Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 46


__ADS_3

"Maaf Bos, kami gagal menemukan si bajingan itu--" belum sempat menuntaskan pembicaraan, seketika saja Willy yang kini berada di ambang pintu sedikit terkejut karena melihat Elsa berada di ruang kerja Budi.


Seketika saja Budi tersentak, ia segera mengambil alih berkas itu dari tangan Elsa dengan sedikit kasar dan terburu-buru. Sementara Elsa hanya mengerutkan kening alisnya tak mengerti mengapa Budi bersikap demikian.


"Ah, Kau mengagetkan saja." kata Budi gelagapan seraya menyimpan berkas itu di laci meja.


"Maaf, tadi aku terburu-buru dan apakah aku mengganggu kalian yang sedang berbincang?" Willy berjalan mendekat seraya tersenyum canggung.


Budi menggeleng cepat. "Tidak sama sekali, santai saja." kata Budi seraya duduk di kursi miliknya dan berdehem untuk mengusir rasa gelisahnya. Beruntung ia telah berhasil mendapatkan tanda tangan Elsa dengan cepat sebelum Willy datang ke ruangannya.


"Ah, begitu ya. Oh iya, sepertinya nanti kita perlu berbicara sebentar, apakah ada waktu?" tanya Willy dengan nada serius yang membuat Budi terdiam untuk sesaat.


"Kedengarannya serius?"


Willy memberi kode melirik kerah Elsa hingga membuat Budi mengerti apa maksud dari kode itu. "Oh, baiklah. Tentu saja."


Willy mengangguk. "Baik."


"Willy, kau dari mana saja? Baru muncul sekarang," tanya Elsa lembut seraya tersenyum kecil.


"Aku dari luar, El. Karena tadi aku melihatmu tidur dengan pulas jadi aku meninggalkanmu di kamar." jawab Willy seraya mengusap puncak rambut Elsa cepat. "Ah, aku sampai melupakan sesuatu, kita makan yuk? Kau belum makan siang, pasti kau juga sudah sangat lapar." ajak Willy teringat sesuatu hingga membuat Elsa mengulum senyum.


"El, sudah makan, aku yang lebih perhatian padanya." timpal Budi seraya tertawa ringan, hingga membuat Willy menoleh kearah Budi.


"Oh benarkah? Syukurlah kalau Elsa sudah makan, terimakasih Bos untuk perhatiannya pada Elsa." bangga Willy seraya tersenyum.


"Tidak masalah, Elsa sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga ini. Jangan sungkan, jika ada apa-apa katakan saja." kata Budi seraya bangkit dari kursinya lalu menepuk pundak Willy sambil tersenyum.


"Terimakasih, Bos." ucap Willy membalas senyuman Budi lalu melirik kearah Elsa seraya bernapas lega, karena akhirnya Elsa tidak terlantar sesuai dengan pikiran buruknya yang sempat terlintas. Karena pada kenyataannya kini terlihat sebaliknya, Elsa berada di tempat singgah yang aman dan nyaman.


*****


Jari jemari Alden bergerak secara perlahan, ia berusaha untuk membuka matanya yang terasa begitu berat. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit berwarna putih yang berawal dari mengabur kini nampak terlihat begitu jelas. Lalu terdengar suara perbincangan diantara mereka, perlahan ia pun menurunkan pandangan dan melihat satu dokter tengah berbincang dengan pria paruh baya berseragam taxi. Hingga ingatannya pun kembali, siang itu ia baru saja tertabrak mobil taxi. Ia sempat sudah ingin menyerah, tapi rupanya ia masih saja selamat meskipun ia sudah dalam keadaan cukup parah.


Alden melihat dokter keluar ruangan sementara pria paruh baya itu mendekati brankar miliknya, senyuman canggung terulas, pria paruh baya itu berdehem lalu memulai pembicaraan.


"Kau sudah sadar, aku minta maaf karena siang tadi aku menabrakmu tanpa sengaja." si supir taxi membuka suara.


Alden tak berkata apapun, ia hanya bisa menjawabnya lewat anggukan kepala dan juga kedipan mata tak lupa disertai senyuman kecil. Rasanya untuk membuka suara ia masih belum mampu, karena tenggorokannya terasa sangat sakit. Ia juga tak bisa menyalahkan si supir karena semua yang terjadi adalah murni kecelakaan biasa, atau mungkin ini akibat kelalaiannya.

__ADS_1


"Kondisimu sekarang lebih baik, luka-luka mu juga sudah diobati. Kata dokter kau harus beristirahat, melihat dari kondisimu yang seperti itu sepertinya kau baru saja dianiaya, apa itu benar?" tanya si supir taxi sedikit penasaran.


Lagi, Alden hanya bisa menjawabnya dengan gelengan kepala. Ia berbohong karena ia tidak ingin menceritakan apa yang terjadi padanya pada orang asing, maka ia pun memilih untuk tidak menjawab apapun.


"Ah, baiklah. Sepertinya aku terlalu banyak tanya, sebaiknya kau istirahat. Dan aku ingin pulang, hari sudah malam dan istriku dirumah pasti cemas. Kau tenang saja sebagai bentuk tanggung jawab aku sudah menyelesaikan biaya administrasinya, besok aku akan menjengukmu lagi sepulang kerja untuk melihat kondisimu." ujarnya panjang lebar, sementara Alden tersenyum mendengarnya. "Selamat malam," pamitnya lalu pergi meninggalkan ruangan.


