
"El, kau jangan pergi kemana-mana ya, kau tetap disini sementara aku akan pergi berbelanja sebentar untuk kebutuhan kita, apa kau mengerti?" kata Alden yang sedang duduk dan memakai sepatu dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana aku bisa pergi jika kau mengunciku dari luar," sahut Elsa yang sedang duduk di tepi ranjang, sementara Alden langsung terkekeh mendengarnya.
"Ya, kau benar juga." Alden terbangun dari posisinya kemudian ia pun mengambil jaket yang menggantung lalu memakainya. "Jangan memanjat balkon atau apapun untuk melarikan diri," canda Alden yang membuat Elsa mengulum senyum mendengarnya.
"Aku tidak bisa memanjat, jangan bercanda." sahut Elsa lagi seraya geleng-geleng kepala.
"Baiklah, aku pergi hanya beberapa menit. Tidurlah jika mengantuk." Alden menghampiri Elsa lalu mengacak puncak rambutnya pelan.
"Aku bosan jika tidur terus," ucap Elsa seraya mengerucutkan bibir.
Alden sedikit berfikir lalu tersenyum lebar. "Mau mendengarkan audiobook?" tawarnya yang langsung direspon secara antusias oleh Elsa.
"Mau, aku ingin mendengarkan audiobook karya Napoleon Hill yang berjudul Think and Grow Rich." usul Elsa yang langsung disetujui oleh Alden.
"Baiklah," Alden pun langsung mengambil laptop di dalam laci nakas, lalu mulai searching di internet dan langsung memutar audionya.
"Terimakasih, jelas aku takan bosan kalau mendengar ini." Elsa berucap seraya tersenyum lebar.
"Sama-sama El, aku pergi dulu ya." pamit Alden yang dijawab oleh Elsa dengan anggukan kepala.
"Hati-hati, Al." kata Elsa mengingatkan.
"Aku akan berhati-hati, El. Kalau mau sesuatu ambil saja di kulkas, lurus lalu sedikit belok disana posisi kulkas." tukas Alden seraya memakai kupluk dan berjalan menuju pintu.
"Baik nanti aku akan ambil,"
"Aku pergi," pamit Alden setelah membuka pintu kemudian menguncinya dari luar.
Setelah terdengar pintu ditutup, senyuman Elsa yang semula mengembang kini tenggelam. Terus terang saja ia masih belum bisa menerima keadaannya yang buta seperti ini. Masih belum terbiasa dan belum bisa beradaptasi. Ia ingin melihat semuanya seperti sedia kala dan ia juga ingin melihat bagaimana rupa dari seorang pria bernama Alden.
"Seandainya aku bisa melihat rupamu, aku ingin menyentuh wajahmu sebentar saja. Apakah aku diizinkan? Kau pria yang baik sekali, aku sangat begitu terharu. Terima Kasih, Alden." gumam Elsa dengan senyuman sendunya.
****
__ADS_1
Seorang pria berjubah hitam dan memakai masker datang ke sebuah perusahaan lewat pintu belakang. Dan saat seorang pria yang bekerja sebagai cleaning service sedang mengepel lantai tiba-tiba saja pria berjubah hitam itu langsung menyergap si cleaning service dari belakang.
"A-ampun Tuan ada apa ini?" suara si cleaning service tergagap karena ketakutan dan juga panik dengan serangan yang datang secara tiba-tiba.
"Apa kau temannya Alden?" tanya si penyergap dengan suara menyeramkan.
Si cleaning service langsung mengangguk tanpa ba-bi-bu karena ia hanya ingin ia selamat. "Tuan lepaskan saya, saya mohon!" pintanya dengan nafas tersenggal karena si berjubah hitam itu mulai mencekiknya.
"Jika kau ingin aku melepasmu maka kau juga harus menuruti permintaanku!" seru si penyergap lalu menghentakan tubuh si cleaning service ke tembok dan semakin mencekiknya.
"A-apa itu Tuan?" tanyanya dengan nafas terputus-putus seraya berusaha melepaskan cengkraman kuat di lehernya.
Tok...Tok...Tok..
