf," Alden berucap lirih dan terdengar sangat tulus, namun semua itu malah membuat Elsa semakin rapuh.


Elsa menangis sambil menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan, terdengarlah sebuah isakan lalu ia pun berjongkok.


"El," Alden memanggil dengan lembut lalu ia pun ikut berjongkok.


"Aku ingin mati saja," gumamnya dengan suara tersedu-sedu.


"El, serius aku minta maaf jangan seperti ini." seketika saja Alden mengangkat wajah Elsa yang sudah basah oleh air mata, sungguh Alden merasa sangat begitu bersalah padanya.


"Aku ingin mati saja, aku sepertinya sudah tak sanggup hidup di dunia ini. Rasanya semuanya tak adil, jadi untuk apa aku bertahan?" Elsa berkata sambil terisak-isak, hatinya begitu hancur dan begitu tersiksa.


Seketika saja Alden menghentikan ucapan Elsa dengan jari telunjuknya yang kini berada di bibir Elsa. "Sssttt... jangan seperti ini, El." bujuk Alden seraya menghapus air mata Elsa dengan jari-jemarinya.


"Kau benar, aku mungkin hanyalah sebuah beban dan aku akan terus membawa kesedihan kepada semua orang yang menolongku. Tapi, yang perlu kau ketahui aku sama sekali tak bermaksud untuk itu. Dan rasanya mati adalah pilihan untukku,"


Dengan cepat Alden langsung menenangkan Elsa dengan cara memeluknya erat, membiarkannya menangis dalam pelukannya. Alden dapat merasakan betul bagaimana keadaan Elsa yang amat menderita. Dan ia merasa bersalah pada Elsa karena ia telah berkata demikian saat berada di balkon, ia pikir Elsa masih tertidur dan bahkan mungkin Elsa hanya ketakutan dengan mimpi yang baru saja ia alami sehingga kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya.


"Tenangkan dirimu, El." bisik Alden seraya membelai rambut Elsa perlahan.


Elsa menggeleng samar dan tiada henti ia menangis, hatinya terasa sangat perih. Ia merasa bahwa keterbatasannya sekarang amat mempengaruhi. Rasa percaya diri dan semangat perlahan sudah pupus dari lubuk hatinya, semua itu tidak terlepas dari masalah penglihatannya dan juga kematian ayahnya.


"Izinkan aku pergi dari sini, aku mohon." pinta Elsa dengan suara seraknya seraya ia melepas pelukan.


Alden langsung menggeleng kuat. "No, kau harus tetap berada disini. Biarkan aku yang bertanggung jawab atas dirimu. Izinkan aku berbuat baik padamu, jangan pikirkan apa kata-kataku tadi. Tadi perasaan ku sedang tidak baik-baik saja, serta pikiranku sedikit kalut maka tanpa sadar aku berucap demikian. I beg El, to stay here. I want to protect you. I promise I won't repeat words like that, I know it hurts your heart." Alden memohon seraya memegang kedua tangan Elsa dengan binar mata penuh penyesalan.

__ADS_1


"Kenapa kau bersimpuh seperti ini? Kenapa kau ingin berbuat baik padaku? Kau tahu kita baru pertama kali bertemu," tanya Elsa yang kini mendadak ragu.


"Aku tahu El, mungkin rasanya tidak masuk akal. As long as I've lived I've always done bad things, and now I get what it's like as a result of what I've done so far. Meeting you, I wanted to do something to make the bad side go away from my life. I just want to do good, I want to expel the dark past from my memory." papar Alden berterus terang.


"And by chance you met me?"


"Aku rasa ini bukan sebuah kebetulan, But this is all destiny for me to change. That's how God brought me to you." tepis Alden dengan suara lembutnya.


"Apa sebelumnya kau orang jahat?" terka Elsa mencoba meng-introgasi Alden.


