
Semilir angin berhembus di antara wajah Willy yang sedang terduduk di kursi roda sementara Budi ada di depannya, sepertinya mereka terlihat sedang berbincang sesuatu dan terlihat sangat serius.
"Jadi kau sudah mengubur para anak buahku dan pelayan yang mati?" tanya Willy pada Budi dan Budi pun langsung mengangguk.
"Ya, waktu aku sampai di kediamanmu hanya kau yang dibawa ambulance sementara satu anak buahku langsung mengecek denyut nadi yang lain, ternyata sudah tak bernyawa semua. Sebelum polisi menemukan peristiwa semacam ini maka aku lebih dulu memerintahkan anak buahku untuk mengubur mereka. Rasanya tidak lucu kalau semuanya ketahuan polisi, lalu bisnis kita akan terbongkar dan pasti penyelidikan akan lebih panjang dan aku tidak ingin semua ini berakhir pelik." kata Budi yang membuat Willy terdiam untuk sesaat lalu memijat pelan pelipisnya. "Kau kenapa?" tanya Budi seraya mengangkat satu alisnya.
"Hm, aku hanya sedikit tidak percaya diri." jawab Willy seraya menghela napas.
"Tidak, kau jangan berputus asa seperti itu. Aku sudah yakin sekali denganmu. Aku tidak memiliki tangan kanan mungkin ini kesempatan bagimu." ujar Budi seraya menepuk-nepuk pundak Willy.
Willy tersenyum kecil. "Jadi apa misi mu selanjutnya?" tanya Willy seraya menatap Budi.
"Ya, aku hanya ingin membalaskan semua dendam ku atas kematian adikku. Aku ingin membunuh Jefry dan menebas mereka satu persatu siapapun yang menjadi bagian dari Jefry. Mungkin tujuan kita juga sama, Will. Kau juga bisa membalaskan seluruh dendamu padanya." ujar Budi dengan kedua tangan berada di saku celananya.
Willy tersenyum getir. "Ya, kau benar kita harus membalaskan segala dendam kita," Willy menganggukan kepala sementara Budi langsung tertawa ringan mendengarnya.
"Cepat sembuhlah, aku tidak sabar untuk bertarung." Kata Budi sementara Willy langsung mengangguk seraya tersenyum.
Tak...tak...tak...
Suara derap langkah terdengar menginjak ubin di dalam mansion, sementara kedua tangan Elsa diikat dan mulutnya di lakban. Daud memapahnya dengan sedikit kasar sementara mata Elsa tampak sudah bengkak ia sangat begitu tertekan, sepanjang langkah ia tidak berhenti menangis meskipun tanpa suara. Daud membawa Elsa kedalam suatu ruangan dan ia mendengar pintu itu dibuka oleh Daud hingga ia mulai merasakan firasat yang sangat buruk yang terus terbayang-bayang di kepala. Setelah beberapa langkah masuk terdengarlah suara tawa dan juga suara tepuk tangan yang menyambut, membuat jantung Elsa diterpa rasa was-was yang mengerikan.
__ADS_1
"Congratulations on your good work Daud and welcome to the most beautiful paradise for you Elsa." suara itu terasa dekat hingga Elsa dapat merasakan bahwa pria itu ada didepannya.
"Terimakasih Tuan, apakah gadis ini yang kau maksud?" tanya Daud dengan berbangga diri.
"Yup, ini yang aku cari." jawabnya lalu tertawa senang. Tatapan Jefri sangatlah bergairah, ia menatap Elsa dari bawah sampai atas lalu manggut-manggut seperti sedang memikirkan sesuatu.
Air mata Elsa menetes lagi, ia tak sanggup melewati apa yang sedang terjadi padanya. Ia hanya bisa menundukan kepala lemah dan ia sama sekali tak bisa berpikir, harus apa dan bagaimana caranya agar ia bisa melarikan diri.
"Hei, are you okay?" seketika saja Elsa merasakan pria itu mengangkat dagunya.
Seperti penasaran dengan sosok Elsa maka Jefri pun memberikan kode pada Daud agar ia segera pergi dari ruangannya. Dan seolah Daud mengerti situasi ia pun mengangguk dan menyetujui permintaan Jefri lalu ia pun pergi dan menutup pintu. Dengan perlahan Jefri membuka lakban di mulut Elsa, saat berada di dalam mobil tadi Elsa terus berteriak dan berisik hingga Daud pun langsung membungkam mulutnya dengan lakban dan mengikat kedua tangannya.
