
Elsa masih duduk di tepi ranjang dan masih menangis tanpa suara, berharap teman-temannya tidak mendengar bahwa ia sedang menangis sekarang. Dan sementara teman-temannya yang tadi sore datang berkunjung dan menginap, sekarang mereka sedang tidur di bawah sana setelah baru saja selesai menonton.
Elsa meraih tongkat di sampingnya dan ia segera bangun dari posisinya. Berjalan menggunakan tongkat sebagai pemandu. Tongkat di tangannya berfungsi sebagai petunjuk tangan tunanetra dan memungkinkannya untuk bepergian secara mandiri dan aman. Berbeda dengan teknik pendamping waspada yang membuat penyandang tunanetra bergantung pada orang yang dapat melihat, sementara dengan teknik tongkat penyandang tunanetra dapat melakukan perjalanan secara mandiri.
Sangat menyedihkan, tapi sekarang semuanya telah terjadi. Elsa telah kehilangan penglihatannya dan kehilangan perisai pelindungnya. Elsa berjalan mendekati jendela kaca, menyentuh jendela yang terasa sangat dingin, bibirnya bergetar sementara air matanya semakin deras.
"Ayah," panggil Elsa lembut.
Ia sangat merindukan ayahnya, kenangan terakhir kali mereka bersama begitu indah. Saat keduanya tertawa bersama di dalam mobil, ia benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi meski, ada Willy dan teman-temannya yang selalu menguatkannya. Namun, tanpa sosok sang ayah semua itu terasa hampa. Bagaimanapun, ayah adalah segalanya dan tidak ada yang bisa menggantikannya.
"Haruskah aku juga ikut dengan Ayah?" Elsa berbicara pada dirinya sendiri dengan nada putus asa.
"Elsa?" panggil seseorang dengan lembut sambil menepuk pundaknya yang membuatnya sedikit terkejut.
"Eh, Michelle?" Elsa mengenali suara itu dan ia pun segera menyeka air matanya.
"Kau terbangun?" tanya Elsa sambil menghadap ke sumber suara dan tak lupa tersenyum.
Michelle langsung memeluk Elsa dengan sangat tulus, ia mengerti dengan kondisi Elsa saat ini. Sementara itu, Elsa kembali menangis seolah pelukan Michelle benar-benar berpengaruh besar padanya.
"Aku yakin kau kuat Elsa, aku mengerti perasaanmu. Pasti sangat sulit menjadi dirimu tapi kehidupan harus terus berjalan. Jika kau terus seperti ini, ayahmu pasti akan bersedih di langit sana." ucap Michelle sambil melepaskan pelukan Elsa perlahan dan ibu jarinya terulur untuk menghapus air mata Elsa yang mengalir deras.
Elsa mengangguk lemah. "Tapi aku belum bisa menerima kenyataan ini, apalagi sekarang aku buta. Aku ingin mati saja. Bolehkah aku memohon pada Tuhan, pasti Tuhan akan mengabulkan doa seorang manusia yang sedang bersedih."
"Berhenti, Elsa. Aku tidak mau mendengar kata-kata seperti itu." peluk Michelle lagi, membuat dada Elsa terasa sesak hingga membuatnya kembali menangis di pelukan Michelle.
"Ada apa dengan Elsa?" tanya teman lain yang sepertinya bangun juga.
Michelle melirik teman-temannya yang berada di belakangnya. "Mari kita peluk Elsa, kita sangat mencintai Elsa." instruksi Michelle kepada yang lain.
"Elsa," seketika saja ketiga temannya langsung bergegas memeluk Elsa dengan sayang, mendengar Elsa terus menangis membuat teman-temannya yang lain ikut menangis juga.
"Terima kasih teman-teman atas semua dukungan kalian untukku," kata Elsa terbata-bata di antara isak tangisnya.
*****
Mata Willy yang terbuka tidak bisa melihat dengan baik karena bengkak, ia tersentak kaget karena seseorang baru saja memercikkan air ke wajahnya. ia kelelahan dan tertidur.
"Bangun, kunyuk!" suara keras terdengar sambil menunjukkan senyum sinis.