"I don't know, maybe yes." cicit Alden dengan kepala tertunduk. "Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk berbuat baik padamu, El? Dan berbuat baik kepada semua orang?" kepala Alden terangkat seraya ia menatap sepasang mata Elsa yang masih terlihat mendung.


"If you ask for a chance, I think you deserve it." jawab Elsa pelan.


Sebentuk senyuman merekah kembali dari bibir Alden setelah mendengar Elsa berkata demikian, ada perasaan lega dan juga perasaan haru yang kini menyelimuti hatinya. Alden semakin menggenggam kuat tangan Elsa yang belum sempat ia lepas lalu ia berkata dengan lirih. "Terimakasih, El. Terima Kasih karena kau telah membuatku semakin bersemangat untuk mengejar kebaikan. Berjanjilah padaku untuk tidak pergi dari sisiku,"


"Aku tidak bisa berjanji untuk tidak pergi dari sisimu," desis Elsa pelan namun Alden masih bisa menangkap ucapannya.


"Why?" tanya Alden dengan sepasang alisnya yang terangkat.


"Ya, aku mengerti. Tapi selama kau berada disisiku saat ini, aku takan menyanyakannya. Kau harus mendapatkan keadilan atas segala penderitaanmu El, kau harus mendapatkan kembali penglihatanmu dan juga kau harus membalas kematian ayahmu. Dengar, aku akan membantumu." ikrar Alden yang membuat Elsa kembali luluh dengan sebentuk senyuman yang kini merekah dengan sangat antusias.


"Benarkah?" tanya Elsa dengan matanya yang terlihat berkaca-kaca.


Alden mengangguk meskipun ia sadar bahwa Elsa tak bisa melihatnya. "Aku berjanji akan menyerahkan diriku, untuk menebus dosa-dosaku pada keluargamu dan juga padamu, El. Aku akan memikirkan caranya dari sekarang," batin Alden berkata dengan sungguh-sungguh. "Aku berjanji padamu El, percayalah." kata Alden hingga seketika saja Elsa langsung berhambur memeluk Alden dengan erat.


"Aku percaya padamu," bisiknya seraya tersenyum penuh haru.


****


Sudah seminggu ini keadaan Willy cukup membaik dan sudah pindah ruangan ke ruangan rawat inap, meskipun belum bisa keluar dari rumah sakit setidaknya ia masih bisa selamat. Dalam jam kunjungan Budi datang menjenguk, selama Willy berada di rumah sakit ia lah yang memfasilitasi Willy baik itu dari segi administrasi dan segala kebutuhan Willy, semua itu ia lakukan tidak lain hanya untuk membalas jasa Willy dalam pemecahan kasus kematian adiknya.


Dan kini Willy tampak sudah mulai sadar dan terlihat sebentuk senyuman itu sudah kembali hadir menghiasi wajah pucatnya, sementara Budi berdiri dengan gagahnya tepat disamping brankar Willy.


"Syukurlah kondisimu membaik, aku senang dengan kabar yang aku dapat mengenai kondisimu." Budi membuka percakapan dengan seulas senyuman.


"Aku sempat berpikir bahwa umurku akan pendek," cicit Willy seraya tersenyum getir.

__ADS_1


"Dalam sebuah film tidak ada tokoh utama yang mati," gurau Budi yang membuat Willy tertawa kecik.


"Sekarang aku sudah tidak memiliki anak buah, semuanya sudah mati. Dan aku tidak tahu apa yang dilakukan kalajengking hitam saat aku tidak sadarkan diri, yang aku takuti berkas-berkas penting di ruang kerjaku diambil oleh mereka." ungkap Willy dengan binar mata yang mulai meremang.


