
Tenggorokan Alden tercekat, darahnya berdesir, detak jantungnya meningkat begitu dahsyat tatakala kedua tangan Willy langsung mencekik lehernya kuat-kuat. Alden berusaha untuk melepaskan cekikan itu namun sepertinya darah mendidih letupan dari emosi Willy begitu menggebu, akibatnya Alden pun mulai kehilangan napas dan perlahan kakinya bergerak mundur akibat pergerakan yang dilakukan Willy.
Itulah manusia, ketika nafsu mengalahkan akal sehat dengan bercampur emosi yang mengaburkan nalar membuat siapapun pasti kalap, termasuk Willy yang sangat murka terhadap Alden dan tentu saja hal itu membuatnya kewalahan. Melihat wajah Alden dari dekat seperti ini tentu membuat wajah Willy menyala, mengingat terjadi dengan masa lalu kala mereka masih satu atap serta status mereka adalah sebagai musuh membuat darahnya seperti mendidih.
"Kau telah membuatku semakin hancur, selain karena kau telah membuat Ibuku mati bunuh diri dan sekarang kau juga telah membuat Elsa menderita! Kenapa semua orang yang aku sayangi kau buat menderita, hah?! Mereka adalah dua perempuan yang sangat berharga bagiku, tapi kau.. kau telah menghancurkannya!" geram Willy dengan tatapan dingin, sementara Alden sudah mulai kesulitan mencuri nafas akibat cekikan itu yang semakin kuat.
Hening untuk beberapa saat dan hanya suara gemericik air hujan yang terdengar.
Willy mendengus murka. "Baiklah, ayo kita selesaikan ini dengan cepat!" seru Willy lalu melepaskan cekikan itu seraya mendorong tubuh Alden dengan kasar hingga terjerembab pada aspal jalan.
Dengan satu jejakan kaki Willy menyerang Alden tiada henti, nampak sekali Willy sangat begitu bernafsu ia duduk diatas tubuh Alden dan memukul wajahnya dengan membabi buta.
Bugh!
Bugh!
Darah mengalir dari wajah Alden yang terkena pukulan, ia meringis kesakitan tiada henti. Ia tidak bisa berupaya apa-apa karena Willy sama sekali tak memberikan jeda sedikitpun untuk ia mengambil celah dalam membalas serangan, hingga ia merasa kerepotan karena serangan Willy yang bertubi-tubi.
Tak ingin hanya menikmati amukan Willy maka Alden pun berusaha untuk mengambil kesempatan setelah menghindar dari serangan Willy. Alden mendaratkan satu pukulan yang menghantam dada Willy, serangan yang cukup telak karena telah berhasil membuat tubuh Willy terdorong hingga terjengkang ke belakang hingga ia meringis kesakitan.
Segera Alden bangkit dari posisinya dan melihat Willy tengah berguling-guling kesakitan dengan kedua tangan memegang dada, terasa bahwa tenaga nya belum stabil karena tangan kanannya terkilir akibat jatuh dari motor, maka ia memutuskan untuk melarikan diri dan segera ia berlari ke arah sepeda motornya yang masih tergeletak.
"Bangsattt!"
Dor!!!
"Awwww.... Akhh..."
Dengan gerak cepat saat Alden berlari Willy pun langsung memuntahkan peluru hingga mengenai betis kaki Alden hingga membuatnya tumbang seketika.
"Keparat!" umpat Alden seraya memegang kakinya yang terluka dan juga mengucurkan darah hingga membuatnya menjerit kesakitan.
*****
__ADS_1
Sementara di sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar untuk tamu, terlihatlah sosok gadis dengan tubuh bergetar karena ketakutan, ia adalah Elsa yang sedang terduduk di tepi ranjang dengan pakaian sexy dan tentu saja memancing birahi lawan jenisnya yang kini duduk disampingnya. Pria itu terlihat tidak tahan melihat kecantikan Elsa dan kemolekan tubuhnya.