Punggung pria itu telah menghilang, senyuman Alden kembali tenggelam tatkala ia kembali mengingat sosok Elsa saat ia meluapkan segala emosinya padanya.


Ingatlah, kita pernah mencoba 'tuk melangkah...


Meski lara mendera hidup ini...


Kenanglah saat kita terjatuh dan tertatih...


Agar kita mengerti perjalanan ini...


Kita tersenyum dalam luka, menangis dalam tawa...


Melewati semua...


Takkan pernah aku sesali, semua yang terjadi...


Terlukis di hati...


Hingga tak tentu arah kita berjalan...


Ingatlah lagu ini, saat hatimu rindu...


Jadikan penguatmu, saat kau rapuh...


Kita tersenyum dalam luka, menangis dalam tawa...


Melewati semua...


Takkan pernah aku sesali, semua yang terjadi...


Terlukis di hati...


Kita tersenyum dalam luka, menangis dalam tawa...

__ADS_1


Melewati semua...


Takkan pernah aku sesali, semua yang terjadi...


Terlukis di hati, oh...


Takkan pernah aku sesali (takkan kusesali), semua yang terjadi...


Terlukis di hati


Sumber: Musixmatch


The Rain-Tersenyum dalam luka


"Akh..." Saat itu Alden kesakitan karena pukulan itu mengenai wajahnya hingga mengenai pangkal hidung lalu mengucurkan darah.


Bugh!


"Akh..." ringisnya lagi dengan kepala tertunduk lemah.


"Tolong hentikan! Nona ini ingin bicara dengan pria terkutuk itu!" teriak Willy seketika, yang membuat semua mata tertuju padanya. Termasuk kepalanya yang kini perlahan terangkat.


Seketika saja Alden langsung tersentak bercampur dengan rasa rindu yang berbarengan hadir secara menggebu, saat ia melihat dengan mata kepalanya langsung bahwa sosok gadis itu adalah Elsa.


Tangan Elsa mengepal kuat, rahangnya terlihat mengeras, bibirnya bergetar, sepasang matanya terlihat nyalang, dan wajahnya menyala. Menandakan bahwa akan ada ledakan amarah yang seperti sudah tak terkendali lagi disana.


"K-kau? Apa itu kau?!" Elsa berseru keras, sementara Willy langsung merangkul bahu Elsa dengan erat. "Apa kau pelakunya?!" sentaknya. "Kau yang telah membunuh ayahku dan kau yang telah membuatku buta?! Apa kau sama sekali tak pernah merasa bersalah setelah apa yang kau lakukan ternyata membuatku menjadi seperti ini?!"


Hening.


"Kau jahat, aku yakin kau pasti tidak pernah merasa bersalah karena kau sudah kehilangan hati nurani! Setelah apa yang kau lakukan kepada ayahku, dan juga kepadaku, aku begitu menderita! Apa kau puas, hah?! Seandainya aku bisa melihat rupamu aku takan membiarkanmu tertawa licik saat itu! Apa kau merasa bangga dengan apa yang kau lakukan, hah?!"


Isak tangis begitu menggebu, hingga membuat Alden merasakan sesak yang sama seperti dengan apa yang Prisa alami saat itu.


"Aku harap aku bisa mengirimmu ke neraka, kau harus menanggung akibatnya! Kau jahat! Jahat!" lanjut Elsa lagi sambil sesegukan serta nafasnya yang tak beraturan.


Kemarahan Elsa begitu terngiang-ngiang di indera pendengaran milik Alden saat ini, air mata itu pun lolos dan berlinang ketika mengingatnya. Sungguh jika saja ia tak jahat mungkin saja hal ini tidak pernah terjadi, ia sadar semenjak mengenal Elsa ia mengerti apa artinya kehilangan dan penyesalan.


Namun semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan sama sekali tak berguna, Alden berharap ia masih bisa diberi kesempatan untuk membicarakan hal ini pada Elsa, ia berharap ia masih bisa dipertemukan kembali dengannya. Bagaimanapun ia begitu sangat merindukan Elsa. Menangis tanpa suara ternyata terasa jauh lebih sesak, hingga akhirnya suara isakan pun lolos dari bibirnya. Alden menangis dalam kesendirian, meluapkan segala kesedihan yang sedang ia derita.

__ADS_1


"El, aku minta maaf atas segala dosa yang pernah ku perbuat padamu. Bertemu denganmu membuatku tersadar dari segala kejahatan yang telah aku lakukan selama ini, aku percaya tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan. Pasti tuhan ingin menyadarkanku, tapi aku mengerti apa yang telah dilakukan pasti membutuhkan sebuah tanggung jawab. El, aku ingin menebus dosaku karena telah membunuh ayahmu sekaligus telah membuatmu buta. Aku rela mati, tapi aku tidak rela jika yang membunuhku adalah Willy dan kelompoknya, aku hanya ingin kau yang membunuhku secara langsung. Aku hanya ingin tanganmu yang melakukannya, setelah itu aku akan merasa lega. Meskipun mungkin hal itu masih tak adil bagimu, El. Karena aku tahu, tak mudah jadi kau untuk melalui apa yang telah kau jalani selama ini." batin Alden berkata dengan teramat dalam dan juga penuh dengan kesedihan yang tak dapat dibendung lagi.


__ADS_2