
Di tengah hujan gerimis di malam hari, sosok Alden sedang mengendarai mobil dan saat itu ia berhenti di sebuah persimpangan jalan. Seorang pria turun untuk menemui seseorang di pinggir jalan yang sedang menunggu mereka. Bocah 17 tahun yang belum berpengalaman, Alden meliriknya lalu tersenyum miring melihat siapa yang baru saja membeli narkoba darinya.
"Apakah bocah itu di suruh oleh seseorang? Atau hanya dikonsumsi sendiri?" tanya Alden kepada salah satu anak buahnya yang duduk di belakangnya—Robbin.
"Dia pelanggan, tapi jangan salah paham, dia punya banyak uang." Jawab Robbin yang membuat Alden tertawa—tawa yang terdengar seperti sedang meremehkan.
"Tahukah kau bahwa gembong narkoba sama sekali tidak pernah menggunakan narkoba?" tanya Alden dengan nada menggoda.
Anak buahnya mengangguk. "Hmm, tentu saja. Karena kita tahu dampaknya." kata Robbin di sela-sela tawanya, sedangkan Alden tersenyum tipis.
"Aku kira pembelinya pengusaha atau pejabat, ternyata hanya anak kecil." Alden berkomentar sambil terkekeh.
Anak buahnya yang baru saja menerima transaksi dengan segepok uang langsung masuk kembali, sedangkan Alden yang dalam posisi mengemudi langsung sedikit tersentak setelah melihat gepokan uang di tangan anak buahnya.
"Aish, aku tidak menyangka bocah ingusan itu..."
"Ya, dia adalah pelanggan setia kita." lanjut Tito si pria kekar.
"Oke, aku juga harus ikut denganmu ketika kau akan bertemu dengan bocah ingusan itu, sayang aku melewatkannya. Dia jauh lebih kaya dariku," kata Alden dengan nada bercanda, hingga mengundang tawa.
"Kau punya banyak tugas lain, Bos." kata Robbin yang dijawab anggukan oleh Alden lalu ia pun langsung menjalankan mobilnya kembali.
Dalam perjalanan di malam hari yang masih gerimis, Alden sedang melaju dengan kecepatan sedang dan tiba-tiba ia dikejutkan oleh sekelompok orang yang menghalangi jalannya yang membuat semua yang ada di dalam mobil panik, hingga menyebabkan Alden tiba-tiba menginjak rem.
"Red Tiger?" tanya Alden memastikan sambil melirik Tito.
"Sepertinya begitu." Tito menjawab dengan pasti.
Tanpa pikir panjang Alden pun langsung turun dari mobilnya, begitu juga dengan kedua anak buahnya. Alden yang gagah itu sangat santai, seolah kehadiran sekelompok orang tidak membuatnya takut sedikitpun.
__ADS_1
Alden merapikan jaketnya sedikit dan mereka saling berhadapan, Alden menyeringai seolah meremehkan mereka semua. Alden tidak mempermasalahkan bagaimana dari segi jumlah, yang berbanding terbalik dengan kelompoknya saat ini dengan jumlah mereka yang jauh banyak.
Alden bersandar di mobilnya dengan satu kaki bertumpu dan tangan bersilang di depan dada, sementara kedua anak buahnya berusaha bersiaga melindungi Alden setiap saat.
"Di mana tuanmu yang agung?" tanya Alden agak keras. "Mati, ya?" Alden menggoda dan tertawa keras.
Mendengar hal itu tentu saja membuat si tangan kanan muncul di tengah kerumunan dari belakang--- Willy. Ia muncul dengan tatapan penuh kebencian dan rahang mengatup. Begitu juga dengan raut ketidaksukaan dari anggota lain setelah mendengar sindiran yang terlontar dari mulut Alden.
Alden menyunggingkan senyum miring, ia berjalan ke arah Willy dan mereka berdua saling berhadapan. Alden juga tidak menyangka bahwa selama ini Willy juga merupakan anggota mafia yang ditutupi oleh Willy sangat rapi.
"Bagaimana kabarmu? Sehat?" sapa Alden santai dengan nada tanya penuh ejekan.
Willy tersenyum tanpa niat, lalu ia mendengar Alden mendesah marah.
"Aku akan memastikan kau akan mati di tanganku." Willy menunjukkan seringainya.
"Kunyuk yang ini," umpat Willy yang langsung nyengir dan langsung menerjang tubuh Alden saat itu juga.