"Nona kau cantik sekali," bisiknya yang membuat Elsa semakin berderai air mata, ia benar-benar sangat jijik dengan dirinya sendiri. "Nona mengapa kau menangis? Aku rasa aku tidak memukulmu," tanya pria itu heran.
Elsa tak menjawab apapun dengan lisan, ia hanya bisa menggelengkan kepala pelan seraya menghapus cepat air matanya. Sungguh ia merasa bahwa hidupnya sudah benar-benar hancur. Tak ada lagi secerca harapan untuk ia pergi ke masa lalu yang indah, sekarang semuanya terasa sangat berbeda.
Melihat Elsa bersedih tentu saja pria itu tidak menghiraukannya, ia tetap fokus pada tujuan utamanya sebagai klien yang ingin dipuaskan diatas ranjang. Dengan dipenuhi nafsu birahi pria itu mulai mengelus tangan Elsa secara konstan yang memberikan sensai jijik bagi Elsa, namun ia tidak bisa menghindar karena Jefri telah mengancamnya. Dari mulai elusan seringan bulu lalu pria itu pun mulai menciumnya dengan rakus yang membuat Elsa langsung menjerit dan juga menangis, hal itu tentu saja membuat si pria langsung terkejut.
"Nona ada apa denganmu?" pria itu bertanya dengan sorot mata khawatir.
Elsa pun hanya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya seraya tiada henti menangis hingga membuat si pria merasa semakin iba dan sepertinya pria itu tidak sekejam Jefry.
"Nona katakan apa yang membuatmu menangis? Jika kau seperti ini bagaimana bisa aku bernafsu, yang ada aku merasa kasihan padamu." tutur si pria mencoba menenangkan Elsa dengan merangkul bahunya.
Elsa menangis tersedu-sedu lalu berbicara dengan nada bergetar. "Maafkan aku Tuan." Elsa segera menghapus kembali air matanya, namun tetap saja ia tak bisa menghalau setiap air mata yang terus mendesak keluar.
"Sepertinya kau ada masalah, apa itu benar?" tanyanya yang membuat Elsa spontan mengangguk, ia merasa bahwa pria ini berbaik hati. "Cerita saja padaku, apa aku bisa bantu?" tawarnya seraya tersenyum kecil.
"Sebenarnya aku adalah korban perdagangan manusia, Jefry selaku pimpinan menjualku menjadi seorang pelacur." isaknya yang membuat si pria merasa terbawa perasaan.
"Ya, tidak apa-apa Tuan. Aku juga tidak ingin meresikokan seseorang dalam bahaya," cicit Elsa disela isakannya.
"Apa kau juga buta?" tanya si pria yang sepertinya baru sadar dengan permasalahan penglihatan Elsa. "Maaf maksudku, emp ...."
"Dia yang mengakibatkan aku buta," jawab Elsa lemah.
Si pria langsung mendesah gelisah. "Maafkan aku, aku ingin membantumu tapi aku juga takut melawan orang-orang seperti mereka." ucapnya apa adanya.
"Tidak masalah Tuan, aku beruntung malam ini aku bertemu orang seperti dirimu." Elsa mencoba tersenyum pada pria itu meskipun ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya. "Tuan sudah membayar mahal, jika Tuan ingin tidur denganku mungkin aku akan melakukannya." ucap Elsa dengan amat terpaksa.
Pria itu menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin membuatmu semakin bersedih. Malam ini sebenarnya aku pertama kali kesini dan mungkin aku sedang terbawa suasana karena aku banyak masalah hingga aku datang ketempat ini." ujarnya sedikit bercerita.
"Cerita saja padaku memangnya kenapa Tuan?" tanya Elsa berempati.
__ADS_1
"Masalah dengan istriku, aku menguntitnya sedang selingkuh dengan pria lain. Ah, aku tidak ingin menceritakan semuanya padamu karena rasanya sakit sekali jika aku mengingatnya. Ah, sebaiknya lupakan saja," ucapnya seraya tertawa hambar lalu melepas tangannya di bahu Elsa.
