Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 58


__ADS_3

"Elsa," panggil Bramantyo yang tiba-tiba saja datang, hingga membuat Elsa dengan cepat langsung menghapus air matanya.


Elsa mencoba menelisik suara kursi roda Bramantyo yang sepertinya kini sudah ada di sampingnya. Bramantyo datang bersama dengan sang suster namun setelah itu Bramantyo seperti mengkode sesuatu agar dirinya meninggalkan mereka berdua seakan ada pembicaraan serius yang harus dikatakan empat mata.


"El, apakah saya boleh bicara denganmu?" izin Bramantyo sementara Elsa hanya mengangguk.


"Saya tahu apa yang terjadi pada hidupmu, El. Dan semua tentang hidupmu membuat saya menangis, saya benar-benar minta maaf selaku Ayah dari Alden. Kau mengandung benihnya lalu … lalu …" Bramantyo tampak frustasi, ia tak mampu melanjutkan seakan lidahnya teramat kelu.


Elsa menghela nafas berat disertai dengan air mata yang berlinang, seakan ia tak ingin mendengar nama Alden di sebut lagi. Rasanya terlalu sakit jika ia mendengar namanya.


"El, ada seseorang yang ingin mendonorkan mata untukmu. Apa kau mau menerimanya?" tawar Bramantyo tiba-tiba, hingga membuat kerutan di dahi Elsa muncul seakan ia seperti salah mendengar sesuatu.


"Aku menolaknya, Om." jawab Elsa setelah sesaat ia terdiam.


"No, kau harus tetap menerimanya karena semua ini demi masa depanmu." Bramantyo berusaha untuk tetap membujuk Elsa agar ia mau menerima tawaran itu.


"Aku sudah tidak punya masa depan, Om. Lalu untuk apa aku menerima tawaran itu?" Elsa tertawa hambar untuk sesaat, namun akhirnya ia harus jatuh juga pada lembah pilu yang sangat begitu menyakitkan.


"Benihmu, dia masa depanmu, El." sambung Bramantyo seraya menatap Elsa dari samping dengan lapisan bening yang menyelimuti kedua matanya, jujur ia pun begitu merasakan apa yang sedang Elsa alami sekarang.


"Dia juga akan mati bersamaku, Om." sahut Elsa dengan lirih.

__ADS_1


"No, No!" teriak Bramantyo seketika, kemudian dengan cepat ia menggenggam kedua tangan Elsa dengan kuat dan menangis tersedu-sedu, seakan ia juga tak ingin kehilangan calon cucunya itu. "Dia cucu saya, jangan kau menyakitinya dan saya mohon. Dan saya pun sangat begitu menyayangimu, El. Kau sudah saya anggap sebagai putri kandung saya sendiri. Sejak pertama saya melihatmu, saya sudah begitu menyayangimu. Saya melihat sesuatu dari hatimu dan dari semua yang ada pada dirimu, jadi saya mohon untuk tidak melakukan hal yang akan menyakiti dirimu sendiri dan juga benihmu. Apakah saya harus bersimpuh di kakimu agar kau mau mendengar apa yang saya katakan?" Bramantyo berbisik memelas, seakan memohon agar Elsa bisa mengerti bahwa ia sangat begitu tulus menerima Elsa untuk masuk kedalam bagiannya.


Elsa tak tahu lagi harus berkata apa karena segalanya terlalu rumit untuk ia terima, untuk ia mengerti, dan untuk ia memahami.


"Please, please." mohon Bramantyo sekali lagi dengan suaranya yang hampir habis karena tenggelam dengan isak tangisnya yang semakin merebak.


Elsa menghapus air matanya berulang kali, bibirnya bergetar hebat dan ia mencoba untuk meredam rasa nyeri yang mengiri-iris sanubarinya.


"Saya tidak mau kehilanganmu dan juga cucu saya, kalian harus tetap hidup dan juga bahagia. I know, semua ini pasti sangat begitu berat bagimu. Tapi apa salahnya kalau kau mencoba untuk bangkit kembali, tidakkah kau merasakan bahwa benihmu juga ingin tetap hidup dan tumbuh? Kau telah melakukan percobaan bunuh diri, tapi benih di dalam rahimmu masih bertahan karena dia ingin hidup dan juga tumbuh. Please," isak pilu Bramantyo berhasil membuat Elsa menggigit bibir seakan ia sedang berusaha menahan isakannya sendiri.


