Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 52


__ADS_3

Dimalam yang sunyi dengan cahaya rembulan yang memantulkan sinar kini terlihat sosok Elsa yang tengah terduduk di atas kusen jendela. Pandangan matanya kosong sementara kedua tangannya sedang memeluk tubuhnya sendiri. Betapa ia sangat merindukan Alden dan juga memikirkan apa yang Willy katakan padanya siang tadi. Willy mengatakan bahwa ia menyukainya lalu setelah itu Willy pergi begitu saja. Semua terasa sangat sulit bagi Elsa karena ia sama sekali tak memiliki perasaan lebih pada Willy, karena selama ini ia hanya menganggap Willy sebagai keluarga dekat dan tidak lebih dari itu.


"Kau merindukannya sampai kau menangis seperti ini? Lalu bagaimana dengan aku yang merindukanmu saat kau kabur dari rumah saat itu?"


"Will, aku--"


"Jangan mudah percaya dengan seseorang apalagi kau baru mengenalnya."


"Tapi dia sangat baik dan--"


"Dan kau mudah terbuai!"


"Terbuai apa maksudmu, Will?"


"Lupakan saja apa kataku, tidak terlalu penting untuk dibahas!"


"Tapi kau marah 'kan? Aku tak mengerti kenapa kau marah seperti ini,"


"Ketahuilah aku tak menyukai kau memikirkan pria manapun ataupun merindukan pria manapun. Aku tak suka,"


"Tapi kenapa?"


"Karena aku menyukaimu, El!"


Sekarang perbincangan itu selalu saja terngiang-ngiang di telinga Elsa dan entah apa yang harus ia katakan pada Willy. Bagaimanapun ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, tidak mungkin ia harus mengatakan bahwa ia juga mencintainya tapi pada kenyataannya ia sama sekali tak memiliki perasaan itu. Dan tidak mungkin juga ia harus berterus-terang bahwa ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Willy. Ia takut akan melukai hati Willy dan ia takut Willy akan kecewa dengan jawaban yang ia berikan padanya.


Brakk!!


Seketika saja suara keras terdengar hingga membuat Elsa terperanjat kaget, suara dari luar seperti sebuah perkelahian hingga membuatnya memutuskan untuk mengecek keluar dan segera ia berjalan dengan insting tongkat.


Ceklek...


"Diam kalian semua! Jika kalian tidak ingin manusia serakah ini mati ditanganku!"


Setelah Elsa membuka pintu kamar ia bisa mendengar dengan jelas bagaimana Willy berseru keras. Ia sama sekali tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi.


Terlihatlah sosok Willy sedang memegang erat kedua tangan Budi sementara tangannya yang lain menodongkan senjata api tepat di kepala Budi yang tangannya sengaja dilingkarkan di bagian leher. Beberapa anak buahnya terlihat berantisipasi, sementara Budi terlihat masih begitu tenang dibalik wajahnya yang memar dan hidungnya yang bersimbah darah akibat hantaman yang telah dilakukan Willy. Meskipun kini Budi sadar bahwa ia sedang dalam bahaya karena kemarahan Willy, tapi ia berusaha untuk tetap gagah dalam gestur. Tampaknya sebuah rahasia besar Budi telah terbongkar hingga membuat Willy bertindak anarkis seperti ini.


"Kau pikir aku takut padamu?" Budi terlihat tersenyum remeh.

__ADS_1


"Diam!" teriak Willy berang.


"Bagaimana aku bisa diam kalau tindakanmu sungguh membuatku murka, kau sama sekali tidak tahu balas budi. Aku telah menyelamatkanmu dari kalajengking hitam, lalu membunuh Jefry untukmu dan juga membantu Elsa untuk tinggal disini. Tapi apa ini balasanmu, hah?" sindir Budi gelang-geleng kepala.


"Tapi kau manusia serakah! Kau mengambil semua apa yang Elsa punya. Harta dari Dirly kau jual begitu saja dan kau mendapatkan keuntungan, sementara kau melupakan satu fakta bahwa semua yang kau jual adalah hak Elsa! Apa kau sudah tak waras, hah?!" maki Willy dengan urat lehernya yang timbul akibat emosinya yang begitu menggebu.


