Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 36


__ADS_3

"Brengsek! Keluarkan aku dari tempat sialan ini, dasar kunyuk!" teriak Jefry sambil berontak untuk kesekian kali setelah beberapa menit yang lalu ia sadarkan diri.


Seperti menutup telinga Budi malah mengabaikan setiap teriakan Jefri yang kini telah diikat di antara kaki serta tangannya di sebuah kursi. Budi datang dengan segerombolan anak buah atas permintaan Willy yang sebelumnya memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu karena ia sangat begitu mengkhawatirkan Elsa.


Sementara Budi dan anak buahnya menyusul, hingga setelah mereka tiba di mansion milik Jefry, Budi pun langsung memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menyekap Jefry setelah melakukan pengintaian di dalam mansion secara sembunyi-sembunyi. Dan ketika mereka mendapati Jefry yang sedang tertidur pulas di ruang kerjanya mereka pun langsung mengambil kesempatan itu untuk membius Jefri hingga tak sadarkan diri lalu membawanya ke salah satu ruangan di dalam mansion.


"Lepaskan! Atau aku akan membunuhmu!" seru Jefry dengan diliputi dendam.


Budi tersenyum remeh mendengarnya. "Jangankan membunuh, melepas tubuhmu sendiri dari belenggu ini saja kau tak bisa!" sindir Budi dengan kedua tangan bersilang di dada disertai dengan ekspresi congkaknya.


Rupanya Jefry sama sekali tidak menyerah, ia terus saja memberontak dengan sekuat tenaganya sementara Budi hanya bisa menertawakan tingkah Jefry yang menurutnya begitu lucu dan terlihat dungu. Bagaimanapun belenggu itu tidak akan lepas begitu saja, sebab ia telah mengikatnya dengan simpul mati. Belenggu itu bisa saja terlepas jika ada pisau atau ada seorang pahlawan kesiangan yang dapat memutus belenggu itu.


"Akhhhhh! Brengsek, sebenarnya kau mau apa, hah?! Bangsat!" caci Jefry berteriak kasar.


Bugh!


Seketika saja satu bogeman mendarat dengan sempurna tepat mengenai rahang Jefri hingga bibirnya berdarah. Budi begitu murka namun ia masih berusaha untuk bersikap santai, ekspresi hanya untuk sekedar manipulasi. Budi berusaha untuk tidak terkecoh dalam emosi, ia ingin menunjukan bahwa ia sama sekali tidak merasa terpengaruh dengan sikap arogan dari Jeffry saat ini.


"Kau lemah tanpa anak buah mu!" cela Jefri seraya meludah tepat dikaki Budi. "Aaaaah!" jerit Jefri kesakitan.


Dalam sekali tarikan Budi langsung menjambak rambut Jefry dengan kasar hingga ia meringis kesakitan dan hampir terjengkang.

__ADS_1


"Selain butuh sisir kau juga butuh cermin," sindir Budi halus namun ia tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang mulai menyala.


Sekali lagi dalam hentakan kuat Budi kembali menjambak rambut Jefri hingga kepalanya menengadah, Budi merogoh sesuatu dan menampakan senjata tajam berupa pisau bowie custom tepat di leher Jefri. Jika saja Jefri salah bergerak meskipun sedikit saja, maka ujung runcing pisau itu dapat menggorok lehernya secara perlahan atau mungkin Budi akan menggoroknya dengan satu sayatan tanpa ancang-ancang. Budi menyeringai, sementara Jefri menelan ludah ketakutan.


"J-jangan gila, a-apa kau ingat kita pernah saling bekerja sama untuk kesuksesan bisnis kita?" dengan susah payah Jefri berkata dengan disertai keringat dingin yang mulai membasahi seluruh wajahnya.


Budi berdecih. "Aku tidak ingat. Karena yang aku ingat adalah, kau adalah dalang dibalik kematian adikku!" ucap Budi dengan rahang yang mulai mengeras. "Sebelum aku menghabisi Alden, aku akan membunuhmu terlebih dahulu, kemudian anak buah mu yang lainnya. Aku tidak akan menyisakan kelompokmu meskipun hanya satu. Dan jika saja aku membunuh Alden lebih dulu mungkin semua itu tidaklah adil baginya, karena dalangnya belum aku eksekusi. Dan mungkin kau tidak akan peduli dengan keadaan Alden meskipun dia mati, maka akan aku pastikan kalau kau akan mati ditanganku, dengan segera!" kata Budi dengan nada penuh pengancaman lalu tertawa puas bak iblis yang menggelegar yang mendominasi ruangan.


