Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 49


__ADS_3

Tok...tok..tok...


"Permisi Tuan, sudah sekitar satu setengah jam anda belum juga meninggalkan hotel, dan bahkan anda sama sekali tidak membuka pintu, kami harap anda kooperatif mengenai hal ini. Jika tidak, dengan terpaksa kami masuk kedalam hotel ini!" suara lantang dari luar tentu saja semakin membuat Alden resah, entah ia harus melakukan apa sekarang selain ia harus menyerahkan diri.


Alden pasti akan ditangkap atas tuduhan pembunuhan kemudian menyerahkannya ke kantor polisi, dan ia harus mempersiapkan mental untuk hal ini. Ia harus bisa menjawab semua pertanyaan dari pihak berwajib dengan apa adanya, bagaimanapun ia tak bermaksud untuk membunuh wanita itu.


Karena merasa tak kunjung meninggalkan hotel, tentu saja para petugas hotel pun tak tinggal diam dan mereka telah membuat keputusan dan kebijakan sendiri. Mereka juga merasa ada yang aneh dan curiga, hingga pada akhirnya mereka pun membuka pintu hotel dengan paksa.


Njeblug!


Pintu terbuka lebar dengan paksa, tak ada serangan atau apapun yang dilakukan Alden


saat ini. Dengan keadaan wajah yang lesu, kini ia sudah berdiri didepan pintu seolah sudah pasrah dengan keadaan.


Sementara petugas hotel terlihat mengedarkan pandangan ke sekeliling, sepasang mata mereka terbelalak setelah melihat apa yang telah terjadi. Maka tanpa basa-basi mereka pun langsung menangkap Alden, sementara yang lainnya masuk memeriksa ruangan lalu menghubungi pihak kepolisian.


Tangan Alden dipegang kuat-kuat di belakang punggungnya oleh salah satu dari petugas hotel sambil berjalan menyusuri lorong hotel, dengan ditatap oleh beberapa pasang mata dari wajah-wajah tegang penghuni hotel, terlihat mereka yang panik serta ketakutan saat Alden melintas.


Kejadian itu sangat begitu heboh, sementara Alden hanya bisa menundukan kepala dan tiada henti berdo'a dalam batin untuk menenangkan hati dan pikirannya saat ini. Setidaknya dengan cara ia berdoa seperti ini, ia bisa mendapatkan kekuatan meskipun sebenarnya rasa gelisah itu masih menyelimuti hatinya.


Setelah sampai di kantor polisi, Alden terduduk dengan tangan yang sudah di borgol, ia menghadap penyidik yang sedang mengintrogasi dirinya dengan rentetan pertanyaan produktif. Setiap pertanyaan yang dilayangkan serta jawaban dicatat oleh penyidik dalam BAP.

__ADS_1


Meskipun jika akhirnya ia harus di penjara akibat dari kasus pembunuhan ini, baginya ia tak masalah, ia harus menerima konsekuensi dari apa yang telah diperbuat. Meskipun sebenarnya apa yang ia lakukan hanya untuk sekedar melindungi diri dari serangan, namun disatu sisi ia juga sadar apa yang dilakukan wanita itu bukan tanpa alasan.


Wanita itu, menculik dirinya dari salah satu club malam karena ia hanya ingin balas dendam atas apa yang pernah Alden perbuat di masa lalu, yaitu kasus yang pernah ia lakukan sebelumnya di masa lampau mengenai pemerkosaan yang pernah ia lakukan, antara siap tidak siap ia harus tetap bertanggung jawab. Meskipun ia akan terkurung di jeruji besi dengan waktu yang tak bisa ia terka.


"Siapa yang pertama kali melakukan serangan? Anda atau wanita itu? Dan siapa yang menusuk?" tanya penyidik meminta penjelasan lebih rinci lagi.


"Terus terang yang melakukan serangan terlebih dulu adalah wanita itu, sementara saya hanya ingin melindungi diri dari serangan sehingga tanpa sengaja saya yang malah menusuk wanita itu." jawab Alden terus terang dan apa adanya.


"Apa yang menjadi masalah sehingga memicu terjadinya tindak kekerasan?" tanya penyidik lagi seraya mengetik setiap pertanyaan dan jawaban di komputer dalam folder file BAP.


"Sebenarnya ada peristiwa lampau yang sebelumnya saya sudah tak ingat lagi, namun wanita tersebut kembali mengingatkan mengenai peristiwa tersebut sehingga kami terlibat perdebatan. Dan wanita itu mulai menyerang saya." papar Alden dengan nada berusaha untuk setenang mungkin, meskipun ia sadar bahwa berkata jujur ternyata begitu sulit untuk dilakukan, namun dengan cara inilah ia ingin mengubah sisi gelap dari hidupnya, apapun yang akan terjadi kedepannya ia harus tetap menerima.


"Mengenai peristiwa itu tolong katakan apa yang pernah terjadi di antara kalian?"


