Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 29


__ADS_3

Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka setelah Elsa baru saja selesai mandi untuk yang kesekian kalinya, ia berjalan menggunakan tongkat dan tubuhnya kini di balut bathrobe dan rambut panjangnya basah karena ia baru saja keramas. Dan semua itu tidak terlepas dari apa yang telah Jefri perbuat padanya, tetap saja Elsa masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Betapa ia sangat merasa gila dan ia sudah kehilangan kewarasannya.


Tubuh Elsa seketika saja langsung luruh ke lantai, ia mulai memeluk tubuhnya sendiri lalu seketika saja ia langsung menangis dan menjerit. Menjambak rambutnya sendiri, berteriak histeris, memukul-mukul badannya serta kakinya dan meronta-ronta seperti bayi yang sedang kesakitan.


Berkali-kali ia tidak bisa menepis bayang-bayang terburuknya yang baru saja ia lalui. Ia merasa bahwa ia sudah kehilangan segalanya dan rasanya ia ingin segera mengakhiri hidupnya yang penuh penderitaan ini.


Cuplikan itu berputar dimana saat ia berada di ruangan kerja pria tadi--Jefry.


Betapa Elsa sangat begitu murka karena perlakuan Jefry padanya. Seketika saja Elsa langsung meludah tepat di wajah Jefri dan apa yang ia lakukan bukanlah tanpa alasan. Mendapati sikap Elsa yang dianggap oleh Jefry tidak sopan, tentu saja hal itu membuat amarahnya kembali menggebu. Seketika saja Jefri langsung mengerang marah dan Ela bisa merasakan amarah Jefry lewat cekikannya yang begitu kuat, tapi semua itu tidak bertahan lama karena Jefry langsung melepaskan cekikannya.


"Kau selalu membuatku marah dan kau berhak mendapatkan hukuman dariku!" Jefry berucap marah dan seketika saja Elsa merasakan tubuhnya langsung digendong ala bridal style oleh pria itu, hingga membuat Elsa berteriak histeris dan juga berusaha untuk berontak sekuat tenaga.


"Aaa...Kau mau apa, hah?!" sungut Elsa sengit seraya memukul dada Jefry kasar.


Dan Jefri pun langsung membawa Elsa keluar ruangan dan ia pun membawanya ke lantai atas dengan menaiki anak tangga. Elsa tak tahu bahwa ia akan dibawa kemana. Hingga tibalah Jefry membawa Elsa masuk kedalam kamar sekapan, kamar itu cukup luas dan juga mewah. Seketika saja Elsa merasakan tubuhnya dihempaskan pada kasur yang sangat empuk.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan, brengsek?!" umpat Elsa yang hendak bangkut dari ranjang, namun dengan cepat Jefri langsung menindihnya.


Tidak bisa, Elsa tidak bisa membiarkan pria itu mencabuli dirinya. Sekuat tenaga ia berteriak dan berontak namun ia tak bisa melakukan apa-apa karena kedua tangannya masih terikat di belakang punggung, dan bahkan tenaga Jefri jauh lebih kuat darinya hingga ia tak bisa melakukan gerakan untuk membela diri. Hanya air mata yang bisa menjelaskan bahwa ia sedang ketakutan, sementara Jefry yang melihat Elsa menderita hanya bisa tertawa.


"Lepaskan aku pria ******!" seru Elsa berteriak histeris.


Dengan refleks Elsa langsung menendang perut Jefri hingga ia meringis kesakitan, namun tendangan itu sama sekali tidak membuat posisi Jefry berubah dan malah ia semakin menghimpit tubuhnya.


"Dasar gadis kurang ajar!" seru Jefri berang.


Plak!


Lalu Elsa mulai merasakan jemari pria itu menyentuh dagunya, sementara Jefri mengulas senyuman miring. Bibir Elsa bergetar, air matanya tak berhenti berlinang sungguh ia sangat begitu ketakutan. Jemari Jefri menelusuri setiap bibir Elsa sementara ia merasakan nafas Jefri yang hangat dan terasa berat menerpa wajahnya dan detik berikutnya ia pun merasakan kecupan itu mendarat di bibirnya.


"Jangan, jangan.... aku mohon," Elsa berontak dan menggeleng sambil menangis setelah kecupan itu terlepas, sementara Jefry malah tertawa dan mengabaikannya.


Jemari Jefry kini teralih pada helaian rambut Elsa yang menutupi sebagian wajahnya lalu ia menyelipkan helaian rambut itu di sisi telinganya, hingga dengan leluasa Jefry bisa memperhatikan kecantikan yang dimiliki oleh Elsa hingga ia begitu terpikat dengan parasnya. Dengan perlahan Jefry menelan ludahnya seakan-akan hasratnya kini sudah menggebu dan menjelma dengan nafsu yang semakin menggila.

__ADS_1


Suara sesegukan semakin terdengar jelas namun Jefry tak peduli itu dan ia lebih memilih untuk mengabaikannya, dan kini bibirnya merayap melakukan kecupan di kelopak mata Elsa. Kecupan seringan bulu hingga membuat Elsa bergetar oleh antisipasi hingga perlahan bibir Jefry semakin turun lalu singgah untuk memberikan kecupan yang hampir mirip dengan sentuhan di ujung hidungnya.


