
"Oke, aku tidak ingin membuang waktu lagi. Jadi lebih baik kau berikan videonya sekarang! Atau aku akan menyiksamu tanpa ampun!" Alden mengancam.
"Oke baiklah, pertama beri aku laptop. Aku sudah mengirim videonya melalui email." kata Willy mengakui.
"Oke," Alden setuju lalu ia pun merogoh walkie talkie di saku bagian dalam jaketnya. "Robbin, Tito, kemari dan jangan lupa bawa laptopnya di atas meja di ruangan kerjaku!" Alden memerintahkan anak buahnya.
"Siap!" katanya di seberang.
Tak lama kemudian pintu besar itu terbuka dengan kedatangan dua orang anak buah Alden dengan Robbin yang memegang laptop di tangannya.
"Ini Bos," Robbin menyerahkan laptop itu kepada Alden dan Alden pun langsung menerimanya dengan cepat.
Alden tengedikan dagu sebagai kode agar kedua anak buahnya melepaskan tangan Willy yang terikat.
Willy menampilkan senyuman misterius saat tangannya mulai terlepas. Maka, dengan gerakan cepat Willy pun langsung mengambil pisau lipat dari saku jaketnya dan langsung menyabetkan pisau tajam itu ke wajah kedua anak buah Alden hingga fokus mereka hanya tertuju pada lukanya.
Srkk…
"Aww!"
Seakan tak mau menyia-nyiakan kesempatan Willy puns langsung membuka ikatan di kakinya, sementara Alden juga tak tinggal diam. Alden yang melihat Willy yang sudah bebas, langsung berlari kencang menghampirinya setelah terlebih dahulu sebelum menyimpan laptop di kursi kemudian menyeringai ke arah Willy. Seakan merasa sangat siap, Willy pun langsung menyerang Alden saat itu juga.
Willy menggunakan senjata tajam berupa pisau, sedangkan Alden dengan tangan kosong karena ia merasa bahwa ia tidak merasa lemah. Kedua anak buah Alden langsung menyerang Willy juga. Tiga lawan satu dan Alden benar-benar menunjukkan kemampuannya dengan sangat baik dalam pertarungan yang sangat seru.
Alden dan kedua anak buahnya berhasil memecah konsentrasi Willy dengan menyerang dari dua sisi yang berlawanan, menyebabkan pisaunya terlempar entah ke mana.
Bug!
Bug!
__ADS_1
Satu serangan menuju pada dada dan yang lain pergi ke pinggul bawah. Namun dengan gerakan yang cepat, Willy masih bisa melompat tinggi untuk menghindarinya.
Satu demi satu disusul dengan serangan bertubi-tubi, memaksa Willy mengimbangi serangan mereka meski Willy benar-benar kewalahan. Satu benturan keras memaksa Willy hingga harus jungkir balik.
Seolah tak ingin memberi kesempatan pada Willy, Alden pun langsung mengejarnya dengan tendangan melayang. Sedangkan Robbin bergerak melingkar untuk menutupi pergerakan Willy yang ingin menghindarinya. Menempatkan Tito di area lengan Willy, sementara Willy menyilangkan tangan di depan dada.
Bug!
Tangan berbenturan dengan kaki Alden, tubuh Willy bergetar namun tidak menggoyahkan pendiriannya. Sebaliknya Alden merasa kakinya membentur kaki kursi, memaksanya untuk menarik dirinya ke belakang menyebabkan ia meringis kesakitan yang luar biasa. Sementara itu, Robbin langsung menerjang Willy dan ia yang masih kuat bertahan membalas menyerang dengan seluruh tenaga nyaris terkuras.
Bug!
Bug!
Bug!
Willy tidak mau mengambil resiko sama sekali, ia tahu jika ia menunggu mereka terlalu lama ia mungkin akan kehabisan tenaga, namun ia sendiri melawan mereka bertiga dengan kekuatan yang tidak ada habisnya.
Willy mengerahkan seluruh kekuatannya untuk meringankan tubuhnya menghindari setiap serangan yang datang. Tak lupa ia juga berusaha menghafal setiap gerakan serangan dari lawan untuk menentukan kapan waktu yang tepat baginya untuk menyerang balik.