"Iya, tunggu sebentar!" sahut Elsa sedikit teriak. "Ah, itu pasti Alden." segera Elsa beringsut dari atas ranjang lalu berjalan menuju pintu. "Al, buka saja pintunya. Kau kan yang memegang kuncinya." teriak Elsa seraya menempelkan kedua telinganya di pintu lalu mulai menjauh setelah mendengar pintu itu mulai dibuka.
"Alden cepat sekali berbelanja, baru saja tujuh menit yang lalu berangkat. Apa supermarket nya dekat?" Elsa bergumam sendiri.
Elsa menyambutnya dengan senyuman, sementara seseorang yang berada di depan pintu itu segera meraih pergelangan tangan Elsa dan mulai pergi meninggalkan apartemen.
"Kita mau kemana, Al?" tanya Elsa penasaran namun tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut pria yang ia anggap Alden, hingga membuat Elsa keheranan.
Tidak ada jawaban, maka Alden pun langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan hingga sepasang matanya pun langsung terbelalak ketika ia mendapati ruangan yang tampak kosong serta ranjang kosong tanpa sosok Elsa.
"El? Ayolah jangan main petak umpet seperti ini, kau tahu kau sama sekali tidak bisa bersembunyi dariku. Ayo, keluar." humor Alden seraya tersenyum untuk berusaha bersikap tenang seraya ia mencari-cari Elsa lalu berjalan menuju balkon.
Betapa terkejutnya Alden karena di balkon ia tak menemukan apapun, ia bergerak cepat mencari-cari Elsa sambil berulang kali memanggilnya. Ia mencarinya di kolong ranjang dan tidak ada siapapun, ia benar-benar sudah sangat panik. Kemana perginya Elsa sementara Elsa sendiri sama sekali tak memegang kunci. Bergegas ia pun membuka kamar mandi dan ruangan tampak kosong melompong.
"Elsa?!" teriak Alden dengan suara nyaring mencari-cari keberadaan Elsa.
Sementara situasi Elsa kini ia tampak kebingungan karena Alden sama sekali tidak berbicara, hingga ia merasakan tubuhnya didorong kasar, ia juga merasakan bahwa sepertinya ia telah masuk kedalam mobil. Terdengar suara pintu mobil dibanting, membuat wajah Elsa langsung berubah pias. Ia mulai memiliki firasat buruk.
"Kau bukan Alden mau dibawa kemana aku, hah?!" teriak Elsa mulai berontak namun sayang sekali mobil itu mulai melaju dengan cepat, sementara pertanyaannya diabaikan.
Tiba-tiba saja terdengar suara tawa yang teramat puas yang membuat Elsa semakin ketakutan. Suara yang sangat asing di telinganya dan bahkan jantungnya sama sekali tak berhenti berdetak dengan kencang karena ia merasa sangat was-was.
__ADS_1
"Kau tahu Alden disini dari mana?" tanya Daud pada Tito yang sedang mengemudi.
"Sebenarnya aku telah memerintahkan adikku untuk melakukan pengintaian, karena aku ragu mengenai kondisi Alden yang pada saat kita melemparnya ke jurang kita tahu bahwa kita tidak membunuhnya. Dan beberapa kali juga adikku pernah bertemu Alden saat dulu kami bertugas bersama. Dan tanpa sengaja adikku pernah melihat Alden berjalan bersama dengan gadis buta, mungkin yang dimaksud gadis buta itu adalah Elsa yang sedang berjalan menuju penginapan di kota ini. Lalu adikku menghubungiku dan secara kebetulan juga bos Daud memerintahkan kami semua untuk mencari Elsa. Dan beruntung juga, aku mendapatkan informasi penting mengenai Alden dari adikku ini." cerita Tito dengan rinci yang membuat Daud manggut-manggut mengerti lalu tertawa puas. Sementara Elsa yang mendengarnya pun langsung ketakutan dan juga panik.
"Lalu kau mendapatkan kuncinya dari siapa?" tanya Daud lagi yang masih penasaran.
"Aku teringat bahwa dulu Alden pernah mengajakku dan Robin masuk kedalam apartemen miliknya untuk mengambil beberapa berkas. Dan aku melihat seorang cleaning service sudah berada di dalam sana sebelum Alden datang. Dan mendengar dari perbincangannya mereka seperti teman dekat, hingga si cleaning service itu dipercaya Alden sebagai pemegang kunci cadangan apartemen-nya. Lalu aku mencari informasi dari sebuah aplikasi mengenai si cleaning service telah di booking di salah satu tempat kerja, makanya aku bisa menemukannya dan mendapatkan kuncinya." papar Tito yang membuat Daud semakin bangga dengan hasil kerja Tito, hingga Daud bertepuk tangan.
