Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 17


__ADS_3

Angin bertiup kencang saat senja mulai tenggelam, mobil hitam menepi dan membuka pintu hingga terlihatlah sosok Daud dan Tito keluar dari mobil dan keduanya membawa tubuh Alden yang tak sadarkan diri dengan luka memar serta darah dan luka di sekujur tubuhnya. Di jalanan sepi mereka memanfaatkan kesempatan itu, mereka melemparkan tubuh Alden semaunya hingga tubuhnya terguling ke dasar jurang. Daud dan Tito tertawa terbahak-bahak bak setan yang sangat senang melihat seseorang dalam keadaan tidak berdaya seperti ini.


"Akhirnya apa yang ingin aku hancurkan berhasil juga, kau pikir kau akan terus menjadi tangan kanan kalajengking hitam? Jawabannya adalah tidak, karena ada hanya aku yang cocok di posisi itu!" kata Daud dalam hati sambil tertawa melihat tubuh Alden yang sudah berguling semakin dalam ke dasar jurang.


“Apa kau tahu, bro? Aku benar-benar tidak percaya seseorang yang begitu diandalkan di kelompok kita sekarang terlihat seperti pengecut. Dan bahkan aku kecewa karena ketidakmampuannya kita kehilangan kerjasama dengan Budi dan kita juga harus kehilangan Robbin yang perkasa, aish.. aku terlambat menyadarinya." ucap Tito sambil melirik ke arah Daud dan sepertinya Tito kini memilih berubah menjadi seorang penjilat.


"Lihat saja nanti, aku akan menyeret Willy ke depan bos besar langsung. Dan aku juga tidak sabar melihat leher Willy disayat oleh bos Jefri. Aku juga tidak lupa ingin melihat dan mendengar gemuruh tepuk tangan dan memanggilku dengan sebutan Hiro ," kata Daud dengan angkuh dan terlihat membusungkan dadanya, disertai dengan senyum miringnya.


"Aku juga sudah tidak sabar ingin melihatnya," kata Tito sambil tertawa kecil.


"Aku akan memikirkan trik agar aku bisa mengalahkan Red Tiger, dan lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum seseorang menyadari kehadiran kita." perintah Daud yang lebih dulu berjalan menuju mobil dan langsung disusul oleh Tito.


"Oke," sahut Tito seraya mengangkat bahu sebentar, lalu keduanya pun masuk ke dalam mobil. Dan mobil itu pun langsung melaju kencang.


Sementara itu, berbeda dengan keadaan Elsa yang sudah lari cukup jauh dan mungkin pelayan dan sang supir sudah kehilangan jejaknya. Dari pagi hingga sore, Elsa berjalan sendirian dan ia tak punya tujuan sama sekali. Nafasnya tidak menentu sementara sepasang matanya sekarang terlihat sembab, karena sepertinya sepanjang jalan ia tak berhenti menangis. Ia berjalan hanya mengikuti insting tongkat miliknya, jika saja ia bisa melihat sekarang mungkin semuanya akan jauh lebih mudah.


"Mengapa kebahagiaanku begitu mudah direnggut? Dan saat aku terpuruk seperti ini, aku sama sekali tidak punya siapa-siapa dan bahkan kasih sayang seorang Ibu pun tak pernah kurasakan, bukan hanya tidak pernah kurasakan tapi bahkan aku tidak pernah melihat wajahnya. Mungkin, tanpa kusadari dibalik kebahagiaanku karena harta yang melimpah ternyata aku hanya seorang gadis miskin, miskin dalam arti sebenarnya. Seperti yang aku rasakan sekarang ini." kata Elsa lirih dan serak, akibat tangisannya yang terus menerus. "Dan bahkan aku tidak tahu di mana aku sekarang," lanjutnya dengan nada penuh putus asa.


Karena kelelahan tubuh Elsa pun akhirnya perlahan meluruh di aspal jalan. Ia mulai merasa haus dan lapar. Saat ia berlari dari kejaran pelayan dan sang supir, ia sama sekali tak berhenti berlari hingga energinya terkuras habis dan terasa sangat lemas. Bahkan cacing-cacing di perutnya sekarang terdengar mulai bernyanyi.


"Aduh, lapar sekali." Elsa meringis sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


Selama ia hidup dalam kemewahan, ia tidak pernah merasakan perut keroncongan seperti ini karena ia selalu makan tepat waktu. Namun, ketika untuk pertama kalinya ia kabur seperti ini, ia mulai merasakan bagaimana rasanya lapar, haus, dan juga mulai merasakan bagaimana ia sama sekali tak punya uang di sakunya setelah ia merogoh saku celana jeansnya.

__ADS_1


Ketika ia memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ia bahkan lupa untuk selalu membawa dompet dan pada akhirnya ia merasakan nasib seperti ini yang sangat menyedihkan. Sampai akhirnya ia merasakan tetesan air hujan jatuh dari langit, sepertinya sekarang sudah mulai gerimis tapi ia berusaha untuk mengabaikannya agar ia tak panik.


"Sepertinya hujan akan turun, bahkan aku haus dan lapar. Bagaimana caranya agar aku bisa mengisi perutku sementara aku tidak punya uang." Elsa bermonolog sendiri, dengan ekspresi yang sangat sedih.


