Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 31


__ADS_3

"Dirly, aku, mppp...."


"Stefani, aku, a-aku ingin keluar."


"Aku juga," sahut perempuan itu lalu Dirly pun mencium bibir perempuan itu dengan rakus.


Gerakan Dirly semakin tak teratur, deru nafasnya semakin keras serta erangannya yang berbaur dengan erangan perempuan itu.


"Dirly, achhh..." perempuan itu tak sanggup lagi menahan sesuatu yang sedari tadi ingin ia capai, ia mengejang di bawah tubuh Dirly sementara gerakan Dirly semakin cepat maju-mundur.


Tak berangsur lama Dirly pun menyusulnya dalam kenikmatan surga dan mengejang diatas tubuh perempuan itu.


"Stefani sayang, achhh..." semburan hangat terasa membasahi rahim perempuan itu.


Mereka berdua sama-sama terengah dan berkeringat setelah menghabiskan waktu dengan bercinta di atas ranjang, lalu seketika saja tubuh Dirly ambruk diatas tubuh telanjang perempuan itu. Nafasnya tersenggal di ceruk leher Stefani, lama mereka berdua saling berpelukan dan berusaha menormalkan kembali nafas mereka yang sama-sama terengah.


Kepala Dirly terangkat lalu menatap wajah Stefani dengan seulas senyuman yang merekah dari bibirnya, begitu pula dengan Stefani yang membalas senyuman itu.


"Jika benih ini tumbuh dirahimku, apa kau berjanji akan menikahiku?" tanya Stefani dengan suara yang masih serak.


Dirly mengangguk. "Aku berjanji,"


Seketika saja tangan Stefani bergerak untuk mengelus rahang Dirly dengan rasa sayang yang telah membuncah untuknya. "Apakah perselingkuhan kita akan terbongkar?" tanya Stefani dengan tatapan sendu.


"No, Jefri sangat begitu mempercayaiku. Tidak mungkin dia akan curiga tentang hubungan kita." jawab Dirly yakin dengan suara parau seraya mengelus pipi Stefani dengan lembut dan konstan.


"Aku ingin segera bercerai dengannya, aku tak tahan dengan sikapnya yang selalu kasar padaku." ucap Stefani dengan seulas senyuman sendu.


"Aku akan membantu mengurusnya, kau tidak perlu khawatir." kata Dirly menenangkan Stefani lalu bibirnya mengecup kening Stefani dengan sangat tulus.


Brakk!!


Seketika saja Dirly dan Stefani tersentak kaget, hingga membuat Dirly langsung menarik dirinya dari atas tubuh Stefani setelah mendengar suara pintu yang baru saja di dobrak dengan lancang, betapa paniknya mereka berdua mendapati sosok Jefri yang kini berada di hadapannya dengan kedua tangan mengepal kuat di sisi tubuh.


Sepasang matanya yang melebar, rahangnya mengeras, gigi yang bergemeretak dan wajahnya yang menyala. Jelas dari ekspresi semacam itu pasti Jefri sedang marah besar dan juga murka. Wajah mereka berdua yang tertangkap basah setelah melakukan hubungan terlarang seketika saja berubah pias dan was-was. Segera Dirly pun langsung mengambil celana pendek miliknya dan ia pun langsung mengenakannya dengan tergesa-gesa, sementara Stefani langsung menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


"KALIAN?!" teriak Jefry dengan letupan emosi yang menggebu-gebu. "BRENGSEK!" umpatnya berang dan langsung menghampiri Dirly lalu tak segan-segan menghajarnya sementara Stefani berteriak.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Hentikan, Mas!" jerit Stefani sambil menangis. Namun suara itu tak digubris Jefri dan memilih untuk terus menghajar Dirly tanpa pengampunan.


Bugh!

__ADS_1


"Sulit di percaya kau, kau mengkhianati sahabatmu sendiri, hah?!" sentak Jefry seraya mencekik leher Dirly lalu tubuhnya pun disentakkan ke dinding tembok dengan kasar.


Dugh!


"Aku, aku minta maaf." Dirly berkata sambil terbatuk-batuk akibat cekikan yang dilakukan Jefri padanya.


"Brengsek!" umpat Jefri sekali lagi lalu memukul perut Dirly berkali-kali dengan lututnya, sampai Dirly meringis kesakitan. Kemudian Jefri pun mendorong tubuh Dirly sampai ia terjerembab pada ubin.


Melihat hal itu Stefani tak tinggal diam, segera ia mengambil pakaiannya dan memakainya asal-asalan. Segera ia berlari menghampiri Dirly dan berusaha membantunya.


