Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 60


__ADS_3

Elsa berlari menelusuri setiap lorong rumah sakit, berlari keluar dengan kakinya yang telanjang. Mencari-cari kemana ia harus pergi sampai akhirnya ia memutuskan untuk berlari sejauh mungkin, sampai menjelang malam ia pun menghabiskan waktu di jalanan dan hujan pun turun dengan deras mengiringi tangisannya yang sangat begitu menyayat hati. Ia memeluk dirinya sendiri untuk mencoba menghangatkan tubuhnya, sampai akhirnya tangannya pun mengelus perutnya yang masih rata namun ia sadar bahwa di dalamnya ada janin yang sedang ia kandung. Elsa langsung menjerit dan menangis kala ia teringat kembali cuplikan-cuplikan antara kecelakaan malam itu dan juga saat ia dan Alden bercumbu. Ia tak pernah menyangka bahwa pria yang selama ini sangat ia percaya, yang sangat ia cinta, dan pria yang telah tidur dengannya adalah seorang penjahat dan pembohong besar.


Elsa meremas helaian rambutnya yang basah kuyup, menjerit dan menangis sekuat tenaga. Melampiaskan semua bentuk emosi yang sedang dirasakannya saat ini, meluapkan segala bentuk kekecewaan yang ada. Sampai akhirnya tubuhnya pun meluruh pada aspal jalan, menangis dan terus menangis.


"Alden, kau jahat padaku. Kau sangat jahat, mengapa kau melakukan semua ini padaku. Kau telah membuatku hancur berkeping-keping dan aku tak tahu aku harus bagaimana sekarang. Aku sudah terlanjur putus asa, percuma kau memberikan mata ini untukku hatiku malah semakin menderita seperti ini." Elsa berkata seraya sesegukan dan memegang dadanya yang teramat sangat begitu sesak.


Elsa kelelahan karena menangis, ia membiarkan dirinya terguyur oleh hujan yang semakin deras. Ia memeluk lututnya menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya hingga berjam-jam ia sama sekali tak beranjak.


Satu setengah jam, hujan pun mereda namun angin semakin berhembus kencang. Dan saat kepala Elsa terangkat pandangan matanya pun sudah berubah, tatapannya berubah kosong, wajahnya pucat, lalu tiba-tiba ia pun tertawa hambar. Ia cekikikan tak jelas seakan ia sedang menertawai hidupnya yang sangat begitu menyedihkan.


"Aku akan bahagia selamanya, aku akan bahagia selamanya." Elsa merapalkan kalimat itu berulang kali seakan kalimat tersebut bagaikan sebuah mantra. "Yes, aku akan bahagia, itu benar, hihihi." lanjutnya kemudian ia pun langsung cekikikan bagaikan perempuan yang sudah kehilangan akal sehatnya.


Tawanya tenggelam saat ingatan masa lalunya kembali muncul, mulai dari tragedi mobil kecelakaan, bertemu dengan Alden, di culik lalu perkosa oleh Jefri, lalu di perkosa Budi, sampai pada akhirnya saat ia bercumbu dengan Alden.


"Ayah apa yang terjadi ?!" 


"Jangan khawatir sayang, kita akan baik-baik saja." 


"Ayah, apakah mereka penjahat?"


"Kita akan baik-baik saja, percayalah pada Ayah." 


"Aku takut, Ayah." 


Namun ternyata mobil Dirly kurang kencang, pemuda itu mencoba menyalip namun Dirly tidak menyerah sama sekali. Dirly mencoba untuk menghindar dan hal itu justru membuat si pemuda merasa lebih tertantang. Pria itu tiba-tiba menyalip di tikungan tajam yang membuat kendaraan yang ditumpangi Dirly dan Elsa dalam kondisi berbahaya, karena Dirly terkecoh dan kehilangan kendali. Dan dengan spontan karena hal itu pun membuat Elsa menjerit ketakutan, tiba-tiba terjadilah rem dadakan yang berhasil membuat mobil Ferrari berwarna putih itu selip di antara belokan aspal yang licin hingga membuat mobil berputar-putar.


"Aaaaa …"


Jeritan histeris dari dalam ferrari semakin mendominasi, sementara mobil jip itu langsung berhenti. Mobil Dirly langsung menabrak pohon besar di pinggir jalan, hingga mengakibatkan dentuman keras dan membuat Dirly langsung terpental, melayang di udara sepersekian detik kemudian jatuh ke aspal jalan seperti karung beras yang diberi adegan gerak lambat dan tubuhnya pun terbaring sampai tak bergerak lagi.

__ADS_1


Kepala Dirly terjerembab dengan keras di aspal jalan, menyebabkan kepalanya bocor dan banyak darah segar berceceran dimana-mana. Sementara kepala Elsa terantuk ke depan dengan kekuatan yang sama, hingga memecahkan kaca mobil dan wajah Elsa yang membentur bagian bawah dashboard mobil. Sampai akhirnya seluruh wajah Elsa bercucuran darah dan detik itu juga ia tak sadarkan diri.


—------


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alden sedikit khawatir setelah ia berada di dekatnya.


Elsa mendengar suara pria yang sangat dekat tepat di telinganya, hingga ia merasa sedikit lebih lega akhirnya ada seseorang yang bisa membantunya. Itulah yang ia harapkan saat ini, semoga pria itu bisa membantunya.