Jefry menggeleng kuat menandakan bahwa ia sangatlah ketakutan dengan ancaman yang baru saja Budi lontarkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa Jefry sama sekali belum siap untuk mati atau lebih tepatnya takut mati, terlebih lagi ia harus mati ditangan seorang musuh. Rasanya tidak elegan jika ia mati secara mengenaskan seperti itu.


"K-katakan kau ingin apa? Asalkan aku tidak dibunuh," bujuk Jefry dengan terbata-bata yang membuat Budi tersenyum kecut mendengarnya, menandakan bahwa ia tidak suka dengan rayuan menjijikan semacam itu.


"Ya, kau benar. Rasanya terlalu cepat jika aku mengirimmu ke neraka. Seharusnya kita bermain-main sebentar, right?" Budi tersenyum mengerikan yang membuat Jefry terpaku dalam antisipasi.


"A-apa maksudmu?" tanya Jefry gelagapan seraya menelan ludah, setelah sesaat ia larut dalam pikiran buruknya.


"Kau akan tahu, Prepare yourself, maybe I will torture you first until your blood runs out, then slit your throat and I will throw your body into the crocodile cage." senyuman Budi terkembang lebih lebar lalu tertawa terbahak-bahak setelah melihat ekspresi Jefry yang terlihat seperti bocah dungu.


"Bajingan! Don't let your words turn around and the plot twist is me doing that to you! Keparat!" jefry mulai tak bisa menahan gejolak amarah yang menggebu setelah Budi mencetuskan ancaman itu padanya, ia benar-benar tidak terima.


Plak!

__ADS_1


Plak!


Plak!


Tamparan keras yang bertubi-tubi seketika saja mendarat dengan kasar hingga pipi Jefri memerah, tamparan itu sangat begitu terasa perih hingga membuat gigi Jefry bergemeletuk serta sepasang matanya yang kini mulai menyala.


Semula Budi yang masih bersikap tenang kini mulai terpengaruh dan terpancing emosi dengan kata-kata Jefri yang mendeskripsikan sebuah perlawanan.


"Kalau begitu lebih baik aku tidak boleh menunda kematianmu, bangsat!" seru Budi berang dan langsung memukul wajah Jefry dengan kepalan tangan yang begitu kuat.


Bugh!


Bugh!


Pukulan bertubi-tubi itu mengenai tepat di pangkal hidung Jefri hingga mimisan hingga ia mengerang kesakitan. Namun ia kini sama sekali tak memiliki kuasa untuk membalas serangan, jika saja ia tidak tertidur setelah kelelahan bercinta mungkin saja semua ini tidak akan terjadi padanya. Jika sudah seperti ini, mungkin tidak lama lagi kehidupannya akan berakhir dan ia akan di cap sebagai pimpinan yang lemah.


"Sebaiknya aku membunuhmu tepat di hadapan anak buahmu dan akan aku tunjukan bahwa pemimpin seperti dirimu sungguh tidak pantas!" desis Budi berbisik seraya menjambak rambut Jefry untuk kesekian kali. Lagi, Jefri kembali meringis.


"Apa kau tidak ingin bertarung denganku lebih dulu, hah? Rasanya kau hanya memanfaatkan situasi, jika saja kita bertarung belum tentu kau akan menang." Jefry tertawa meremehkan Budi, sementara Budi tersenyum sinis menanggapinya.


"Aku tidak akan terjebak dengan pancinganmu dan aku tidak ingin membuang seluruh tenagaku hanya untuk bertarung denganmu! Mendapatimu dengan kondisi seperti ini tentu saja itu menguntungkanku, karena aku bisa membunuhmu dengan cepat tanpa harus mengeluarkan banyak keringat." ujar Budi dengan penuturan yang sangat santai dan juga tenang, namun bernada tegas disertai dengan seulas senyuman misterius. "Apa ada kata-kata terakhir?" lanjutnya penuh kemenangan seraya menodongkan pisau tepat di leher Jefri lalu ia pun tertawa dengan teramat puas.

__ADS_1


__ADS_2