"Kenapa harus Om yang mengatakan maaf lalu memohon-mohon seperti ini? Dimana Alden sebenarnya? Mengapa bukan dia yang melakukan semua ini padaku Om, kenapa harus Om? Om sama sekali tak bersalah dan tak sepantasnya Om berbuat seperti ini. Aku sungguh tak mengerti apa yang Alden inginkan dariku sebenarnya? Dia yang memintaku untuk memulai semua ini, tapi dengan mudahnya ia mengakhiri semua ini dengan begitu tragis, bahkan dia sama sekali tak ingin bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat padaku. Dia memintaku untuk menerima cintanya, dia yang menghamiliku dan sekarang setelah apa yang diinginkan terwujud, dia malah membuatku menderita seperti ini. Apa yang sebenarnya dia mau dariku, Om. Apa?!" protes Elsa kemudian ia pun terkekeh pahit, ulu atinya seperti ditusuk sebilah pedang yang sangat begitu tajam.


"Apa yang kau pikirkan tentang Alden tidaklah benar, saya sama sekali tak bermaksud untuk membelanya. Dia akan kembali, dia akan berada disini untukmu." bisik Bramantyo dengan lirih.


Bramantyo merasakan dan membayangkan rasa sakit yang dialami Elsa saat ini, ia merasa bahwa ia juga ikut bersalah karena putranya harus terlibat dengan hal yang seperti ini. Bramantyo merasa bahwa ia seperti ikut memikul beban itu, beban yang pasti tak mudah juga bagi Alden.


"Dimana Alden, Om?" tanya Elsa dengan perasaan teramat hampa.


"Dia akan menemuimu besok." jawab Bramantyo lemah.


"Kenapa tidak sekarang?" tanya Elsa sengit.

__ADS_1


"Maafkan Alden, saya memohon padamu, tolong maafkanlah dia." Bramantyo memilih tak menjawab pertanyaan Elsa, ia malah memilih untuk memohon agar Elsa dapat membuka pintu maaf untuk putranya untuk sedalam-dalamnya.


Elsa berusaha untuk bicara, namun bibirnya tak mampu meluncurkan sepatah kata apapun dan kini hanya isak tangisnya yang terdengar seakan telah mendeskripsikan bahwa ia sekarang kian terpuruk.


"Maaf … Maafkanlah Alden, El." lagi-lagi hanya kata itu yang mampu diucapkannya.


Elsa sama sekali tak tahu apakah ia bisa memaafkannya sekarang, karena yang ia inginkan hari ini adalah waktu.


"Aku tak tahu bagaimana akhirnya kalau kau akan tahu segalanya, El. Mungkin kau akan mengalami sakit lebih dari ini." batin Bramantyo berkata dengan jiwanya yang ikut terguncang.


Bramantyo memijat keningnya, mungkin percakapan antara dirinya dan Elsa sangatlah begitu menguras tenaga hingga membuat kepalanya terasa akan pecah saat ini juga.


Sementara dengan Elsa, berkali-kali ia menghela nafas berat seakan semua ini memang begitu sulit baginya.


"El, bisakah kau menerima tawaran tadi?" tanya Bramantyo setelah sekuat tenaga ia mencoba untuk kembali bersuara.


"I don't know," jawab Elsa menggeleng lemah, dengan suara serak.


"Saya harap kau bisa menerimanya, setidaknya jika penglihatanmu kembali semua bebanmu perlahan sedikit terangkat." bujuk Bramantyo dengan nada rendah.


"Bagaimana bisa jika penglihatanku kembali sementara hatiku masih sangat begitu sakit?" Elsa berucap lirih, kemudian ia pun tersenyum getir.

__ADS_1


"Saya mengerti, tapi semua pasti membutuhkan waktu. Sedikit demi sedikit hidupmu pasti akan berubah. Kau hanya perlu sedikit lebih sabar lagi dan kau akan tahu jawabannya, saya mengerti kalau kejujuran adalah hal yang sangat begitu pahit jika sebelumnya diawali dengan sebuah kebohongan. Tapi bukankah hal itu jauh lebih baik dari pada harus menyembunyikan semuanya terus menerus?" Bramantyo berkata hingga membuat dahi Elsa kembali bertaut bingung.


"Apa maksud Om?" tanya Elsa seketika, seakan ia mulai curiga akan sesuatu.


__ADS_2