
Alden mencari Elsa sampai gelapnya malam, ia tak peduli bagaimana hembusan angin malam yang begitu dingin menerpa tubuhnya ketika ia mengendarai sepeda motor. Karena yang terpenting adalah ia harus menemukan Elsa, seketika saja sekelebat bayangan muncul di kepalanya saat ia tertawa kala melihat Elsa yang tak berdaya karena kecelakaan yang ia perbuat, lalu cuplikan dimana ia bertemu dengan Elsa di jalanan kemudian ia membantunya hingga mereka berdua terlibat perbincangan dan tentu saja rasa sesal itu semakin menjalar pada sanubarinya.
Sepasang matanya meremang, ia merasa teramat bersalah dan ia merasa sangat tidak becus untuk melindungi Elsa. Ia teringat saat teman sekolah dasarnya meneleponnya siang tadi, saat ia masih berada di apartemen dengan posisi tengah kebingungan mencari Elsa. Ponselnya berdering lalu ia merogoh saku celananya dan menggeser simbol hijau di layar ponsel, mengangkat telepon lalu betapa ia terkejut setelah mendapat sambutan dari temannya itu yang tiba-tiba meminta maaf dengan nada bicara bergetar.
"Hallo, Al. Aku minta maaf padamu, seseorang menyerangku saat aku bekerja, dia meminta cardlock apartemen mu. Aku kebingungan bagaimana caranya aku harus mengelak, karena sepertinya dia tahu aku yang selalu memegang kunci duplikat apartemenmu, jika aku tak memberikannya aku diancam akan dibunuh. Aku ketakutan dan aku terpaksa menyerahkan. Apakah ada barang yang dicuri?" cerita temannya itu di seberang sana secara rinci dan juga ketakutan jika ia akan marah padanya.
Saat itu Alden terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya ia berbicara. "Bagaimana ciri-ciri orang itu?" tanyanya penuh selidik.
"Aku tidak mengenali wajahnya apalagi dia memakai jubah hitam dan masker. Sungguh aku minta maaf, apa sebaiknya kita lapor polisi?" panik temannya itu dengan wajah yang berubah pias disebrang sana.
"Tidak perlu," sahut Alden pendek.
"Apakah barang-barangmu dicuri?" tanyanya memastikan lagi dengan penuh rasa bersalah.
"Bukan barang, melainkan gadisku." jawab Alden denga sarkas lalu dengan cepat ia pun langsung mematikan sambungan telepon itu dan langsung bergegas pergi.
Alden sudah bisa menebak mungkinkah jika pelakunya adalah kalajengking hitam? Karena yang tahu alamat apartemen nya hanyalah mereka. Tapi bagaimana bisa ia bisa menemukan Elsa dan tahu bahwa Elsa ada bersamanya. Dan bahkan mengapa mereka sepintar itu? Hal itu tentu saja menjadi tanda tanya besar bagi Alden dan hal yang semakin membuatnya bingung adalah ia berhasil masuk ke dalam markas kalajengking hitam namun entah mengapa markas itu terlihat sangat kosong, dan tidak menunjukan tanda apapun hingga membuatnya sulit menemukan Elsa. Mungkinkah mereka pindah tempat?
"El, kau di mana?!" teriak Alden memanggil Elsa pada saat ia berada di lorong markas kalajengking hitam tadi, kemudian ia pun membuka satu persatu ruangan yang tak terdapat siapapun. Dengan teramat kesal karena tak kunjung menemukan Elsa dengan bercampur amarah yang menggebu, Alden pun melampiaskan semuanya dengan menendang pintu itu dengan kasar hingga porak-poranda.
Brakkk!
"Aku tak percaya kau akan menghilang El, jika saja aku tidak pergi mungkin peristiwa ini takan pernah terjadi." sesal Alden bermonolog sendiri lalu tubuhnya meluruh pada saat ia bersandar di tembok dan ia menikmati kesedihan itu sendirian. "Bajingan!" teriak Alden lantang seraya mengacak-ngacak rambutnya dan menangis sendirian.
Mengingat hal itu Alden langsung mengusap wajahnya kasar, menghela napas dan berusaha untuk bersikap tenang meskipun pikirannya terasa sangat kalut. Ia menambah kecepatan laju kendaraannya, ia sangat begitu khawatir dengan Elsa akan tetapi ia tak tahu harus mencarinya kemana lagi. Ia tak tahu dimana tempat baru kalajengking hitam.
__ADS_1
"El, bersabarlah aku akan menemukanmu." ikrar Alden dalam batinnya.
*****
"Lebih baik kau bunuh aku saja!" seru Elsa berteriak.
"Kunyuk yang satu ini," Jefry menggertakan giginya lalu satu pukulan langsung mendarat di pipi Elsa untuk kesekian kalinya.
Bugh!
Mendapatkan pukulan itu seketika saja Elsa langsung tersungkur ke lantai, wajahnya bengkak akibat serangan pukulan yang dilayangkan Jefry tanpa belas kasihan. Pukulan itu adalah balasan karena Elsa tak mematuhi peraturan darinya, sementara pikiran Elsa untuk apa ia mematuhi peraturan yang sama sekali membuatnya tersiksa, maka dari itu ia pun memilih untuk melanggarnya meskipun resikonya adalah mati atau mendapatkan hajaran.