*****


Bunyi ban mobil yang berdecit disusul dengan suara pintu yang terbuka membuat para pekerja di rumah Elsa berlari menuju ruang utama untuk menemui seseorang yang baru saja datang dengan perasaan yang sama-sama kini diliputi rasa gelisah. Rupanya yang datang adalah tuan muda Willy yang dingin yang dibuntuti oleh ketiga anak buahnya. Wajah marah Willy berhasil membuat para pekerja yang berbaris di depannya menunduk takut-takut.


"Jadi seharian ini kau tidak menemukan Elsa, Hah?!" teriak Willy dengan gigi gemeretak dan rahang terkatup.


"M-maafkan kami, Tuan" sahut mereka serempak dan sangat begitu menyesali kejadian ini.


Terutama si pelayan yang terakhir kali bersama Elsa ia tak mengira bahwa semuanya akan berakhir seperti ini, padahal awalnya ia hanya ingin mengajak Elsa refreshing, hal itu ia lakukan agar nona mudanya bisa merasakan hangatnya matahari lagi dan juga agar dia merasa terhibur dan tidak merasa kesepian.


"Kalian semua benar-benar payah, dan kau akh!" Willy berteriak seraya menunjuk wajah si pelayan yang tengah menunduk penuh sesal. "Kau sangat bodoh! Kenapa kau membawa Elsa keluar!" bentak Willy begitu menggebu-gebu.


"Shitt!"


"Maaf, Tuan." cicit si pelayan sambil terisak-isak.


"Apa yang kau katakan pada Elsa sehingga membuatnya kabur seperti itu?! Apa ada sesuatu yang membuat Elsa tidak nyaman, hah?!" tanya Willy yang membuat si pelayan bingung dalam menjawab pertanyaan itu.


Karena sebelum Elsa pergi, obrolan terakhir yang mereka bicarakan adalah tentang pekerjaan ayahnya. Dan pelayan itu menyadari bahwa ia tidak bisa mengelak dari desakan Elsa. Tapi di satu sisi, tidak mungkin ia harus mengatakan hal sejujurnya pada Willy karena bagaimanapun itu adalah topik yang sangat sensitif untuk didiskusikan.

__ADS_1


"Tidak ada, Tuan." dengan sangat terpaksa pelayan itu malah menjawabnya dengan sebuah kebohongan. Ia menggigit bibir bawahnya ragu, apakah Willy akan percaya atau tidak yang jelas ia belum siap jika harus dipecat secara tidak hormat jika ia berkata jujur.


"Aku tidak percaya jawabanmu! Aku yakin pasti ada sesuatu yang membuat Elsa kabur seperti itu! Sebelum aku lepas kendali, lebih baik kau mengakui apa yang sebenarnya terjadi, ayo, katakan!" sungut Willy dengan emosi yang mendidih dan terlihat begitu menakutkan.


Sam mendekat dan kini berada di samping Willy. "Biarkan aku membunuhnya," bisiknya dengan seringai jahat.


Willy terdiam sesaat setelah mendengar saran Sam, namun ia lebih memilih untuk mengabaikannya dan akhirnya ia pun kembali membuka suara. "Katakan!" teriak Willy marah pada si pelayan.


"Hukum si pelayan, tukang kebun, dan juga pengawal yang tidak berguna itu!" perintah Sam tiba-tiba dengan nada marah kepada kedua anggotanya yang berada tepat di belakangnya.


"Tunggu!" sontak Willy pun langsung menahan dua anak buahnya yang hendak mendekati ketiga pekerja di rumah besar tersebut. Willy memerintahkan anak buahnya untuk berhenti dengan tangan terangkat.


"Tunggu apalagi Will, mereka harus mati karena tidak bisa menjaga Elsa." Sam berkata dengan nada protes.


"Tapi mereka paling setia dan juga pandai menyimpan rahasia, aku tidak mau kehilangan pekerja seperti mereka." Willy mendesis seraya melirik Sam, Willy benar-benar berubah pikiran meskipun dengan susah payah ia meredam emosinya.


Sam mengerutkan kening. "Apa kau serius?"


Willy mengangguk pelan, sebelum akhirnya berbicara lagi. "Hari sudah larut karena tadi kita belum berhenti mencari Elsa. Dan sebaiknya pencarian dilanjutkan besok dan kalian semua istirahat saja. Kalau begitu biarkan aku yang mengurusnya. Aku akan meminta seseorang untuk melacak keberadaan Elsa." ujar Willy dengan sangat tenang kali ini.


"Terima kasih, Tuan." kata para pekerja serempak dengan nada sedih mereka.


Willy mengangguk. "Ya," jawabnya sesaat sebelum akhirnya ia pergi begitu saja ke kamarnya.

__ADS_1


"Will, apakah ada yang bisa kubantu?" tanya Sam sedikit berteriak karena Willy mulai menjauh, lalu ia pun berjalan mengikuti Willy yang diikuti oleh dua pria lainnya.


"Tentu saja." sahut Willy dari kejauhan.


__ADS_2