Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 38


__ADS_3

Angin malam berhembus dengan cukup kencang tatakala seorang wanita turun dari sebuah mobil mewah yang menepi, wanita itu berjalan dengan derap langkah yang terdengar anggun seolah high heels yang dikenakannya amat berpengaruh. Pinggul meliuk seirama dengan langkah, penampilannya yang sexy seolah tak berpengaruh jika ia akan masuk angin karena baju yang tampak kurang bahan.


Wanita itu berjalan seorang diri tanpa ditemani sang supir, tampaknya wanita itu sudah terbiasa datang ketempat ini tanpa rasa was-was. Namun rasanya wanita itu merasa ada janggal dengan keadaan mansion yang tampak sangat sepi.


Tidak masalah, akhirnya wanita itu hanya mengedikan bahu acuh. Kemudian ia mulai membuka pintu utama, dalam satu langkah tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh pemandangan seorang pria yang berdiri tepat di hadapannya. Seorang pria berbadan gagah, postur tubuh yang tinggi dan wajah yang dingin. Wanita itu berusaha mengingat-ingat siapa pria itu gerangan, karena selama tiga tahun ia menghabiskan waktu di luar negeri ia tak bisa mengingat siapapun. Dan malam ini ia baru saja kembali, hingga ia tak bisa mengingat secara sempurna anak buah dari Jefry--kakak kandungnya.


"Siapa anda?" pria itu bertanya tanpa menunjukan ekspresi yang ramah, pria itu adalah Budi.


"Saya adik dari Jefri Wijaya, bolehkah saya masuk?" wanita itu menatap Budi angkuh. "Tentu saja boleh, tidak ada alasan untuk seseorang melarangku." wanita itu malah menjawabnya sendiri karena Budi terlalu lama menjawab. Dengan gaya congkak wanita itu berjalan seraya mengangkat dagu dan melewati pria yang diyakini sebagai anak buah dari sang kakak.


Budi berdecih pelan. "Ah, rupanya kau." gumamnya lalu tersenyum misterius seraya mengelus-elus rahang miliknya sendiri seakan tersirat akan sesuatu.


Tak...tak..tak...


Suara derap langkahnya sendiri yang terdengar, menandakan bahwa suasana mansion benar-benar sangat sepi. Tak ada tanda-tanda anak buah Jefry yang benar-benar wanita itu kenali, biasanya mereka akan duduk berjaga atau melakukan aktivitas yang lain. Namun yang terlihat tak ada siapapun selain pria tadi. Tubuhnya meremang sementara pikirannya sudah bercabang, wanita itu menggeleng samar berusaha menepis pikiran buruknya yang melintas secara tiba-tiba.


"Baiklah, saya yang akan antar. Tuan Jefri sedang berada di kamarnya." tiba-tiba saja Budi sudah berada tepat di samping wanita itu, yang membuat wanita itu spontan terkejut namun wanita itu berusaha untuk tetap tenang.


Wanita itu hanya mengangguk tanpa bersua dan akhirnya mereka berdua pun berjalan bersama tanpa sebuah percakapan, melewati anak tangga dan langsung tersambung pada pintu kamar sang kakak.


Ceklek...


Kamar terlihat sangat rapi, tak ada tanda-tanda sang kakak yang sedang tertidur ataupun duduk disebuah kursi, mungkinkah sang kakak berada di kamar mandi?


Njeblug...


Wanita itu menoleh seketika dan langsung terkejut karena pria itu malah mengunci pintu lalu meletakkan kunci itu di sakunya, seringai mengerikan terpatri membuat wanita itu merasakan firasat yang buruk. Wanita itu berjalan mundur dan menggeleng seolah ia tidak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

__ADS_1


"Dimana kakak ku?!" seru wanita itu bertanya dengan lantang dan mulai curiga.


"Di neraka," jawab Budi seraya tertawa iblis dan mulai mendekati wanita itu secara perlahan.


"Apa maksudmu?!" tanya wanita itu tak mengerti dan berusaha untuk berantisipasi.


"Mati! Kakakmu sudah mati!" jawab Budi lugas seraya terkekeh.


Wanita itu menggeleng kuat. "K-kau siapa? Kenapa kau membunuh kakak ku, hah?!" tanyanya sengit.


"Jawabannya karena dia adalah musuh dibalik selimut dan tentu saja kakakmu pantas mendapatkan hukuman, hahahaha.." Budi kembali tertawa liar.


