Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta

Kisah Mafia Tampan Dan Gadis Buta
Bab 23


__ADS_3

Alden mengeluarkan benda pipih tipis itu dibalik saku dalam jasnya, benda pipih itu adalah cardlock akses untuk masuk ke dalam apartemen. Setelah itu ia meletakan cardlock itu di kotak sensor pada bagian pintu yang terletak di bawah gagang pintu yang terdapat ilustrasi kartu. Setelah menempelkan kartunya pada sensor tersebut, hanya butuh waktu sepersekian detik hingga muncul warna hijau pada kotaknya hingga mengeluarkan suara khas. Setelah muncul warna dan suara tersebut kuncinya sudah terbuka, hingga Alden pun langsung merangkul Elsa untuk menuntunnya masuk ke dalam apartemen.


Alden menyalakan Ac, kemudian ia menuntun Elsa agar duduk di sofa. Apartemen itu dibelinya sudah sangat lama dan mungkin setahun ini ia baru kembali lagi ke dalam apartemennya, akan tetapi meskipun sudah lama tidak dihuni suasana apartemen nya sangatlah nyaman dan juga bersih karena ia sering menyewa cleaning service yang merupakan teman SD nya yang ia percaya sebagai pemegang cardlock cadangan.


"Mau makan sesuatu?" tawar Alden pada Elsa sementara Elsa hanya menggeleng. "Kenapa?" tanya Alden mengangkat satu alisnya.


"Masih kenyang," jawab Elsa seraya tersenyum tipis.


"Kenyang? Memangnya kau habis makan apa?" ledek Alden mengulum senyum.


Elsa seperti berlagak berpikir setelah mendengar ledekan Alden barusan. "Waktu di penginapan kita sarapan dulu 'kan?" kata Elsa mencoba mengingatkan.


"Tapi itu pagi sekarang sudah siang, sudah waktunya jam makan siang El," kekeh Alden seraya geleng-geleng kepala.


"Oh begitu ya? Hm, baiklah sepertinya aku sudah melupakan aturan jam makan." Elsa tertawa ringan.


"Dan sebaiknya aku berganti pakaian dulu, nanti aku persiapkan makanan spesial untukmu. Dan nanti aku juga akan membelikan pakaian untukmu," ujar Alden seraya berjalan menghampiri lemari pakaian miliknya.


"Wah, terimakasih sebelumnya Alden, Oh ya sepertinya dari pagi tadi pasti kau belum mandi, ya?" tuduh Elsa mengulum senyum seraya bersandar dengan begitu santai di kepala sofa dengan kedua tangan bersedekap di dada.


"Ups, apa kau seorang peramal yang menyamar menjadi seorang gadis jalanan?" Alden mengeluarkan joke seraya ia memilih pakaian yang digantung di dalam lemari.


"Bukan seorang peramal tapi aku bisa mencium bau aroma tubuh yang belum mandi, jadi hati-hatilah denganku karena aromamu pasti akan tercium olehku, mataku memang buta tapi bukan berarti hidungku mampet 'kan?" Elsa berucap lalu tertawa ngakak setelahnya.


"Ya, ya, ya. Baiklah aku mengabaikan ucapanmu." Alden mengibaskan tangan di udara lalu ia pun melengos ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Setelah tawanya mereda Elsa pun hanya geleng-geleng kepala karena Alden tampaknya terpengaruh oleh candaannya barusan, lalu ia pun mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya dengan cara menggeliat, karena sejuknya Ac dan menunggu membuatnya merasa bosan sementara Alden masih membersihkan diri membuat Elsa harus menunggu, hingga membuat rasa kantuknya pun menyerang. Elsa berusaha menghalau rasa kantuknya, namun karena sunyi dan hanya detikan jarum jam yang terdengar membuatnya terhanyut, maka ia pun memutuskan untuk merebahkan diri dengan kepala bersandar di lengan sofa, lalu tanpa sadar matanya pun perlahan terpejam.


Ceklek...


Alden baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan setengah badan yang tertutup handuk. Helaian rambutnya terjatuh karena baru saja keramas, serta badan kekar nya yang terlihat begitu sangat keren sebagai seorang mafia ia sangatlah sempurna.


Alden tersenyum untuk pertama kalinya dalam dunia suram yang sering ia lalui, akhirnya ia merasakan kembali apa itu benar-benar tersenyum. Air hangat dari shower yang menerpa seluruh tubuhnya yang sebelumnya terasa sangat melelahkan kini berubah jauh lebih baik, ralat bukan karena air hangat pasti kehadiran Elsa pun ikut mempengaruhinya.


Setelah itu ia pun berganti pakaian dengan baju santai dan celana boxer lalu ia pun keluar dari changing room. Ia berjalan menuju sofa yang ditiduri oleh Elsa, ia menatap gadis itu sambil berdiri dan seketika saja ada perasaan aneh yang menggebunya, namun rasa itu terasa sangat menyakitkan saat ia memandangi wajah Elsa seperti saat ini.


Langkah Alden bergerak perlahan mendekati Elsa, lalu berhenti di depan sofa dan kemudian berlutut di hadapan seorang gadis yang tertidur pulas. Alden tersenyum lagi, namun senyuman itu seketika memudar karena ia kembali teringat akan sesalnya yang membuat ulu hatinya berdenyut sangat nyeri.