Elsa merasakan bibirnya terasa asin, mungkin itu semua karena darah yang keluar akibat pukulan. Elsa terisak, akan tetapi ia berusaha untuk tetap mengendalikan diri agar tidak menangis lagi, meskipun rasanya sakit sekali akibat dari bogeman yang dilayangkan oleh Jefry padanya tanpa ampunan.
Jefry terdiam sesaat lalu menyalakan sebatang rokok lalu menyesapnya, ia menyeret satu kursi kemudian ia duduk disana sambil memperhatikan Elsa yang masih tersungkur di lantai.
"Kenapa aku harus menurut pada orang jahat, katakan padaku?" Elsa meminta penjelasan dengan suara seraknya, mendengar pertanyaan semacam itu Jefry langsung tersenyum simpul.
"Karena jika tidak, kau bisa saja aku siksa tanpa pengampunan. Bagus, jika langsung mati. Tapi kalau harus menahan derita dulu apa kau sanggup, hah?!" dengan angkuhnya Jefri berkata, sementara air mata Elsa mulai berlinang lagi namun kali ini ia berusaha untuk tidak terisak.
Dengan tertatih Elsa mencoba bangkit, meskipun badannya amat terasa remuk akibat penyiksaan yang dilakukan Jefri padanya.
"Apa salahku dan mengapa kau menginginkan aku? Kau bilang kau kenal aku, apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Tuan?" tanya Elsa dengan rahang menegang dan ia memalsukan senyumannya.
Jefry langsung tersenyum kecik mendengarnya, ia menyesap kembali rokok itu lalu menghembuskan asapnya perlahan. "Aku tahu ayahmu, Dirly. Seorang gembong narkoba dan pernah membuatku menderita selama bertahun-tahun." ucapnya santai lalu tertawa hambar.
__ADS_1
"Apa?" dahi Elsa mengernyit tak mengerti.
"Jika kau mendengar ceritaku, kau pasti tidak akan percaya, tapi aku tidak peduli apakah kau akan percaya atau tidak. Yang pasti ayahmu adalah seorang bajingan." ucapnya dengan gigi bergemeletuk.
"Apa maksudmu mengatakan ayahku bajingan? Dia adalah pria yang sangat baik, dia ayah yang luar biasa dan yang jelas dia tidak pernah kasar pada perempuan!" bela Elsa sengit dengan kedua tangan mengepal kuat di sisi tubuhnya, seolah ia tidak terima dengan perkataan Jefry mengenai ayahnya itu.
Jefry langsung tertawa ngakak seketika, seolah-olah tawa itu bagaikan ledekan untuk Elsa. Mendengar tanggapan menyebalkan dari pria itu, tentu saja membuat seluruh wajah Elsa menyala.
"Dengar, kau hanyalah gadis kecil. Kau tidak tahu apa-apa mengenai kehidupan ayahmu di masa lalu." komentarnya di antara tawa yang masih tersisa.
"Lalu pertanyaannya adalah mengapa kau melakukan semua ini padaku, hah?!" sungut Elsa berang.
Jefry terkekeh seraya ia mematikan rokoknya pada sebuah asbak yang berada di atas meja. Kemudian ia pun bangkit dari kursi dan mulai mendekati Elsa, sementara Elsa berusaha untuk ber-antisipasi setelah mendengar derap langkahnya yang mulai mendekatinya.
"Apa kau tahu rasanya dikhianati sahabat, El?" bisik Jefri di salah satu telinga Elsa. Sementara kening Elsa langsung menyatu di tengah, seolah ia masih belum mengerti apa yang baru saja diucapkan pria itu. "Selain karena persaingan bisnis, aku juga memiliki dendam yang lain pada ayahmu. Sebenarnya aku tidak ingin mengorek luka lama, tapi kau malah bertanya mengapa aku melakukan semua ini padamu." desisnya mengerikan.
"Katakan dendam apa yang kau miliki pada ayahku, hah?! Orang jahat seperti dirimu tentu saja akan mudah memiliki dendam dan juga penyakit hati!" cibir Elsa sarkas.
Gigi Jefry bergemeletuk seolah tak terima dengan kata-kata Elsa barusan, maka Jefri pun langsung menjambak rambut Elsa dalam satu tarikan hingga membuat Elsa berteriak kesakitan seakan-akan akar rambutnya akan tercabut dari kulit kepalanya.
"Aawwww.. hentikan! Ini sakit," ringis Elsa, dengan cepat Jefri pun langsung melepasnya secara kasar hingga hampir saja Elsa akan terjengkang.
"Jangan berkomentar apapun jika kau tidak tahu masalahnya, dasar gadis bodoh!" amuk Jefry murka dengan sepasang matanya yang melotot geram.
"Lalu apa, hah?! Mengapa kau melakukan ini?! Kau telah merenggut masa depanku dan semuanya! Kenapa kau jahat sekali padaku! Apa jangan-jangan yang membunuh ayahku adalah kau, apa itu benar?!" teriak Elsa dengan letupan emosi yang sudah terkendali, di iringi dengan isak tangis yang sudah tak dapat ia bendung lagi.
__ADS_1
"Dan itu benar," sahutnya berbangga diri lalu tertawa keras.