
Pada akhirnya Alden pun berinisiatif untuk membantu gadis itu yang kini malah terjatuh dan terlihat sangat lemas, maka dengan gerak cepat ia langsung menyebrangi jalan dengan berlari kecil untuk membantu gadis itu yang ternyata gadis itu adalah Elsa.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alden sedikit khawatir setelah ia berada di dekatnya.
Elsa mendengar suara pria yang sangat dekat tepat di telinganya, hingga ia merasa sedikit lebih lega akhirnya ada seseorang yang bisa membantunya. Itulah yang ia harapkan saat ini, semoga pria itu bisa membantunya.
"Aku lapar dan haus," Elss menjawab dengan terus terang, hingga membuat hati Alden tiba-tiba saja tergerak.
"Baiklah ikut denganku," kata Alden yang langsung mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan.
Setelah Alden mengulurkan tangannya ia mengerjap karena gadis itu malah mengarahkan tangannya berbeda arah, hingga membuat kening alisnya mengernyit dan ia menyadari bahwa gadis itu sepertinya buta.
"Bantu aku, aku tidak bisa berdiri." mohon Elsa dengan wajah sendunya.
Alden terdiam sesaat, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang sangat aneh dan juga ia merasa tidak asing dengan gadis itu setelah melihat wajahnya. Tapi dimana ia pernah bertemu dengan gadis itu?
"Baiklah," ucap Alden yang masih larut dalam pikirannya sendiri, maka ia pun segera membantu gadis itu berdiri seraya menelusuri secara rinci, kini ia pun memapah gadis itu yang berjalan menggunakan tongkat tunanetra.
Melihat hal itu membuat ingatan di kepala nya muncul saat ia membuka pintu mobil yang terdapat sosok gadis yang wajahnya mirip dengan gadis yang kini berjalan dengannya, yang diketahui namanya sebagai Elsa anak dari musuh kelompoknya. Ia teringat saat melihat gadis itu yang masih tertunduk lemah akibat kecelakaan yang diperbuat olehnya, ia menjambak rambut gadis itu dan melihatnya sudah tak sadarkan diri dan juga bersimbah darah. Kemudian ia saat itu merogoh walkie talkie di celana kainnya.
"Target sudah tewas, sementara anak gadisnya kritis." lapornya pada seseorang di seberang sana disertai dengan senyuman miring terulas. Alden mengangguk seolah telah mendapat instruksi kembali, kemudian membanting pintu mobil itu dengan kasar.
Alden mengerjap, apa jangan-jangan yang ia pikirkan sekarang benar. Bahwa gadis yang sedang ia bantu adalah putri dari Dirly?
"Apakah kau akan memberiku makan dan minum?" tanya gadis itu membuka percakapan, hingga membuat lamunan Alden buyar seketika.
"Ya?"
"Aku lapar dan haus." ulang Elsa kembali.
"Ah, begitu ya. B-baik aku akan membantumu," kata Alden sedikit gugup.
"Hari ini aku sial sekali, melarikan diri tanpa membawa uang." ceritanya polos.
__ADS_1
"Kabur?" ulang Alden seolah belum merasa jelas dengan apa yang gadis itu katakan.
Elsa mengangguk. "Iya,"
Perbincangan itu terhenti sesaat karena mereka berdua telah sampai di depan warung, segera Alden pun membantu gadis itu untuk duduk di bangku sementara ia memesan sesuatu untuk gadis itu. Setelah memasang Alden pun ikut duduk di samping gadis itu namun pikirannya masih saja tak tenang.
"Ini Tuan," untuk beberapa saat si pemilik warung datang dengan membawa nampan yang berisi segelas teh hangat, roti dan juga semangkuk mie instan yang masih panas dan di letakan di bangku.
Alden mengangguk dan berucap terimakasih, lalu si pemilik warung pun kembali ke dalam. Untuk sesaat ia menelusuri lagi wajah gadis itu dan ternyata dugaannya tidak keliru, gadis itu memang putri dari Dirly.
"Aduh perutku semakin lapar, Pak. Aku mencium bau mie instan apakah itu pesanan untukku?" tanya Elsa seraya memegang perutnya yang keroncongan.
"Ah, ini untukmu." Alden tersadar lalu memberikan semangkuk mie itu padanya.
Elsa mencoba menerima mangkuk itu dengan tangan yang meraba-raba di udara untuk meraihnya, hingga membuat hati Alden terasa tersentuh melihatnya. Maka ia pun meraih tangan gadis itu dan meletakan semangkuk bakso itu di tangannya, senyuman antusias terulas dari bibir Elsa yang semakin membuat hati Alden berdenyut sangat nyeri secara tiba-tiba.