"Ini salahku, bukan salah Dirly! Jadi lebih baik kau pukul aku saja!" seru Stefani dengan beruraian air mata.


Jefry terperangah mendengarnya, betapa ia terkejut karena istrinya malah membela Dirly dan ia tak habis pikir karena dengan relanya istrinya itu pasang badan untuk Dirly.


"Are you kidding me? Or have you lost your mind?!" sarkas Jefry murka.


"Yes, aku sudah kehilangan akal sehatku! Itu semua tidak terlepas dari semua tingkahmu, Mas!" sahut Stefani yang membuat Jefry geleng-geleng kepala tak habis pikir.


"KALIAN BERDUA BAJINGAN! WHAT THE ****!" tunjuk Jefry satu persatu pada Dirly dan Stefani dengan wajahnya sendu bercampur amarah. "DAN AKU TAK HABIS PIKIR KALIAN BERDUA MENGKHIANATIKU, KALIAN GILA, KALIAN BENAR-BENAR KUNYUK!" berang Jefri lalu berteriak frustasi bercampur dengan kesedihan yang tiada bertepi, ia berjongkok dan mengacak-ngacak rambutnya.


"Kau sama sekali tidak bisa berubah, Mas. Sebagai seorang istri yang aku butuhkan bukan hanya uang dan juga kemarahanmu, dan sikap kasarmu! Aku hanya ingin rasa sayang darimu Mas, rasa sayang yang belum pernah aku dapat dari semenjak kita menikah. Saat kita masih pacaran kau memberikan kasih sayangmu lalu setelah menikah kau berubah 180°, Mas." ungkap Stefani mengeluarkan uneg-unegnya seraya terisak-isak lalu ia berdiri menatap Jefry yang tertunduk.


"Lalu kau mendapatkan kasih sayang dari dia, hah?!" Jefry ikut berdiri dan bertanya sarkas pada Stefani lalu menunjuk Dirly dengan matanya yang melotot.


"IYA! Semua yang aku inginkan ada pada Dirly!" jawab Stefani berani.


Plak!


Stefani meringis kesakitan seraya menangis sementara Dirly tak tinggal diam, ia langsung bangkit dan membalas menghajar Jefry. Seketika saja Dirly langsung meninju hidung Jefry dengan kasar hingga hidungnya itu meneteskan darah.


Bugh!


"KEPARAT!" serang Dirly terpancing emosi dengan nafasnya yang terengah.


Jefry menyentuh hidungnya dan melihat darah dijemarinya. Ia tersenyum sinis melihat Dirly dan tanpa ragu ia pun langsung membalas serangan Dirly dengan berang.


"Hiyaaaa Ttttt...."


Mereka berdua bertarung dalam kekuatan penuh yang dimiliki oleh mereka masing-masing, terjangan, pukulan, dan tangkisan. Sementara Stefani hanya bisa teriak-teriak meminta agar mereka berdua menghentikan perkelahian, namun suaranya sama sekali tak didengar. Aksi bela diri mereka sangatlah kuat hingga sepertinya keduanya sulit untuk saling mengalahkan. Suara pukul-memukul dan letupan amarah terdengar sangat mendominasi mengisi kamar Stefani.


Bugh!


Bugh!


Hingga pada detik itu pula Jefry memiliki peluang, ia langsung menerjang dada Dirly dengan kaki panjangnya dalam satu hentakan kaki yang kasar, hingga tubuh Dirly pun langsung tersentak pada dinding tembok. Dirly terbatuk-batuk hingga darah segar pun tersembur dari mulutnya akibat sebuah terjangan hebat yang mengenai ulu hatinya.


"Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kau lakukan padaku Dirly, kau yang ku anggap sebagai sahabat ternyata adalah musuh dalam selimut. Kau bercinta dengan istriku dan kau tahu selama kita bersama ternyata kau mengincar istriku?" desis Jefry berkata seraya berjalan menghampiri Dirly, sementara tangannya menodongkan pistol yang baru saja ia rogoh dari saku celananya. Jefry menampakan seringai tatakala melihat wajah Dirly yang tampak lemah dan pucat.

__ADS_1


"A-aku mencintainya dan aku tidak rela jika kau terus bersikap kasar padanya." desis Dirly dengan nada terputus-putus karena ia sedang kesakitan dengan tangan memegang dadanya.


"Bersiap-siaplah, aku akan mengirimmu ke neraka. Apakah ada kata-kata terakhir?" Jefry tersenyum simpul dan mengabaikan ucapan Dirly, hingga ia pun bersiap-siap menekan pelatuk hingga pistol itu pun siap memuntahkan senapan.


