
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, Bramantyo sama sekali tak pernah absen untuk mengunjungi rumah sakit jiwa untuk melihat kondisi Elsa. Meskipun ia sama sekali belum bisa bertatap muka secara langsung dan hanya bisa melihat Elsa dari kejauhan tapi ia merasa jauh lebih lega, daripada ia sama sekali tak mengunjungi Elsa untuk melepas rindu.
Bramantyo melihat Elsa yang sedang menari seraya bermain boneka dengan rambutnya yang acak-acakan serta ekspresi wajahnya yang menyimpan banyak luka. Elsa tertawa semaunya, tawa yang terdengar sangat begitu hambar dan juga menyedihkan bagi siapapun yang tahu dan juga mengerti dibalik kisah hidupnya selama ini.
Tawanya bahkan kini berubah menjadi tangisan yang sangat begitu menyayat hati lalu menjerit-jerit histeris seakan ingatan di kepalanya sedang terputar jelas, hingga membuatnya begitu menderita dengan serangkaian peristiwa menyedihkan yang pernah dialaminya selama ini.
Bramantyo hanya menatapnya dengan tatapan kosong dan lurus, sebenarnya ia ingin menangis namun air matanya sudah terlanjur kering karena ia sering kali menangisi kondisi Elsa setiap hari.
Di usia senja nya, Bramantyo tak pernah menyangka bahwa kehidupannya akan mengalami kesedihan yang berkepanjangan seperti ini. Ia bahagia sekejap saat Alden kembali datang menemuinya dan tinggal dirumahnya, namun secepat itu pula kebahagiaannya terenggut dengan mudah dan semuanya berubah dengan cepat. Kebahagiaannya tergantikan dengan kesakitan yang begitu mudah dan tergantikan dengan permasalahan yang kian pelik.
__ADS_1
Namun, Bramantyo percaya bahwa semua ini adalah penggugur dosa-dosa yang pernah mereka lakukan di masa lalu, dosa-dosa yang semakin berguguran dengan adanya serangkaian peristiwa ini dan akan menjadikan ladang pahala untuk mereka semua yang mengalami kepahitan ini.
Bulan demi bulan berlalu dan kali ini kondisi pun Elsa berubah drastis yang semula ia selalu mengamuk, tertawa, dan berteriak kini ia pun telah berubah menjadi wanita yang murung, pendiam dan tak banyak tingkah. Ia hanya duduk di kursi roda dengan tatapan kosongnya, bahkan sekarang perutnya sudah terlihat semakin membesar dengan kandungannya yang sudah memasuki usia 9 bulan.
Bramantyo melihat Elsa dengan tatapan miris, perlahan air matanya pun jatuh membasahi kedua pipinya hingga membuatnya semakin sesegukan. Ia yakin bahwa Elsa akan sembuh dikemudian hari meskipun kemungkinannya teramat kecil, mengingat kondisi Elsa sama sekali tak menunjukan peningkatan yang signifikan di setiap bulannya.
"Elsa," Bramantyo hanya bisa menyebut namanya dengan lirih, karena ia sama sekali tak bisa menemuinya.
Kursi roda Bramantyo di dorong oleh perawatnya setelah ia memutuskan untuk pulang dari sana. Sampai akhirnya malam itu Bramantyo terlihat sedang memandangi jendela kaca kamar yang terbuka seraya duduk di kursi roda. Di atas langit malam menampilkan bulan sabit dan juga bintang-bintang yang bersinar redup dengan disertai sayupan angin yang bertiup menerpa wajahnya.
__ADS_1
Jujur, Bramantyo sangat begitu merindukan senyuman dan juga keceriaan yang selama ini sudah jarang ia rasakan. Tatapannya berubah nanar dan juga bersimbah air mata, sampai akhirnya sebuah isak tangis pun akhirnya lolos dari bibirnya. Ia menangis sesegukan seakan ia merasakan dada yang teramat sesak dan sama sekali tak berkesudahan. Ia mencoba untuk berhenti menangis, namun semakin ia berhenti ia merasa sangat begitu kesulitan sampai akhirnya tangisannya pun akhirnya pecah seakan hatinya teramat patah dan juga robek bagaikan kepingan yang tak bisa disatukan kembali.
Lalu suara nada dering ponsel terdengar mengalun menggantikan suara sunyi, dering ponsel sebagai tanda penelepon masuk, Bramantyo mencoba untuk menenangkan dirinya sebelum akhirnya ia meraih ponsel di atas pangkuannya, ia menarik nafas dalam-dalam lalu detik berikutnya ia pun langsung menggeser simbol hijau kemudian menempelkan ponselnya di salah satu telinganya.
"Halo?" sapa Bramantyo dengan suara seraknya, sampai akhirnya penelepon di seberang sana menjelaskan sesuatu dengan sangat begitu rinci hingga membuat Bramantyo langsung terperangah kecil dengan bibir bergetar dan sepasang matanya yang melotot kaget.
Dan pada detik itu pula ponselnya pun langsung jatuh dari tangannya yang mendadak lemas, ponsel itu jatuh pada ubin yang dingin hingga membuat suara jatuh yang keras terdengar. Sambungan telepon masih aktif dan suara penelepon di seberang sana pun masih terdengar meskipun samar-samar.
"Halo, Pak Bramantyo, apa Bapak ada di sana? Halo, apa Bapak baik-baik saja? Pak, Halo?"
__ADS_1
"Tidakkkkkkk!" pekik Bramantyo seketika itu pula yang langsung menjerit histeris yang bercampur dengan tangisan yang begitu menyayat hati.