
Alden yang berhasil menemukan jalan keluar dari hutan kini merasa sangat lega. Akhirnya, ia menemukan jalan beraspal dengan banyaknya sepeda motor dan mobil yang lalu lalang. Dengan berjalan terpincang-pincang ia memegangi dadanya yang terlalu sesak karena berjalan dengan susah payah tapi akhirnya ia berhasil keluar dari hutan itu. Ia tidak peduli sama sekali dengan rasa sakitnya karena yang terpenting baginya adalah ia selamat dan bisa langsung pergi ke markas untuk menemui bos besarnya.
Dan ketika ia melihat sebuah sepeda motor dari ujung sana, maka dengan cepat ia pun langsung berdiri di tengah jalan sambil merentangkan tangan hingga membuat si pengendara tiba-tiba menginjak rem dan hampir jumping.
"Bajingan, cari mati kau, ya?!" gerutu si pengendara geram karena Alden yang sembarangan menghentikan laju sepeda motornya secara tiba-tiba.
"Maaf, tolong bawa saya ke Jalan Anggrek." pinta Alden dengan terengah-engah.
"Kau sudah gila?!" tegur si pengendara dengan nada yang masih sangat kesal.
Akhirnya Alden meraih sesuatu di dalam saku jaketnya, mengeluarkan uang $50 dan segera menyerahkan uang itu tepat di depan wajah pengemudi.
"Ambil ini, 50 dollar setara dengan dengan 749.500-,rupiah."
Si pengemudi seketika saja langsung terbatuk-batuk setelah melihat penampakan uang tepat di wajahnya. "I-ini pasti uang monopoli 'kan?" tubuhnya sedikit gelisah.
Alden terkekeh mendengarnya. "Cium saja baunya dan kau pasti dapat membedakannya."
Seketika si pengemudi langsung nyengir lebar melihat uang sebanyak itu tidak mungkin ia tolak. "Biarkan aku mengantarmu," akhirnya pengendara itu mengizinkan Alden untuk duduk di jok belakangnya, hingga membuat Alden memutar matanya dengan malas dan tanpa pikir panjang ia langsung menaiki motor itu.
Pengendara langsung tancap gas untuk mengantar Alden ke tempat tujuannya. Sepanjang jalan Alden merasa sangat gelisah, banyak hal yang harus dipikirkannya apakah kelompoknya aman atau sebaliknya. Dan tak bisa dipungkiri ia juga merasa sangat terbebani dengan kabar duka Robbin yang telah tewas di tangan anak buah Budi. Alden menyugar rambutnya dengan gelisah seraya menarik nafas dalam-dalam, ia berusaha menentramkan hatinya yang terasa sangat kacau.
"Apakah reputasiku akan berakhir secepat ini?" ucap Alden dalam hati.
"Tuan, apakah kau baik-baik saja?" tanya si pengendara tiba-tiba.
"Jangan panggil aku Tuan, aku bukan Tuanmu!" protes Alden sambil tersenyum kecut setelah mendengar panggilan yang tercetus darinya.
__ADS_1
"Kau banyak uang dan kau pantas saya panggil Tuan." si pengendara itu berkata sambil tertawa kecil.
"Tidak perlu, aku tidak perlu panggilan seperti itu." kata Alden sambil terkekeh.
"Oke kalau begitu, um .. ngomong-ngomong kenapa kau terluka seperti itu? Apakah kau baru saja dikejar perampok? Hm, menurutku wajar saja kau dikejar perampok, kau punya banyak uang, siapapun pasti menginginkannya." kata si pengemudi yang sangat cerewet dan juga berpengetahuan sok tahu.
"Jangan banyak bicara!" tegur Alden yang membuat si pengendara mencibir sinis.
"Aish, kau kau ini terlalu keren. Aku yakin kau pasti digilai banyak wanita. Tapi kalau tampan tapi judes untuk apa," komentar si pengendara bergumam, tapi Alden berusaha mengabaikannya karena menurutnya si pengendara terlalu berisik.
Tak terasa Alden akhirnya sampai di mansion dan langsung turun dari motor. "Terima kasih," kata Alden singkat.
“Sama-sama, lain kali kalau mau kemana-mana telepon saja saya. Saya senang jadi ojek mu karena biayanya mahal sekali,” kata si pengendara sambil cekikikan.
"Cepat dan pergi sebelum aku membunuhmu!" seru Alden yang membuat si pengendara menghentikan suara cekikikannya.
Alden berjalan sambil menahan rasa sakit yang tak kunjung membaik, ia membuka gerbang dan berjalan di antara lorong yang sangat sunyi. Biasanya para anggota sering nongkrong di area tersebut, namun semuanya terasa sangat sepi seperti tidak berpenghuni.
