
Seminggu berlalu dan kini Alden telah pulih kembali. Namun sekarang sepertinya ia sedang berada di dalam sebuah club dengan suara musik menggema yang begitu nyaring, serta lampu diskotik yang berkelap-kelip.
Alden baru saja menandaskan cairan berwarna merah dalam gelas kristal berukuran kecil dalam sekali teguk. Berulang kali ia menggelengkan kepala karena tampaknya ia sudah merasakan pusing dan kepala yang terasa sangat berat, mungkin itu semua efek bir yang baru saja di teguknya, pandangannya pun sedikit mengabur tapi ia tetap saja mengabaikannya.
Rasa panas terasa membakar tenggorokan, entah sudah berapa gelas ia menuangkan sebotol bir itu tanpa ada niatan untuk memberi jeda.
Alden minum bir bukan tanpa alasan, banyak sekali pikiran yang membuatnya kalut dan juga merasakan kecemasan yang berlebihan, hingga ia meminum beberapa botol bir untuk melupakan segala bentuk masalahnya. Merokok, minum, merokok, dan minum. Hari sudah semakin larut, dentuman musik pun semakin memekakkan telinga. Semakin larut suasana semakin begitu ramai, lantai dansa di penuhi gadis-gadis sexy dengan dipenuhi peluh keringat karena mereka tengah menari erotis disana, sesuai dengan irama musik yang menggema.
"Elsa, Elsa." berulang kali Alden menyebut nama Elsa pelan, seraya mematikan rokoknya di asbak.
Sungguh tanpa sosok Elsa di hidupnya ia merasa sangat begitu hampa dan kosong, seperti tak ada gairah dalam hidupnya. Rasanya ia ingin sekali menyelesaikan masalah peliknya ini, meskipun ia masih memikirkan bagaimana jalan keluarnya.
Seketika Alden langsung mengacak rambutnya kasar, berulang kali ia mencoba menepis bayang-bayang Elsa yang selalu hadir didalam kepalanya, mulai dari kelopak matanya, bibir tipisnya dan senyumannya. Namun semua itu berakhir sia-sia, tetap saja ia masih memikirkan Elsa, ia ingin bertemu dengannya. sungguh ia teramat merindukan gadis itu.
"Anjing," Alden mengumpat pelan dengan kepala tertunduk saat ia kembali mengingat akan sosok Elsa.
Alden kembali menyugar rambutnya gelisah, kepalanya terasa berputar, ia meremas helaian rambutnya yang berjatuhan, menghela napas berat dan berusaha menenangkan diri. Kemudian ia pun menghela napas panjang lalu memejamkan mata.
"Hai, kau mabuk terlalu berat. Are you okay?"
Tiba-tiba terdengar suara lembut menghampiri telinga Alden, hingga ia pun membuka matanya dan menoleh ke arah sumber suara.
Lewat sepasang matanya yang buram, ia bisa melihat seseorang yang duduk di kursi bar yang sebelumnya kosong tepat disampingnya. Seorang wanita yang sangat sexy dengan hanya mengenakan tanktop corp, serta hot pants jeans belel. Yang menampilkan aset depan dan aset belakangnya yang begitu menonjol dan menggoda iman.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa kubantu? Sepertinya kau banyak sekali masalah, kau mabuk terlalu berat." wanita itu bersuara lagi dengan wajahnya yang mencondong ke arah wajah Alden.
Wanita itu melebarkan senyuman, sementara Alden menurunkan pandangan, hingga ia menelan saliva nya perlahan dengan sepasang mata terbelalak saat ia baru saja melihat dua gunung kembar milik wanita itu yang sedikit menyembul.
Seolah menyadari sesuatu wanita itu pun langsung terkekeh pelan, lalu mulai membisikan sesuatu tepat pada telinga Alden.
"Namaku Lilac, senang bertemu denganmu." bisiknya dengan suara yang jauh lebih jelas lagi, karena sebelumnya teredam suara dentuman musik.
