Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 35


__ADS_3

Seakan tak pernah diberi kesempatan bernafas, kini Elsa harus dipaksa kembali melayani Jefry Sekuat tenaga ia menolak namun Jefry selalu berusaha keras untuk itu, Jefry menarik tubuh Elsa dan menyentakan tubuh Elsa pada tubuhnya lalu dengan rakus Jefri pun langsung ******* bibir Elsa, sementara Elsa tampak berusaha untuk menghindar berulang kali. Jefry merasa bahwa ia ditolak oleh Elsa dan pada akhirnya ia pun langsung menjambak rambut Elsa dengan kasar hingga membuatnya hampir terjengkang. Kemudian dengan brutalnya ia langsung menghempaskan tubuh Elsa dengan kasar keatas ranjang.


"Aku mohon jangan lakukan ini lagi!" pinta Elsa memohon sambil menangis dan bergerak mundur.


"Tapi aku ingin, El. Kau tak bisa menolaknya!" sentak Jefry yang kini tengah bersiap-siap membuka kancing kemejanya serta celananya.


Elsa menggeleng kuat. "Tapi aku tidak mau!" seru Elsa sambil menjerit.


Alih-alih digubris Jefri, ia malah semakin menjadi-jadi dan seketika saja ia langsung loncat dan menindih tubuh Elsa dengan begitu brutal dan bernafsu. Elsa menjerit sementara Jefri langsung membungkam mulutnya dengan ciuman panas.


Tangannya pun sibuk meraih bongkahan daging yang sangat pas di genggaman tangannya lalu meremasnya dengan nafsu yang begitu menggebu, sementara tubuh Elsa mengejang dan berusaha untuk brontak namun tenaganya kalah kuat dengan Jefry. Satu persatu pakaian yang dikenakan Elsa dilepaskannya secara paksa, sementara ia menangis tiada henti. Pakaiannya berserakan di lantai hingga tak ada satu helai benang pun yang membungkus tubuh mereka. Elsa dengan tangisannya sementara Anto dengan desahannya berpadu menjadi satu dalam satu ruangan.


Satu jam lebih Jefry mengoyak Elsa tanpa jeda dan tanpa pengampunan, hingga akhirnya ia sudah mendapatkan kepuasannya. Dengan wajah penuh kemenangan ia segera memakai celana hingga pakaiannya lengkap lalu meninggalkan Elsa begitu saja diiringi dengan tawa lepas dan puas. Sementara Elsa kini masih terbaring lesu di atas ranjang, tidak lupa tetesan air mata yang jatuh itu tak pernah berhenti membasahi pipinya dan dengan cepat ia pun menghapusnya.


Sungguh Elsa sangat begitu menderita, bahkan sekarang waktu menjelang dini hari. Ia tak bisa mendapatkan dan merasakan ketenangan. Ia berharap Willy datang di waktu yang tepat tapi nyatanya Willy sampai sekarang tak kunjung datang, mungkinkah pesan itu belum dibaca Willy? Elsa terus-menerus memikirkannya. Lagi, air mata itu berlinang.


Elsa sekarang sudah putus asa ia seperti sudah kehilangan kewarasannya, hingga ia beringsut dari ranjang lalu meraba-raba untuk mengambil pakaiannya yang tergeletak, hingga tubuhnya yang masih terbungkus selimut ia bawa sampai ke dalam kamar mandi meskipun ia berjalan hanya memakai insting sebagai penglihatan.

__ADS_1


Elsa membasahi tubuhnya dengan air shower, tangisannya teredam suara air yang mengalir. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang sudah tak suci lagi. Ia meremas kepalanya kuat-kuat dan dadanya terasa sangat sesak mengingat bagaimana pria itu mengoyak mahkotanya yang selama 18 tahun ia jaga dan kini ia harus rela bahwa ia sudah rusak begitu saja, dengan cara berulang kali. Ia merasa frustasi dan depresi, ia tak bisa melakukan banyak hal karena tampaknya gairah hidup sudah tak ada lagi.


Kewarasannya sudah di ujung tanduk, ia mencari-cari lalu meraih cutter yang berada di tempat sabun yang sebelumnya ia bawa dari laci nakas. Menarik cutter itu yang ujungnya sangatlah runcing, kepalanya hanya terdapat kenangan indah bagaimana rupa sang ayah ketika saat tertawa. Mungkin inilah saatnya ia bertemu dengan ayahnya, karena ia sudah teramat sangat merindukannya. Bunuh diri adalah jalan pintas satu-satunya untuk mengakhiri derita, karena percuma saja jika ia harus terus hidup tapi ia hanya menjadi pemuas nafsu pria ****** itu. Elsa berpikir, ia sudah tak berguna lagi dan sudah tak layak. Pikirannya sudah sangat dangkal dan mengabaikan peringatan dari si akal sehat.


"Ayah. Elsa sangat begitu merindukan ayah." lirihnya sesegukan hingga pada detik itu pula ia langsung menyayat urat nadi di lengan nya tanpa ancang-ancang menggunakan cutter itu.


Srakkkk....


Darah mengalir menyatu dengan air, air mata berbaur. Sementara matanya mulai berkunang-kunang, wajahnya pias, kepalanya pun mulai merasakan pusing serta dadanya pun kini mulai terasa sesak. Dan kini ia benar-benar mulai merasakan bahwa dunia nya benar-benar sangat gelap, hingga pada akhirnya ia pun langsung tumbang dan tergeletak di bawah curahan air shower yang membasahi tubuhnya.