"Jangan!"


Dorr!


Alih-alih mengenai dada Dirly tembakan itu malah mengenai kepala istrinya. Bukan hal yang disengaja yang dilakukan Jefry untuk menembak istrinya, melainkan karena istrinya itu melindungi Dirly dari tembakannya. Darah mengalir deras menetes pada lantai, sementara tangan Jeffry langsung bergetar hebat dan detik itu pistol dijatuhkan dari tangannya, seolah ia begitu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Begitu pula dengan Dirly ia sangat begitu panik dan ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Stefani tergeletak mengenaskan di lantai dengan bersimbah darah.


Seketika saja Jefry langsung meraih tubuh istrinya yang tergeletak lalu memeluknya dalam pangkuan, ia berteriak dan menangis penuh sesal. Meskipun sikapnya arogan, ia tak bisa memungkiri bahwa ia sangat mencintai istrinya itu. Jefry berteriak memanggil nama istrinya dan berusaha membangunkan istrinya namun sayang ia sudah tak merasakan hembusan nafas istrinya lagi.


"Stefaniiiii...." teriaknya bercampur dengan isak tangis dan rupanya istrinya itu telah tewas.


*****


Sepenggal cerita dari Jefry membuat Elsa terdiam, ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja diceritakan Jefri padanya. Jadi, dulu ayahnya adalah perebut istri orang? Dan itulah alasan mengapa Jefry dendam dan dengan tega ia membunuh ayahnya untuk membalaskan dendam masa lalu itu? Kemudian Jefri juga membuatnya buta lalu memperkosanya? Elsa menggeleng samar, itu pasti tidak mungkin. Pasti Jefri berbohong padanya. Meskipun tak bisa di pungkiri bahwa ceritanya terdengar sangat nyata.


Seketika saja air mata itu kembali berinang, Elsa tak habis pikir dengan kisah hidupnya. Dan saat ia sedang larut dalam lamunannya sendiri hingga pada detik itu Jefri pun langsung mencengkram kuat rahangnya, dengan tatapan kebencian dan murka hingga membuat Elsa meringis kesakitan karenanya.


"Sakit," rengek Elsa yang diabaikan Jefry.


"Kau tahu ayahmu adalah orang jahat, dia merebut semuanya dariku, dia telah menyetubuhi istriku dan juga merenggut nyawanya." lontarnya seraya mendengus.


"T-tapi kau yang menembak," sela Elsa seraya berusaha melepaskan cengkraman Jefry, tapi tangannya terlalu kuat hingga sulit untuk di tepis.


"YA, ITU SEMUA KARENA AYAHMU!" sergah Jefry yang langsung menampar pipi Elsa kanan-kiri.


Plak!


Plak!


Plak!


Elsa menangis lagi, tamparannya begitu sangat kasar hingga menimbulkan denyutan nyeri yang tak tertahankan.


"Dan kau tahu, ayahmu menikahi ibumu karena terpaksa. Dia tak pernah mencintai ibumu, karena mereka dinikahkan secara paksa. Dan buktinya orang tuamu bercerai dan bahkan ibumu tak peduli padamu, hidupmu benar-benar sangat suram." desisnya lalu tersenyum angkuh. "Itulah karma buruk akibat dari menghancurkan rumah tangga orang lain. Ralat, bukan orang lain tapi menghancurkan rumah tangga sahabatnya sendiri." lanjutnya dengan rahang mengeras.


Tubuh Elsa seketika saja langsung meluruh ke lantai, ia terduduk lalu memeluk tubuhnya sendiri. Ia menangis meluapkan segala emosinya sementara Jefry tersenyum simpul.


"Bersiap-siaplah, malam ini kau harus melayani klien ku. Dan malam ini adalah job pertama mu sebagai pelacur." ujarnya mengingatkan yang membuat kepala Elsa terangkat seketika karena ia terkejut mendengarnya.


"Tidak, aku tidak ingin menjadi pelacur." rengek Elsa memohon-mohon seraya mencari-cari kaki Jefry lalu ia pun bersimpuh di kakinya.


"Sorry, itu masalahmu. Bukan masalahku," kekehnya congkak seraya menendang tangan Elsa dengan kasar kemudian ia pun pergi begitu saja sambil tertawa puas.


"Tolong! Aku minta tolong padamu, jangan jadikan aku pelacur!" teriak Elsa namun tak digubris oleh Jefry, lalu ia pun hanya bisa menangis dan menjerit seperti gadis gila dan ia hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu memilukan.

__ADS_1


__ADS_2