"Aku lapar dan haus," Elsa menjawab dengan terus terang, hingga membuat hati Alden tiba-tiba saja tergerak.


"Baiklah ikut denganku," kata Alden yang langsung mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan.


Setelah Alden mengulurkan tangannya ia mengerjap karena gadis itu malah mengarahkan tangannya berbeda arah, hingga membuat kening alisnya mengernyit dan ia menyadari bahwa gadis itu sepertinya buta.


"Bantu aku, aku tidak bisa berdiri." mohon Elsa dengan wajah sendunya.


—-------


Hingga terdengarlah denting ikat pinggang dan tarikan resleting lalu tangan Jeffry menyingkap rok dress milik Elsa. Dan pada detik itu, Elsa mulai merasakan sesuatu yang keras sedang berusaha menemukannya di bawah sana. Rasa nyeri, dan juga sakit hati, serta awal kehancuran bercampur menjadi satu. Elsa berteriak histeris mengisi ruangan sementara pria ****** itu malah mendesah kenikmatan. Brengsek!


"Aaaaaaaaaaaaaa.... Ahhhhhhhhhhh tolong!"


—----


"Aku akan menikmati tubuh mulusmu, Elsa. Willy sudah mati dan kau takkan bisa melarikan diri!" Budi berseru lalu ia pun merobek baju milik Elsa saat itu hingga telanjang.


"Ahhh .. Jangan .. Ump .." teriak Elsa menjerit histeris.


Malam itu Elsa pun di perkosa oleh Budi hingga berulang kali, sampai akhirnya ia tak sadarkan diri karena luka di lehernya semakin parah sebab darah itu mengalir tiada henti.

__ADS_1


—------


"Tidurlah di pundakku, nanti aku akan menggendongmu dan membawamu ke kamarmu lagi." kata Alden seraya mengusap-usap rambut Elsa dengan sepenuh hati.


Detik itu Elsa pun menyentuh tangan Alden yang sedang mengusap-usap rambutnya, hingga aktivitasnya langsung terhenti lalu pandangan Alden pun langsung menatap kearah Elsa.


"Seandainya aku bisa melihat wajahmu," lirih Elsa seraya menerawang seraya menyentuh wajah Alden dengan jari-jemarinya, menelusuri setiap inci wajah Alden. Mulai dari matanya, hidungnya lalu bibirnya.


Namun yang membuat Alden terpaku adalah ketika ia merasakan bibirnya dikecup Elsa, awalnya sekilas namun ciuman itu malah diteruskannya hingga membuat Alden tak dapat melakukan apapun karena jujur ia pun menginginkannya.


Semula Alden tak membalas ciuman itu dan ia lebih memilih Elsa untuk melakukannya sendiri. Alden melihat sepasang mata Elsa terpejam, kemudian ia pun beralih menatap wajah Elsa dengan seksama, sungguh ia sama sekali tak dapat mengira bahwa Elsa jauh lebih cantik saat ia melihatnya dalam jarak sedekat ini.


Perlahan tangan Alden bergerak merangkum kedua pipi Elsa untuk memperdalam ciumannya dan kali ini ia pun membalas setiap kecupan, *******, dan setiap pagutan yang Elsa lakukan padanya.


Alden mulai terbuai hingga ciuman itu pun semakin terasa liar, namun secepat itu pula ia merasa kehilangan saat Elsa menghentikan ciumannya.


"Dulu aku sama sekali tak pernah melakukan hal semacam ini dengan seseorang, tapi sekarang aku melakukannya. Apakah aku adalah gadis jalang bagimu, Al?" tanya Elsa dengan nada rendah, namun Alden tak menjawab dengan sepatah kata apapun karena ia hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.*


Hening.


Lapisan bening itu jatuh membasahi pelupuk pipi Elsa dengan senyuman getir yang terulas dari bibirnya, namun detik itu bibir Alden pun langsung meraup kembali bibir Elsa tanpa embel-embel nafsu semata, karena apa yang ia lakukan adalah bentuk dari cinta tulusnya untuk Elsa.


Dalam keheningan malam hanya decapan ciuman merekalah yang terdengar yang berbaur dengan nafas yang sama-sama terengah ketika ciuman itu berhenti sesaat, kemudian mereka berdua pun berciuman kembali dengan jauh lebih liar dari sebelumnya, hingga dengan seiring gairah yang sama-sama memuncak mereka berdua pun akhirnya melepaskan pakaian mereka masing-masing hingga tak ada sehelai benangpun yang membungkus tubuh mereka.


Elsa menggeleng kuat, lalu ia pun menjerit-jerit histeris seraya mengacak-ngacak rambutnya frustasi tatkala cuplikan menyakitkan itu masih sangat begitu jelas terekam di ingatan kepalanya.


"Aaaaarrgggghhh … Bagaimana bisa aku melupakan kekejian yang pernah ku alami selama ini? Bagaimana, Tuhan agar aku bisa melupakan semuanya? Aku ingin mati saja! Aku ingin mati, hahahaha …" Elsa menjerit-jerit seraya tertawa terbahak-bahak lalu ia pun bangkit dari posisinya.


Elsa kembali meneruskan langkahnya dengan tatapan mata lemah dan kosong, bahkan ia pun sampai muntah-muntah berulang kali. Elsa tertawa lagi bak perempuan yang sudah kehilangan kewarasan sampai akhirnya tubuhnya pun lunglai dan ia tak sadarkan diri.

__ADS_1


Brukk!


__ADS_2