Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 41


__ADS_3

Alden berhasil melewati gerbang itu dengan cara terjun meskipun ia mendarat dengan tidak mulus, tubuhnya berguling di aspal jalan. Namun dengan cepat ia segera bangkit, ia terus berlari cepat dengan sebisa mungkin karena ia sama sekali tak memiliki kendaraan.


Napasnya terengah, sesekali ia terbungkuk-bungkuk seraya menyeka keringatnya yang terus bercucuran. Dan saat ia menengok kebelakang sepasang matanya langsung terbelalak mendapati pasukan Budi menyusulnya dengan beberapa sepeda motor dan mobil.


Mereka yang menggunakan sepeda motor membawa samurai di tangan mereka masing-masing, sementara yang berada di dalam mobil mereka membawa pistol. Semakin Alden berlari kencang kakinya mendadak terpincang-pincang akibat tembakan di kakinya yang diperbuat oleh Willy malam itu, ia pikir luka tembakan itu sudah sembuh benar, tapi ternyata kini malah kambuh dadakan seperti ini.


Sepeda motor itu berhasil menyusulnya, namun Alden berusaha untuk menguatkan diri dari segala rasa sakit di kakinya. Musuh yang di bonceng sepeda motor itu seketika saja bereaksi dengan berusaha menyabet kepala Alden menggunakan samurai, maka dengan sigap ia menghindar dengan cekatan. Hampir saja kepalanya akan tertebas samurai, belum cukup sampai disitu musuh yang berada di dalam mobil pun meluncurkan sebutir peluru padanya, namun dengan lihai ia berhasil membaca arah peluru itu sehingga ia bisa menghindari peluru itu dengan cepat.


Dan di situasi lalin Willy dan Elsa sedang dalam sebuah mobil, Willy tersenyum lega saat melihat Elsa yang kini berada di sampingnya sesekali ia selalu melirik ke arahnya meskipun ia sedang mengemudi. Setelah kondisi Elsa sudah membaik akhirnya dokter sudah mengizinkannya untuk pulang, meskipun mungkin setiap satu minggu sekali ia harus konsultasi pada psikolog untuk pemulihan traumanya. Mobilnya berhenti melaju tatakala lampu lalu lintas berwarna merah menyala. Jari-jemari Willy mengetuk-ngetuk setir mobil seolah ia tidak sabar menunggu lampu lalu lintas itu kembali berwarna hijau.


Willy menoleh ke arah Elsa seraya melebarkan senyuman. "El, apa kau senang karena bisa pulang dari rumah sakit dengan cepat?" tanya Willy membuka suara.


Elsa mengangguk seraya tersenyum. "Tentu saja aku senang sekali dan apalagi sekarang aku sudah bebas dari Jefry. Semoga saja Jefry tidak mencari-cari aku lagi, aku selalu ketakutan jika mengingat tentangnya." lirih Elsa ketakutan.


"Akan aku pastikan itu semua takan pernah terjadi, El." ujar Willy teramat yakin. "Aku akan selalu menjagamu, percayalah." ikrar Willy bersungguh-sungguh.


"Aku harap begitu. Terimakasih, Willy." senyuman Elsa terkembang lebar dan terlihat sangat begitu tulus.


Willy pun membalas senyuman itu, meskipun Elsa tidak bisa melihatnya. Tidak bisa di pungkiri Willy juga teramat bahagia karena ia masih bisa melihatnya sekarang dan tentunya ia juga masih memiliki kesempatan untuk menjaga Elsa. Dan pada detik itu pula dering ponsel Willy terdengar, maka segera ia pun menggunakan earphone lalu mengangkat telepon itu dan tertera nama Budi di layar ponsel.


"Hallo? Kenapa bos?" sambut Willy.


"Hallo, Will? Sekarang kau dimana?" tanya Budi di seberang sana.

__ADS_1


"Aku baru saja pulang dari rumah sakit. Elsa sudah lebih baik sekarang, hanya saja dalam seminggu sekali Elsa harus konsultasi ke psikolog. Ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan lewat telepon."


"Ah, tidak masalah, tenang saja aku akan membantu memfasilitasi biaya konsultasi Elsa nanti. Yang terpenting dia harus kembali sehat. Dan sekarang bawa saja dia ke mansion ku, biarkan dia tinggal disini. Aku sama sekali tidak keberatan, tentunya jika dia bersama kita dia akan aman." kata Budi seraya tersenyum miring di seberang sana.


Bukan tanpa alasan Budi mengizinkan Elsa untuk tinggal di mansionnya, semua itu tidak terlepas dari kelicikannya bahwa ia membutuhkan tanda tangan Elsa untuk berkas harta kekayaan Dirly agar beberapa aset penting itu bisa jatuh ketangannya dengan cepat.


"Ah, benarkah?" Willy terdengar antusias setelah Budi mengatakan hal demikian.


"Tentu saja, sekarang kau adalah bagian dari kami. Apapun keluh kesahmu jangan sungkan untuk mengatakannya padaku. Lagi pula kau akan membawa Elsa kemana untuk menetap? Sementara rumahnya sendiri pasti akan terasa angker karena bekas pembunuhan berantai, hihi.."


