Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 53


__ADS_3

Dua tahun kemudian seorang polisi membuka kunci teralis besi, memanggil nama Alden yang sedang terduduk di pojok jeruji hingga membuat sang empunya tersadar karena namanya dipanggil. Alden bangkit berdiri dengan tatapan bingung karena setengah mengantuk yang diikuti dengan teman-teman satu selnya yang ikut berdiri.


"Ada apa, Pak?" tanya Alden dengan tatapan mata sayu.


"Anda bebas, silahkan segera bersiap-siap." jawab Pak Polisi.


Gleg!


Alden menelan ludah dengan susah payah, wajahnya yang semula murung kini berubah antusias. Terlebih semua teman-temannya langsung bersorak heboh lalu memeluk Alden dengan hangat. Semenjak Alden berhasil menaklukan Wawan semua para tahanan tunduk dan hormat padanya. Sementara Wawan yang tengah duduk di ujung sana terlihat tersenyum kecut seolah tak suka dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Si kunyuk yang satu itu," gumam Wawan dengan gigi bergemeletuk benci.


"Wah selamat bos, kau sekarang bebas. Horeeee …" sorak Jojo yang di ikuti sahutan-sahutan yang lain tanda pendukung suasana.


"Aku tak percaya, aku bisa bebas secepat ini." gumam Alden begitu sumringah.


"Dua tahun adalah waktu yang lama, bos." koreksi salah satu napi seraya terkekeh, sementara Alden hanya tersenyum kecil.


"Mari!" seru Pak Polisi yang membuat Alden mengangguk.


"Baik, Pak." sahut Alden patuh dan juga sudah tak sabar.


"Bos, semoga kami semua bisa menyusulmu. Dan semoga di luar sana kita bisa bertemu lagi. Kami senang bertemu denganmu dan selama dua tahun ini, kita saling mengenal ternyata kau memang orang baik." puji yang lain hingga membuat Alden tersenyum sendu mendengarnya, seolah ia merasa sangat terharu karena mendapatkan teman yang begitu solid padanya.


"Akan aku doakan semoga kalian bisa menyusulku. Berkelakuan baik lah selama kalian disini agar masa tahanan kalian berkurang." saran Alden kemudian langsung disambut pelukan hangat oleh semua temannya.


"Terima Kasih," balas mereka setelah pelukan mereka terlepas satu persatu.


"Heh! Dan kau kutukupret yang sedang duduk melamun disana jangan kau mengganggu semua teman-temanku di sini! Kalau kau macam-macam kau akan tahu akibatnya!" ancam Alden pada Wawan yang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Pulanglah, aku muak melihatmu!" Wawan mengusir Alden dengan nada sengit.


"Tentu saja aku akan pulang, semoga harimu menyenangkan." ledek Alden pada Wawan lalu setelah itu pun ia segera bergegas dengan senyuman yang tak pernah berhenti karena ia tak sabar untuk melanjutkan semua misinya yang sempat tertunda.


Sel tahanan kembali dikunci, sementara Pak Polisi mengikuti langkah Alden dari belakang.


"Hati-hati dijalan!" seru Jojo lantang dari dalam sana, hingga membuat Alden menoleh untuk sesaat seraya melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan  yang disertai dengan seulas senyuman.


Alden meneruskan langkahnya, hingga kini ia sudah meninggalkan gedung kantor polisi, ia bisa merasakan rasa bahagia yang tiada terperi karena kini ia sudah benar-benar menghirup udara bebas, satu bahunya mencangklong backpack serta bibirnya terkembang begitu lebar dengan wajahnya yang ikut memancarkan sinar.

__ADS_1


Alden kembali bernapas lega, karena selama ia berada di sel tahanan ia sama sekali tak membuang waktu untuk berkelahi ataupun menjadi jagoan. Ia sangat begitu rajin mengikuti organisasi yang dibentuk, serta rajin bekerja sesuai perintah, dan tentunya selama di penjara ia selalu berkelakuan baik. Sehingga mungkin pihak berwajib memberi nilai dan sebagai bentuk apresiasi maka masa tahanannya dikurangi, hingga selesailah masa tahanannya.


Hatinya begitu menggebu menahan rindu, darahnya berdesir tatkala ia mengingat wajah Elsa yang sudah lama tak pernah berjumpa. Semoga saja perempuan yang selama ini ada didalam hatinya baik-baik saja dimanapun ia berada, itulah do'anya di sepanjang waktu.


"Apakah Elsa masih ada di mansion Budi?" Alden bertanya pada dirinya sendiri. "Semoga kau baik-baik saja, El." harapnya dengan raut wajah sedih.