"Terimakasih," ucapanya tulus lalu mulai menyantap mie itu dengan rakus seolah ia tak memedulikan rasa panas dari mie itu sendiri.
"Hati-hati panas." tegur Alden agak panik.
"Mengapa kau kabur?" tanya Alden yang entah mengapa tiba-tiba saja ia merasa sangat penasaran.
"Jwangan gwanggu aku, aku sedang makan," ucap Elsa sambil mengunyah sementara Alden hanya mengangguk dan kembali larut dengan pikirannya sendiri.
Elsa makan dengan sangat lahap dan mengabaikan rasa malunya karena mungkin ia terlihat sangat rakus. Kemudian ia pun menyeruput teh hangat yang di sodorkan Alden sampai tandas lalu ia pun kembali menyantap mie itu hingga akhirnya habis. Alden merasakan betul bagaimana rasanya kelaparan dan kehausan seperti yang tadi ia alami. Melihat gadis itu yang sangat lahap entah mengapa ia merasa ikut kenyang, padahal roti yang ia pesan pun belum sempat ia makan.
"Terimakasih, Pak. Hampir saja aku mati kelaparan," kata Elsa berkata dengan nada sedih seraya ia mengelap bibirnya yang belepotan dengan telapak tangannya.
"Jangan panggil aku Bapak, aku masih muda."
"Ah, maaf." cicit Elsa sambil terkekeh kecil.
"Sudah malam, apa kau tidak ada rencana untuk pulang? Dan mengurungkan niatmu untuk kabur?" tanya Alden memastikan, melihat kondisinya yang buta dan juga seorang perempuan, tentu membuatnya khawatir karena suasana malam sangat rawan kejahatan, meskipun ia sadar bahwa ia juga adalah orang jahat.
__ADS_1
Elsa tak menjawab apapun ia hanya bisa menggelengkan kepala dan hal itu membuat Alden mengernyitkan dahi. "Kenapa?" tanya Alden penasaran.
"Aku ingin mati saja." jawab Elsa dengan polos.
"Apa?" ulang Alden untuk memastikan bahwa ia tak salah dengar karena gadis itu berbicara sangat pelan layaknya serupa gumaman.
"Aku hanya ingin mati," ujarnya sedikit menaikan volume suara.
Alden terdiam mendengar apa katanya, mencoba merenung dan menelisik perasaannya dan akhirnya ia dapat mengerti. Pasti semua itu tidak lepas dari penderitaan ia kehilangan orang tua dan juga kehilangan penglihatannya. Jika saja gadis yang ada di sampingnya itu tahu dengan siapa ia berbicara mungkin saja tangan gadis itu akan mencekik lehernya saat ini juga.
"Aku juga," gumam Alden yang berhasil di tangkap oleh kedua indra pendengaran Elsa.
"Kau juga ingin mati?" tanya Elsa memastikan bahwa ia tak salah dengar.
"Kau bisa bunuh aku sekarang juga." celetuk Alden seraya tertawa hambar.
Kening alis Elsa seketika saja menyatu di tengah, ia merasakan bahwa pria yang ada di dekatnya ini terasa sangat aneh karena ucapannya.
"Kenapa aku harus membunuhmu? Aku tidak mau membunuh orang yang tak berdosa padaku. Jika saja kau adalah pembunuh Ayahku mungkin aku akan menebas lehermu."
Deg!
Seketika saja saat Alden tengah meneguk teh di tangannya ia langsung tersedak setelah mendengar kata-kata random yang baru saja keluar dari bibir gadis itu. Membuat Elsa jadi sedikit panik dengan reaksi pria itu.
"Kau tersedak? Apa kau baik-baik saja?" Elsa sedikit panik sementara Alden masih saja terbatuk-batuk.
"Aku baik-baik saja." ucap Alden setelah berhasil menetralkan tenggorokannya.
"Maaf tadi aku hanya bercanda."
"Lupakan saja," kata Alden seraya berdiri lalu membayar pesanan dan hendak meninggalkan gadis itu, entah mengapa hatinya mendadak tak nyaman, meskipun kenyataannya memang ialah pembunuh Ayah dari gadis itu.
"Sekali lagi aku minta maaf, tadi aku hanya bercanda." ulang Elsa lagi yang merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Ah, tidak. Kau salah kira, aku baik-baik saja. Oh ya makananmu sudah aku bayar."
"Aku berhutang budi padamu, suatu saat jika aku bertemu denganmu lagi aku akan membalasnya." ucap Elsa seraya mengulas senyuman tulus, sementara Alden hanya diam.