Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 20


__ADS_3

Akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan bersama, Alden yang mendadak iba ia ingin memberikan bantuan yang kedua kali setelah ia mentraktir makan, ia juga ingin mengajak Elsa ke sebuah penginapan setidaknya gadis itu bisa aman disana tanpa harus berjalan-jalan seorang diri di malam hari.


Entah mengapa Alden berubah menjadi simpati pada gadis itu, padahal ia tahu bahwa Elsa adalah anak dari musuhnya. Atau mungkin Alden berpikir bahwa itu dulu, saat ia masih menganggap bahwa apapun yang berhubungan dengan Dirly adalah musuh bubuyutannya? Tapi Alden berpikir bahwa semua itu adalah history saat ia masih berada dalam bagian dari kelompok kalajengking hitam, kelompoknya yang brutal. Tapi bisa saja ia balas dendam dan menebus kesalahannya pada Jefry dengan cara menyeret Elsa kesana sebagai jaminan agar reputasinya bisa kembali pulih seperti sedia kala.


Tapi entah mengapa pemikiran semacam itu Alden urungkan, hatinya terasa tergerak setelah melihat wajah Elsa yang malang. Alden merasa bahwa ia harus bisa menebus kesalahannya pada Elsa dengan cara apapun dan ternyata ia masih bisa merasakan bahwa belas kasihan serta rasa sesal itu masih ada di lubuk hatinya yang paling dalam.


"Siapa namamu?" tanya Alden pada Elsa karena ia ingin mencoba memastikan lagi, setidaknya rasa penasaran itu akan terbayarkan jika ia bisa mendengar langsung siapa nama dari gadis yang berada di sampingnya itu.


"Elsa," jawabnya yang membuat Alden terlihat menghela nafas berat, karena fakta itu tidak bisa di pungkiri bahwa yang ada disampingnya benar putri dari Dirly.


Sementara perasaan Elsa kini terasa campur aduk antara malu dan bersyukur karena Alden yang menolongnya berulang kali. Elsa yakin bahwa pria yang kini berjalan bersamanya adalah pria yang berhati baik dan juga tulus, meskipun ini adalah kali pertama mereka bertemu dan entah mengapa ia berpikir demikian.


"Terimakasih aku ucapkan padamu karena telah bersuka rela menolong, sudah mentraktir makan dan kini kau bersedia mencarikan tempat untuk menginap sampai aku bertemu dengan esok lagi. Kau orang baik," kata Elsa yang seketika saja membuat Alden terasa terbatuk.


Kalimat yang dilontarkan Elsa yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang baik tentu saja membuat Alden merasa terdengar sangat konyol, padahal kelakuannya sangatlah bertolak belakang, ia membantu Elsa hanya semata-mata kasihan bukan karena ia baik. Setidaknya dengan cara seperti itu ia bisa mengusir rasa bersalahnya pada Elsa.


"Uhuk... Jangan berlebihan, aku tak sebaik yang kau kira." kata Alden yang malah ditertawakan Elsa padahal seharusnya Elsa waspada setelah mendengar Alden berkata seperti itu, tapi agaknya Elsa hanya menanggapinya dengan reaksi tenang atau menganggap ucapan Alden hanyalah lelucon garing.

__ADS_1


"Kau pria yang tak terbuai pujian, ya?" kekeh Elsa nada menggoda.


"Selain itu memang benar, bahwa aku bukan pria baik." ucap Alden apa adanya.


"Ya, ya, ya. Aku percaya." Elsa tertawa lagi.


"Awas, Elsa ada batu!" seketika saja Alden dengan siaga langsung meraih kedua bahu Elsa agar langkahnya terhenti karena ada batu yang menghadang langkahnya di depan, ia melakukannya agar Elsa tidak tersandung oleh batu itu.


"Ah, kau mengagetkanku saja." Elsa menghela nafas panjangnya.


"Mengagetkan apa?" Alden menatap wajah Elsa kebingungan.


"Ah, a-aku hanya ingin membantumu." cicit Alden seraya melepas tangannya di bahu Elsa.