Alden yang belum siap langsung terdesak, untungnya dua anak buahnya langsung bersiap mencengkram tubuh Alden. Alden jelas tidak menerima hingga ia mengatupkan rahangnya, giginya gemeretak dengan tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya.
"SERANG!" teriak Alden memberikan instruksi hingga kedua anak buahnya langsung menyerang musuhnya.
Tiga lawan lima, bagi Alden itu tidak masalah sama sekali. Karena kemenangan bukan dari jumlah orang tapi dari skill.
Aksi pertarungan tak terhindarkan, Alden bertarung dengan Willy dan mereka berdua saling meninju. Mereka berdua kuat dengan aksi bela diri yang sama hebatnya. Willy memukul rahang Alden dengan tinju yang sangat kasar, bersamaan dengan kaki Alden yang langsung menendang perut Willy.
Willy tersungkur, dengan nafas Alden yang terengah-engah sambil menyeka darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Sementara anak buah Alden masih bertarung dan mempertahankan diri dengan begitu banyak lawan yang bertarung melawannya membuat Robbin dan Tito kewalahan, tetapi mereka tampaknya tidak menyerah begitu saja sehingga mereka melakukan semua yang mereka bisa.
Detik itu juga Alden langsung menyerang Willy yang masih tergeletak di tanah, ia mencengkram kerah baju Willy dengan kasar hingga ia tertatih-tatih berdiri. Tatapan mata Alden tampak liar, begitu pula mata Willy yang tajam. Dengan tenaga yang masih dimiliki Willy, ia langsung meninju perut Alden berkali-kali hingga tangannya yang memegang kerah baju Willy terlepas.
__ADS_1
Tak cukup sampai disitu, Willy hampir saja menusukkan pisau ke perut Alden. Dengan gerakan cepat, Alden langsung memelintir lengan Willy hingga tulang tangannya berbunyi. Kemudian ia pun langsung menghempaskan tubuh Willy ke aspal jalan seperti karung beras yang diberikan adegan seperti adegan slow motion.
Pisau itu jatuh ke sembarang arah dan kemudian Alden mengambil kesempatan untuk menginjak tubuh Willy dengan satu pukulan hingga darah segar menyembur dari mulutnya.
Kini Alden berhasil memenangkan pertarungan dengan mengalahkan Willy, namun belum sempat beraksi untuk melawan yang lain, tibalah seseorang memukul kepalanya dan menjatuhkannya.
Bug!
Seketika anak buah Willy langsung membayangi Alden, memukul rahangnya berkali-kali. Namun untungnya Robbin mendekatinya tepat waktu, Robbin menjambak rambut lawan hingga lawan terjatuh ke belakang. Robbin menghabisi lawan, sedangkan Alden langsung terbangun dari posisinya dengan lemas. Rasanya tenaganya benar-benar terkuras habis, ia melihat musuhnya tidak tersisa sedikitpun dan ternyata ia dan kedua anak buahnya berhasil menghajar lima anggota Willy hingga tumbang dalam gerimis yang tak kunjung reda.
Alden menghampiri Willy yang masih tergeletak di aspal, ia menunjukkan senyum kemenangan. Sementara Willy terlihat sangat kesakitan, Alden menghentakkan kakinya dan kembali menghentakkan dada Willy dengan satu hentakan yang kuat, hingga membuat Willy terbatuk-batuk di antara ringisannya.
"Katakan padaku, haruskah aku mengirimmu ke neraka? Oh, kura-kura yang lelah." sindir Alden sambil tertawa puas, sedangkan Willy masih terbatuk-batuk.
"Kau akan menjadi yang pertama pergi ke neraka. Ingat! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" sarkastis Willy dengan napas terengah-engah.
Alden terkekeh. "Haha.. lucu sekali. Jangan salahkan aku jika aku akan membunuhmu lebih dulu!" sahut Alden mengancam dengan tubuhnya yang gemetaran karena tawa.
"Brengsek," umpat Willy dalam hati.
"Robbin, Tito?!" panggil Alden dengan keras.
"Iya, Bos?" kata dua anak buahnya mendekat.
"Bawa kura-kura lemah itu ke dalam mobil!" Alden memerintahkan kedua anak buahnya.
Robbin mengangguk patuh. "Baik." ucapnya lalu kedua anak buahnya pun langsung menggiring Willy ke dalam mobil dengan sekuat tenaga karena Willy berusaha memberontak.
Senyum miring terpampang jelas di bibir Alden. "Saudara tiri, aku berjanji akan menghabisimu." Alden mendesis dan kemudian tertawa seperti setan yang memecah kesunyian malam.
__ADS_1