"Tadinya mungkin aku akan membawa Elsa ke tempat tinggalku dulu,"


"Sekarang bawalah Elsa kesini dengan senang hati aku akan menyambutnya."


"Hm, aku sedang bersenang-senang dulu disini. Sekedar merayakan kematian musuh besarku." jawabnya seraya meneguk whiskey dari storsint di tangannya yang kini ia tengah duduk di sebuah sofa bersama gadis sexy yang sedang menemaninya, sambil menonton teman-temannya yang sedang bermain billiard.


"Maksud dari musuh besar? Jeffry Wijaya?" tanya Willy memastikan.


Budi mengecup pipi gadis disampingnya dengan mesra sebelum ia menjawab pertanyaan Willy padanya. "Menurutmu siapa lagi? Setidaknya aku juga membantu memusnahkan Jefri, jadi kau tidak perlu repot lagi. Aku yakin kau juga senang mendengar kabar ini, karena semua itu juga pasti untuk membayar kematian Dirly calon mertuamu haha... Tapi aku sama sekali tidak meminta imbalan darimu, kau tenang saja. Cukup kau mengabdi padaku dan semuanya impas." ucap Budi setelah menandaskan whiskey, dan memintanya lagi pada si perempuan. Perempuan itu pun menuangkan whiskey dari botol pada storist dengan senyuman menggoda. "Thanks, baby." Budi berbicara tanpa suara, sementara si perempuan bergaya centil, lalu Budi mencolek dagu si perempuan sebagai bentuk godaan.


"Serius aku sungguh berhutang padamu," Willy begitu senang mendengar kabar itu, tentu saja ia senang karena pada akhirnya manusia terkutuk itu sudah mati.


"Semua ini tidak berarti apa-apa Will. Jangan berlebihan." sombongnya sedikit merendah seraya ia terkekeh kecil.

__ADS_1


"Aku takan pernah melewatkan kesempatan ini untuk mengabdi padamu, apalagi kau telah membantuku disaat aku terpuruk."


"It's okay. Jangan dipikirkan, lebih baik kau segera bawa Elsa kemarin dia pasti butuh istirahat."


Willy mengangguk semangat. "Baik,"


Tut!


Setelah sambungan telepon itu selesai, Willy langsung melihat Elsa dan saat ia hendak bicara untuk memberi tahu kabar baik ini rupanya Elsa sudah terlelap dalam tidur, mungkin ia kelelahan karena sedari tadi ia sama sekali tidak berhenti menangis kala ia yang selalu tiba-tiba terbayang peristiwa kelam yang ia lalui.


Hingga perasaan sendu itu kembali menusuk sanubari Willy tatkala ia melihat wajah Elsa yang sangat terlihat penuh kesedihan. Berbeda dengan dulu, ia yang selalu ceria dan bersemangat dalam waktu ke waktu Willy sama sekali tak pernah melihatnya meneteskan air mata. Hidupnya selalu diliputi canda dan tawa, hingga terus terang saja Willy merasa kehilangan tingkah Elsa di masa lalu.


Perlahan tangan Willy bergerak mengusap puncak rambut Elsa dengan lembut dan juga penuh perasaan. Perasaan sayang yang telah membuncah itu sama sekali tak mampu ia usir dengan mudah. Seandainya ia memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa ia mencintainya mungkin sudah sedari dulu ia lakukan, entah mengapa ia selalu saja tidak percaya diri. Serta perasaan takut ditolak seringkali hadir di saat ia ingin mencoba mengungkapkan isi hatinya. Semua itu adalah tindakan seorang pengecut yang tidak berguna, terkadang ia selalu merutuki diri dengan kata-kata seperti itu. Namun tetap saja semuanya tidak mempan, ia tetap ciut dalam hal mengungkapkan perasaan.


"El, apa kau percaya bahwa ada seorang pria yang sangat begitu tulus mencintai? Pria itu mau menerima kekuranganmu, pria itu bersedia menikahimu, menjagamu, dan pria itu rela melakukan apapun demi dirimu. Apa kau percaya El? Dan apa kau tahu siapa pria itu? Pria itu adalah aku, jika saja kau bisa merasakan apa yang aku lakukan selama ini yang bukan sekedar karena aku anak buah dari ayahmu, mungkin kau akan tahu jawabannya dari setiap perlakuanku padamu. El, apa kau akan mengizinkan aku untuk menyukaimu? Aku harap kau mengizinkannya, aku berjanji aku akan selalu ada untukmu." ungkap Willy dengan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Dan seketika saja Willy mulai mendekat, ia menatap wajah Elsa dari dekat saat terlelap. Maka saat itu sepasang mata Willy terpejam dan ia langsung mengecup bibir Elsa dengan penuh perasaan, lembut tapi terasa lama, dan mungkin ia sama sekali tidak sadar dengan ciuman itu karena ia sangat begitu pulas.


Seketika saja suara klakson mobil dari belakang terdengar, seolah si pemilik mobil sudah tak sabaran. Willy tersentak seketika lalu melihat lampu lalu lintas sudah berwarna hijau maka ia pun segera melajukan mobilnya.


Willy tertawa kecik, ia merasa salah tingkah sendiri dibuatnya. Bisa-bisanya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini.


"Bodoh," umpatnya sambil tertawa malu seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal itu.

__ADS_1


__ADS_2