Alden tersenyum kikuk seraya menahan diri untuk tidak berbuat aneh ketika ia masih dalam keadaan mabuk seperti ini, ia tak boleh kehilangan kewarasannya meskipun sebenarnya ia sedikit terguncang. Bisikan wanita itu begitu ampuh membangunkan macan miliknya yang sedang tertidur pulas di bawah sana, entah mengapa akal sehatnya benar-benar sudah kacau. Mungkinkah ini efek mabuk? Alden kembali membuyarkan segala imajinasi liarnya, ia harus benar-benar bisa menahan diri.
"Jangan munafik, kau pasti menginginkannya setelah sekian lama kau menahan diri dari gairah. Ingatlah kucing kalau sudah diberi ikan asin pasti tidak akan pernah menolaknya, apalagi disaat si kucing sedang kelaparan seperti ini." tiba-tiba saja otak Alden yang sok pintar kini tengah meledeknya.
"Sepertinya kau datang kesini sendirian, right?" disela itu jemari wanita itu seketika saja membelai paha Alden tanpa permisi, hingga membuat Alden tersentak kaget dan terasa sesak napas dibuatnya.
Dan saat Alden melirik ke arah wanita itu, terlihat bagaimana ekspresi wanita itu yang seperti menginginkan sesuatu, wanita itu menggigit bibir bawahnya seraya menatap wajah Alden dengan tatapan yang begitu menggoda.
Alden yakin jika saja ia mau dan menginginkan wanita itu untuk bersenggama dengannya, pasti dengan pasrah wanita itu akan membuka selangkangannya dengan lebar dan bahkan bersuka rela tanpa harus membayar. Karena sepertinya wanita genit itu menyukainya.
"Apakah kau mau?" tanyanya dengan senyuman begitu menggoda seraya mengusap-usap punggung Alden dengan mesra.
"What?" tanya Alden tak mengerti dengan suaranya yang sedikit parau. Kemudian detik berikutnya Alden pun bersendawa pelan, seraya memijat pelipisnya lembut, betapa rasa pening itu semakin terasa begitu dahsyat namun ia tetap memaksakan diri untuk kuat.
"Have *** with me for free."
__ADS_1
"Apa kau perk?"
"Jangan munafik, kau juga pasti menginginkannya." kata wanita itu seraya tersenyum meremehkan.
Alden mengedikan bahu singkat. "Aku sudah punya kekasih," racaunya mulai tak jelas.
"Tapi dia tidak akan tahu kalau kita melakukan ***, kecuali jika kau mengatakan itu padanya." decaknya gemas.
"Aku sedang tidak bergairah untuk melakukannya, sorry." tolak Alden acuh.
"Pria munafik," celananya seraya tersenyum sinis.
Namun Alden hanya tersenyum kecut mendengarnya. "I know," sahut Alden pendek.
"Aku yakin setelah kau melakukannya denganku, kau akan ketagihan." ucapnya berbangga diri.
Alden tetap berusaha untuk mengabaikan wanita itu, ia kembali menuangkan bir ke dalam gelasnya. Kemudian meminumnya dalam sekali teguk dan tandas, semakin terasa berat kepalanya hingga pandangannya semakin mengabur dan ia merasakan dunianya berubah gelap.
Brakk!
Wanita itu tertawa puas, lalu memanggil bartender. "Apa kau bisa membantuku untuk membawa pria ini ke dalam mobilku?" pinta wanita itu lalu merogoh lima lembaran seratus ribuan dari tasnya, kemudian menyerahkannya pada si bartender hingga membuat si bartender mengangguk setuju.
Si bartender itu pun meraih tubuh Alden yang tergeletak di lantai, kemudian memapahnya dan membawanya keluar. Wanita itu tersenyum puas lalu menyusulnya. Setelah itu Alden di baringkan di kursi belakang, wanita itu pun segera mengemudi dengan cepat. Sungguh wanita itu begitu tak sabar ingin menikmati surga dunia malam ini, apalagi pria yang ia bawa begitu tampan dan terlihat begitu gagah siapapun wanita yang melihatnya pasti akan tertarik.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa menaklukanmu pria munafik, aku begitu menginginkanmu. Tolong puaskan aku di atas ranjang, ya." wanita itu tiada henti tertawa sambil mengemudi, dan sesekali melihat Alden yang masih tak sadarkan diri lewat kaca spion di depannya.