Penyidik sesaat terdiam dan menatap Alden dengan tatapan serius lalu menggeleng-gelengkan kepala seolah tak habis pikir. Tidak ada yang aneh sebenarnya, karena selama mereka bertugas di kepolisian kasus semacam ini memang sering kali terjadi, apalagi masih banyak kasus yang jauh lebih parah dari ini.


"Jelaskan bagaimana anda saat melakukan penusukan?"


"Saat wanita itu berusaha mengejar saya dan saya terhempas pada kasur, sementara wanita itu langsung menindih saya dengan sebilah pisau di tangannya yang hendak menusuk perut saya, maka dengan refleks saya memelintir tangannya hingga pisau itu menikam perutnya sendiri."


"Baiklah, Apakah sebelumnya anda sudah mengerti maksud dan tujuannya sehingga dilakukan pemeriksaan sekarang ini, jika mengerti dalam perkara apa?"

__ADS_1


"Ya, sebelumnya saya sudah mengerti maksud dan tujuannya dilakukan pemeriksaan, yaitu untuk memberikan keterangan selaku tersangka dalam perkara tindak pidana pemerkosaan dan pembunuhan." jawab Alden dengan lugas dan kooperatif.


Pertanyaan dalam ekstrak empat adalah pertanyaan tertutup yang menyediakan dua opsi jawaban yaitu, ya dan tidak. Dalam hal ini, penyidik sedang mengkonfirmasi tersangka terkait pemahaman nya menjalani pemeriksaan.


Penyidik pun kemudian mengajukan pertanyaan ekstrak kelima pada Alden. "Sesuai dengan hak anda sebagai tersangka, apakah dalam pemeriksaan sekarang ini anda akan didampingi oleh penasehat Hukum atau Pengacara?"


"Dalam pemeriksaan sekarang ini saya tidak akan menggunakan hak saya untuk didampingi penasehat Hukum atau Pengacara, dan akan dihadapi sendiri." jawab Alden dengan sungguh-sungguh dan ia sudah memikirkan hal itu secara matang, bagaimanapun ini adalah bentuk dari rasa tanggung jawabnya.


Anggaplah semua ini adalah timbal balik atas apa yang pernah ia lakukan di masa lampau. Dari sisi gelap ia bisa belajar untuk menjadikannya pribadi yang lebih baik lagi.


*****


Kini Alden sudah mengenakan pakaian tahanan, sedari tadi ia hanya menundukan kepala. Ada perasaan sedih yang begitu menggebu, empat belas hari selanjutnya ia hanya bisa menunggu keputusan pengadilan berapa lama ia akan di bui. Dan itu artinya pupus sudah apa yang harus ia lakukan demi Elsa, ketahuilah saat ini ia hanya bisa menangis dalam batin tanpa suara dan rasanya begitu sangat sesak.


"El, aku minta maaf padamu. Aku benar-benar minta maaf karena aku masih belum bisa menebus semua kesalahanku padamu. Aku pria yang banyak masalah, aku percaya hukuman ini akan semakin menguatkan aku. El, apa kau baik-baik saja disana? Sekali lagi aku minta maaf padamu, ini adalah kata yang belum pernah aku ucapkan padamu secara langsung. Aku minta maaf," lirih Alden dalam batin.


Sungguh hatinya begitu bergejolak, jika saja ia bisa memutar waktu dan bisa melihat masa depan yang ternyata akan berakhir seperti ini, mungkin dulu ia akan tetap memilih menjadi anak yang baik yang bisa berbakti pada orang tuanya. Namun sekali lagi, tak ada satupun manusia yang bisa memprediksi masa depannya, semua itu pasti ada timbal balik atas segala yang pernah diperbuat.


Dan diwaktu yang sulit seperti ini, ia tiba-tiba saja teringat akan sosok sang Ayah. Apa kabar dengan orang tuanya? Terakhir kali ia meninggalkan rumah karena mereka terlibat percekcokan yang sengit karena Ayahnya marah besar, karena ia telah memaki Luna--Ibu sambungnya yang termasuk ibu kandung dari Willy. Hingga membuat sang Ayah murka terlebih Luna meminta cerai. Setelah kejadian itu ia tak pernah kembali, dan hal ini adalah penyesalan yang paling parah dan ia baru menyadarinya.


Sungguh ia begitu akan kecewa dengan dirinya sendiri, ia tak bisa memaafkan dirinya. Apakah semua ini masih belum terlambat? Kesedihan yang ia alami semakin berkecamuk dan merayap dalam dada, sekali lagi rasa sesak itu semakin menghimpitnya.

__ADS_1


"Ayah, aku juga minta maaf padamu atas dosa yang pernah kuperbuat selama ini. Maaf, aku minta maaf. Aku berjanji aku akan pulang lalu bersimpuh di kedua kakimu." batin Alden berkata dan tanpa sadar air mata pun jatuh berlinang.


__ADS_2