Alden menghela napas, menatap wajah Elsa yang terlihat begitu damai dalam lelap. Tiba-tiba tangan Alden bergerak untuk memperbaiki posisi tidurnya hingga kepala Elsa hampir jatuh dari lengan sofa, maka dengan cepat Alden pun langsung menahan kepala Elsa dengan telapak tangannya.


"Hampir saja," desis Alden bernapas lega, sungguh ia tak ingin membuat Elsa terbangun dari tidurnya. "Apa sebaiknya aku pindahkan saja Elsa ke atas kasur, untuk menghindari ia jatuh dari sofa?" gumam Alden bertanya pada dirinya sendiri.


Dan perlahan Alden melangkah mendekati tempat tidur dan kemudian membaringkan tubuh Elsa dengan sangat hati-hati agar ia tak mengganggu tidurnya. Setelah itu Alden duduk di tepi ranjang dengan memunggungi gadis itu, ia tertunduk seraya meremas helaian rambutnya dengan frustasi. Terdengar ia mendesah panjang dan kembali ia memikirkan sesuatu. Hingga disela itupun ia menoleh kearah Elsa dan memandangi wajahnya yang muram dan malang, namun wajah manisnya tetap tersisa disana. Hingga tiba-tiba saja tangannya terulur merapikan helaian rambut Elsa yang menutupi separuh wajahnya, lalu mengucapkan kata-kata yang sebenarnya ia tak berani katakan jika Elsa sudah terbangun.


"Apa kau akan marah jika kau mengetahui siapa aku sebenarnya?" tanya Alden pada Elsa yang masih memejamkan mata.


Alden menghela napas lagi. "Sekarang kau disini dan niatku ingin melindungimu, yang ingin aku tanyakan mengapa kau seajaib itu karena telah membuatku merasa dipenuhi rasa sesal sekarang? Sudah lama aku menggeluti lembah hitam dan aku sama sekali tidak pernah merasa bahwa aku bersalah ataupun memiliki rasa belas kasihan, akan tetapi mengapa setelah melihatmu aku merasakannya?" tanya Alden seraya menundukkan kepala dengan wajah muram, sebelum akhirnya kepalanya terangkat kembali dan memandangi wajah Elsa.


Ada keheningan cukup lama lalu suara Alden terdengar lagi.


"Apa kau akan menghukumku, El?" tanya Alden berucap pelan dengan suara seraknya.

__ADS_1


Hening lagi.


Alden tiba-tiba saja tertawa hambar namun tidak terlalu keras, sepertinya pikirannya saat ini sedang berantakan.


"Aku tidak peduli seberapa menderitanya korban yang telah aku berikan pelajaran, tapi setelah melihatmu dengan kondisimu yang sekarang membuatku merasa bersedih, apa semua ini adalah hukuman untukku? Timbal balik dari apa yang telah kuperbuat hingga aku dihantui rasa bersalah seperti ini?" Alden terisak namun ia berusaha untuk tidak meneteskan air mata sama sekali, ia tersenyum sendu ketika melihat Elsa lagi.


Ia percaya bahwa Elsa adalah gadis baik dan seiring berjalannya waktu ia harus rela jika Elsa akan membalaskan dendam padanya.


Kesadaran Elsa mulai melayang dan ia seperti mendengar seseorang berbicara di dekatnya, tapi tidak terlalu jelas dengan apa yang dibicarakan, hingga membuat tubuh Elsa bergerak lalu beringsut untuk duduk secara perlahan.


"Elsa, apa aku mengganggumu?" Alden terkesiap setelah melihat Elsa terbangun, ia sedikit panik karena ia khawatir jika Elsa mendengar apa yang ia bicarakan barusan.


Elsa mengucek matanya untuk sesaat, lalu mulai bicara dengan suara paraunya. "Ah, aku rasa aku ketiduran."


"Kalau masih mengantuk tidur lagi saja, El." saran Alden namun Elsa menggeleng.


"Kau merendahkanku ke atas ranjang?" tanya Elsa karena ia merasakan bahwa tubuhnya kini berada di atas kasur yang sangat empuk.


Alden mengangguk. "Tadi aku melihatmu ketiduran dan hampir terjatuh dari sofa, maka aku berinisiatif untuk memindahkan ke atas kasur." jawab Alden apa adanya.


Elsa tersenyum mendengarnya, betapa ia sangat beruntung karena ada sosok malaikat yang menjelma menjadi seorang manusia sebaik ini padanya. "Kau baik sekali," lagi-lagi pujian itu meluncur dari bibir Elsa untuk Alden karena telah tulus membantunya.


Alden t tersenyum kecil mendengarnya, namun ia tidak boleh terbuai dengan pujian hingga ia mengalihkan pembicaraan. "Lebih baik kita segera makan siang, biar tidak repot memasak kita pesan makanannya lewat gofood saja, ya?" tawar Alden seraya ia bangkit dari duduknya.


"Terserah, aku menurut saja." sahut Elsa seraya mengulas senyuman.

__ADS_1


"Baiklah, aku pesan sekarang." kata Alden seraya merogoh ponsel di sakunya lalu mulai memesan lewat aplikasi, sementara Elsa hanya mengangguk.


__ADS_2