Budi tersenyum sinis menanggapi. "Jangan pura-pura dungu, semua mafia dimanapun memang tak waras begitu juga dengan kau!" sungut Budi dengan sengit.


Willy berdecih. "Tapi tidak dengan cara menusuk seseorang dari belakang!" bentak Willy muak.


"Aku tidak peduli yang penting uang ku banyak!" kata Budi lalu tertawa puas. "Apa kau juga ingin mendapatkan bagian? Ah, rasanya kau sama sekali tidak membutuhkan itu, kau hanya menginginkan Esa saja 'kan? Gadis buta yang ingin kau setubuhi?"


"Brengsek!" berang Willy dengan gigi bergemeletuk.


"Lepaskan atau perempuan ini akan mati!"


Seketika saja Willy melihat Elsa sudah berada ditangan anak buah Budi dengan sebilah pisau yang dilingkarkan di lehernya. Dan tentu saja Willy yang melihat hal itu langsung berekspresi panik.


"Jangan, aku mohon lepaskan aku!" pinta Elsa ketakutan seraya berusaha berontak sebisa yang ia mampu.


"Lepaskan dia!" pinta Willy berteriak.


"Lepaskan dulu Bos kami!" katanya minta negosiasi dengan enteng.


Willy mencoba memikirkan sesuatu, ia tidak ingin terkecoh. Bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang sangat licik. Buktinya ia tak sadar dengan apa yang telah dilakukan Budi setelah menghabisi nyawa Jefry,  ia malah membawa berkas penting milik Dirly lalu sekarang semuanya terbongkar bahwa Budi telah menjual seluruh aset milik ayah Elsa yang seharusnya jatuh ke tangan putrinya, yang kini malah dijual habis tanpa sisa oleh Budi. Sayang sekali, Willy benar-benar kecolongan karena ia terlalu mempercayai Budi selama ini.


"Barter secara bersamaan dan tidak boleh ada yang curang!" sarkas Willy seraya waspada.


Anak buah Budi tersenyum miring, kemudian mulai berjalan mendekati Willy. Setelah itu secara bersamaan mereka melepas tawanan satu sama lain namun sayang sekali anak buah Budi curang, ia melepaskan Budi. Sementara mereka melepaskan Elsa seraya menggoreskan ujung runcing pisau itu tepat mengenai lehernya hingga terluka.


Srakkkkk...


Elsa terhempas dan pada detik itu pula, Willy langsung meraih tubuh Elsa dengan sigap. Elsa meringis kesakitan dengan kakinya yang mulai mengejang, sementara Willy mulai panik dan berusaha menekan sayatan di bagian leher Elsa yang merembes darah. Seketika saja punggung Willy langsung dihantam benda tumpul, hingga tubuh Elsa terhempas serta senjata Willy langsung terjatuh ke lantai.


Willy meringis kesakitan akibat punggungnya yang dihantam benda tumpul itu, hingga tubuhnya ikut meluruh ke lantai.


"Elsa bertahanlah!" Willy berteriak panik sementara Elsa berusaha menekan sayatan itu dengan telapak tangannya dengan diiringi jeritan.


"Ikat mereka!" perintah Budi berseru keras lalu tertawa lantang yang berekspresi licik.

__ADS_1


Seketika saja mereka memegangi kedua tangan Willy begitupun dengan tangan Elsa.


"Jangan lakukan apapun pada Elsa! Setidaknya obati dia dulu!" teriak Willy seraya berontak dan marah sementara tangisan Elsa yang bercampur rasa sakit semakin memekik semakin keras.


"Sakit! Tolong! Tolong!" Elsa meringis dengan rasa sakitnya yang tak tertahankan dengan suaranya yang mulai terasa tercekat.


Tanpa belas kasihan sedikitpun tangan Elsa langsung diraih oleh mereka kuat-kuat, hingga membuat Elsa berdiri secara paksa di atas kakinya yang mulai terasa lemah. Dan dengan sadisnya mereka menyeret Elsa dan membiarkan darah itu bertetesan di lantai.