__ADS_1
Willy berusaha meronta namun ikatan di tangan dan kakinya begitu kuat. Membuat Alden tertawa melihatnya seolah-olah apa yang dilihatnya sekarang adalah hiburan baginya. Kondisi Willy sangat memprihatinkan, wajahnya babak belur, tulang pipinya memar, bibirnya berdarah, pelipis salah satu matanya membiru, jangan ditanya seberapa sakit yang Willy rasakan.
"Bajingan!" seru Willy sambil menggerakan tubuhnya dengan sekuat tenaga, tapi sayang belenggu itu tidak semudah itu untuk dilepaskan.
"Tidak semudah itu," kata Alden santai.
Willy menggeram marah. "Apa yang kau inginkan, hah?!"
Alden terkekeh. "Mudah saja," Alden menatap Willy dengan tatapan misterius.
"Katakan!" bentak Willy.
"Aku yakin kau juga masih memiliki video itu, dan kebetulan sekali kita bertemu dan kau kalah olehku. Tuanku pasti sangat senang dengan apa yang aku dapatkan sekarang."
Willy terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara. "T-tapi video apa?" tanya Willy pura-pura tidak mengerti.
Alden tersenyum kecil mendengarnya. "Jangan pura-pura bodoh," cibirnya.
"Aku tidak mengerti maksudmu, bajingan!"
Bug!
"Cepat atau kau akan tahu konsekuensinya!" Alden mengancam, sementara matanya melotot marah.
"Tapi video apa?!" Willy tersentak lagi pura-pura tidak tahu.
Plak!
Plak!
Tamparan keras kiri kanan berhasil mengenai pipinya, itu semua karena Alden sangat marah karena Willy memang tidak jujur padanya. Sekali lagi, sudut bibirnya berdarah. Willy tersenyum kecut dan menatap Alden dengan penuh kebencian.
"Apa kode ponselmu?" tanya Alden sambil berdiri sambil meraih sesuatu di balik saku bagian dalam jaketnya.
Gigi Willy gemeretak saat Alden mengeluarkan ponsel miliknya yang kini berpindah tangan.
"Brengsek," umpat Willy marah.
"Katakan padaku apa kode ponselmu!" paksa Alden sambil mengangkat kerah baju Willy dengan kasar.
__ADS_1
Willy tersenyum merendahkan. "Aish, kode ponselku ya?"
"Katakan!"
"R1, R2, L1, X---"
"Jangan macam-macam denganku!" lanjut Alden cepat. "Wah sepertinya aku harus memberimu pelajaran kali ini," Alden menyeringai lalu mengelilingi Willy yang sedang duduk di kursi dengan tangan dan kaki masih terikat erat.
Seketika Alden menendang kursi Willy dengan keras hingga membuat Willy terjatuh dalam sekali benturan. Willy meringis kesakitan saat wajahnya membentur ubin dengan keras.
"Apakah itu belum cukup?" tanya Alden sambil tertawa terbahak-bahak.
"Brengsek," teriak Willy tak terima dengan perlakuan Alden padanya.
Bug!
Tak berhenti sampai di situ Alden langsung menginjak pipi Willy begitu keras hingga ia merasakan pipinya berdenyut begitu sakit.
"Aw!" Willy mengerang kesakitan.
"Apa kau menginginkannya lagi?" tawar Alden dengan tubuhnya gemetar karena tertawa. "Katakan padaku apa kode ponselmu, idiot!"
"Tidak akan!"
"Yah, sepertinya kau mencoba bermain denganku, right?"
"Oke, pertama ponselnya tidak pakai kode. Pakai sidik jari." kata Willy dengan lantang.
"Sidik jari?" ulang Alden langsung tertawa. "Oke,"
Alden langsung meraih jari Willy dan Alden tersenyum lebar karena akhirnya ponsel itu bisa dibuka. Segera jemarinya mengutak-atik ponsel untuk menemukan sesuatu yang ia incar.
"Mana videonya?!" tanya Alden sambil mengerang.
Willy tersenyum miring mendengarnya. "Bukankah itu ada?"
"Jangan main-main atau aku akan membunuhmu sekarang!" teriak Alden dengan marah.
"Jika kau membunuhku dengan cepat, kau tidak akan pernah menemukan videonya." Willy tersenyum sinis karena ia telah memikirkan rencana liciknya.
__ADS_1
"Bajingan!" Alden mengutuk dengan marah.