"Ya, kau benar. Seluruh anak buahmu tak bersisa, tak mungkin juga mereka menyisakan satu untukmu. Hanya saja mereka juga tidak sepintar itu, tidak mengecek apakah kau sudah tewas atau belum." kekeh Budi sementara Willy hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Jika aku jadi mereka aku akan menebas lehermu Will, untuk memastikan kau sudah benar-benar mati. Lalu aku pergi dengan berkasnya. Dan aku pikir mereka juga pasti mengambil sesuatu yang penting, tidak mungkin mereka pergi dengan tangan kosong," ucap Budi yang membuat Willy hanyut dalam lamunannya sendiri lalu detik itu terdengar suara helaan napas panjang yang keluar dari mulutnya.


"Tampaknya aku sudah gagal menjalankan tugas dari Tuan Dirly, aku kehilangan semuanya." desah Willy dengan senyuman sendu terpatri.


"Belum," sambung Budi yang membuat Willy menatapnya bingung.


"Maksudnya?"


"Ya, kau bisa bergabung dengan kelompokku, kemudian kau bisa membalaskan seluruh dendam mu pada kalajengking hitam,"


"Tapi aku juga kehilangan Elsa, apakah kau bisa membantuku untuk menemukannya?" tanya Willy dengan nada penuh khawatir pada sosok Elsa yang pergi entah kemana. "Aku takut kalajengking hitam mendapatkanya terlebih dahulu, mereka bilang mereka akan menjual Elsa. Aku sudah gagal dalam memimpin Red Tiger tapi aku juga tidak ingin gagal dalam menjaga Elsa," cerita Willy pada Budi.


Terus terang dalam pikirannya saat ini bukanlah kondisinya melainkan ia hanya memikirkan bagaimana kondisi Elsa diluar sana. Mengingat Elsa yang buta dan juga banyak bahaya yang mengincarnya dan hal itu membuat Willy benar-benar tidak tenang.


Budi mengangguk mengerti. "Elsa putri Dirly, right?" tanya Budi yang di jawab Willy oleh anggukan kepalanya. "Tenang saja aku akan menugaskan salah satu anak buahku untuk mencari Elsa, dan kau tidak perlu memikirkan itu yang terpenting kau harus sembuh dulu." saran Budi seraya menepuk-nepuk bahu Willy.


"Tetap saja aku tidak bisa tenang, aku benar-benar cemas dengan keadaan Elsa diluar sana yang banyak sekali bahaya untuknya." ujar Willy seraya menyugar rambutnya gelisah.


"Apa kau menyukainya?" tanya Budi tiba-tiba yang membuat sepasang mata Willy bergerak menatap wajah Budi.


"Ya?"


"Aku mengerti rasa cemas mu itu bukan semata-mata karena Elsa anaknya Dirly. Dirly sudah mati dan kau bisa mengabaikan setiap janjimu padanya. Lalu kau juga bisa menguasai aset berharganya karena kau kepercayaannya. Dirly sudah mati dan tidak ada yang mengawasimu. Tapi, kau tidak mementingkan hal itu. Kau tetap menjalankan tugas dan kau menyukai putrinya, right?" Budi tersenyum lebar seraya menatap wajah Willy yang memerah, dalam kondisi pucat seperti itu tentu saja perubahan itu terlihat kontras dari wajah Willy, ia tidak bisa menyembunyikan hal itu.


"Dia gadis baik dan juga cantik. Bodoh sekali jika aku tidak menyukainya, meskipun dia buta aku tidak peduli." ucap Willy yang membuat Budi tertawa mendengarnya, ia tak habis pikir setelah sekian lama ia bisa mendengar curhatan seorang anggota mafia yang kini berubah menjadi seorang budak cinta.


"Hm, kau benar. Cinta itu memang membutakan segalanya, padahal kau tampan dan kau bisa mendapatkan gadis yang lebih." komentar Budi seraya geleng-geleng kepala dan tersenyum kecik.


"Apa benar kau akan membantu mencari Elsa?" tanya Willy untuk memastikan lagi.


"Tentu saja," jawab Budi yang membuat senyuman Willy kembali merekah dengan perasaan lega.


"Terimakasih,"

__ADS_1


__ADS_2