"Hiyaaaaa!" Willy berteriak keras.
Bug!
Bug!
Willy langsung menyerang satu persatu, menerjang, meninju, mencakar, dan mencekik lalu menghempaskan tubuh mereka satu per satu hingga terlempar ke pojokan sementara tubuh Alden membentur bangku hingga membuat bangku itu hancur berkeping-keping.
Brak!
__ADS_1
Dan ini pertama kalinya Willy menghabiskan banyak energi melawan musuh sendirian, biasanya ia akan mengerahkan anak buahnya untuk menghabisi musuh. Pertarungan sesungguhnya yang ia lakukan tidak diragukan lagi yang semakin menguras energinya dan membuatnya merasa sangat lemah. Ia melihat ponselnya tergeletak di ubin, jadi ia pun segera mengambilnya kembali.
Willy yang nafasnya tidak teratur disertai keringat di sekujur tubuhnya berusaha menetralisir aliran darahnya yang tadinya panas akibat luapan emosi yang menggebu-gebu. Setelah merasa jauh lebih baik, ia memutuskan untuk segera melarikan diri. Jika ada anak buah Alden datang menyerangnya, maka ceritanya akan tamat. Willy harus mencari tempat yang aman agar bisa memulihkan kekuatannya.
Willy berjalan dengan pincang tapi tetap berhati-hati, ia menelan ludah saat melihat Daud duduk di sana. Segera Willy bersembunyi di balik pilar sambil terus mengatur nafas. Dan sesekali mengintip ke arah itu yang terdapat beberapa ada anggota kalajengking hitam.
"Brengsek," umpat Willy pelan dengan nada penuh emosi.
"Cepat dan temukan orang itu!"
Suara keras dan langkah kaki yang lain membuat Willy semakin panik. Malam semakin gelap dan ia bingung mencari tempat persembunyian. Jantung Willy berdegup sangat kencang,dia tidak bisa berpikir dalam situasi seperti ini.
"Apakah itu si bajingan?!" teriak Robbin.
Tiba-tiba sorot lampu senter mengarah ke wajah Willy, membuat matanya membelalak kaget. Willy sangat panik hingga ia tidak bisa tinggal diam, maka ia pun langsung berlari kencang. Dan tentu saja Daud dan kelompoknya yang sedang duduk segera berdiri dan segera mengikuti.
Willy berlari menuju garasi besar yang dipenuhi banyak mobil, nafasnya terengah-engah, keringatnya semakin mengucur dan terlebih lagi ia harus menahan rasa sesak di dadanya akibat pertarungan tadi. Willy mencoba membuka pintu mobil satu per satu, sambil mengantisipasi suara langkah kaki yang semakin dekat, Willy berusaha tenang dan berharap kali ini ia beruntung sehingga ia bisa cepat melarikan diri dengan mudah tanpa harus berlari.
"Sial!" umpat Willy saat tidak ada satupun mobil yang bisa dibuka.
Willy langsung berlari keluar garasi dan langsung menembus area parkir markas dan menemukan mobil hitam milik Alden. Segera ia mendekat dan ternyata kali ini ia sangat beruntung, ia melihat jendela mobil terbuka dan ada kunci yang tergantung di sana. Segera ia pun langsung membukakan pintu gerbang lebih dulu dan dengan cepat membuka pintu mobil dan langsung menyalakan mesin.
"Woy, berhenti!" teriak Alden berang.
Tapi siapa yang mau menuruti perintah Alden, Willy malah ngebut.
"Kejar si kunyuk itu!" teriak Alden memberi perintah sambil mengacak-acak rambutnya frustasi karena ternyata ia ceroboh dengan mobilnya sendiri.
Hingga Robbin segera kembali ke garasi untuk mengambil mobil untuk mengejar Willy. Mereka tidak akan membiarkan Willy kabur begitu saja, sebelum mereka pada akhirnya hanya bisa menyisakan nama Willy tinggal mendiang.
__ADS_1