Alden kini berjalan cukup jauh hingga tak terasa ia berada di pinggiran jalan Ibukota. Terik matahari cukup menyilaukan hingga rasa dahaga menyerang, segera ia membeli air mineral yang dijual tukang asongan yang berlalu lalang, memberi uang lebih hingga bocah penjual asongan sangat sumringah dan berkali-kali mengucapkan terimakasih. Alden merasa iba jika melihat anak kecil yang sudah mencari nafkah dengan memutus pendidikan, hingga perasaan sensitifnya selalu hadir dan selalu ingin berbuat baik pada mereka yang kekurangan.


Setelah itu, ia pun kembali melanjutkan langkah untuk sekedar beristirahat sejenak di kursi taman trotoar, kemudian membuka air kemasan mineral dan diteguknya sampai tandas. Ternyata ia berjalan sudah cukup jauh hingga rasa lelah kini menyerangnya.


Dan saat ia mengalihkan pandangannya ke samping, seketika saja sepasang matanya terbelalak seolah ia melihat sesuatu yang begitu mengejutkannya. Seorang gadis berjalan dengan tongkat serta bajunya yang compang-camping dan terlihat kumuh, lusuh, kurus dan tak terurus. Namun netranya bukan fokus pada penampilannya, melainkan ia begitu terkejut setelah melihat rupanya. Sosok yang selama ini begitu ia rindukan, apakah ia tak salah lihat?


Sepasang mata gadis itu terlihat sayu dan juga bengkak di beberapa bagian wajahnya. Hingga membuat dadanya berdesir khawatir, ia memiliki firasat tentang gadis yang dilihatnya sekarang, meskipun wajahnya sangatlah kotor. Maka, ia pun segera bangkit dan langsung menghampiri gadis itu dengan berlari kecil dan perasaan yang campur aduk.


"Hai, Nona? Apa kau baik-baik saja? Apa kau perlu bantuan?" sambut Alden mengutarakan maksud hatinya, hingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya mendadak.


Tiada henti Alden menelusuri rupa dari gadis itu dengan seksama, seolah ia tak ingin melewatkan sesuatu yang membuat hatinya merasa ganjal.


Gadis itu seperti berusaha untuk menelisik suara yang ia dengar, gestur dari gadis itu membuat Alden terkejut karena tampaknya gadis itu menunjukan gestur seperti gadis buta, terlebih dengan tongkat di tangannya. Dengan penampilan gadis itu yang terlihat lusuh, tentu membuat Alden tidak bisa menerka apakah gadis itu Elsa atau bukan. Namun ada beberapa yang membuatnya mengenali gadis itu, terutama saat gadis itu mulai membuka suara.


"Aku bisa melakukannya sendiri, jangan kau anggap karena aku buta kau bisa meremehkanku!" sungutnya yang langsung marah, seolah ia sama sekali tak menyukai bantuan dari Alden–pria yang ingin ia hindari.


"Lebih baik kau menyingkir! Kau pasti orang jahat!" tuduhnya langsung yang membuat Alden mengernyit, sepertinya gadis ini mengalami trauma berat karena hal itu bisa dilihat dari cara ia berkata-kata dan juga dari cara bagaimana ia menghindar secara perlahan.


"Aku sama sekali tidak berniat jahat padamu, aku hanya menawarkan bantuan." Alden  berusaha untuk meyakinkan gadis itu, namun gadis itu malah berdecih.


"Aku tak perlu bantuanmu! Lebih baik kau segera menyingkir dasar bodoh! Jangan sampai aku memukul bokongmu dengan tongkat di tanganku ini!" seru gadis itu mengancam kemudian ia pun langsung melengos pergi begitu saja.


Alden merasakan ikatan batin yang kuat, ia tak bisa mengelak bahwa hatinya merasa tak asing dengan gadis itu. Hingga di sela itu Alden pun kembali mengejar gadis itu yang berjalan dengan sedikit terpincang-pincang, hingga membuat Alden bisa menyusulnya dengan cepat.


Namun langkah Alden terhenti seketika tanpa ada niatan untuk menghalangi jalan gadis itu lagi, tapi percayalah ia punya ide cemerlang untuk memancing gadis itu.


"Elsa?!" teriak Alden memanggil nama gadis itu.


Jika gadis itu merasa terpanggil itu berarti benar, bahwa gadis itu adalah Elsa.


Gadis itu memang benar mendengar pria itu memanggil sebuah nama, sejujurnya langkahnya ingin berhenti namun ada sesuatu yang mendorongnya untuk tetap meneruskan langkah, meskipun hati tak bisa dibohongi kalau sebenarnya ia sangat begitu merindukannya.


"Alden," sebut Elsa serupa lirihan, dengan kedua bola matanya yang kini berselimut lapisan bening yang siap jatuh membasahi pipi.