"I don't think you are really smart and worthy to be relied on as a subordinate. Felix really didn't do anything wrong that time, because he put you as a companion in running errands." pujian itu meluncur dari bibir Daud sementara Tito merasa ia pantas berbusung dada, karena ia merasa bahwa kini ia sedang berada di atas angin.
"Sekarang kau bisa menunjukan kehebatanmu pada Tuan Jefry, dia pasti senang mendengar berita ini." lanjut Tito sementara Daud manggut-manggut.
"Ya, kau benar. Sebagai apresiasi aku akan memberikanmu hadiah dan aku jamin gajimu akan naik bulan ini. Aku akan membicarakannya dengan Tuan Jefry." ujar Daud yang membuat Tito sumringah mendengarnya.
"I beg you please answer! Who are you and what is your purpose in kidnapping me?!" teriak Elsa seketika seraya ia menangis dan panik, hingga membuat Daud dan Tito seketika langsung menoleh ke arahnya.
"Diam!" sentak Daud seketika yang membuat Elsa tersentak kaget.
Tiba-tiba saja Daud langsung pindah ke belakang, mendekati Elsa dan duduk disampingnya hingga terdengar tawa bak iblis berada di telinga Elsa dan tentu saja hal itu membuat Elsa semakin ketakutan.
"Dengar aku!" seketika saja Daud langsung mencengkram rahang Elsa hingga dengan leluasa Daud bisa melihat wajah Elsa dari dekat.
Daud menelan saliva-nya perlahan, betapa ia begitu terpengaruh dengan kecantikan Elsa. Rupanya Tuan Jefri benar bahwa gadis buta di depannya begitu cantik. Ditambah lagi kulitnya yang putih dan terlihat mulus hingga dengan spontan tangannya bergerak membelai lengan gadis itu.
"Menjauh dariku! Dan jangan sentuh aku!" pekik Elsa ketakutan seraya menepis tangan pria di sampingnya dengan kasar.
Daud tertawa mendengar Elsa berbicara dengan gemetar lalu Daud pun mulai membuka suara lagi. "Sebentar lagi kau akan merasakan surga, jadi kau jangan takut." rayu Daud seraya mengelus-elus pipi Elsa, namun dengan cepat pula Elsa langsung menepisnya lagi.
"Dimana Alden katakan!" seru Elsa bertanya dan hampir menangis.
"Kenapa kau mencarinya, hah?! Jelas-jelas dia orang jahat. Apa kau tahu yang sebenarnya El? Hm, sebenarnya aku tidak ingin menceritakannya padamu, tapi sepertinya kau harus tahu. Alden membantumu karena ia memang ingin menyerahkanmu pada kami. Dia akan menjualmu dan sekarang lihat kau ada bersama kami sekarang. Aku telah membayar uang yang cukup fantastis dan itu semua semata-mata karena kami membelimu. Ya, Alden benar-benar menjualmu." licik Daud seraya tersenyum sinis dan ia berusaha untuk mendoktrin Elsa, namun mendengar hal itu tentu saja Elsa tidak langsung percaya.
"Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang kau katakan! Sekarang lebih baik kau lepaskan aku! Apa gunanya aku meskipun aku di jual aku tidak akan laku, apa kau tidak melihat bahwa aku gadis buta, hah?!" sungut Elsa dengan menggebu-gebu sementara Daud langsung tertawa mendengarnya.
"Justru itu kau buta, kau cocok sebagai pemuas fantasi kami. Dan tubuhmu begitu terurus, mulus, dan sexy. Aku percaya bahwa lubang di bawah sana pasti masih sangat sempit." bisik Daud mengerikan yang langsung disambut tamparan keras dari Elsa.
__ADS_1
Plak!
"Bunuh aku saja! Aku tidak mau menjadi seorang pelacur! Bunuh aku, bunuh aku! Aaaaaaaaaaaaaaa...." jerit Elsa sambil menangis dan berontak, sungguh ia tak menyangka bahwa kisah hidupnya akan benar-benar sesuram ini.