"Tuan, mungkin kau salah paham,"
Pria itu seketika melirik kearah Elsa sekilas. "Tidak mungkin Nona, aku melihatnya sedang berpelukan." yakinnya seraya tersenyum miris atau lebih tepatnya senyum pahit.
"Mungkin ada seseorang yang ingin menghancurkan rumah tanggamu, Tuan pasti belum meminta penjelasan dari istri Tuan 'kan?"
"Untuk apa Nona, aku tak membutuhkan penjelasan karena aku yakin dia tidak akan mengakuinya." pria itu menghela napas berat.
"Cobalah untuk meminta penjelasan, aku yakin apa yang Tuan lihat tidak seburuk yang Tuan pikirkan." saran Elsa seraya mengulas senyuman, hingga membuat pria itu terdiam dalam pikirannya sendiri.
"Baiklah sepulang dari sini aku akan meminta penjelasan darinya," akhirnya ia berucap setuju.
"Semoga Tuan beserta istri tetap harmonis, aku doakan." do'a Elsa, sementara pria itu pun tersenyum karena sepertinya sekarang pria itu sudah lebih baik dari perasaan sebelumnya.
"Terimakasih untuk doanya Nona. Ah, apakah kau memiliki kenalan atau kakak kandung. Siapa tahu mereka bisa membantumu."
Seketika saja Elsa merasa seperti mendapatkan sebuah kesempatan lagi mendengar pria itu memberikan tawaran yang sangat brilliant. Membuat ekspresi Elsa berubah antusias dan sepasang matanya berbinar cemerlang.
"Aku memiliki kenalan namanya Alden, ah tapi sayang sekali aku tak memiliki nomor ponselnya dan juga potretnya." seketika saja Elsa langsung mendesah frustasi, sial sekali.
"Coba yang lainnya lagi,"
Seketika saja Elsa teringat seseorang hingga senyumannya terkembang lebar dan terlihat sumringah. "Ada, namanya Willy."
"Baik aku akan membantumu," si pria langsung merogoh ponsel di saku celananya dan ia ingin membantu Elsa dengan tulus.
"Aku lupa nomor ponselnya, tapi aku ingat name ID media sosialnya. Coba search di facebook dan juga instagram atas nama Willy Hanggara Putra lalu kirim pesan bahwa aku membutuhkan bantuan, beritahu namaku Elsa dan katakan bahwa aku diculik oleh kelompok mafia kalajengking hitam bernama Jefry dan katakan bahwa sekarang aku berada di mansion daerah ibukota. Tuan tolong juga berikan alamat lengkap tempat ini, aku tidak tahu aku sedang berada dimana." Elsa memberikan petunjuk dengan rinci, sementara pria itu langsung membuka aplikasi media sosial di ponselnya.
"Baiklah Nona, aku akan kirim alamat lengkapnya juga. Dan semoga orangnya yang ini ya, tapi untuk name ID nya memang hanya ini pemilik satu-satunya. Persis dengan apa yang kau katakan Willy Hanggara Putra. Tapi, aku tidak bisa menerka apakah ini potretnya atau bukan. Jika saja kau bisa melihatnya, aku harap ini tidak keliru." kata pria itu lalu mulai mengetik pesan pada sebuah akun yang berpotret kan wajah Willy yang mengenakan jas hitam.
"Aku berdo'a semoga Tuan benar." ucap Elsa seraya merahfalkan doa dalam batin. "Tuan terimakasih, karena telah membantuku." kata Elsa terharu dan rasanya ia ingin menangis bahagia. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk segera pergi dari neraka jahanam ini.
__ADS_1
"Tidak masalah, Nona. Dengarlah kau tidak pantas berada di tempat terkutuk seperti ini, semoga ada seseorang yang akan membantumu kabur dari sini. Aku berdo'a untukmu." ucap pria itu dengan tulus.
"Sekali lagi terimakasih," Elsa tersenyum penuh haru kearah pria itu, karena ia teramat bersyukur klien pertamanya adalah orang baik yang telah menyelamatkan separuh hidupnya yang malang.