"Terimakasih, tapi kau tenang saja semenjak aku buta aku seperti mempunyai keahlian yang tidak dimiliki manusia normal, aku bisa menelisik perasaan, jalanan, serta kakiku ini berubah menjadi mata yang menuntunku kemanapun aku pergi." papar Elsa seraya meneruskan langkahnya dan yang membuat Alden melongo adalah seketika saja Elsa bisa melangkahi batu itu dengan mulus, seolah apa yang ia katakan barusan memang benar adanya bahwa kakinya layaknya indra penglihatan. "Bagaimana ajaibkan?" tanya Elsa seraya tersenyum lebar, sementara Alden hanya mengangguk namun ia sadar Elsa tak bisa melihat itu.


Kemudian mereka berdua pun meneruskan langkahnya kembali diantara keheningan malam dan sepinya jalanan. Sesekali Alden melirik kearah Elsa dengan tatapan sendunya, sementara Elsa terlihat sangat begitu tenang.

__ADS_1


"Apa kau tersiksa semenjak kau buta?" tanya Alden akhirnya.


Elsa mengangguk. "Sebelum aku buta aku bisa melihat bunga, pergi ke pesta dan juga bisa melihat teman-temanku saat di sekolah. Tapi semenjak aku buta, aku kehilangan semuanya. Rasa percaya diriku, sekolah, dan juga aku sudah tak bisa melihat apa yang ingin aku lihat." jawab Elsa lemah sementara Alden semakin di gerogoti rasa bersalah yang mendalam.


"Memangnya apa yang terjadi denganmu sehingga kau buat seperti ini?" pancing Alden yang ingin mengetahui tragedi itu. Apakah Elsa masih mengingatnya atau ia lupa akan peristiwa itu.


"Malam itu aku baru saja pulang dari pesta ulang tahun temanku, aku dan ayah berada di dalam mobil dan kami sangat bahagia tanpa mengetahui peristiwa kelam apa yang akan terjadi pada kami. Aku tertidur dan saat aku bangun ada mobil jeep yang sedang mengikuti mobil kami, lalu terjadilah kecelakaan hebat. Dan .... dan...." bercerita demikian tentu saja membuat peristiwa kelam itu malah mengundang tangisan Elsa dadanya terasa sesak karena terlalu pahit untuk diingat. Elsa berjongkok lalu menangis tersedu-sedu seraya menenggelamkan kepalanya di atas lutut.


Alden pun langsung menghentikan langkah, ia menyaksikan dengan jelas bagaimana Elsa terluka psikis yang cukup dalam. Tak kuasa melihat Elsa bersedih Alden pun ikut berjongkok tepat di hadapan Elsa. Dan tanpa sadar tangannya pun bergerak terulur mengusap cepat puncak rambut Elsa yang malang.


Tanpa Alden sadari sepasang matanya ikut berkaca-kaca, entah mengapa ia mendadak menjadi seorang pria yang lemah. Seharusnya ia sadar bahwa mantan seorang mafia tidaklah cengeng seperti ini, bahkan seorang mafia tidak pernah menunjukan penyesalan, rasa bersalah, ataupun rasa iba. Tapi mengapa ia bersikap demikian?


"Jika kau bertemu dengan pelakunya kau mau apa?" tanya Alden dengan nada bergetar.


Kepala Elsa terangkat dengan memampangkan wajah muram dan mata yang dipenuhi air mata. "Aku ingin membunuhnya, sebelum itu aku ingin membuatnya buta terlebih dulu!" jawab Elsa sarkas dengan rahang yang mengeras.


Alden yang mendengar itu langsung terdiam sesaat, sebelum akhirnya ia mengangguk kecil dan mulai berbicara kembali. "Apa kau yakin?" tanya Alden dengan nada seraknya.

__ADS_1


"Tentu saja aku yakin, aku tidak mungkin membiarkannya hidup dengan tenang!" seru Elsa menggebu-gebu.


Alden manggut-manggut mengerti. "Aku berjanji padamu bahwa aku akan mempertemukanmu dengan si bajingan itu, si bajingan yang telah membunuh ayahmu dan membuatmu buta. Aku berjanji, percayalah." ikrar Alden bersungguh-sungguh dengan seulas senyuman getir, sementara Elsa hanya bisa diam tanpa kata.


__ADS_2