Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 44


__ADS_3

Alden merangkak dengan sebisa mungkin agar ia dapat melarikan diri, tubuh dan wajahnya bersimbah darah dan luka. Serpihan kaca itu berhasil melukai tubuhnya lebih parah lagi. Kini ia menyusuri halaman mansion dengan perlahan dengan menahan rasa sakit, hingga menimbulkan urat-urat lehernya menegang. Maka terdengarlah suara segerombolan anak buah Budi yang sedang mencari-carinya, sebagian dari mereka ada yang menggunakan kendaraan dan sebagian mereka ada yang mencarinya dengan berjalan kaki.


Alden menoleh dan melihat mereka maka segera ia berjalan mendekati tong sampah besar, sepertinya mereka tahu bahwa ia sedang tidak mempunyai daya untuk berlari karena ia sudah terlihat lemah. Dengan sekuat tenaga Alden pun berusaha untuk berdiri, lalu masuk kedalam tong sampah besar itu dengan susah payah. Kemudian ia menutup tong sampah itu lalu bersembunyi di sana, dengan sebisa mungkin ia menahan bau yang sangat menyengat dari sampah itu. Alden menutup hidung dan mulutnya agar tidak menimbulkan suara, terlebih ia mendengar suara Willy yang sepertinya berada di dekat tong sampah itu.


"Aku yakin dia tidak akan lari jauh, cepat kalian cari dia!" seru Willy marah kemudian anak buah dari mereka pun patuh dan mulai berpencar.


"Tidak ku sangka sekarang Willy bergabung dengan Budi. Kalau seperti ini posisiku, aku bisa mati." batin Alden berkata dengan napas terengah.


"Brengsek, semakin dibiarkan hidup dia semakin bersikap kurang ajar! Seharusnya tadi aku langsung eksekusi dia!" geram Willy berbicara sendiri lalu menendang tong sampah di depannya itu hingga bergoyang.


Apa yang dilakukan Willy barusan tentu saja membuat Alden tersentak kaget, namun beruntung ia bisa menahan diri agar tidak berteriak. Nafasnya semakin terengah, keringat dingin bercucuran dan bau menyengat di tong sampah itu benar-benar membuatnya merasa mual.


Seketika saja Willy langsung pergi dari tempat itu dan mencari Alden ketempat lain. Setelah dirasa tak ada tanda-tanda Willy dengan perlahan kepala Alden pun langsung menyembul dari atas tong sampah. Suasana terlihat sangat sepi, setidaknya ia kini bisa bernapas lega. Dan saat kepalanya menengadah ia melihat sosok Elsa di atas balkon, rambutnya yang tergerai terhembus angin mesra yang seperti sedang membelainya, mata serta raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kesedihan dan Alden merasakan hal itu, perasaan yang sedang dialami Elsa.


"El?" Alden memanggilnya tanpa suara. "El, maafkan aku. Aku yakin kita akan bertemu lagi dan aku akan menjelaskan semuanya padamu, El." batin Alden berikrar dengan sepasang mata sendu. Tak ingin melewatkan kesempatan dikala seperti ini maka dengan susah payah Alden pun kembali bangkit lalu turun dari tong sampah itu.


Alden berjalan dengan tertatih-tatih, energinya sudah terkuras habis namun ia tetap berusaha untuk menguatkan kekokohannya agar dapat berjalan dan melarikan diri. Halaman mansion ini cukup luas, dan di situasi tenang ini ia harus benar-benar waspada. Karena bisa saja bahaya mengintainya saat ini, sesekali ia menengok kanan-kiri untuk memastikan keadaan. Serta tangan seraya memegang dadanya yang terasa sangat sakit akibat hantaman benda tumpul yang dilakukan anak buah Budi.

__ADS_1


Kini Alden telah sampai di gerbang yang menjulang tinggi itu, ia menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit tenaganya. Satu pijakan kaki ia mulai menaiki teralis itu lalu mulai memanjatnya dengan sangat hati-hati, ia terjun lalu tubuhnya terguling pada aspal jalan. Tubuhnya lemas seketika dan sulit sekali untuk menggerakan beberapa bagian tubuhnya, mulutnya terbatuk-batuk, pandangannya sedikit mengabur. Namun ia tak boleh lemah seperti ini karena jika saja ia berhasil ditangkap kembali oleh mereka, maka artinya itu sama saja dengan ia menyerahkan nyawanya sendiri.