Alden menelan ludah perlahan, ia menjadi waspada dan melihat ke kiri dan ke kanan untuk berjaga-jaga jika suatu saat bahaya mengintainya. Di balik ketenangan pasti ada sesuatu yang tidak aman. Suasana seperti ini membuat detak jantungnya berpacu sangat kencang, apakah kelompoknya dibantai habis-habisan oleh kelompok Budi? Atau oleh kelompok Red Tiger? karena Willy tahu tentang mansion ini sebelumnya, ketika ia dikurung malam itu.
Tak .. Tak .. Tak
Karena begitu sunyi hingga hanya suara ketukan sepatunya pun terdengar berketak-ketak. Alden berusaha menenangkan dirinya berharap semuanya akan baik-baik saja. Kemudian Alden pun langsung naik lift menuju ruang rahasia bos besar yang tidak diketahui siapa pun, kecuali ia dan Daud. Setelah sampai, kini ia sudah berada di depan sebuah pintu besar, dengan tangan gemetar ia memencet tombol dengan jarinya di kunci pintu digital, akses untuk bisa masuk ke ruangan tersebut.
Pintu otomatis terbuka lebar, pandangan pertama yang didapatkan adalah sosoknya yang bertubuh kekar dengan tatapan matanya yang tajam, gigi gemeletuk dan rahang yang mengatup. Dan tak lupa pelatuk pistol kini berada tepat di dahinya, sebuah sapaan yang membuat jantung berhenti berdetak saat itu juga. Sementara pria lainnya berdiri di belakangnya bergerombol dengan ekspresi wajah yang sama marahnya.
"Aku pikir kau tidak sebodoh itu, kau bahkan tidak bisa menghabisi Willy dan kau malah membuat malapetaka yang sangat fatal. Budi sudah tahu semuanya dan Robbin tewas, kau benar-benar sangat payah! Apakah kau tahu konsekuensinya, hah?!"
__ADS_1
Tubuh Alden gemetar hebat saat melihat bos besarnya bereaksi seperti itu, semuanya bukan tanpa alasan, ini pasti ada hubungannya dengan Budi dan juga Willy yang pasti berhasil menyebarkan video tersebut.
Alden terlihat menarik nafas dalam-dalam perlahan, ia bingung dan tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang, rasanya ia seperti sudah terpojok.
"Saya benar-benar sudah mencoba yang terbaik, tetapi saat itu Willy sedang beruntung sehingga dia berhasil kabur." Alden berkata dengan sangat hati-hati sebelum ia mengatakan sesuatu yang salah. Dan bos besar itu bisa saja menekan pelatuknya dan menembakkan peluru ke dahinya.
"Yang terbaik yang kau katakan? Jangan bodoh, jika kau tidak sembrono, aku yakin Willy tidak akan pergi begitu saja! Aku punya harapan besar untukmu, tapi kau membuatku benar-benar marah!" lantang Jefry berapi-api dengan emosi yang sangat besar.
"Maaf, dengan cara apa aku bisa menebus kesalahanku?" sesal Alden yang semakin menggerogoti sanubarinya.
"Tidak ada permintaan maaf untuk kesalahan sebesar itu!" teriak Jefri sambil mengerang marah. "Beri dia pukulan!" Jeffry memerintahkan anak buahnya.
Alden menggeleng-gelengkan kepala seolah menandakan bos besarnya tidak akan memberikan hukuman, Jefri menurunkan pelatuk pistol sambil berjalan mundur lalu tangan bersilang di depan dada, sementara sekelompok anak buahnya mendekati Alden dengan mata tajam dan senyuman sinis dari Daud pun terpatri untuknya.
Alden berjalan mundur namun terhenti oleh sebuah pintu besar yang kini tertutup untuk beberapa saat. Hingga akhirnya pada detik itu, sebuah pukulan pun langsung melayang tepat di pipinya.
Bugh!
Kemudian anak buah Alden berulang kali memukulnya, ia sama sekali sudah tidak berdaya untuk melawan, karena tenaganya yang belum pulih dan ia juga tidak mampu melawan mereka yang begitu banyak, apalagi mereka semua dalam keadaan marah.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Daud-lah yang menendang perut Alden sementara yang lain memukuli bagian tubuh lainnya. Mereka mengeroyok Alden yang tak berdaya sampai berlumuran darah. Alden menjerit kesakitan dan memohon pengampunan dari Jefry tetapi bos besar itu malah mengabaikannya, seakan ia sudah tak peduli sama sekali.
__ADS_1
"Tolong, Tuan! Tolong hentikan!" erang Alden miris, sedangkan Jefri hanya tersenyum cuek.