Wanita itu semakin bergerak mundur namun punggungnya tertahan pada dinding tembok yang dingin hingga pergerakannya terhenti seketika. Budi tak ingin melewatkan kesempatan maka ia pun segera mendekati wanita itu lalu mencengkram rahang pipinya dengan kuat hingga wanita itu tersentak kaget.


"Empphh... Lepas!" susah payah wanita itu bersuara seraya berusaha menepis tangan pria itu namun tenaganya jauh lebih kuat.


Seketika saja Budi langsung menghempaskan tubuh wanita itu ke atas ranjang dalam satu hentakan, wanita itu mulai menjerit ketakutan. Dan disela itu Budi pun langsung menghimpit tubuh wanita itu.


"Aku tak punya urusan denganmu, cepat lepaskan aku!" wanita itu menjerit, menangis seraya memukul berulang kali dada pria itu, namun Budi sama sekali tak ingin melepaskannya. "Lepaskan aku bodoh!" seru wanita itu yang langsung meludahi wajah Budi, seakan tak terima dengan perlakuan wanita itu Budi langsung menamparnya.


Plak!


Tamparan keras itu hingga sudut bibir wanita itu berdarah dan tentu saja pipinya terasa berdenyut nyeri dan terasa amat perih, wanita itu menangis sambil meringis kesakitan sementara Budi malah tertawa.


"Jelas kau pun terlibat karena kakakmu telah berkhianat, semua orang yang berkaitan dengannya akan aku habisi!" ancam Budi dengan sepasang mata melotot ngeri.


Wanita itu menggeleng ketakutan tapi ia tak bisa melakukan apapun, selain menangis dan menjerit minta tolong.

__ADS_1


"Tolong .. Tolong ..." jeritnya dengan berlinangan air mata.


"Diam!" Budi menari rambut wanita itu dengan sekali tarikan, hingga membuatnya meringis seakan rambutnya sudah tercabut dari kulitnya.


"Lepaskan aku, aku mohon." rintih wanita itu dengan tatapan mengiba.


Budi cekikikan, ia benar-benar sangat puas dengan apa yang ia lakukan sekarang. Termasuk membuat adik Jefri ketakutan seperti ini.


"No, I'm sorry." ucap Budi dengan wajah angkuhnya.


"Lepaskan aku, lepas!"


Wanita itu tampak tertekan, namun ia sama sekali tak bisa berbuat banyak karena setiap kali ia berusaha berontak ia malah selalu mendapatkan perlakuan kasar.


"Diam bodoh!" sentak Budi lagi.


"Aku akan memberikan apapun yang kau mau, uang, emas batangan, atau apapun itu." wanita itu memberikan sebuah penawaran.


Budi tergelak mendengarnya sebelum akhirnya ia berbisik. "Sorry, Nona, tapi dendam harus sama-sama terbalaskan. Nyawa tetap harus dibayar nyawa. Jefry telah membunuh adikku dan kau adalah adik dari Jefri maka kau juga harus mati. Siapapun yang berhubungan dengan Jefry berarti mereka adalah musuhku juga." Budi menyeringai sebelum akhirnya ia pun langsung menancapkan sebuah pisau tepat di perut wanita itu.


Blessss!


"Akh!" wanita itu meringis dan menjerit kesakitan dengan keras.


Tubuhnya mengejang, sepasang matanya melotot serta urat-urat di wajah dan di lehernya pun timbul. Menandakan wanita itu sedang meregang nyawa, mulutnya mengeluarkan ringisan perih sementara tubuhnya mulai melemah karena kehabisan banyak darah hingga wanita itu pun langsung tewas seketika.


Budi langsung bangkit dari posisi sebelumnya dan merapikan kembali jas serta celana kainnya, senyuman miring terulas. Dan untuk memastikan kembali bahwa wanita itu sudah mati maka ia pun mengecek pernafasan hidungnya lalu ia pun menghunuskan pisau itu, hingga wanita itu benar-benar sudah tak bergerak lagi.

__ADS_1


Detik berikutnya darah segar pun mengalir lalu merembes pada sprei berwarna putih dan seketika saja sprei itu berubah menjadi berwarna merah.


"Seorang mafia memang sadis, jahat, dan licik. Maka jangan harap aku akan berbaik hati memaafkan apa yang telah kakak mu perbuat. Aku belum bertaubat nona, hahahaha..." ucap Budi berbangga diri lalu meninggalkan wanita itu begitu saja.


__ADS_2