
Percikan cahaya menerpa mata Alden yang tadinya tak sadarkan diri, hingga akhirnya matanya terbuka perlahan. Ia mengernyit saat merasakan sakit di kepala yang luar biasa, ia mencoba duduk di tanah yang lembab. Ia tidak menyadari bahwa lokasi pabrik Budi ditumbuhi banyak ilalang dan terhubung dengan hutan.
Matanya sedikit mengabur tetapi ia berusaha mengumpulkan banyak kekuatan lagi, meskipun rasa sakit di sekujur tubuhnya masih menggerogoti dirinya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, namun rasa pusing di kepalanya semakin bertambah ketika ia tiba-tiba teringat kejadian di malam hujan itu. Kejadian dimana ia membunuh Dirly dan membuat putrinya buta, cuplikan itu terputar layaknya film beralur mundur.
Jip nya melaju kencang mengikuti arahan sang bos besar melalui walkie talkie di tangannya.
"Ferrari putih itu milik Dirly, ikuti dia!" perintah Jefry di seberang sana, sementara Alden mengangguk mengerti.
Jefry menjelaskan, dirinya mengutus Robbin dan Tito untuk memata-matai Dirly dan anaknya sejak tadi siang, saat Dirly dan Elsa memarkir mobilnya di lingkungan butik. Saat itu juga Tito yang langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan sambil memata-matai. Tito melihat Dirly dan anaknya masih di dalam mobil, sebelum akhirnya Dirly keluar duluan sementara Elsa masih di dalam mobil. Tito melihat Dirly yang tengah mengangkat sebuah sambungan telepon hingga akhirnya ia berjalan ke belakang mobil untuk mengangkat telepon.
Tito mendapatkan sebuah kesempatan, kemudian ia pun menugaskan Robbin untuk segera mengambil celah untuk mendekati putri Dirly sebelum Dirly mengakhiri panggilan telepon yang diterimanya.
Segera Robbin keluar dari mobil dan menyeberang jalan untuk mendekati mobil Elsa, Robbin yang memakai jaket dan topi kini berada di dekat mobil Elsa dengan jendela mobil terbuka.
Robbin melihat Elsa memasukkan sesuatu ke dalam tas dan hendak keluar dari mobil, namun Robbin langsung mengalihkan dengan berpura-pura menjadi pengamen jalanan meski tanpa alat musik di tangannya, namun ia cukup yakin Elsa tidak akan curiga sedikitpun.
Robbin bernyanyi dengan nada sumbang, namun terlihat jelas bahwa Elsa adalah tipe anak yang sangat manis, ia sama sekali tak terganggu dan malah tersenyum. Elsa merogoh uang yang ada di tasnya untuk diberikan kepada Robbin dan ketika ia menerima uang itu ia mengambil kesempatan untuk menjatuhkan uang itu di bawah mobil sampai akhirnya Elsa merunduk untuk mengambilnya.
Dengan cepat tangan Robbin pun langsung memasang mini dv spy cam yang merupakan kamera pengintai dan penyadapan yang dapat dipasang di mobil di belakang dasbor ujung.
__ADS_1
Karena ukuran kamera pengintai yang sangat kecil, ia yakin Dirly dan Elsa pasti tidak mengetahui letak kamera tersebut.
"Terima kasih, Nona. Anda baik sekali," puji Robbin namun Elsa hanya mengangguk dan tersenyum. Robbin mengambil uang itu dan segera pergi sebelum Dirly menyadari keberadaannya.
Sementara Robbin dan Tito saling tertawa puas melihat Elsa keluar dari mobil dan menghampiri ayahnya yang masih bertelepon, lalu keduanya berjalan menaiki tangga menuju butik.
Usai menceritakan hal tersebut kepada Alden, Jefry yang sedang melihat CCTV dari kamera di layar TV mini langsung tertawa puas. Sementara Alden hanya tersenyum miring.
"Jangan lengah, kuharap kau bisa membunuhnya untukku!" Jefri terkekeh lagi di seberang sana.
"Jangan khawatir, aku pasti akan memberi kabar yang mengejutkan untukmu Tuan," Alden berjanji dengan tenang.
"Jangan khawatir," kata Alden mengerti sambil menunjukkan seringai jahatnya.
Setelah sambungan walkie talkie putus, Alden pun semakin tancap gas hingga aksi kejar-kejaran pun terjadi dan Alden yang terpacu adrenalin mencoba menyalip mobil Dirly.