Alden mengerang, lalu ia mulai mencoba bangkit kembali hingga darahnya pun kembali menetes dari hidungnya namun ia berusaha untuk mengabaikan rasa sakitnya, hingga saat ia mulai menyeberang jalan sebuah taxi melintas lalu tanpa sengaja taxi itu pun menabrak Alden seketika.


Gedebum!


Brakk!


Tubuh Alden melayang dan terpental mobil hingga ia terjerembab pada aspal jalan, tenggorokannya tercekat dengan urat leher yang timbul. Hingga akhirnya ia merasakan bahwa dunianya berubah sangat gelap dan matanya pun terpejam seketika.


Dan saat Elsa termenung dalam pikirannya sendiri tiba-tiba saja dadanya tersentak, seketika ia teringat akan sosok Alden.


Elsa sama sekali tak mengetahui bahwa pria yang telah ia maki di ruangan itu adalah Alden, Willy sama sekali tidak memberi tahu nama pelaku pembunuh Ayahnya. Sehingga ia sampai saat ini belum mengetahui pelaku sebenarnya, selain tidak bisa melihat rupanya ia juga sama sekali tak mengira bahwa pelaku di ruangan itu adalah orang yang sama dengan orang yang sangat ia percaya sebagai pelindungnya yaitu, Alden. Sementara Alden sudah mengira bahwa Elsa telah mengetahui kebenaran ini.


Elsa kembali berjalan dengan tongkatnya, ia mencoba untuk keluar ruangan. Dan setelah ia keluar dari kamarnya seketika saja ia merasakan bahwa ia menabrak seseorang.


"Ah, aku minta maaf aku tidak sengaja." kata Elsa seraya membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


Dan ternyata orang yang baru saja ditabrak Elsa adalah Budi. Budi terpaku melihat sosok perempuan yang ada di hadapannya sekarang, ia melihat penampilan Elsa dari bawah sampai atas. Budi langsung bisa menerka pasti perempuan ini adalah Elsa, Budi begitu terpesona akan kecantikannya yang sangat memikat. Pandangan pertama saat ia melihat wajah Elsa, ia sama sekali tak menyangka bahwa ternyata gadis itu secantik ini. Pantas saja Willy menyukainya meskipun Elsa dalam keadaan buta sekalipun. Seketika saja Budi langsung tersenyum simpul.


"Ah, tidak masalah. Ini hanya kecelakaan kecil, apa kau gadis yang bernama Elsa?" Budi akhirnya bersuara seraya menyentuh satu bahu Elsa.


Elsa mencoba menelisik suaranya dan ia sama sekali tidak mengenali suara itu. Sepertinya pria yang ada di hadapannya adalah orang asing.


Elsa mengangguk ragu seraya tersenyum kecil. "Iya, saya Elsa."


"Saya Budi, pemilik mansion ini sekaligus bos dari Willy." Budi memperkenalkan diri seramah mungkin, seketika saja Elsa langsung merasa sungkan setelah mendengarnya memperkenalkan diri.


"Ah, maafkan saya Tuan. Saya Elsa temannya Willy, katanya saya diizinkan untuk tinggal di mansion ini. Terimakasih sebelumnya sudah mengizinkan saya untuk tinggal disini." Elsa pun langsung menyambutnya dengan ramah tamah, ia merasa sangat beruntung karena bos dari Willy telah berbaik hati memberikannya tumpangan.


"Tidak masalah El, jika kau disini akan saya pastikan kau akan aman. Semoga betah ya," kata Budi seraya tertawa ringan.


Elsa mengangguk sungkan seraya tersenyum mendengarnya. "Baik, Tuan."


"Apa kau sudah makan? Lebih baik kau segera makan siang, mari aku antar."

__ADS_1


"Tidak perlu repot Tuan, nanti saya makan sendiri." tolak Elsa halus dan merasa tak enak dengan kebaikan Budi padanya.


"Willy pasti belum menawarimu makan, dari pada kelaparan lebih baik sekarang kau makan dulu. Mari ikut saya, jangan sungkan. Anggap saja saya bagian dari keluargamu." ujar Budi seraya merangkul kedua bahu Elsa lalu mereka berdua pun berjalan bersama, meskipun sebenarnya Elsa merasa risih namun ia tak bisa menepisnya karena ia merasa sungkan dengan sosok Budi yang telah membantunya.


__ADS_2