__ADS_1


"Elsa?! Apa kau Elsa?!" panggil Alden lagi dan kali ini volume suaranya naik satu oktaf lagi, dan entah mengapa seketika saja gadis itu menghentikan langkahnya.


"Kenapa kau tahu nama ku, hah?! Orang jahat mana yang menyuruhmu untuk memangsaku lagi, hah?!" seru gadis itu yang ternyata memang Elsa, ia membalikan badan dengan air mata yang berlinangan.


Deg!


Seketika saja Alden langsung terperangah dibuatnya. Apakah ia tak salah dengar? Gadis yang sekarang ada di depannya adalah Elsa? Gadis yang selama ini ia rindukan? Alden menghampiri Elsa dengan setengah berlari dengan nafas terengah lalu ia kembali membuka suara.


"El, apa kau masih bisa mengingat suara ku? Mustahil jika kau melupakannya." Alden bertanya dengan bibir gemetar, seraya menatap manik mata Elsa yang membiru.


"Aku tak ingat siapapun! Karena semua orang bagiku adalah penjahat!" sungutnya sarkas sambil menangis tanpa suara.


"Elsa," sebut Alden yang tak bisa menahan rasa rindu dan penuh rasa bersalahnya pada Elsa, hingga dengan cepat ia pun langsung berhambur memeluk tubuh Elsa dengan erat seolah ia tak ingin kehilangannya lagi.


"Lepas! Apa-apaan ini, hah?! Lepas!" berontak Elsa menjerit-jerit.


"El," sebut Alden dengan lirih setelah pelikan itu terlepas. "Apa kau sudah mengetahui semuanya? Semua kebenaran yang selama ini kusembunyikan?!" tanya Alden mulai resah, gelisah dan semuanya campur aduk. Alden benar-benar tak mengira bahwa sebelum ia menebus dosanya ternyata kini Elsa memang benar-benar sudah mengetahui sebuah kebenaran bahwa ia lah pelaku pembunuhan Ayahnya dan juga yang telah membuatnya buta seperti ini.


"Kau bohong! Kau pembohong besar!" caci Elsa dengan amarah yang menggebu seraya memukul dada Alden berulang kali seraya menangis sesegukan.


"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf padamu, El." tangis Alden pun pecah saat itu juga dengan ia yang kembali berhambur memeluk tubuh Elsa dengan kuat. "Ampuni aku, ampuni aku, El." pinta Alden diantara isak tangisnya.


Elsa langsung melepaskan pelukan Alden seketika dengan ekspresi wajah yang entah sedih, terharu, atau rindu dan mungkin bercampur dengan marah yang menjadi satu. "Kenapa kau baru kembali sekarang? Kau kemana saja?! Aku mencarimu, aku merindukanmu! Kau bilang kau akan melindungiku, menjagaku dan mempertemukan aku dengan pembunuh Ayahku dan juga pelaku yang sudah membuatku buta! Tapi kenapa kau baru kembali?! Kau habis dari mana, hah?! Kau habis dari mana selama dua tahun ini?!" cerocos Elsa mengeluarkan seluruh uneg-unegnya seraya memukul dada Alden tanpa henti.


Seketika saja Alden langsung terpaku, sungguh jadi Elsa belum tahu? Apa Willy sama sekali tak mengatakan apapun pada Elsa mengenai siapa pelaku dalam tragedi kecelakaan mobil itu?


"Apa? Jadi selama ini kau menungguku?" desis Alden menatap Elsa dengan tatapan tak percaya.


Elsa yang semula memukul tubuh Alden kini ia menghentikannya, kelopak matanya berkedip seiring dengan air matanya yang ikut berlinang.


"K-kau?" sebut Alden dengan nada bergetar seiring isak tangisannya yang kembali lolos dari bibirnya.


Tanpa kata, Alden pun langsung kembali memeluk Elsa dalam dekapan hangat yang berbaur dengan penyesalan yang teramat dalam dan tak berkesudahan.


"El, aku minta maaf." desis Alden dengan suara parau, menangis dan terisak di atas pundak Elsa yang kini sedang dipeluk olehnya.


Tak bisa di pungkiri kerinduan begitu menyakitkan, hingga momen pertemuan tak terduga ini membuat keduanya tumpah oleh air mata. Seketika saja tubuh Elsa langsung meluruh, seolah lututnya sangat lemas dan tak sanggup untuk berdiri tegak lagi, begitupun dengan Alden yang merasakan hal yang sama. Mereka berdua menangis dalam pelukan mencurahkan segala emosi kerinduan yang begitu menggebu.


"Al, aku sangat merindukanmu. Jangan kau tinggalkan aku lagi." desis Elsa dengan suara paraunya.

__ADS_1


"Aku berjanji takkan meninggalkanmu," ikrar Alden bersungguh-sungguh.


__ADS_2