Namun ternyata mobil Dirly kurang kencang, jika balapan sudah dapat dipastikan Dirly pasti penyandang pembalap lelet. Alden mencoba menyalip namun Dirly tidak menyerah sama sekali. Dirly berusaha menghindarinya dan itu membuat Alden merasa semakin terpancing emosi.
Alden tiba-tiba menyalip di tikungan tajam yang membuat kendaraan yang ditumpangi Elsa dalam keadaan bahaya karena Dirly terkecoh hingga shock, dan secara spontan terjadi rem darurat yang berhasil membuat mobil ferrari tersebut tergelincir di antara aspal yang licin sehingga menyebabkan mobil tersebut oleng dan juga berputar-putar.
__ADS_1
Mobil Dirly langsung menabrak pohon besar di pinggir jalan, menyebabkan dirinya jatuh terpental ke aspal jalan hingga membuat kepalanya bocor serta mengeluarkan darah segar berceceran, sedangkan kepala Elsa terpentok ke depan dengan sangat keras hingga beberapa pecahan kaca mengenai mata Elsa yang mengakibatkan pendarahan hebat dan kini ia pun mulai tidak sadarkan diri.
Di tengah guyuran hujan Alden keluar dari mobilnya, menunjukkan seringai jahat penuh kebanggaan. Ia menghampiri Dirly yang tergeletak di aspal lalu tangannya bergerak memeriksa denyut nadinya. Hanya tawa puas yang keluar dari bibirnya seolah target sudah berhasil ditaklukkan. Setelah itu, ia membuka pintu mobil dimana ada seorang gadis yang tertunduk lemah, Alden menjambak rambut gadis itu dan ia melihat bahwa dia sudah tidak sadarkan diri. Kemudian Alden juga merogoh walkie talkie di celana kainnya.
"Targetnya mati, sedangkan gadis itu kritis." Alden melapor pada Jefry disertai dengan senyum miring. Alden mengangguk seolah ia telah menerima instruksi lagi, lalu ia pun membanting pintu mobil dengan keras.
Alden memejamkan mata sambil memegangi kepalanya yang langsung berteriak histeris setelah rekaman peristiwa itu terputar ulang di ingatannya.
"Ahhhh...." pekiknya kemudian ia pun terbangun dengan tertatih-tatih. "Mengapa ingatan itu muncul? Padahal aku sering membunuh banyak orang yang menjadi sasaranku dan aku tidak pernah merasa bersalah sama sekali, bajingan!" Alden mengutuk dirinya sendiri saat mencoba berjalan meski harus sempoyongan seperti orang gila.
Alden berusaha menepis semua ingatan yang ada di kepalanya tentang kejadian itu, ia sama sekali tidak mau membuang waktunya dengan sia-sia hanya untuk mengingat kejadian itu. Baginya, semua yang ia lakukan adalah hal normal dan ia tidak pernah melibatkan penyesalan.
Alden terus berjalan melewati hutan dan akhirnya menemukan sebuah sungai yang memiliki aliran air jernih. Dengan sepasang mata berbinar semangat ia segera berlari meski sesekali kakinya nyaris terpelintir di antara bebatuan. Ia benar-benar sangat haus, segera ia pun berjongkok untuk menyesap air yang ia raup di antara kedua telapak tangannya berkali-kali. Percayalah manusia bisa bertahan hingga 14 hari tanpa makanan tapi manusia akan mati 3-4 hari tanpa air. Beruntung ia akhirnya menemukan sumber air dan tenggorokannya kini terasa lega karena telah tersentuh air yang menyegarkan.
Alden menengok ke kanan dan ke kiri, sungguh sial karena ia malah tersesat seperti ini. Tapi, setelah menemukan sumber air maka kemungkinan ia selamat akan tinggi. Ia sempat mengira bahwa hidupnya akan berakhir, bahkan jika ia mati dengan terjun bebas hal itu tidak masalah yang terpenting baginya adalah ia tidak mati di tangan musuh, itu saja.
“Ternyata Budi sangat pandai membangun pabrik narkoba di dekat hutan seperti ini, aku tahu pasti mereka telah merencanakan pembangunan semacam ini untuk melarikan diri dari polisi suatu hari nanti,” kata Alden bermonolog sendiri dengan rahang terkatup.
Hening.
__ADS_1
"Aku cukup yakin mereka semua ini pasti ada hubungannya dengan video yang diperlihatkan Willy kepada Budi, bajingan! Dan bahkan aku harus kehilangan Robbin, akh... aku bingung apa Tuan Jefry, tahu tentang ini?" desahnya sambil menyugar rambutnya dengan gelisah.