"A-aku hanya ingin bebas, tolong lepaskan aku." Elsa membuka suara dengan terisak-isak, ia tak tahu bagaimana caranya agar pria dihadapannya itu bisa mengabulkan keinginannya.
"Tapi kenapa?" tanya Elsa dengan suara seraknya.
"Karena aku menginginkanmu," jawabnya berterus terang.
"Tapi aku sama sekali tidak mengenalmu, apa yang kau harapkan dariku sementara aku buta dan tak berguna sama sekali," tanya Elsa dengan lirih dan ia pun langsung menangis lagi.
"Kau tidak mengenalku, tapi aku tahu kau. Ya, memang kau buta, tapi kau masih memiliki tubuh yang bagus dan wajahmu sangatlah cantik dan kau berguna untuk pemuas ranjangku." kata Jefry lalu ia pun tertawa puas yang membuat Elsa semakin ketakutan.
__ADS_1
"Jangan, aku mohon jangan." Elsa merengek dan memohon-mohon lalu ia pun bersimpuh di kaki pria itu sambil menggeleng kuat, ia harap masih ada keajaiban untuknya saat ini. "Jangan lakukan ini," Elsa menangis tiada henti yang membuat Jefry tersenyum misterius.
"Aku ingin merasakan tubuhmu, Elsa." ucapnya dengan santai seraya tersenyum miring.
"Brengsek!" seru Elsa yang tak bisa menahan umpatannya lagi.
"Apa katamu?!" reaksi tak terduga dari Jefry yang sebelumnya bertutur lembut kini mulai menunjukan sifat aslinya.
Seketika saja Jefri langsung menjambak rambut Elsa sambil berjongkok. "Ya, kau benar aku memang brengsek. Jika kau melawan, aku takan segan-segan menyiksamu!" jambaknya sekali lagi hingga membuat Elsa meringis kesakitan, lalu dengan cepat Jefri pun langsung melepaskan jambakan itu dengan sangat kasar. Dan hampir saja Elsa terjengkang jika ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Kau benar-benar manusia jahat!" sentak Elsa dengan amarah yang menggebu.
Jefry tertawa keras. "Aku adalah seorang mafia, pimpinan dari kalajengking hitam. Semua kejahatan telah aku lakukan, pembunuhan, penyiksaan, lalu melakukan perdagangan manusia dan terakhir adalah mengedarkan narkoba. Jadi kau jangan heran dengan semua kelakuanku, jika aku baik aku tidak akan seperti ini. Dan jangan lupakan aku, bahwa aku bukanlah malaikat!" ujarnya berbangga diri dan tak tahu malu.
Tiba-tiba saat Elsa lengah Jefri pun langsung mencekik lehernya kuat, hingga Elsa terbatuk-batuk kesakitan dan hampir kehilangan napas.
"Aaahhh..." jerit Elsa, namun pada detik itu pula Jefri langsung melepaskan cekikan itu.
Elsa terbatuk-batuk lalu terdengar isakan lagi, ia benar-benar tidak kuat lagi, ia seperti sudah kehilangan arah dan ia sangatlah putus asa. Tentu saja setelah mendengar serangkaian kejahatan yang telah dilakukan Jefry membuat Elsa sangat ketakutan, ia tidak ingin jika kehormatannya terampas begitu saja dan juga ia tidak ingin bahwa hidupnya akan menjadi seorang pelacur, ia tidak ingin dijual dan menjadi pemuas nafsu bejat para pria hidung belang.
"Jika kau terus melawan aku akan menyiksamu lebih dari ini, apa kau paham?" bisiknya bagai iblis yang tengah menjelma menjadi manusia. "Bisa saja tadi aku langsung mencekikmu lebih kuat lagi, aku melepaskan cekikan itu bukan berarti aku peduli padamu. Justru jika kau mati ditanganku karena kau melawan itu lebih baik, akan tetapi jika kau mati begitu saja rasanya tidak seru karena aku penasaran dengan tubuhmu. Kau tahu, kali ini takdirmu ada di tanganku," ucapnya dengan angkuh lalu tertawa bagai iblis.
__ADS_1
Elsa sama sekali tak berhenti menangis dan rasanya mimpi buruk itu benar-benar terjadi. Kini ia tak memiliki malaikat pelindung lagi, entah pada siapa ia memohon untuk di mintai tolong kecuali pada tuhan yang masih ia percayai.
"Dan sekarang mandilah dan puaskan aku diatas ranjang." bisiknya bagaikan rayuan tepat di salah satu telinga Elsa, mendengar hal itu tentu saja membuatnya langsung merinding dan juga ketakutan.