Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 61


__ADS_3

"Seorang wanita muda terlihat mengamuk di salah satu pusat perbelanjaan. Selain merusak beberapa fasilitas, wanita itu pun memberantakkan semua barang-barang yang ada, wanita itu pun berontak dan berteriak-teriak hingga membuat pengunjung ketakutan. Kini wanita itu pun sudah dibawa oleh pihak yang berwenang untuk menindak lanjuti peristiwa tersebut. Sampai akhirnya pihak berwenang pun telah memeriksa dan mengkonfirmasi bahwa wanita muda tersebut diduga mengalami gangguan jiwa."


"Elsa?" kejut Bramantyo dengan sepasang matanya membeliak dan juga bibir bergetar setelah ia melihat cuplikan penampakan Elsa di layar televisi.


Bramantyo menggeleng kuat ia tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, ia berpikir tidak mungkin bahwa Elsa telah mengalami gangguan jiwa. Seminggu ini Elsa menghilang dan Bramantyo telah mengerahkan orang untuk mencarinya namun Elsa tak kunjung ditemukan. Sekalinya ditemukan Bramantyo harus dibuat kaget dengan berita tersebut, entah apa yang ia akan katakan pada Alden mengenai kondisi Elsa sekarang. Terlebih setelah kondisi Alden yang telah membaik, ia pun langsung ditangkap polisi saat itu. Alden telah menyerahkan diri dan mengakui semua kejahatan yang pernah diperbuatnya selama ini.


Bagi Bramantyo semua ini bukanlah hal yang mudah, ia baru saja bertemu dengan putranya tapi secepat itu pula ia harus kembali berpisah dengan sang putra. Bramantyo hanya bisa menangis sesegukan meratapi semua kesedihan yang ia alami. Orang tua mana yang tak merasa sedih dan tersiksa setelah mengetahui bahwa putra satu-satunya itu mengalami segudang masalah.


Bramantyo masih ingat dimana hari itu Alden di jemput oleh pihak kepolisian setelah ia baru satu hari pulih dan pulang dari rumah sakit. Alden bersimpuh di kakinya, meminta maaf dan menangis dengan penuh sesal yang tak berkesudahan. Alden mencium kakinya dengan setulus mungkin lalu memeluk tubuhnya dan berulang kali ia meminta maaf dan juga menitip pesan untuk mencarikan Elsa dan menjaga janin yang ada di dalam kandungannya.

__ADS_1


Saat itu mereka menangis sambil berpelukan, hingga detik berikutnya kedua tangan Alden pun langsung di borgol lalu di boyong oleh kedua polisi menuju mobil patroli. Melihat pemandangan tersebut tentu saja membuat Bramantyo harus menghela nafas berat seraya menahan sesak, hingga ia harus pasrah untuk kehilangan putra satu-satunya itu.


Mengingat hal itu tentu membuat Bramantyo teramat sakit hingga membuatnya menangis sesegukan, di usia senjanya yang seharusnya hidup bahagia dan tentram kini malah harus berakhir pelik seperti ini. Meskipun demikian, ia harus tetap bisa menerima keadaan dan harus tetap menjalani hidup dengan baik meskipun semuanya terasa sangat begitu buruk.


*****


Sampai akhirnya satu jam setengah Bramantyo telah sampai di lokasi tersebut dan sang perawat pun membantunya untuk menaiki kursi roda tak lupa sang supir pun membantunya. Dan setelah itu sang perawat pun membantu mendorong kursi roda Bramantyo lalu mereka pun bersama-sama menuju rumah sakit jiwa untuk menemui kepala yayasan tersebut.


"Diduga Nona Elsa mengalami trauma psikologis hingga membuatnya kehilangan kendali seperti ini, saya selaku psikolog klinis menghimbau agar Bapak tidak menemui pasien. Apalagi sekarang kondisi jiwanya benar-benar sangat memprihatinkan dan juga berbahaya. Nona Elsa sering mengamuk dan melukai dirinya sendiri, maka kami selaku dokter yang bertanggung jawab dalam hal ini sedang memberikan penanganan yang terbaik untuk Nona Elsa. Maka, saya harap Bapak bisa mengerti mengapa saya melarang Bapak untuk menemui pasien. Saya berjanji kalau Nona Elsa sudah jauh lebih baik saya bisa membantu Bapak untuk bertemu dengan Nona Elsa." papar sang dokter psikolog klinis menjelaskan secara rinci, setelah Bramantyo datang ke ruangannya agar ia bisa bertemu dengan Elsa.

__ADS_1


"Iya, dok. Saya mengerti, hanya saja saya semakin panik sekaligus khawatir dengan kondisi Elsa, terlebih lagi dia sedang mengandung. Banyak hal yang saya takutkan, saya takut Elsa kembali melakukan percobaan bunuh diri dan melukai janinnya." Bramantyo mengungkapkan uneg-unegnya dengan bersimbah air mata.


"Kami akan selalu mengawasi dan melakukan tindakan yang terbaik untuk Nona Elsa dan juga janin yang ada dalam kandungannya. Jadi saya harap Bapak tidak perlu khawatir, kami akan bekerja keras untuk hal ini." ikrar sang dokter bersungguh-sungguh seraya mengulas senyuman untuk menenangkan Bramantyo yang sedang kalut.


Bramantyo mengangguk lemah seraya membalas senyuman dengan senyuman sendu dan juga tatapan matanya yang nanar. Jujur, sampai detik ini pun Bramantyo sama sekali tak bisa berpikir.


"Baik, dok. Terimakasih." ucap Bramantyo akhirnya dengan suara serak.


"Baik, sama-sama ya, Bapak." kata sang dokter dengan sopan.

__ADS_1


__ADS_2