Tiba-tiba saja pandangan Elsa berubah mengabur lalu pada detik itu ia pun langsung jatuh pingsan yang membuat Willy berteriak semakin panik seraya memanggil nama Elsa berulang kali.


"El?! El, bangun!" Willy berusaha untuk berontak, namun sayang sekali tenaga mereka jauh lebih kuat karena beberapa anak buah yang memegangnya.


"Bawa Elsa ke kamar ku!" perintah Budi lantang yang langsung disetujui anak buahnya.


Willy melotot karena terkejut mendengar perintah Budi, Willy benar-benar sangat panik dan khawatir dengan Elsa. Dan yang membuat Willy merasa heran adalah untuk apa Budi menyuruh anak buahnya membawa Elsa kedalam kamarnya? Apa yang akan ia lakukan?


"Jangan lakukan apapun pada Elsa! Tolong kau segera obati dia, jangan biarkan dia kehilangan banyak darah atau kau akan ku bunuh!" sentak Willy mengancam tak main-main, di sela tangisannya yang menyayat hati.


Seketika saja Budi langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ancaman Willy. Seolah apa yang ia dengar adalah lelucon semata.


"Kau pikir aku takut, hah?!" bentak Budi yang langsung menghajar rahang Willy dengan kasar, hingga membuat giginya patah dan mengeluarkan darah. "Justru aku yang akan membunuhmu! Kau sama sekali tidak tahu balas budi!"


Bugh!


Lagi, satu bogeman mendarat dengan sempurna tepat di perut Willy hingga ia berteriak kesakitan. Budi tertawa kembali, kemudian ia mencengkram kasar pipi Willy dengan sorot mata tajam, rahang mengeras serta gigi yang bergemeretak.


"Aku akan menikmati tubuh Elsa, gadis yang kau cintai selama ini, apa kau ingin ikut menyaksikannya? Apa kau ingin mendengar desah*an kami berdua yang berbaur dengan suara orang sekarat?" Budi tersenyum simpul lalu tertawa iblis, seraya melepas kasar cengkraman tangannya di pipi Willy.


Wajah Willy menyala, ia begitu marah mendengar ucapan tak senonoh bak iblis yang mengerikan yang baru saja keluar dari mulut Budi, hingga dengan refleks ia langsung meludahi wajah Budi dengan wajahnya yang garang.


"Cuihhhhhh.."


"Bangsat! Bawa dia ke gudang!" titah Budi berang seolah ia sudah menyiapkan sesuatu untuk Willy sebagai bentuk pelajaran dari yang telah ia lakukan padanya.


"Ayo, dungu!" anak buah Budi membawa Willy dengan paksa dan kasar sementara Willy terus berontak dan teriak minta dilepaskan.


"Lepaskan! Dengar jika kau melakukan sesuatu pada Elsa dan dia tak selamat, aku takan segan memotong rudalmu, dasar bajingan!" ancam Willy berteriak sementara Budi malah tersenyum sinis mendengar ancaman itu. Seolah ia tak mempedulikan apa kata Willy barusan.


"Siapapun yang melawan ataupun membantah apa kataku, lihatlah mereka akan mati ditanganku!" gumam Budi yang kembali tertawa keras.

__ADS_1


Willy diikat oleh rantai yang menjulur, nafasnya mulai terengah, keringat semakin membanjiri tubuhnya. Bahkan emosinya sudah berada di atas ubun-ubun, meletup-letup bagaikan air yang panas yang mendidih.


Sementara seringai dari para anak buah Budi mulai terpatri dengan kerambit dan juga senjata tajam di tangannya masing-masing, seolah mereka sudah sangat siap untuk menyiksa Willy dengan senjatanya. Mungkin merobek perutnya hingga ususnya keluar atau pun organ-organ tubuhnya yang lain, atau mungkin menghancurkan wajahnya terlebih dulu, atau bisa jadi melakukan semuanya dengan sepenuh hati hingga membuat tubuhnya hancur lebur dengan darah yang akan bertumpahan dimana-mana. Sungguh mereka benar-benar menantikan momen itu.


__ADS_2