Elsa hanya bisa meratapi nasib, betapa pria itu telah merenggut kebahagiaannya. Kini ia bagai gadis yang sungguh tak memiliki daya dan upaya, maka dengan terpaksa ia hanya bisa pasrah dengan apa yang sedang ia alami saat ini. Elsa menghela napas panjang, sementara air mata semakin mengucur deras. Lalu bibir Jefri kini bergerak turun membayang beberapa senti di atas bibirnya. Rahang Elsa mengeras tak terima, serta giginya bergemeletuk benci saat ia merasakan deru nafas yang sedang memburu dari si pria ****** itu.


Hingga dengan cepat Jefri langsung menyesap kuat bibir bawah milik Elsa hingga lututnya menekuk. Jefry menciumnya rakus dan perlahan tangannya mulai bergereliya, membuka resleting mini dress dan aksi itu pun dimulai. Jefry sangat begitu bersemangat melakukannya, meremas bongkahan daging yang kini terpangpang sementara Elsa berteriak protes betapa ia sangat jijik karena pria ****** itu menyentuh tubuhnya.


Hingga terdengarlah denting ikat pinggang dan tarikan resleting lalu tangan Jeffry menyingkap rok dress milik Elsa. Dan pada detik itu, Elsa mulai merasakan sesuatu yang keras sedang berusaha menemukannya di bawah sana. Rasa nyeri, dan juga sakit hati, serta awal kehancuran bercampur menjadi satu. Elsa berteriak histeris mengisi ruangan sementara pria ****** itu malah mendesah kenikmatan. Brengsek!


"Aaaaaaaaaaaaaa.... Ahhhhhhhhhhh tolong!" teriak Elsa histeris bercampur tangisan yang menyayat hati tatakala mahkotanya direnggut sudah, sementara pria ****** itu malah tertawa seolah ia adalah pemenangnya karena telah berhasil mengoyak gadis perawan yang pertama kalinya ia dapatkan.


Mengingat kejadian itu Elsa benar-benar sudah kehilangan gairah hidup, air matanya semakin deras sementara kini tubuhnya sudah terkulai di ubin. Ia menangis tak berhenti, matanya semakin memerah dan juga sembab. Rasanya ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri, berlipat-lipat sudah derita yang ia alami sekarang. Kini ia sudah merasa kotor, apalagi yang telah merenggut mahkotanya adalah pria yang sama sekali tidak ia cintai, maka rasanya terasa sangat begitu menjijikan. Ia merasa seperti gadis murahan, ia menangis lagi namun kali ini tanpa suara lalu ia pun meringkuk memeluk tubuhnya sendiri seolah-olah ia sangat begitu kedinginan.


Hingga detik itu Elsa berusaha kuat, ia menghapus cepat air matanya lalu beringsut dan bangkit berdiri. Elsa mulai mendekati jendela yang terbuka lalu berjalan memakai insting, dari atas bangunan ini ia bisa menerka ketinggian dari menara mansion. Dan tiba-tiba pikiran untuk kabur didapatinya dan apakah ia bisa turun dari atas sini?


Tidak ingin berlama-lama untuk berpikir maka Elsa pun berbalik dan segera berjalan cepat dengan tongkat lalu mengunci pintu, segera Elsa menghampiri ranjang, menarik sprei, gorden, dan juga selimut untuk dijadikan satu ikatan panjang. Setelah mengikatnya dengan ikat simpul yang kuat ia pun segera membuka pintu balkon menurunkan sprei itu hingga menjulur ke lantai dasar tanah. Setelah selesai ia pun langsung mengikatnya di teralis besi pagar dengan kuat. Ia tahu bahwa tadi Jefri membawanya menaiki tangga hingga ia mengerti posisinya berada di lantai dua. Maka dari itu, ini adalah satu-satunya cara. Napasnya semakin menderu, ia tidak berhenti berdo'a semoga ia bisa melarikan diri dengan aman dan juga selamat.


Dengan perasaan yang bercampur was-was, Elsa segera melipat tongkat dan menyelipkannya di tali bathrobe lalu perlahan ia mulai turun melalui kain itu. Ia memegang kain itu sekuat tenaga dan berhati-hati untuk mendarat, hingga ia merasakan kakinya berpijak dan mendarat dengan selamat. Dan bahkan ia merasakan bahwa tidak ada satupun penjaga disana dan mungkin ini adalah awal keberuntungannya.

__ADS_1


"Ck..." berdecak. "Ya, sudah aku duga kau pasti akan melarikan diri. Tidak semudah itu kau pergi dariku El, baiklah sepertinya kau ingin dihukum lagi." Jefry berbicara sambil menatap monitor besar CCTV seraya tertawa ngakak yang kini mengisi ruangan kerja pribadinya. Ia tertawa saat ia melihat sosok Elsa yang terekam lewat CCTV ketika hendak kabur.


Naas mungkin belum saatnya Elsa mendapatkan keberuntungan itu.


__ADS_2