"El, tunggu aku. Aku akan menjemputmu, semoga kau baik-baik saja disana." gumam Willy dengan nafas tak beraturan.


Willy semakin menancapkan gas, melaju dengan kecepatan penuh diantara jalanan yang sepi. Hingga pada pukul setengah tiga dini hari mobilnya sudah terparkir dengan cepat di halaman mansion sesuai dengan alamat yang Elsa kirimkan. Suasana terlihat sangat sepi, tidak ada penjaga dan yang lainnya. Willy turun dari dalam mobil dan ia harus bisa memanjat gerbang tinggi itu. Tanpa berpikir panjang segera ia memanjat dengan gerak cepat, hingga ia dapat mendarat dengan mulus di depan mansion. Terlihat beberapa penjaga tengah terduduk dan Willy segera menggunakan kesempatan itu untuk berjalan merunduk agar kehadirannya tidak diketahui mereka. Willy langsung pergi ke belakang mansion dan langsung memanjat balkon.


Setelah sampai di atas balkon, Willy berusaha mengintip dibalik celah jendela kaca yang tersingkap sedikit tirainya, didapati ruangan kosong dan tidak ada tanda-tanda Elsa disana. Karena sudah terlanjur berada di atas balkon, Willy mencoba menggerakan gagang pintu dan rupanya pintu itu terkunci, maka ia pun segera mengambil sesuatu dibalik saku jas nya untuk membuka kunci pintu balkon. Ia merogoh pin kertas dan berusaha untuk mencungkilnya, sebagai seorang mafia tentu hal ini sudah dipelajarinya meskipun ia tidak memiliki kunci untuk membobol sebuah pintu. Beberapa detik kemudian akhirnya pintu mulai terbuka karena ia berhasil mencungkilnya. Perlahan dan penuh waspada Willy berusaha untuk masuk dengan cara menyelinap, dan tak ada tanda-tanda seseorang di dalam kamar tersebut. Namun saat langkahnya semakin dekat ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Willy terkesiap dan berusaha bersembunyi dibalik lemari, sepertinya di dalam kamar mandi ada seseorang. Maka, ia pun langsung mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku jas nya.


Merasa sudah hampir lima menit dan tak ada yang kunjung keluar dari dalam kamar mandi, ia pun merasa curiga dan rasa penasarannya semakin menggebu. Hingga pada akhirnya ia pun dengan hati-hati kembali melanjutkan langkah dan berniat untuk masuk kedalam kamar mandi tersebut dengan mengendap-endap.

__ADS_1


Ceklek...


Willy membuka pintu kamar mandi lalu menguncinya, suara shower yang masih menyala terdengar di balik gorden bathup. Dengan penuh waspada seraya memegang pisau ia mendekat, lalu membuka gordeng itu dengan cepat. Sepasang mata Willy langsung terbelalak seperti bola mata yang hampir akan keluar dari tempatnya, bibirnya terbuka menandakan bahwa ia benar-benar sangat terkejut melihat penampakan yang ada di depannya. Tubuh Willy bergetar hebat sampai pisau yang berada di tangannya pun terjatuh begitu saja ketika ia mendapati sosok Elsa yang tergeletak dengan telanjang dan bersimbah darah.


Segera Willy berlari mematikan air shower yang masih menyala dan ia langsung memangku tubuh Elsa dalam pangkuan. Lalu mengecek pergelangan tangannya, untung saja urat nadi Elsa tidak terputus meskipun sudah terkena sayatan. Beruntung ia masih mendapati tanda-tanda kehidupan dari Elsa karena denyutnya masih terasa.


"Elsa, come on. El, bertahanlah. Tidak, tidak El, aku akan membawamu keluar dari sini. Bertahanlah.." panik Willy begitu histeris namun sengaja volume suaranya ia tahan, dengan nafasnya yang tak beraturan.


Segera Willy pun langsung merobek ujung kemejanya dan langsung mengikat kain kemeja itu di pergelangan tangan Elsa untuk menghentikan darahnya yang merembes, sebelum Elsa benar-benar kehilangan banyak darah.


"Elsa bertahanlah, aku akan membawamu kabur dari sini. I'm promise." ikrar Willy seperti ingin menangis dan ia pun langsung memakaikan jas miliknya pada tubuh Elsa lalu mengambil hots pants yang tergantung di kastop. Kemudian ia pun memakaikannya pada tubuh Ela yang semula telanjang.


Segera Willy menggendong Elsa dalam pelukan ala bridal style dengan begitu tergesa-gesa dan juga panik yang tiada terperi, karena melihat wajah Elsa sudah terlihat sangat pucat. Willy membuka kunci kamar mandi lalu keluar dengan susah payah, hingga langkahnya pun langsung terhenti secara mendadak karena ia begitu terkejut setelah ia mendapati mereka yang sudah berdiri dengan gagahnya seraya menodongkan senjata tajam dan juga pistol ke arahnya.


"You want to play with us? This time you've really entered into hell!" sambutnya dengan suara berat dan tajam yang disertai dengan seringai licik yang terpatri.


"Oh, shitt!" umpat Willy pelan.

__ADS_1


__ADS_2